Sabtu, 04 Maret 2017

Gammi, Kuliner Khas Bontang dalam Bidikan Smartphone

ULTAH-GANDJELREL-2TH

Sambal Gammi (dok.pri)
Pernahkah anda mencicipi masakan yang bernama Gammi? Belum pernah? Mendengar nama masakan ini? Belum pernah juga? Wah, kalau begitu anda perlu datang ke Bontang nih! Atau jangan-jangan anda juga belum tahu, Bontang itu ada di mana? Walah... kalau begitu anda kalah dong sama Bapak Jokowi! Iya, Bapak Presiden kita itu sudah pernah berkunjung ke Bontang lho!

Sedikit informasi, Bontang adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur yang terletak sekitar 123 km di utara Kota Samarinda. Luas wilayah Kota Bontang hanya sekitar 147,80 km². Relatif kecil sih wilayahnya dibandingkan kota atau kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Timur. Meskipun demikian kota ini memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan Kalimantan Timur maupun nasional. Mengapa, karena di Bontang ini terdapat dua perusahaan raksasa bertaraf internasional yaitu PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim.

Walaupun kota ini kecil, tapi sangat ramah pada pendatang. Penduduk Bontang umumnya adalah pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Dulu pertama datang ke Bontang, saya beranggapan akan bertemu dengan banyak orang Dayak yang merupakan suku asli di Kalimantan. Anggapan itu ternyata salah besar. Bontang sangat terbuka pada kaum pendatang. Ketika di Bontang anda akan bertemu dengan orang Bugis, Jawa, Batak, Toraja, Palembang dan lain sebagainya. Mereka hidup berdampingan dan rukun. Jika anda baru pertama datang ke Bontang, begitu memasuki gerbang Kota Bontang, anda akan disuguhi pemandangan yang menentramkan. Jalanan yang selalu bersih karena setiap hari, selalu saja ada "pasukan kuning" yang membersihkan dan menyapu kotoran di jalan. Tak hanya itu, tanaman penghias jalan pun tertata dengan rapi. Tak heran jika Kota Bontang pernah mendapat penghargaan Adipura untuk kebersihan kotanya selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2012.

Mata pencaharian penduduk Bontang pun beragam. Mayoritas bekerja di pabrik (gas dan pupuk), perusahaan tambang dan juga pegawai kantoran. Kalaupun tidak bekerja di sektor formal, warga di Bontang juga banyak bergerak di sektor perikanan dan gemar berwirausaha. Warung-warung kuliner banyak terdapat di segala penjuru Bontang. Selalu saja ada yang bisa dilakukan dan dijadikan mata pencaharian jika kita tinggal di Bontang. Sekarang ini malahan mulai menjamur kafe-kafe dan angkringan di Bontang ini yang tentu saja tak ingin ketinggalan dengan kafe di kota-kota besar yang selalu dilengkapi dengan internet atau free wifi. Ini bisa dimungkinkan karena warga Bontang termasuk warga yang melek informasi, mereka fasih bersosial media. Bahkan untuk memasarkan produk dagangannya pun mereka rajin memanfaatkan media semacam facebook dan instagram.

Dan di antara yang banyak dipasarkan di medsos adalah menu Gammi ini. Apa sih Gammi itu? Gammi adalah semacam sambal. Yaelah... sambal tho? Iya, sambal! Eits, tapi jangan salah ya! Sambal gammi ini "beda" lho dengan sambal pada umumnya. Memang bahan pokoknya tetap seperti sambal pada umumnya, ada cabai/lombok, tomat, dan bawang merah/putih, tapi yang membuat sambal ini menjadi "beda" adalah cara memasak dan penyajiannya. Sambal gammi dimasak langsung di atas kompor lengkap dengan cobeknya. Ya, cobek sambal yang biasa terbuat dari tanah liat itu ikutan nangkring di atas kompor. Dan begitu matang, langsung saja disajikan utuh dengan cobeknya itu. Nah, di sinilah letak uniknya! Jadi begitu sambel ini tersaji di meja makan, maka jangan heran anda akan melihat sambal tomat yang masih meletup-letup di atas cobek dan ini sungguh menggugah selera seperti tampak pada video di bawah ini.

video


Sepanjang pengetahuan saya, hanya di Bontang ini saya menjumpai penyajian model begini. Kalau penyajian di atas cobek sih biasa, tapi yang masih meletup-letup seperti itu ya baru ada di Bontang ini. Sambal gammi saat ini menjadi kuliner khas Bontang dan belum pernah saya jumpai di kota lain di wilayah Kalimantan Timur.

Seiring berjalannya waktu, sambal gammi tak melulu hanya berupa sambal saja. Ada banyak bahan makanan lain yang bisa dicampurkan di dalam sambal gammi. Ada udang, cumi, telur, ayam, kerang dan pastinya ikan. Dan yang paling spesial adalah ikan bawis. Konon ikan bawis ini hanya bisa dijumpai di perairan Bontang. Jadi gammi bawislah yang paling fenomenal di antara semuanya. Selain karena ikannya yang gurih, ikan bawis juga tak terlalu banyak durinya seperti ikan bandeng atau ikan mas. Dipadu dengan sambal gammi yang pedas-pedas asam manis (kadang ada juga yang mencampur potongan jeruk nipis di dalamnya) membuat gammi bawis "pecah" dilidah. Satu porsi gammi bawis biasanya berisi 3 potong ikan. Soal harga? Relatif murah, sekitar 30 ribu rupiah. Gammi bawis dimakan dengan nasi putih yang masih hangat sangat lezat dan dijamin nambah deh! *itu kalau saya lho hehehe. 

Terus di mana kalau ke Bontang bisa menjumpai menu spesial ini? Banyak! Hampir semua warung makan khususnya yang menyediakan olahan seafood biasanya menu satu ini tak pernah ketinggalan. Bahkan seperti yang saya bilang di atas, saat ini banyak warga yang menjajakan menu satu ini lewat facebook ataupun instagram. Tentu saja dengan penampilan beda (tidak ada cobeknya) dengan kalau kita datang langsung ke resto/warung makan ya. Jadi ada baiknya datang langsung ke warung makan biar bisa merasakan sensasi sambal yang meletup-letup itu hehehe.

Nah, beberapa hari lalu saya makan di salah satu warung makan yang menyajikan aneka menu sambal gammi. Dan kalau sudah lihat makanan tuh bawaannya pengin pamer aja. Namanya juga hobby hahaha. Cekrek-cekrek sebentar sebelum disantap itu wajib hukumnya bagi saya. Apalagi ini kuliner khas daerah saya tinggal sekarang. Siapa tahu setelah saya upload di medsos terus saya dijadikan duta kuliner ehh duta pariwisata hahaha. *ngimpi. Ya paling tidak saya sudah memperkenalkan kuliner khas daerah, ya tho?

Bagaimana hasil jepretan saya waktu itu? Ini dia....

Gammi Bawis, paling fenomenal di antara gammi lainnya
Bagaimana, tampak lezat bukan? Semua ini hanya saya potret dengan kamera smartphone saya lho! Gak percaya? Nih buktinya!


Ya, saya memang lebih sering menggunakan kamera smartphone daripada dslr saya. Bukan apa-apa sih, beratnya itu lho. Mosok mau makan aja mesti nenteng-nenteng kamera segede gaban demi untuk mengabadikan makanan yang kita makan. Sekarang sih kamera smartphone sudah canggih-canggih. Namanya juga smartphone alias telpon pintar, tak sekolah saja sudah pintar dia hahaha. Tak kalah deh dengan kamera dslr. Apalagi kamera dari ASUS ZenFone ini. Benar-benar andalan buat saya saat ini. Sudah sejak April 2015, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini setia menemani ke mana saya pergi.


Modal smartphone saja hehehe
Selain ringan dibawa, hanya 170 gram termasuk baterainya, dan ringan di harga (tak lebih dari 3 juta rupiah saat saya beli dulu), ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini juga spesifikasinya tak kalah dengan smartphone mahal pada umumnya. Sistem operasinya sudah Android Lollipop 5.0 serta didukung oleh prosesor quad-core Intel Atom Z3560 yang mampu bekerja hingga kecepatan 1,8 GHz dengan kapasitas RAM 2GB. Keren kan? Ukuran layarnya juga sudah lumayan lebar, yakni 5.5 inci. Nah, yang paling penting buat saya sebagai penggemar foto selfie, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini sudah dual kamera, beresolusi 13 MP (pada kamera utamanya) dan 5 MP (kamera depan). Dan pastinya sudah didukung dengan teknologi PixelMaster Camera dengan beragam fitur seperti Autofocus, Dual-LED (dual tone) flash, Geo-tagging, Touch focus, Face detection, Panorama, HDR dan masih banyak lagi.

Gammi Telur
Gammi Cumi, masih tersisa asap tipis karena panas
Gammi Udang
Ngomong-ngomong apa sih PixelMaster itu? Itu lho semacam teknologi yang memungkinkan kita mengambil gambar ataupun video meski dalam kondisi gelap. Jadi kita tak perlu khawatir akan gambar yang kita hasilkan meski kita potret dalam ruangan gelap atau minim cahaya karena kecerahannya dapat kita tingkatkan hingga 400% dari kamera biasanya. Canggih kan? Contohnya ya seperti foto Gammi Bawis saya itu. Foto itu saya ambil di dalam ruangan di salah satu warung makan langganan saya. Meskipun diambil pada siang hari, tapi karena di dalam ruangan yang tertutup agak jauh dari jendela (hanya mengandalkan cahaya alami) maka hasilnya kurang maksimal. Tapi dengan teknologi ini dan juga sedikit editing bisa tetap jadi foto yang kece koq. Pokoknya dengan teknologi ini, ponsel ASUS saya satu ini gak ada matinya deh dan pastinya sudah mampu membuat saya makin kece kalau di kamera hahaha.

Memotret makanan dengan mode Depth of Field agar background tampak ngeblur

Hampir semua foto-foto (baik foto makanan maupun foto selfie) di medsos saya, ya dari kamera ASUS ini. Pengin hasilnya bagus, tinggal atur settingannya itu. Mau dibikin bokeh atau ngeblur di bagian belakangnya? Bisa banget! Tinggal atur di mode Depth of Field, beres deh! Memang sih saya belum pinter main setting-setting gitu. Maklum masih belajar dan terus belajar. Jadi kalau motret masih sering pakai mode Auto dan bahkan sering mengandalkan feeling aja. *yaa.. .ketahuan deh! wakakkk. Yang penting tetep keren kan hasilnya hahaha.

Di jaman sekarang tak usah ragu untuk mengandalkan kamera dari ponsel kita, termasuk ASUS Zenfone 2 ZE550ML milik saya ini. Untuk saat ini, di jajaran ponsel Android, seri ini masih masuk di kelas menengah yang patut untuk dipertimbangkan. Jadi untuk pindah ke lain hati, saya perlu mikir lama deh rasanya. Kecuali ada yang ngasih ASUS gratisan dengan spesifikasi yang lebih tinggi tentunya, dijamin gak nolak deh hahaha. Jadi, mengabadikan kuliner khas daerah seperti Gammi saya itu "hanya" dengan kamera smartphone, why not? Saya saja sering, bagaimana dengan anda? Yuks ikutan share mumpung lagi ada kontesnya tuh di blog Gandjel Rel.

Note : Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel