Kamis, 30 November 2017

So Good CERDIK, Anak Cerdik, Ibu Pun Ikut Kreatif!

Aplikasi So Good CERDIK

Anda suka dongeng atau malah sering membacakan dongeng?

Darryl, putra saya sekarang sudah kelas 3 SD. Sejak belum sekolah ia sudah terbiasa dengan yang namanya dongeng. Dulu ketika ia masih rajin minum susu formula, banyak sekali koleksi buku dongeng yang ia miliki. Bagaimana tidak kalau setiap beli satu kotak susu, ada hadiahnya buku dongeng. Kalau 1 minggu 1 kotak, bisa dipastikan ada 4 buku dongeng yang bisa dikoleksinya dalam sebulan. Judulnya pun bermacam-macam. Ada Timun Emas, Kisah Si Malin Kundang, Hikayat Rawa Pening, dan masih banyak lagi judul menarik lainnya. Berhubung saat itu Darryl belum sekolah dan belum bisa membaca, maka tugas utama saya adalah membacakan kisah-kisah dongeng itu setiap kali ada koleksi buku dongeng baru.

Darryl dengan aplikasi So Good CERDIK

Selain rajin minum susu, Darryl kala itu juga hobby makan es cream. Dulu ada salah satu produsen es cream yang juga memberikan hadiah CD cerita, setiap kali membeli 5 bungkus es cream. Saat saya berbelanja di minimarket, Darryl saya tak pernah melewatkan yang namanya freezer es cream. Ketika saya sibuk mengambil barang belanjaan, tangan mungil Darryl pun tak kalah sibuknya dengan saya. Bedanya saya mengambil barang kebutuhan rumah tangga. Sedangkan Darryl sibuk memilih es cream kesukaannya. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya 5 bungkus tapi kadang hingga 2 kali lipatnya dengan harapan dapat hadiah CD cerita yang lebih banyak. Begitu sampai rumah, ia akan buru-buru minta disetelkan CD itu di laptop. Dan kalau sudah di depan laptop begitu, Darryl saya akan menjadi anak super manis di mata saya. Ia bisa betah menikmati jalan cerita sembari menikmati es creamnya. Sementara saya bisa leluasa melakukan pekerjaan harian saya (memasak, mencuci dan beberes rumah). Saking seringnya diputar, sampai-sampai bungsu saya itu hafal dialog perdialog yang disajikan dari CD cerita tersebut. Hingga akhirnya pernah saya iseng mendokumentasikan dalam bentuk video dan saya upload di Youtube ini.

Predikat Anak Rajin Sekolah

Sampai sekarang saya masih sesekali membuka video youtube Darryl yang tengah story telling. Lucu juga ternyata melihat anak seusia Darryl bercerita dengan runtut tentang kisah yang berulang-ulang dia lihat dan dengar di laptop. Terus terang kehadiran teknologi digital berupa CD cerita itu benar-benar membantu tugas harian saya kala itu. Saya tak perlu lagi membacakan cerita untuk Darryl karena ia bisa mendengarkan sendiri cerita yang diputar dari laptop. Seiring berjalannya waktu, Darryl pun mulai masuk TK dan diluar perkiraan saya, Darryl termasuk cepat dalam hal membaca. Saya tak begitu susah mengajarinya membaca. Tahu-tahu dia sudah lancar saja membacanya, bahkan di kala dia masih di TK A. Setiap hari ada saja buku cerita yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Gurunya bilang, Darryl termasuk anak paling rajin meminjam buku di perpustakaan. Hingga akhirnya ketika lulus TK, gelar "Anak Rajin Sekolah" pun ia raih.

Menemani Darryl bermain So Good CERDIK

Menginjak bangku SD, hobby membaca Darryl tak juga berkurang. Bahkan tak hanya buku cerita, kali ini buku-buku bertema science pun juga dibacanya. Ketika berada di mall yang kebetulan ada counter bukunya, pasti ada saja buku yang dibelinya. Karena temanya science, maka ada saja hal yang terkadang ia kurang faham. Biasanya ia akan bertanya kepada saya tentang apa yang kurang dimengertinya. Sebagai ibu saya akan menjelaskan semampu saya. Tapi dasarnya anak seumuran Darryl ini rasa ingin tahunya sangat tinggi, sementara kemampuan saya menjelaskan secara mudah agar dimengerti anak juga terbatas, terkadang saya suruh ia untuk membuka gadget. Saya ijinkan ia googling sampai benar-benar paham apa yang belum ia mengerti. Jadi, tak heran jika anak saya itu sudah piawai untuk seaching dengan gadget.

Menjelaskan apa yang Darryl kurang paham

Ya, saya memang tak serta merta melarang Darryl menggunakan gadget. Bahkan di hari libur pun saya bebaskan untuk bermain games dengan gadget. Tentu saja semua tetap dalam pengawasan saya. Saya harus tahu games yang ia mainkan. Saya juga harus tahu, channel apa saja yang biasa ia setel di youtube. Biasanya sih ia suka tema-tema science gitu, misalnya kenapa air soda dalam botol kalau dikocok akan menyembur busanya. Atau bagaimana membuat aneka makanan dengan plastisin. Kalaupun channel cerita, ia sukanya Upin-Ipin versi Disney Channel. Jadi sampai sejauh ini tak ada yang perlu saya khawatirkan dengan kegemaran Darryl bermain gadget.

Kedekatan saya dengan Darryl

Bagaimana pun juga di era teknologi sekarang ini, kita memang tak bisa dilepaskan dari gadget. Gadget sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup manusia jaman now. Lantas bagaimana dengan kids jaman now? Ya seperti saya bilang tadi, sepanjang itu untuk menambah wawasan sih okey-okey saja anak megang gadget. Tapi yang pasti jangan sampai kecanduan. Mereka juga masih anak-anak. Kontrol orang tua masih sangat dibutuhkan dalam hal ini. Karena bagaimana pun juga, sekarang ini segala sesuatu seringkali dikoneksikan dengan gadget, dengan internet. Bahkan untuk mengerjakan soal ulangan atau tugas-tugas sekolah pun, kids jaman now juga harus terbiasa menggunakan komputer atau laptop. Tidak seperti saya dulu, emak-emak jaman old kalau mau mengerjakan ulangan atau tugas sekolah ya harus tulis tangan. Belajar juga harus teks book. Tidak bisa googling dari internet.

Permainan Kids Jaman Now

Ya eranya memang sudah berubah. Sekarang eranya sudah digital. Tak harus dari komputer atau laptop, dari hape yang kita pegang pun sepanjang ada koneksi internetnya, informasi apa saja bisa dengan mudah kita peroleh. Tinggal klik-klik, beres deh!

Begitulah teknologi, pun yang sekarang tengah dilakukan oleh PT. So Good Food, salah satu brand makanan ternama di Indonesia yang produknya tak asing lagi (bakso, nugget, stick, seafood, shaped nugget, whole muscle, sausege). Belakangan ini PT. So Good Food mengeluarkan gebrakan baru dalam kaitannya dengan teknologi digital ini yaitu berupa buku cerita (dongeng) digital augmented reality (AR) yang diberi nama So Good CERDIK. Buku dongeng ini memiliki karakter-karakter utama yang juga berperan sebagai story teller. Adanya buku dongeng digital ini diharapkan selain sebagai alternatif permainan yang mendidik sekaligus juga hiburan bagi anak atau pun keluarga.

Apa sih augmented reality (AR) itu? Augmented reality (AR) adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan atau pun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata. Wah, panjang banget ya definisinya? Mungkin akan lebih mudah kalau saya kasih contoh. Anda masih ingat Game Pokemon GO, yang dulu begitu digandrungi seantero dunia? Nah, itu salah satu contoh game yang menggunakan teknologi AR. Bukan hanya orang dewasa bahkan anak-anak seusia Darryl tahun lalu juga ikutan ngejar-ngejar Pokemon tuh! Teknologi semacam itulah yang juga ada dalam So Good CERDIK.
Produk So Good kemasan 400gr bertanda khusus 

Lho koq CERDIK? Iyalah, kan artinya Cerdas, Digital dan Interaktif, disingkat menjadi CERDIK! Bagaimana cara mengoperasikan buku cerita ini. Gampang! Tinggal beli produk So Good kemasan 400gr yang bertanda khusus, yang didalamnya nanti ada hadiahnya frame beserta kartu digital story AR. Ada 3 judul cerita berseri yang bisa dikoleksi setiap membeli produk So Good yaitu cerita Lala dan Sing Sing, Umbo Larage, serta Chika dan Chiko. Kartu-kartu inilah yang nantikan akan kita scan dengan hape kita untuk memulai bercerita. Iya, "kartu" inilah yang nantinya akan bercerita sendiri. Jadi bagi yang belum bisa membaca pun, tak perlu khawatir. Kan bukunya sudah bercerita sendiri! Eits... Tapi jangan lupa, sebelumnya kita harus menginstal dulu aplikasi So Good CERDIK yang ada playstore. Jangan khawatir, aplikasinya free koq alias gratis. Kalau sudah terinstal baru deh kita bisa scan kartunya dan ikuti perintah di dalamnya. Tinggal klik-klik doang koq. Sangat mudah sekali.

Koleksi frame beserta kartu digital story AR milik Darryl

Darryl saya begitu menikmati cerita-cerita yang disajikan di So Good CERDIK ini. Kisah yang paling disukai adalah Lala dan Sing Sing. Lucu katanya karena ada tokoh Sing Sing yang bisa berputar-putar dan berubah-ubah, menjadi payung, perahu bahkan bisa mengecilkan tubuhnya yang bulat. Kalau saya sih suka cerita Chika dan Chiko karena Chika kan seorang chef cilik dan saya sangat ngefans dengan seseorang yang berprofesi sebagai chef hehehe.





Oh iya, selain cerita di dalam aplikasi ini ada bermacam-macam resep lho yang sangat berguna bagi emak-emak seperti saya ini. Banyak kumpulan resep-resep sederhana dari olahan berbagai produk So Good. Buat saya ini sangat membantu untuk menyiapkan bekal sekolah bagi Darryl. Saya bisa memodifikasi resep-resep yang ada dan terkadang saya sesuaikan dengan stok bahan yang ada di kulkas. Praktis dan pastinya higienis. Kebetulan Darryl ini tak suka jajan di sekolah. Ia lebih memilih membawa bekal dari rumah. Otomatis saya harus selalu menyediakan bekalnya setiap hari dan pastinya harus bervariasi agar Darryl tak bosan. Dan menjadi emak-emak jaman now memang harus cerdik dan kreatif!

Buat anak-anak seusia Darryl, cerita-cerita yang disajikan dengan metode AR oleh So Good CERDIK ini sangatlah menarik. Karena benar-benar terasa seperti riil akibat efek 3 dimensinya itu. Selain tampak nyata juga banyak sekali pesan moral dari setiap karakter yang disajikan dalam setiap kisahnya. Bagaimana perlunya bekerja sama, pentingnya rasa setia kawan, tolong-menolong antar sesama dan juga memunculkan daya kreatifitas anak. Hal ini sangat perlu untuk membentuk karakter anak itu sendiri. Sementara buat emak-emak seperti saya ini, sangat terbantukan dengan metode bercerita seperti AR ini. Saya tidak perlu susah-susah untuk memberikan contoh bagaimana agar menjadi anak yang suka menolong, setia kawan dan pandai berkreasi karena buku cerita di So Good CERDIK ini kan sudah bisa bercerita sendiri. Saya cukup mendampinginya dan membantu menjelaskan apa-apa yang sekiranya dia tak paham. Dengan begitu Darryl akan merasa bahwa saya, ibunya ini akan selalu berada di dekatnya. Selain itu, seperti yang saya bilang tadi, saya bisa mencontek resep-resep yang ada di dalam aplikasi ini. Berkreasi dengan resep-resep yang ada, sesuka saya.
Roti goreng isi nugget dan keju ala emaknya Darryl

Pengin bukti? Ini nih, kalau Chika bikin sandwich saya bikin roti goreng isi nugget dan keju. Caranya gampang, roti tawar diisi keju slice dan nugget stick yang sudah digoreng, bungkus dan gulirkan di kocokan telur, baluri tepung roti, goreng sebentar, jadi deh! Enak lho! Cerdik dan kreatif kan saya! Emak-emak jaman now hahaha. Pokoknya tak rugi deh, untuk instal aplikasi So Good CERDIK ini. Karena itu buruan ke toko atau supermarket terdekat anda dan belilah produk So Good kemasan 400gr bertanda khusus ini dan nikmati keseruan bercerita secara AR. Dijamin asyik deh! So Good CERDIK ini tak hanya membuat anak cerdik, tapi emak-emak seperti saya pun ikut kreatif hehehe.

#SOGOODCERDIK
#KEBxSOGOOD 

Sabtu, 04 Maret 2017

Gammi, Kuliner Khas Bontang dalam Bidikan Smartphone

ULTAH-GANDJELREL-2TH

Sambal Gammi (dok.pri)
Pernahkah anda mencicipi masakan yang bernama Gammi? Belum pernah? Mendengar nama masakan ini? Belum pernah juga? Wah, kalau begitu anda perlu datang ke Bontang nih! Atau jangan-jangan anda juga belum tahu, Bontang itu ada di mana? Walah... kalau begitu anda kalah dong sama Bapak Jokowi! Iya, Bapak Presiden kita itu sudah pernah berkunjung ke Bontang lho!

Sedikit informasi, Bontang adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur yang terletak sekitar 123 km di utara Kota Samarinda. Luas wilayah Kota Bontang hanya sekitar 147,80 km². Relatif kecil sih wilayahnya dibandingkan kota atau kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Timur. Meskipun demikian kota ini memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan Kalimantan Timur maupun nasional. Mengapa, karena di Bontang ini terdapat dua perusahaan raksasa bertaraf internasional yaitu PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim.

Walaupun kota ini kecil, tapi sangat ramah pada pendatang. Penduduk Bontang umumnya adalah pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Dulu pertama datang ke Bontang, saya beranggapan akan bertemu dengan banyak orang Dayak yang merupakan suku asli di Kalimantan. Anggapan itu ternyata salah besar. Bontang sangat terbuka pada kaum pendatang. Ketika di Bontang anda akan bertemu dengan orang Bugis, Jawa, Batak, Toraja, Palembang dan lain sebagainya. Mereka hidup berdampingan dan rukun. Jika anda baru pertama datang ke Bontang, begitu memasuki gerbang Kota Bontang, anda akan disuguhi pemandangan yang menentramkan. Jalanan yang selalu bersih karena setiap hari, selalu saja ada "pasukan kuning" yang membersihkan dan menyapu kotoran di jalan. Tak hanya itu, tanaman penghias jalan pun tertata dengan rapi. Tak heran jika Kota Bontang pernah mendapat penghargaan Adipura untuk kebersihan kotanya selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2012.

Mata pencaharian penduduk Bontang pun beragam. Mayoritas bekerja di pabrik (gas dan pupuk), perusahaan tambang dan juga pegawai kantoran. Kalaupun tidak bekerja di sektor formal, warga di Bontang juga banyak bergerak di sektor perikanan dan gemar berwirausaha. Warung-warung kuliner banyak terdapat di segala penjuru Bontang. Selalu saja ada yang bisa dilakukan dan dijadikan mata pencaharian jika kita tinggal di Bontang. Sekarang ini malahan mulai menjamur kafe-kafe dan angkringan di Bontang ini yang tentu saja tak ingin ketinggalan dengan kafe di kota-kota besar yang selalu dilengkapi dengan internet atau free wifi. Ini bisa dimungkinkan karena warga Bontang termasuk warga yang melek informasi, mereka fasih bersosial media. Bahkan untuk memasarkan produk dagangannya pun mereka rajin memanfaatkan media semacam facebook dan instagram.

Dan di antara yang banyak dipasarkan di medsos adalah menu Gammi ini. Apa sih Gammi itu? Gammi adalah semacam sambal. Yaelah... sambal tho? Iya, sambal! Eits, tapi jangan salah ya! Sambal gammi ini "beda" lho dengan sambal pada umumnya. Memang bahan pokoknya tetap seperti sambal pada umumnya, ada cabai/lombok, tomat, dan bawang merah/putih, tapi yang membuat sambal ini menjadi "beda" adalah cara memasak dan penyajiannya. Sambal gammi dimasak langsung di atas kompor lengkap dengan cobeknya. Ya, cobek sambal yang biasa terbuat dari tanah liat itu ikutan nangkring di atas kompor. Dan begitu matang, langsung saja disajikan utuh dengan cobeknya itu. Nah, di sinilah letak uniknya! Jadi begitu sambel ini tersaji di meja makan, maka jangan heran anda akan melihat sambal tomat yang masih meletup-letup di atas cobek dan ini sungguh menggugah selera seperti tampak pada video di bawah ini.



Sepanjang pengetahuan saya, hanya di Bontang ini saya menjumpai penyajian model begini. Kalau penyajian di atas cobek sih biasa, tapi yang masih meletup-letup seperti itu ya baru ada di Bontang ini. Sambal gammi saat ini menjadi kuliner khas Bontang dan belum pernah saya jumpai di kota lain di wilayah Kalimantan Timur.

Seiring berjalannya waktu, sambal gammi tak melulu hanya berupa sambal saja. Ada banyak bahan makanan lain yang bisa dicampurkan di dalam sambal gammi. Ada udang, cumi, telur, ayam, kerang dan pastinya ikan. Dan yang paling spesial adalah ikan bawis. Konon ikan bawis ini hanya bisa dijumpai di perairan Bontang. Jadi gammi bawislah yang paling fenomenal di antara semuanya. Selain karena ikannya yang gurih, ikan bawis juga tak terlalu banyak durinya seperti ikan bandeng atau ikan mas. Dipadu dengan sambal gammi yang pedas-pedas asam manis (kadang ada juga yang mencampur potongan jeruk nipis di dalamnya) membuat gammi bawis "pecah" dilidah. Satu porsi gammi bawis biasanya berisi 3 potong ikan. Soal harga? Relatif murah, sekitar 30 ribu rupiah. Gammi bawis dimakan dengan nasi putih yang masih hangat sangat lezat dan dijamin nambah deh! *itu kalau saya lho hehehe. 

Terus di mana kalau ke Bontang bisa menjumpai menu spesial ini? Banyak! Hampir semua warung makan khususnya yang menyediakan olahan seafood biasanya menu satu ini tak pernah ketinggalan. Bahkan seperti yang saya bilang di atas, saat ini banyak warga yang menjajakan menu satu ini lewat facebook ataupun instagram. Tentu saja dengan penampilan beda (tidak ada cobeknya) dengan kalau kita datang langsung ke resto/warung makan ya. Jadi ada baiknya datang langsung ke warung makan biar bisa merasakan sensasi sambal yang meletup-letup itu hehehe.

Nah, beberapa hari lalu saya makan di salah satu warung makan yang menyajikan aneka menu sambal gammi. Dan kalau sudah lihat makanan tuh bawaannya pengin pamer aja. Namanya juga hobby hahaha. Cekrek-cekrek sebentar sebelum disantap itu wajib hukumnya bagi saya. Apalagi ini kuliner khas daerah saya tinggal sekarang. Siapa tahu setelah saya upload di medsos terus saya dijadikan duta kuliner ehh duta pariwisata hahaha. *ngimpi. Ya paling tidak saya sudah memperkenalkan kuliner khas daerah, ya tho?

Bagaimana hasil jepretan saya waktu itu? Ini dia....

Gammi Bawis, paling fenomenal di antara gammi lainnya
Bagaimana, tampak lezat bukan? Semua ini hanya saya potret dengan kamera smartphone saya lho! Gak percaya? Nih buktinya!


Ya, saya memang lebih sering menggunakan kamera smartphone daripada dslr saya. Bukan apa-apa sih, beratnya itu lho. Mosok mau makan aja mesti nenteng-nenteng kamera segede gaban demi untuk mengabadikan makanan yang kita makan. Sekarang sih kamera smartphone sudah canggih-canggih. Namanya juga smartphone alias telpon pintar, tak sekolah saja sudah pintar dia hahaha. Tak kalah deh dengan kamera dslr. Apalagi kamera dari ASUS ZenFone ini. Benar-benar andalan buat saya saat ini. Sudah sejak April 2015, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini setia menemani ke mana saya pergi.


Modal smartphone saja hehehe
Selain ringan dibawa, hanya 170 gram termasuk baterainya, dan ringan di harga (tak lebih dari 3 juta rupiah saat saya beli dulu), ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini juga spesifikasinya tak kalah dengan smartphone mahal pada umumnya. Sistem operasinya sudah Android Lollipop 5.0 serta didukung oleh prosesor quad-core Intel Atom Z3560 yang mampu bekerja hingga kecepatan 1,8 GHz dengan kapasitas RAM 2GB. Keren kan? Ukuran layarnya juga sudah lumayan lebar, yakni 5.5 inci. Nah, yang paling penting buat saya sebagai penggemar foto selfie, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini sudah dual kamera, beresolusi 13 MP (pada kamera utamanya) dan 5 MP (kamera depan). Dan pastinya sudah didukung dengan teknologi PixelMaster Camera dengan beragam fitur seperti Autofocus, Dual-LED (dual tone) flash, Geo-tagging, Touch focus, Face detection, Panorama, HDR dan masih banyak lagi.

Gammi Telur
Gammi Cumi, masih tersisa asap tipis karena panas
Gammi Udang
Ngomong-ngomong apa sih PixelMaster itu? Itu lho semacam teknologi yang memungkinkan kita mengambil gambar ataupun video meski dalam kondisi gelap. Jadi kita tak perlu khawatir akan gambar yang kita hasilkan meski kita potret dalam ruangan gelap atau minim cahaya karena kecerahannya dapat kita tingkatkan hingga 400% dari kamera biasanya. Canggih kan? Contohnya ya seperti foto Gammi Bawis saya itu. Foto itu saya ambil di dalam ruangan di salah satu warung makan langganan saya. Meskipun diambil pada siang hari, tapi karena di dalam ruangan yang tertutup agak jauh dari jendela (hanya mengandalkan cahaya alami) maka hasilnya kurang maksimal. Tapi dengan teknologi ini dan juga sedikit editing bisa tetap jadi foto yang kece koq. Pokoknya dengan teknologi ini, ponsel ASUS saya satu ini gak ada matinya deh dan pastinya sudah mampu membuat saya makin kece kalau di kamera hahaha.

Memotret makanan dengan mode Depth of Field agar background tampak ngeblur

Hampir semua foto-foto (baik foto makanan maupun foto selfie) di medsos saya, ya dari kamera ASUS ini. Pengin hasilnya bagus, tinggal atur settingannya itu. Mau dibikin bokeh atau ngeblur di bagian belakangnya? Bisa banget! Tinggal atur di mode Depth of Field, beres deh! Memang sih saya belum pinter main setting-setting gitu. Maklum masih belajar dan terus belajar. Jadi kalau motret masih sering pakai mode Auto dan bahkan sering mengandalkan feeling aja. *yaa.. .ketahuan deh! wakakkk. Yang penting tetep keren kan hasilnya hahaha.

Di jaman sekarang tak usah ragu untuk mengandalkan kamera dari ponsel kita, termasuk ASUS Zenfone 2 ZE550ML milik saya ini. Untuk saat ini, di jajaran ponsel Android, seri ini masih masuk di kelas menengah yang patut untuk dipertimbangkan. Jadi untuk pindah ke lain hati, saya perlu mikir lama deh rasanya. Kecuali ada yang ngasih ASUS gratisan dengan spesifikasi yang lebih tinggi tentunya, dijamin gak nolak deh hahaha. Jadi, mengabadikan kuliner khas daerah seperti Gammi saya itu "hanya" dengan kamera smartphone, why not? Saya saja sering, bagaimana dengan anda? Yuks ikutan share mumpung lagi ada kontesnya tuh di blog Gandjel Rel.

Note : Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Rabu, 18 Januari 2017

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah, Mengobati Kerinduan Pada Masakan Ibu


Berkreasi dengan Bakmi Mewah, siapa takut? Setidaknya ini adalah postingan ketiga saya yang saya tuangkan ke dalam blog tentang kreasi Bakmi Mewah. Bagi saya ini seperti tantangan tersendiri. Apalagi belakangan ini saya memang sedang enjoy banget menikmati hobby baru saya di bidang masak-memasak. Rasanya ada kepuasan tiada tara jika hasil masakan saya disukai tak hanya oleh keluarga saya, tetapi juga teman-teman saya.

Terus Kenapa Mesti Bakmi Mewah?

Buat saya Bakmi Mewah ini lain daripada mie instan pada umumnya. Bentuk mienya pipih dan tidak mudah putus. Teksturnya yang lembut, kenyal, halus dan licin dengan aroma yang mewah benar-benar menggugah selera. Jadi kita tak perlu khawatir akan merasa seret di kerongkongan setelah kita menyantapnya. Karena mie ini aslinya sudah enak, jadi tak perlu tambahan bahan macam-macam pun, disajikan begitu saja seperti dalam saran penyajian di kemasannya, Bakmi Mewah sudah lezat koq. Apalagi memang sudah dilengkapi dengan potongan daging ayam dan jamur berbumbu, benar-benar mewah deh! Bukan hanya tampilan di kemasannya, tapi memang benar-benar asli daging ayam dan jamurnya. Juicy di mulut pula rasanya.

Bakmi Mewah ini bisa dikatakan pelopor topping ayam dan jamur asli pertama di Indonesia lho! Apa yang ditampilkan dalam kemasan, ya seperti itulah adanya. Istimewa pokoknya. Memasaknya pun sangat mudah. Cukup di masak sekitar 3 menit, dan tambahkan potongan daging ayam dan jamurnya, Bakmi Mewah ala restoran mewah sudah siap santap. Gampang dan praktis kan? 

Tanpa tambahan telur seperti itu pun, sudah mewah koq rasanya
Bakmi Mewah ini selain murah harganya, tak lebih dari 8 ribu rupiah perbungkus, juga jelas komposisi dan nilai gizinya. Bakmi Mewah juga tidak mengandung bahan pengawet dan MSG. Sudah gitu ada label halalnya pula. Jadi benar-benar aman untuk dikonsumsi keluarga.

Komposisi dan nilai gizinya jelas!

Halal ya!
Murah harganya, eye catching kemasannya
Dari segi kemasan pun berbeda dengan mie instan pada umumnya. Kemasan Bakmi Mewah benar-benar wah dan mewah. Warna hitam pada kemasannya sungguh eye catching saat dipajang di rak-rak supermarket atau swalayan. Kalau biasanya mie instan hanya dikemas plastik biasa sehingga mudah bocor dan robek, kalau Bahmi Mewah kemasannya terdiri dari 3 lapis. Lapisan pertama berupa plastik seperti mie instan umumnya, kemudian kardus/karton berwarna hitam dengan tulisan Bakmi Mewah berwarna kuning keemasan. Lapisan selanjutnya plastik tipis untuk wrapping kardusnya. Jelas sekali bahwa PT. MAYORA INDAH TBK, sebagai produsen Bakmi Mewah ini memperhatikan betul segi penampilan dan keamanan barang produksinya.

Kemasannya sampai lapis tiga, aman tidak mudah bocor
Nah, beberapa hari lalu ceritanya saya video call-an dengan ibu saya yang di Jogja sana. Ngobrol ngalor-ngidul ujung-ujungnya lari ke makanan. Ya, namanya juga emak-emak. Obrolannya kan juga seputar dapur. Kebetulan waktu itu saya belum sempat makan. "Masak apa hari ini, Buk?", iseng saya tanya ke ibu. "Gak masak, tadi cuma bikinin Bapakmu mie ceker pedes aja." Wow... Mie ceker pedes buatan ibu saya kan juara! Apalagi kalau di makan panas-panas gitu. Wuihhh... Dijamin langsung meleleh deh keringat hahaha.

video call-an dengan ibu di Jogja

Dan ibu saya memang begitu, masak mie ceker bilang gak masak. Buat ibu saya mungkin gak dianggap masak karena bikin mie ceker sangatlah simpel. Gak makan waktu lama dan gak ribet. Terus-terang obrolan tentang mie ceker dengan ibu saya kala itu terngiang-ngiang terus di benak saya. Rindu saya untuk dimasakkan mie ceker oleh ibu. Tapi sayang, jarak antara Jogja-Bontang menghalangi kami. Andai saja....aaa..*nyanyi deh hehehe

Kebetulan beberapa hari lalu saya dapat kiriman 2 bungkus Bakmi Mewah dari KEB. Akhirnya, demi mengobati rasa rindu pada masakan ibu, saya pun mencoba membuat mie ceker pedas, tentunya dengan Bakmi Mewah kiriman itu. Kira-kira apa saja bahan yang diperlukan? Ini dia...

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 4 buah ceker ayam
  • 3 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 5 biji cabe merah keriting (boleh lebih jika suka pedas)
  • 2 lembar daun jeruk
  • 1 batang serai yang dimemarkan
  • minyak goreng untuk menumis
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Bahan Mie Ceker Pedas

Cara membuat :

  • Rebus ceker hingga lunak (kalau saya pakai presto). Angkat, sisihkan.
  • Rebus mie dengan daun bawang kering (ada di kemasan) kurang lebih selama 2 menit. Angkat dan tiriskan. Tuang ke mangkok saji, sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang merah dan cabe yang telah dihaluskan, daun jeruk, batang sereh hingga harum. Masukkan ceker rebus, daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula dan garam secukupnya.
  • Aduk ceker dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Pedas-pedas yummy... Mienya itu lho, licin dan tak mudah putus

Mie ceker pedas Bakmi Mewah pun siap disantap. Bagaimana, mudahkan! Semangkok mie ceker pedas Bakmi Mewah ini sudah cukup mengobati rasa rindu saya pada masakan ibu.

Ini Instagram saya ya, yang mau follow boleh koq hehehe

Selain mie ceker pedas, saya juga mencoba mengkreasikan Bakmi Mewah menjadi menu lain yaitu Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl atau Ayam Lada Hitam dalam Mie Mangkok.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 1/4 buah bawang bombai, potong kasar
  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 biji cabe merah besar/paprika, potong kasar
  • 1/4 sdt lada hitam bubuk
  • minyak goreng secukupnya
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Cara membuat :

  • Rebus mie selama 2 menit. Angkat dan tiriskan.
  • Taruh mie pada saringan kawat yang berbentuk cekung, goreng mie dalam minyak yang cukup panas hingga kuning kecoklatan. Angkat dan susun mie yang telah menyerupai mangkok (akibat proses penggorengan) ke piring saji. Sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang bombai dan cabe/paprika hingga harum.
  • Masukkan daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula, garam, dan lada bubuk secukupnya.
  • Aduk daging ayam potong dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl pun siap disantap. Resep ini sengaja saya bagikan juga di sini karena kebetulan bahan yang diperlukan hampir sama dengan kreasi sebelumnya. Selain itu anak-anak saya juga suka sekali menu ini. Kriuk-kriuk pedas gimana gitu katanya.

Sebenarnya banyak menu yang bisa kita kreasikan dari sebungkus Bakmi Mewah ini. Mau dibuat menu berkuah, digoreng atau ditumis pun bisa asal kita mau sedikit kreatif saja. Ditambah topping telur, sosis, nugget, udang, cumi atau bahkan keju sih okey aja. Dan pastinya akan tambah mewah persis menu-menu mahal di restoran mewah. Saya saja sudah coba membuat beberapa kreasi dari Bakmi Mewah ini lho! Contohnya seperti di bawah ini.



Bagaimana tampilannya, sudah seperti menu di restoran mewah kan? Untuk tahu resep dan cara membuatnya bisa diintip di Berkat Bakmi Mewah, Restoran Mewah Pindah Ke Rumah dan Omelette Bakmi Mewah ya!
Bagaimana teman-teman, kira-kira kreasi apa saja yang telah teman-teman buat dari Bakmi Mewah ini? Boleh dong kita saling berbagi resep hehehe.

NB : Postingan ini diikutsertakan dalam Kreasi Bakmi Mewah Bersama Emak-Emak Blogger



Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Menikmati Tom Yam langsung dari negara asalnya? Wow... siapa yang tak tergoda? Thailand, ya Negeri Gajah Putih tempat muasal Tom Yam ini memang belum pernah saya kunjungi. Meskipun demikian, toh beberapa kuliner asal Thailand pernah saya cicipi di Tanah Air, setidaknya di restoran Thailand di kota kelahiran saya, Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri ada beberapa restoran yang spesial menyajikan hidangan khas Thailand. Salah satunya adalah restoran Thailand yang terletak di Jalan Taman Siswa, kurang lebih hanya sekitar 300 meter dari rumah saya di Yogyakarta sana. Tom Yam adalah salah satu menu favorit saya jika berkunjung ke restoran Thailand ini. 

Hidangan berkuah semacam sup seafood ini rasanya asam-asam pedas, sungguh menggugah selera. Apalagi dinikmati dalam kondisi masih panas di saat cuaca dingin atau musim penghujan seperti sekarang ini, pasti langsung menambah kehangatan tubuh sekian derajat dari suhu sebelumnya. Semangkok Tom Yam bisa saja kurang buat saya, terutama di saat kondisi badan sedang "aras-arasen" istilah Jawanya atau kurang bersemangat, Tom Yam yang pedas itu sudah mampu mengembalikan semangat saya. Potongan cumi yang dipadu dengan udang dan beberapa sayuran, bisa wortel ataupun bunga kol dalam rendaman kuah asam pedas itu sungguh pas dilidah saya. Aroma daun serai, daun jeruk, lengkuas, cabai merah menyatu bersama bumbu-bumbu lainnya benar-benar nendang rasanya. 

Hampir serupa dengan kuliner nusantara gulai kepala ikan, yang kalau tak pedas dan asam kurang maknyus bagi saya. Begitu pun dengan Tom Yam ini. Rasa amis layaknya makanan berbahan dasar seafood lenyap manakala dipadu dengan kucuran air jeruk nipis dalam racikan bumbunya. Itulah kenapa, Tom Yam terasa asam-asam pedas di lidah. Kalau sedang berkunjung di restoran Thailand, menu satu ini tak pernah ketinggalan. Lain saya, lain pula anak saya. Sebagai anak SD yang tidak suka makanan yang serbapedas, membuat anak saya melirik ke menu lain yang lebih familiar di lidah orang Indonesia pada umumnya, yaitu nasi goreng. Ya, siapa yang tak kenal nasi goreng? Kalau Anda tak kenal nasi goreng berarti tingkat kegantengan Anda turun 5 tingkat dibandingkan Presiden Barack Obama hahaha. President Obama adalah salah satu presiden di dunia ini yang berani menyebut nasi goreng, sate dan bakso sebagai kuliner Nusantara yang lezat. Mosok Anda kalah sama presiden Amerika itu sih? Kalau nasi goreng ala Indonesia sudah acap kali anda santap, bagaimana dengan nasi goreng ala Thailand?

Khao Pad Poo atau nasi goreng Thailand ala saya hehehe (dok.pri)

Hampir sama dengan nasi goreng Indonesia, nasi goreng Thailand pun ada campuran telur dan kadang juga ada daging kepitingnya. Persis nasi goreng seafood yang biasa dijual di restoran Indonesia. Koq bisa mirip ya? Memang konon katanya Thailand itu agak-agak mirip dengan Indonesia. Bangkok misalnya, sebagai ibu kota negara sangatlah mirip dengan ibu kota negara kita Jakarta, baik dalam tata kotanya maupun kemacetannya. Begitu pula dengan kulinernya, seperti pada nasi goreng tadi. Bedanya, nasi goreng Thailand atau biasa disebut Khao Pad Poo ini dimasak dengan menggunakan campuran bunga melati, perasan air jeruk nipis dan saus ikan khas Thailand. Tak heran nasi goreng Thailand rasanya juga agak-agak asam dan sangat kental aroma melatinya. Ini merupakan menu andalan anak saya jika berkunjung ke restoran Thailand.

Sweet Cassava atau Singkong Thailand ala saya (dok.pri)

Setelah puas makan, tak lengkap rasanya jika tidak ada minumannya. Segelas Cha Yen atau semacam teh yang dicampur dengan rempah-rempah (asam, adas) serta creamer (susu) cukup menambah hangat suasana santap bersama keluarga. Kalau cuaca sedang panas, cukup menambah beberapa potongan es batu ke dalamnya, dijamin tetap akan segar rasanya. Kalaupun masih dirasa belum cukup dan perut masih mampu menampung makanan, bisa juga ditambah dessert Singkong Thailand atau biasa disebut dengan Sweet Cassava. Sweet Cassava ini berupa potongan singkong yang direbus dengan air dan gula sampai lunak kemudian disiram dengan kuah santan yang kental. Bisa juga ditambah topping parutan keju bila suka. Hmmm... legit-legit gurih menggoda. Lumer dan pecah di mulut deh. Sepiring kecil Singkong Thailand cukuplah karena menu ini juga sangat mengenyangkan jika disantap dalam porsi yang banyak. Jadi tak perlu banyak-banyaklah agar kenikmatan bersantap semangkok Tom Yam atau sepiring Khao Pad Poo lenyap akibat perut Anda terlalu penuh atau istilahnya Jawanya bengep akibat kekenyangan.  

Ya kalau habis makan Anda tidak ada aktivitas lain, bisa saja bersantai sambil melonggarkan isi perut. Tapi bagaimana jika Anda berencana menghabiskan hari sambil jalan-jalan, menyusuri Sungai Chao Phraya misalnya, anggap aja kita sudah berada di Thailand ya hahaha. Kan gak asyik jalan-jalan perutnya kekenyangan.

Salah satu bagian dari restoran Thailand di Jalan Taman Siswa Yogyakarta. Ada bendera Thailandnya juga. Foto diambil medio 2013 (dok.pri)

Sekarang ini Singkong Thailand tak melulu dijual di restoran Thailand. Di kafe-kafe pun mulai banyak dijajakan dan menjadi pesaing utama pisang keju yang telah dulu ada. Bahkan di hotel-hotel berbintang juga mulai diperkenalkan. Singkong yang harganya tak lebih dari 5 ribu rupiah per kilonya, menjadi "naik kelas" ketika diolah menjadi Singkong Thailand ini. Saya sendiri biasa mengolah singkong menjadi Singkong Thailand karena begitu mudahnya membuat menu satu ini. Lumayan untuk sekedar menemani ngeteh di sore hari. Bahkan bagi keluarga saya singkong sudah menjadi hidangan yang wajib untuk berbuka di kala bulan puasa. Entah itu hanya sekedar digoreng crispy ataupun diolah menjadi Singkong Thailand tak menjadi masalah bagi keluarga kecil saya

Tom Yam ala restoran Thailand di Yogyakarta (dok.pri)

Sayangnya di kota saya tinggal sekarang ini tak ada restoran Thailand. Dan kerinduan pada menu-menu khas Thailand di restoran Kota Gudeg itu mau tak mau membuat saya menjadi sedikit "kreatif". Beberapa kali saya berhasil menduplikat kuliner Thailand ke dapur saya. Alhasil, keluarga tak pernah komplain dengan masakan saya itu. Kalaupun tak mirip rasanya, setidaknya tampilannya sudah mirip hahaha. Toh kata teman saya yang sudah berkunjung ke Thailand, di sana juga tak semua menu seragam rasanya. Jadi jangan heran bila kita menemukan menu yang sama, tapi rasanya berbeda antara restoran yang satu dengan restoran yang lain, meski itu sama-sama terdapat di sepanjang Chao Phraya.

Novel inilah yang membuat saya sering berkhayal berkunjung ke Thailand hehehe (dok.pri)

Saya memang sering berkhayal untuk bisa menghabiskan senja di Chao Phraya sembari menikmati kuliner khas Thailand yang banyak ditawarkan di restoran sepanjang sungai yang menjadi penopang penghidupan orang-orang yang bermukim di tepiannya itu. Apalagi semenjak saya membaca novel "Senja di Chao Phraya", karangan seorang teman di Yogyakarta yang begitu apik menampilkan tempat-tempat yang indah di Thailand sebagai setting ceritanya, menjadikan keinginan untuk berkunjung ke sana kian menggebu.  Tak hanya sekedar ingin melihat The Golden Buddha atau "Phra Phuttha Suwon Patimakon", patung Buddha yang terbuat dari emas dan tingginya tak kurang dari 3 meter itu, tapi saya juga sering menghayal menjadi Laras, salah satu tokoh dalam novel karya teman saya itu. Betapa Laras yang karena pekerjaannya mengharuskan ia bolak-balik Indonesian-Thailand, akhirnya menginap di Hotel Golden Temple, yang kalau ingin ke Sungai Chao Phraya cukup berjalan kaki saja. Di restoran pinggir sungai itulah Laras biasa menikmati senja bersama Osken O'Shea, pujaan hatinya. Lelaki campuran Turki dan Irlandia. Menikmati kuliner Thailand di waktu senja bersama pujaan hati di pinggir Sungai Chao Phraya, oh so sweet. Benar-benar romantis!   Tak hanya restoran dan pedagang kaki lima di sepanjang Sungai Chao Phraya yang menjajakan makanan-makanan enak. Di Phuket misalnya, salah satu pulau terbesar di Thailand sekaligus menjadi destinasi wisata populer di negara tersebut, bahkan ada yang namanya Phuket Walking Street yang menjajakan aneka macam kuliner Thailand. Dan menariknya semuanya enak-enak dan murah. Bahkan banyak juga jajanan yang dijual di sana mirip dengan jajanan Indonesia.  Ada lumpia goreng, sosis bakar, pentol bakar, martabak yang dalamnya diisi pisang, bahkan jagung rebus dan kacang rebus juga ada. Jadi kita tak perlu khawatir akan kesulitan menyesuaikan lidah kita dengan aneka makanan di sana jika kita berkunjung ke Thailand. Semua bisa kita pilih sesuai selera, mau yang halal atau haram juga ada. Bahkan menu yang ekstrem semacam belalang goreng seperti yang dijual di sepanjang jalan ke arah Wonosari Yogyakarta, jangkrik goreng dan kecoa goreng pun dijual di Phuket Walking Street tadi. Makanya jangan terlalu penuh mengisi perut jika sedang jalan-jalan ke Thailand. Setidaknya begitu pesan teman saya yang pernah beberapa hari liburan ke Thailand. Itu mungkin salah satu yang membuat saya ingin berkunjung ke Thailand. Selain banyak destinasi wisata yang menarik, menu makanannya pun beragam, enak-enak, dan murah pula. Tak hanya berkhayal menikmati Tom Yam di waktu senja di pinggir Chao Phraya, tapi saya juga ingin menyusuri sungainya, naik boat melintas Rama 8 Bridge sembari menyantap Konom Krok, kue kelapa seukuran takoyaki yang ditaburi daun bawang. Atau naik Tuk-Tuk menyusuri jalan-jalan di Bangkok sambil menyantap Kha Nie Ma Muang, dessert ketan yang disajikan dengan potongan mangga segar dan saus santan yang manis. Hmmm... Yummy. Tapi semua ini masih khayalan dan saya tetap membiarkan khayalan saya ini tumbuh subur dalam benak saya. Entah kapan akan tumbuh menjadi kenyataan, ya kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki sehingga bisa benar-benar menikmati Tom Yam dari negara asalnya. Aamiin... Doain ya... 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/edikusumawati/sepotong-senja-di-chao-phraya-bersama-tom-yam_5878864c22afbd1e0761303d

Note : Tulisan ini sudah saya post ke Kompasiana pada tanggal 13 Januari 2017 lalu.