Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

Dua Kali Hamil dan Melahirkan, Dua-Duanya Amazing!

Tentang Kehamilan Danny

Bulan Oktober sudah pasti menempati relung khusus dalam hati saya. Karena di bulan ini ada tiga generasi sekaligus di keluarga saya yang dilahirkan di bulan yang sama. Pertama adalah bapak saya, kedua adalah saya dan yang ketiga adalah anak sulung saya. 

Terus bagaimana rasanya mempunyai anak? Sudah pasti bahagia tentunya. Apalagi ada anggapan bahwa kesempurnaan seorang perempuan terjadi ketika ia berhasil melahirkan seorang anak. Dan anggapan itu bagi saya ada benarnya. Saya merasakan benar-benar menjadi seorang perempuan “sempurna” ketika saya melahirkan anak sulung saya. Tidak bisa saya pungkiri, saya benar-benar dapat merasakan panggilan sayang “mama” ketika saya sudah punya anak. Dan itu sungguh luar biasa. Saya yang dulunya (kata orang sih) tomboy itu bisa juga punya anak, sungguh menakjubkan. 

Bersyukur dan berbahagia atas nikmat yang luar biasa sudah pasti saya rasakan. Hanya orang-orang yang “buta hati”-lah yang tidak bisa merasakan kebahagiaan dan tidak bersyukur akan lahirnya seorang “manusia baru” di dunia ini. Karena sudah “buta hati” itulah, maka ada saja orang yang tega membuang atau bahkan membunuh buah hati yang baru dilahirkannya hanya karena sang jabang bayi lahir tidak diharapkan. Akan tetapi apakah pernah ditanyakan pada sang jabang bayi, apakah mereka semua minta dilahirkan? Tidak bukan, karena kitalah yang sebenarnya telah merancangnya sendiri hingga akhirnya bayi itu lahir ke muka bumi. Jadi karena sudah saya rancang akan kelahirannya, maka saya sangat bersuka-cita akan hadirnya bayi dalam kehidupan rumah tangga saya.

Bagaimana suka-citanya mendapatkan momongan baru sudah tidak bisa saya lukiskan lagi. Hilang sudah rasa pegal-pegal yang selama 9 bulanan saya alami karena menggendongnya kesana-kemari di perut saya ketika saya mengandungnya. Tak terasakan lagi betapa susahnya masa-masa kehamilan pertama saya. Betapa setiap hari saya selalu muntah-muntah hingga hampir 8 bulan lamanya. Betapa susahnya saya melawan rasa ngidam saya itu dan semua seperti terbayar lunas ketika bayi itu lahir ke muka bumi. Lahir dengan keluhan yang menurut saya tidak terlalu berarti, walaupun bagi dunia medis kelahirannya harus menjadi catatan sendiri mengingat proses persalinannya yang tidak bisa dibilang gampang juga. 

Anak sulung saya memang bisa dibilang lahir normal, tapi tidak normal dalam prosesnya. Kenapa bisa demikian? Baiklah saya akan coba membuka kembali memori saya untuk mengingat-ingat proses kelahirannya. Bagi saya mudah saja “memanggil” kembali ingatan itu karena memang itu pengalaman pertama dan tentunya akan terus membekas diingatan saya.

Saya menikah tanggal 7 Agustus 1999 di Yogyakarta, kota kelahiran saya. Kira-kira seminggu setelah menikah, saya langsung diboyong suami ke Bontang, Kalimantan Timur. Berat rasanya berpisah dengan orang tua, tapi apa boleh buat setelah menikah tanggung jawab sepenuhnya atas diri saya beralih ke tangan suami yang kebetulan bekerja di Kalimantan Timur. Sejak menikah saya sama sekali tak memakai alat kontrasepsi, meskipun demikian kehamilan tak kunjung menghampiri saya. Baru pada bulan kelima, saya mengalami keterlambatan menstruasi. Untuk memastikan saya hamil atau tidak, bersama suami saya beli alat tes kehamilan di apotik dan pagi harinya saya tes sendiri urine saya. Alhamdulillah, ada dua garis strip berwarna merah di alat tersebut. Namun untuk lebih meyakinkan, bersama suami pula saya pergi ke bidan sore harinya. Dan ternyata benar, hasilnya tetap sama. Saya dinyatakan positif hamil. Bahagia tak terkira sudahlah pasti, mengingat saya sangat mengharap kehadiran janin di rahim saya. 

Kalau dihitung dari mulai saya menikah hingga hamil sebenarnya tak terlalu lama, hanya lima bulan saja. Namun sejak kepindahan ke Kalimantan Timur saya memutuskan berhenti kerja, maka hari-hari saya di rumah terasa sepi ketika ditinggal suami bekerja. Karena itulah saya pengin cepat-cepat hamil agar ada "teman" bermain selama ditinggal suami bekerja. Jadi lima bulan merupakan waktu yang lumayan lama bagi saya untuk menunggu kehamilan saya itu.

Sejak dinyatakan positif hamil oleh bidan, maka sejak saat itu saya rutin kontrol sebulan sekali. Setiap kali kontrol bidan juga memberi saya vitamin yang harus rutin saya minum setiap harinya. Karena ini kehamilan anak pertama dan suami juga begitu excited akan segera punya anak, maka segala sesuatu yang saya minta selalu diturutinya. Mau minta makanan apa saja sepanjang itu tak membahayakan kehamilan saya, pasti dituruti. Terkadang keinginan itu datangnya tiba-tiba dan malam hari pula. Orang bilang hal semacam itu namanya ngidam. Hanya satu hal yang sulit dipenuhi oleh suami yaitu ketika suatu malam tiba-tiba saya ngidam kepingin makan sayur tumis kangkung dan itu harus buatan ibu saya. Tengah malam minta tumis kangkung buatan ibu saya yang tinggal di Yogyakarta sana, jelaslah sulit untuk dipenuhi. Saya sampai telpon ibu saya, nangis-nangis tetap tak bisa berbuat apa-apa. Itu terjadi di awal-awal kehamilan saya. Setelah kehamilan menginjak bulan keempat, saya mulai tak pernah ngidam yang "aneh-aneh" lagi. Hanya saja mual-mual dan muntah-muntah saya tak kunjung berhenti dari bulan pertama kehamilan sampai menginjak bulan ke delapan. Semula saya berpikir, mual-mual dan muntah-muntah saya itu lantaran susu hamil yang saya konsumsi. Tapi ternyata tidak, meskipun saya ganti dengan susu merek lain dan juga cita rasa yang lain, tetap saja tak berpengaruh. Saya terus saja muntah-muntah setiap hari, bahkan tengah malam pun saat sudah terlelap tidur dan terbangun lantaran ingin buang air kecil, muntah-muntah itu sering kali terjadi. Bukan hanya muntah sedikit, sering kali saya muntah sangat banyak hingga saya lemas. Untungnya suami saya selalu menguatkan, meskipun muntah-muntah terus saya tetap diharuskan minum susu hamil dan makan-makanan yang bergizi.

Karena keseringan muntah-muntah, praktis berat badan saya tak terlalu mengalami kenaikan yang berarti. Kalau ibu-ibu hamil pada umumnya bisa naik sekilo atau bahkan dua kilo. Bulan ketiga dan keempat justru berat badan saya turun dari sebelumnya. Segala nasihat bidan dan orang-orang yang telah berpengalaman hamil sudah saya ikuti, tapi tetap tak berpengaruh. Kenaikan berat badan saya tidak terlalu signifikan.  Di umur kehamilan yang kelima bulan saja saya masih bisa mengenakan celana jeans yang biasa saya pakai sebelum hamil. Beberapa tetangga bahkan mengira saya tidak hamil saking "tipis"-nya perut saya. Meskipun sering muntah-muntah, tapi ternyata bayi di perut saya cukup kuat. Pernah ada pengalaman menyedihkan sekaligus membuat saya was-was dengan kondisi janin saya. Suatu ketika di bulan kelima kehamilan, saya jalan-jalan bersama suami di pusat perbelanjaan. Kebetulan ada beberapa tangga yang harus saya lalui di pusat perbelanjaan itu. Mungkin karena kurang hati-hati, saya pernah terjatuh di tangga, kurang lebih sekitar 3 atau 4 undakan. Suami saya yang saat itu sedang membawa barang belanjaan, tak sempat menggapai saya.  Saya terjerembab ke lantai dasar.  Untunglah begitu diperiksa ke bidan, kondisi janin saya baik-baik saja. Begitupun dengan saya, hanya luka-luka lecet di tangan. Kejadian itu menjadi pengalaman yang berarti bagi saya untuk lebih berhati-hati.

Begitulah, bulan demi bulan kehamilan saya lalui dengan mual dan muntah-muntah. Karena kondisi yang tak kunjung membaik, menginjak bulan ke delapan saya memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta sekaligus untuk melahirkan disana. Keputusan itu saya ambil karena saya merasa akan lebih nyaman berada di samping ibu saya di saat melahirkan nanti. Suami pun juga tak keberatan dengan keputusan saya itu. Akhirnya dengan diantar kakak ipar yang kebetulan sedang ada perjalanan ke Cepu, saya terbang dari Bontang ke Balikpapan, kemudian dilanjutkan ke Surabaya. Waktu itu tidak ada route yang langsung ke Yogyakarta. Di Surabaya, bapak saya sudah menunggu di bandara baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Sementara kakak ipar saya melanjutkan perjalanan ke Cepu.

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang beresiko mengingat usia kandungan saya yang sudah menginjak delapan bulan. Salah-salah kontraksi dan bisa melahirkan di pesawat. Tapi karena waktu itu saya sama sekali tak mempersiapkan surat keterangan dokter yang mengijinkan saya terbang dalam kondisi seperti itu, maka petugas di bandara pun percaya saja ketika saya bilang usia kehamilan saya masih lima bulan. Hal itu karena perut saya memang tak seperti orang hamil delapan bulan. Begitulah, akhirnya saya tiba di Yogyakarta dengan selamat.

Aneh tapi nyata, justru di Yogyakarta saya sama sekali tak mengalami muntah-muntah. Segala makanan saya santap, tanpa peduli sudah berapa kali saya makan dalam sehari. Orang bilang saya "ngebo" (seperti kerbau yang melahap apa saja). Saya juga sering minum air es jeruk setiap kali kehausan, meski ibu saya melarang. Takutnya saya nanti mengalami "kembar banyu" (hamil penuh air) saking seringnya minum es. Satu bulan di Yogyakarta, kenaikan badan saya lumayan drastis, kira-kira hampir sama dengan kenaikan badan selama delapan bulan kehamilan di Bontang. Sebelum hamil, berat badan saya hanya 40kg, kemudian saat hamil delapan bulan naik menjadi sekitar 46kg. Di usia kehamilan sembilan bulan, berat badan saya sudah mencapai 51kg dan masih bertambah hingga mendekati hari H kelahiran. Saya pun mulai rutin periksa ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta, seminggu sekali.

Tanggal 19 Oktober 2000 tepatnya (bersamaan dengan hari ulang tahun saya), sekitar pukul 10 pagi selepas saya mandi. Tiba-tiba saya seperti "mengompol” tanpa saya sadari. Tiba-tiba saja ada semacam cairan yang tanpa saya bisa kendalikan keluar dengan sendirinya. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya coba menelpon ibu saya yang kebetulan lagi keluar rumah. “Ah paling-paling kamu masuk angin, khan kamu suka minum es jeruk setiap hari”, dan jawaban ibu saya itupun cukup melegakan hati saya. Saya coba tanya lagi, apakah itu bukan tanda-tanda orang akan melahirkan, begitulah pertanyaan saya selanjutnya. “Memang sudah ada flek-flek belum? Kalau sudah ada berarti memang sudah mau melahirkan, tapi kalau belum ya itu cuma masuk angin tadi.” Begitulah penjelasan ibu saya waktu itu. Mungkin karena dari semua keempat anaknya, ibu saya selalu mengawalinya dengan tanda-tanda flek seperti orang yang mau menstruasi, makanya ibu saya bisa menyimpulkan begitu.

Akan tetapi ternyata kejadian saya “mengompol” dengan sendirinya itulah sebenarnya merupakan proses awal akan terjadinya kelahiran. Dokter bilang saya sudah mengalami pecah ketuban dan sayangnya itu baru saya ketahui sekitar 3 hari kemudian atau tepatnya tanggal 22 Oktober 2000 malam, ketika saya datang ke rumah sakit. Dokter kandungan saya bilang, bahwa tak semua orang menunjukkan tanda-tanda yang sama saat akan melahirkan. Ada memang yang ditandai dengan keluarnya flek-flek darah seperti halnya orang yang mau menstruasi dilanjutkan dengan kontraksi, ada yang tiba-tiba pecah ketuban seperti yang saya alami, tapi ada juga yang tetap bersih sampai masa persalinan tiba. Sebenarnya saya ke rumah sakit saat itu juga bukan karena sudah merasakan kontraksi yang begitu hebat seperti umumnya orang jika akan melahirkan, melainkan hanya karena saya berpegang pada perkataan dokter bahwa HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya adalah 23 Oktober 2000. Daripada besoknya saya buru-buru ke rumah sakit, makanya saya malam itu memutuskan untuk “ngamar” dulu saja di rumah sakit. Dan ini sebenarnya mungkin “kebodohan” saya juga. Kurang pengalaman tepatnya. Maklumlah baru pertama kali mau punya anak. Lagipula waktu itu juga informasi tak semudah sekarang, yang tinggal klik semua informasi seputar kelahiran ada di internet. Waktu itu informasi mengenai kelahiran yang paling mudah ya dari orang yang pernah mengalaminya, dalam hal ini saya hanya mengandalkan pengalaman dari ibu saya. Seandainya saya tahu kalau tragedi saya “ngompol” itu adalah pecah ketuban, mungkin tidak akan seperti itu ceritanya. Tentu perawat juga tidak akan terheran-heran melihat saya datang ke UGD mengenakan pembalut sementara saya tidak sedang menstruasi. Perawat juga tidak akan terkaget-kaget ketika saya bilang sudah memakai pembalut seperti itu sejak tanggal 19 Oktober karena memang “ngompol” saya tidak pernah berhenti sejak itu. Dan mungkin saya juga tidak akan mengalami beberapa suntikan yang katanya adalah antibiotik dan juga suntikan induksi agar saya segera mengalami kontraksi. Karena kalau bayi saya tidak segera keluar, dikhawatirkan akan kehabisan cairan ketuban dan kata dokter ini sangat berbahaya. Sayangnya bayi saya pun masih belum mau keluar meskipun sudah diinduksi semalaman. Ia rupanya masih betah berlama-lama di dalam perut saya yang hangat meskipun cairan ketuban sudah hampir mengering. 

Semalaman saya diinduksi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kontraksi. Saya justru melihat beberapa orang yang masuk setelah saya ke rumah sakit itu, tapi sudah melahirkan duluan daripada saya. Proses kelahiran bayi-bayi mereka pun saya sempat melihat langsung, baik yang lahir tunggal ataupun lahir kembar. Dokter kandungan yang menangani saya memang tidak melarang saya melihat hal itu sepanjang saya tidak takut melihat darah, untuk melihat beberapa proses lahirnya seorang bayi di muka bumi ini. Mulai dari bukaan 10 hingga proses keluarnya bayi sampai menjahit kembali jalan keluar yang mungkin telah robek, saya sempat melihat semua hingga pagi menjelang. Dan selama itu pula saya tetap tidak merasakan kontraksi. Sementara saya sebenarnya sudah mulai lelah karena tidak tidur semalaman. Begitu pula tensi saya sudah mulai menurun menjadi 60/90. Karena itulah pihak rumah sakit telah menyiapkan segala kemungkinan jika sesuatu hal yang buruk terjadi. Pagi itu saya lihat perawat hilir mudik di ruang persalinan saya sambil menyiapkan segala peralatan. Menurut saya peralatan yang disiapkan jauh berbeda dengan yang dipakai oleh beberapa orang yang sempat saya lihat proses persalinannya. Ada beberapa tabung oksigen besar di sekitar tempat tidur saya di samping peralatan lain yang saya sama sekali tidak tahu kegunaannya.

Sementara disaat yang bersamaan saya belum juga mengalami kontraksi pagi itu. Terdorong rasa penasaran, saya pun bertanya ke beberapa perawat yang berada disitu. Dan jawaban salah satu perawat cukup membuat saya kaget. Katanya kalau saya bisa segera kontraksi, maka bisa dilakukan dengan proses normal. Tapi kalau tidak bisa keluar, maka bisa juga nanti dibantu dengan vacum. Dan bila tetap tidak berhasil, jalan terakhir satu-satunya adalah dengan proses ceasar. Wah, saya hanya bisa membatin sembari terus berdoa, agar semua proses apapun yang nanti bakal saya lakukan berjalan dengan lancar. Pasrah dan berserah diri, itulah yang saya bisa lakukan. Akhirnya sekitar pukul 09.30 pagi saya pun mengalami kontraksi yang hebat. Jalan lahirpun sudah terbuka semua, tapi sampai sekian menit tetap saja bayi saya tidak mau keluar. Setelah sekian lama dengan susah payah barulah pada pukul 09.50 pagi, tanggal 23 Oktober 2000 lahir bayi mungil saya. Itupun dengan melalui proses vacum sebelumnya. Semua saya lewati tanpa didampingi suami karena memang disaat bersamaan suami saya masih berada di perjalanan dari Balikpapan menuju Yogyakarta. Namun demikian, kedua orang tua senantiasa mendampingi saya selama proses persalinan berlangsung, meski dari luar ruangan.


Bayi laki-laki seberat 3.05kg dan panjang 49cm itu akhirnya saya beri nama Danny. Pada awalnya tubuhnya pucat membiru, karena itulah pasca kelahirannya ia harus tetap menjalani perawatan yang ekstra. Bahkan sampai 3 hari kemudian ketika saya sudah diperbolehkan pulang, Danny masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ada beberapa suntikan yang harus ia terima selama beberapa hari di rumah sakit. Katanya itu antibiotik dan harus diberikan sampai habis dosisnya. Hanya karena saya merasa tidak bisa lepas dari bayi kecil saya itulah, maka di hari ke-4 ia di rumah sakit, saya dan suami nekad memaksa dokter untuk membawa pulang Danny dengan segala resiko yang seandainya terjadi sesuatu hal tidak akan menuntut rumah sakit. Apalagi saat saya berada di rumah, badan saya sempat demam lantaran proses keluarnya ASI dari payudara saya. Selama di rumah sakit, ASI saya memang belum keluar. Dan ternyata justru saat di rumah itulah ASI saya mulai keluar, meskipun masih sedikit. Berbekal tanda tangan suami saya, akhirnya Danny bisa saya bawa pulang dan pihak rumah sakit mengharuskan saya datang di jam-jam tertentu untuk menghabiskan sisa dosis antibiotik yang harus diberikan pada anak saya itu. Bagi saya itu bukan masalah, daripada saya harus berjauhan dengan bayi saya itu.

Danny yang tahun ini masuk SMA

Sekarang Danny sudah berumur 14 tahun lebih. Tahun ini ia sudah duduk di bangku SMA. Tak terasa bayi kecil saya sudah tumbuh besar, bahkan tinggi badannya sudah melampaui tinggi badan saya. Ia juga tumbuh sehat dan belum pernah mengalami sakit yang berat (semoga tidak pernah), kecuali batuk, pilek dan demam biasa.


Tentang Kehamilan Darryl

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Seberapa nakalnya seorang anak, ia toh tetap anak kita. Jadi tidak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan seorang anak, bagaimanapun kondisinya.

Lain Danny, lain pula kisah kehamilan Darryl, anak kedua saya. Jarak kehamilan antara anak pertama dengan anak kedua yang lumayan jauh yaitu 9 tahunan, membuat saya dan suami tak kalah excitednya dengan kehamilan Danny dulu. Kami sama-sama sukacita menyambut kehadiran calon jabang bayi di perut saya. Begitu pun dengan Danny, ia sangat ingin adiknya segera keluar dari dalam perut ibunya.

Berbeda dengan kehamilan pertama dulu, kehamilan kedua ini relatif lancar. Saya hanya mengalami mual dan muntah-muntah di bulan pertama kehamilan. Selebihnya saya justru terlihat "ngebo". Segala makanan saya santap hingga akhirnya berat badan saya naik dengan drastis. Kalau di kehamilan pertama, berat saya dari 40kg menjadi 52kg atau naik 12kg saja. Di kehamilan kedua berat saya dari 44kg menjadi 62kg saat melahirkan, yang artinya naik sekitar 18kg. Dokter bahkan sempat khawatir saya tak bisa mengontrol nafsu makan saya mengingat besarnya perut saya. Takutnya bayi saya terlalu besar sehingga menyulitkan proses persalinannya. Ternyata begitu di cek USG, berat janin saya masih kisaran 2kg. Jadi dapat disimpulkan bahwa makanan yang saya konsumsi selama hamil, larinya justru lebih banyak ke diri saya sendiri, bukan ke janin saya.

Selain faktor umur (saya umur 36 tahun saat hamil kedua) dan berat badan yang bertambah dengan cepat, di kehamilan kedua ini saya juga sering merasakan cepat lelah. Rasanya berat sekali membawa perut yang begitu besar untuk kesana kemari. Saya tak selincah kehamilan pertama dulu. Meski dibarengi muntah-muntah yang hebat, saya masih rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara di kehamilan kedua ini, aktifitas rumah tangga agak terganggu. Jangankan untuk berjalan, duduk saja rasanya susah, termasuk dalam mengerjakan tugas-tugas ibu rumah tangga setiap harinya. Meskipun demikian saya tak berusaha mencari asisten rumah tangga. Selain mencari asisten rumah tangga tak semudah yang dibayangkan, saya merasa pekerjaan sehari-hari masih sanggup saya kerjakan sendiri semampu saya. Saya berusaha menikmati proses kehamilan saya dengan santai hingga waktu persalinan tiba.

Akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Sesosok makhluk mungil telah lahir dari rahim saya. Lahir normal dalam artian tidak kurang suatu apapun, walaupun melalui proses yang tidak normal. Ya, dengan sangat terpaksa bayi kecil itu saya lahirkan secara ceasar. Bukan karena saya menghendaki begitu, tetapi memang usia kandungan saya sudah lewat bulan. Sudah 10 bulan bayi saya bersemayam di dalam rahim saya. Mungkin bayi saya betah berlama-lama  berada di dalam perut saya yang hangat.

Sesuai perkiraan dokter seharusnya bayi saya lahir pada tanggal 27 Mei 2009. Tetapi ditunggu sampai 2 minggu kemudian, bayi saya tetap tidak menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari rahim saya. Ia tetap anteng tanpa adanya kontraksi hingga masuk bulan 10 kehamilan. Karena itulah begitu "ngamar" perawat langsung menginduksi agar saya segera kontraksi. Saya mulai "ngamar" sejak habis Dhuhur, tapi tak juga kontraksi. Hampir sama dengan kehamilan pertama, saya sempat "dibalap" beberapa ibu yang "ngamar" setelah saya, tapi melahirkan duluan. Rata-rata mereka memang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kontraksi atau sudah siap melahirkan. Sementara saya, jangankan bukaan dua, kontraksi pun tidak meski sudah "ngamar" hampir seharian. Semalaman kondisi saya dipantau karena detak jantung bayi di kandungan berubah-ubah. Kadang normal kadang cepat, bahkan sekitar pukul 2 dinihari alat pendeteksi detak jantung terpaksa ditempel permanen ditubuh saya sampai menjelang Subuh karena angka di alat tersebut mendekati 190, dari yang seharusnya 150. Itu kata perawat yang setiap saat mengontrol saya. Dan pada malam itu pula saya disarankan untuk berpuasa untuk kemungkinan yang terburuk, yaitu operasi.

Praktis semalaman saya tidak tidur karena alat yang menempel di perut saya. Selain karena lapar juga karena bunyi alat itu yang sengaja dikeraskan volumenya oleh perawat yang mengontrol saya. Empat botol infus induksi telah saya habiskan. Saya kurang tahu atas pertimbangan apa dokter memberi induksi dalam bentuk infus dan bukan injeksi langsung seperti pada kasus kelahiran anak saya yang pertama dulu. Kalau pada kehamilan pertama dulu, saya sempat kontraksi setelah diinduksi. Sedangkan pada kehamilan kedua ini, setelah ditunggu sehari semalam, tanda-tanda kontraksipun tidak muncul. Dalam istilah kedokteran, kata dokter saya mengalami gagal induksi atau gagal drip. Selain itu ternyata air ketuban saya juga sudah mulai keruh. Kalau tidak segera dikeluarkan bayi saya bisa keracunan. Atas dasar itulah keesokan harinya dokter memutuskan untuk segera mengoperasi saya.

Darryl, sesaat setelah kelahirannya, berat 3,2kg panjang 50cm


Sekitar pukul 10 pagi, tanggal 10 Juni 2009,  saya masuk ke ruang operasi. Campur-aduk perasaan saya saat itu. Maklum ini pengalaman pertama saya menjalani operasi ceasar. Untunglah dokter anastesi, yang kebetulan adalah tetangga depan rumah saya, selalu berusaha menenangkan saya dengan mengobrol biasa seperti layaknya bertetangga. Semua dilakukan sembari menyiapkan peralatan yang semestinya menempel ditubuh saya. Sampai pada akhirnya dokter anastesi tadi menyuruh saya untuk membungkuk sambil memeluk bantal dan beberapa detik kemudian saya merasakan seperti orang yang ditembak di bagian tulang punggung hingga menembus ke kaki. Dari dokter anastesi itu pula akhirnya saya tahu (dan tentunya setelah saya sadar) kalau saya baru saja disuntik bius lokal dari perut ke bawah. Beberapa detik kemudian dokter kandungan mulai bekerja, dibantu oleh beberapa asisten dan perawat tentunya. Pertama-tama dia (mungkin) menyayat perut saya. Saat itu dia masih sempat menanyakan "sakit nggak?", dan karena memang sakit saya jawab "sakit". Pertanyaan itu diulang sampai 2 kali dan untuk selanjutnya saya sudah tidak merasakan apa-apa. Rupanya saat itulah bius saya baru benar-benar bekerja. Lamat-lamat saya mendengar salah seorang diantara asisten dokter tadi mengatakan "aduh banyaknya darahnya". Terus terang walaupun dibius lokal saya merasa seperti dibius total. Entah berapa lama saya terpejam dalam ketidaksadaran (menurut suami saya proses operasinya sangat singkat, hanya sekitar 10 menit saja sejak saya masuk kamar operasi karena pada waktu itu bayi saya sudah dikeluarkan dari ruang operasi untuk diadzani oleh suami saya). Bayi saya lahir dengan berat 3,2kg dan panjang 50cm, hanya selisih sedikit dengan kakaknya waktu lahir dulu. Sama seperti kakaknya dulu, ia pun lahir dengan ditunggui kedua orang tua saya yang jauh-jauh terbang dari Yogyakarta ke Bontang untuk menunggui kelahiran cucunya.

Darryl, meski selang di hidung dan di mulut sudah dilepas, tapi selang infus masih menempel di tangannya 

Selama proses operasi berlangsung saya seperti mendapat pengalaman batin tersendiri. Saya seperti berada disuatu tempat yang lapang, hijau, terang benderang, sendirian pula. Mungkinkah ini yang disebut antara hidup dan mati, saya tidak tahu. Dan apakah orang lain juga mengalami hal seperti itu, entahlah! Saya baru benar-benar tersadar ketika dokter anastesi membangunkan saya : "Mbak... bangun, ini anaknya laki-laki lagi. Ini kalau mau nyium, nanti baru saya keluarkan biar diadzani bapaknya", begitu katanya seraya meletakkan bayi saya di samping saya. Saya cuma bisa bersyukur seraya mengucapkan terima kasih. Masih dalam pengaruh bius, saya mendengar suara berisik seperti mesin jahit disekitar saya. Rupanya saat itu dokter tengah melaser perut saya. Sekitar sejam proses ini berlangsung, selanjutnya saya dibawa ke ruang observasi dan baru setelah Dhuhur saya dipindah ke ruang perawatan.

Pada kesempatan lain saya baru tahu ternyata bayi kecil saya yang akhirnya kami beri nama Darryl  mengalami sedikit keracunan air ketuban. Dan selama dalam kandungan pula Darryl sempat buang air besar dan menelan beolnya. Itulah kenapa setelah kelahirannya, untuk sementara waktu Darryl harus menjalani observasi dan belum boleh dibawa ke ruang perawatan saya sampai kondisinya memungkinkan. Selama beberapa hari Darryl menjalani perawatan ekstra diruang khusus. Selain karena muntah terus setiap minum susu (pada waktu itu ASI saya memang belum keluar sehingga Darryl harus minum susu formula), Darryl masih perlu penanganan lebih lanjut dari dokter. Dan dari orang-orang yang menunggui dan membezuk saya, barulah saya tahu (karena sekitar 3 hari saya belum boleh beranjak dari tempat tidur), ditangan bayi kecil saya itu menancap jarum infus, dihidungnya juga dipasang selang (mungkin selang oksigen), sementara dimulutnya dimasukkan juga selang hingga ke lambung untuk memasukkan susu agar tidak muntah lagi. Sedih saya bila mengingat hal itu, Darryl harus sudah merasakan sakit ditusuk jarum infus diusianya yang baru beberapa jam kelahirannya.

Beberapa hari dirawat Darryl menunjukkan perkembangan yang baik. Pada akhirnya setelah berada di rumah sakit selama seminggu kami berdua diperbolehkan pulang. Sebulan pasca melahirkan, ternyata ada sedikit masalah dengan bekas operasi saya. Ada sedikit infeksi di bekas jahitannya hingga mengeluarkan darah dan nanah. Oleh karena itu saya harus rutin kontrol ke rumah sakit paling tidak 2 hari sekali selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Dan selama proses perawatan luka saya itu, saya diharuskan minum antibiotik dengan dosis tinggi. Akibatnya setiap kali minum ASI, Darryl selalu muntah-muntah. Karena kondisi yang tidak memungkinkan itulah, maka Darryl kecil pun terpaksa saya beri susu formula. Selang beberapa waktu kemudian baru ketahuan pula kalau ternyata Darryl menderita alergi susu formula. Mukanya sempat merah-merah dan mungkin sangat gatal karena setiap saat sering saya lihat ia menggaruk-garuk pipinya. Atas saran dokter akhirnya saya ganti susu formulanya dengan susu soya. Alhamdulillah ternyata cocok. Berangsur-angsur wajahnya membaik seiring dengan baiknya juga kondisi perut saya yang infeksi.




Tanpa terasa hampir 6 tahun berlalu sudah. Darryl sekarang sudah besar dan tahun ini menginjak bangku SD. Darryl tumbuh sehat dan cerdas menurut saya. Mungkin karena sejak bayi sudah terbiasa dengan hal-hal yang menyakitkan (ditusuk jarum infus dan dimasukkan selang ditubuhnya plus menelan beolnya sendiri), maka Darryl terkesan "tahan banting". Tak pernah menangis setiap kali disuntik imunisasi semasa balita.

Danny dan Darryl, dua buah hati saya
Itulah sekelumit kisah saat saya hamil kedua buah hati saya. Dua-duanya sungguh menakjubkan. Setiap kali melihat kedua buah hati saya tumbuh dengan sehat, rasanya sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semuanya ternyata amazing dan Allah itu Maha Baik karena telah menganugerahkan anak-anak yang seperti anak-anak saya. Pengalaman adalah guru yang baik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pembelajaran buat ibu-ibu yang saat ini tengah mengandung atau hendak melahirkan. Harapan saya semoga kehamilan dan persalinannya lancar. Peluk cium dan sayang dari saya untuk para ibu semua. Salam....

*) Postingan ini saya ikutkan dalam Pregnancy Story Writing Competition bersama NUK Baby Indonesia
8

Selasa, 03 Maret 2015

Benda Wajib Bawa Saat Jalan-Jalan

Bagi saya yang kebetulan tinggal di Bontang, salah satu kota di wilayah Kalimantan Timur, sudah menjadi kewajaran kalau jalan-jalan bisa sampai ke luar kota. Ya iyalah, wong mau ngemall yang "benar-benar" mall seperti di kota-kota besar, kami harus ke Balikpapan atau minimal ke Samarinda untuk bisa menikmati "suasana" mall yang sebenarnya. Sebenarnya di Bontang ada satu mall, tapi menurut saya lebih layak disebut supermarket karena koleksinya tak selengkap mall di Samarinda atau Balikpapan. Padahal Samarinda itu terletak kurang lebih 125 km dari Bontang. Jarak sejauh itu bisa ditempuh sekitar 2-2,5 jam perjalanan darat. Sementara Balikpapan jaraknya hampir dua kali lipat jarak Bontang-Samarinda dan butuh sekitar 5-6 jam perjalanan darat. Lumayan jauh bukan? Dan perlu dicatat, jalanan di Kalimantan Timur itu tak semulus jalanan di Jawa. Jadi perlu ekstra "mental" untuk melewati jalanan di sana yang naik turun, bergeronjal dan tentunya berkelok-kelok. Tapi yang namanya refreshing, hal semacam itu bukanlah halangan bagi warga Bontang. Sudah jamak terjadi di setiap akhir pekan, mall-mall di Samarinda atau Balikpapan isinya adalah warga Bontang. Gak percaya? Intip aja tuh tempat parkirnya, isinya penuh dengan kendaraan berplat Bontang hehehe.

Karena perlu perjuangan yang "ekstra" itulah, makanya tak jarang warga Bontang jika sedang ngemall biasanya sekalian nginap di hotel ataupun di rumah keluarga. Begitu pun dengan saya. Saya biasa berangkat Jumat sore atau Sabtu pagi dan baru kembali ke Bontang pada Minggu sore. Karena harus nginap, ada benda-benda wajib yang tak boleh ketinggalan jika traveling seperti itu. Yang namanya gadget macam hape (plus chargernya), laptop dan kamera (dslr/pocket) sudah pasti harus ada. Kalau tak ada ketiga benda itu, bisa mati gaya saya secara saya hobby bersosial media. Gak afdol kalau gak update status dan juga gak foto narsis hehehe.

Selain ketiga benda itu, baju ganti dan perlengkapan mandi pun sudah pastilah. Nah, sebagai perempuan paling cantik serumah (dua anak saya laki-laki semua), peralatan "tempur" macam bedak dan lipstik juga tak boleh ketinggalan. Di postingan sebelumnya saya pernah membongkar pouch kosmetik saya bila sedang jalan-jalan. Apa aja isi pouch kosmetik saya, ini dia penampakannya....


Cotton bud dan gunting kuku, wajib bawa

Meskipun tak pandai berdandan, peralatan "tempur" macam bedak, lipstik, handbody, parfum, daycream, deodorant, pensil alis, dan sisir wajib saya bawa. Selain itu di dalam pouch kosmetik saya juga wajib ada gunting kuku dan cotton bud. Kenapa? Karena saya paling gak bisa punya kuku panjang. Panjang sedikit harus buru-buru di potong karena kalau sedang jalan-jalan gitu wajib hukumnya untuk berwisata kuliner. Dan makanan kegemaran keluarga saya adalah aneka seafood. Gak asyik kan kalau makan ikan bakar, kepiting saos tiram, udang goreng tepung pakai sendok? Makanan seperti itu nikmatnya ya disantap langsung pakai tangan. Jadi kuku tangan harus dalam kondisi bersih. Itulah kenapa gunting kuku gak boleh ketinggalan. Terus kenapa cotton bud harus juga dibawa selama jalan-jalan? Buat korek kupinglah, mosok buat korek upil hahaha. Kebiasaan saya kalau habis mandi adalah ngorek kuping agar tak ada sisa-sisa air habis mandi. Itu gak hanya kalau sedang jalan-jalan, di rumah pun habis mandi wajib korek kuping. Makanya cotton bud menjadi benda wajib yang tak boleh ketinggalan.

Yang namanya traveling luar kota, sudah pasti sama seluruh keluarga. Nah, kalau jaman anak-anak saya masih bayi dulu, repotnya bisa berkali-kali lipat dari sekarang. Baju gantinya bisa hampir separo isi lemari dibawa semua, apalagi kalau harus mudik ke Jawa. Belum lagi tetek bengek lainnya macam susu formula, diaper dan sebangsanya. Alhamdulillah, sekarang mereka sudah besar-besar (yang besar 14 tahun, yang kecil 5 tahun), jadi kadar kerepotan sudah berkurang. Hanya saja anak tertua saya masih belum bisa meninggalkan satu barang jika sedang jalan-jalan. Apakah itu? Barang itu adalah...jreng...jreng...

Sarung bantal buluk :)

Ya, sarung bantal! Masih mending kalau sarung bantal baru, ini sarung umurnya sudah 14 tahun lebih dan sejak bayi anak saya punya kebiasaan memlintir-mlintir ujung sarung bantal sebelum tidur. Makanya lama-lama ujungnya sampai bolong begitu. Bukan hanya ujungnya, pinggirannya juga sudah robek-robek hahaha. Tapi karena ini "benda keramat", maka wajib bawa kalau sedang jalan-jalan. Jangankan ke Samarinda atau Balikpapan. Sarung bantal ini juga ikutan naik pesawat jika kami mudik ke Yogyakarta hehehe.

Nah, itulah tadi benda wajib yang tak boleh ketinggalan saat saya jalan-jalan. Teman-teman punya benda wajib yang tak boleh ketinggalan saat jalan-jalan? Ikutan aja di "1st GA-Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan"


      

Kamis, 19 Februari 2015

Membongkar Pouch Kosmetik

Holaaa...

Berhubung hari ini bertepatan dengan Tahun Baru Imlex, maka saya ucapkan buat keluarga besar suami, yang kebetulan masih ada keturunan Cina dan juga teman-teman yang merayakan Imlex...Gong Xi Fa Cai...semoga keberkahan dan kesuksesan menyertai kita semua...aamiin. Jangan lupa angpaonya ya hehehe *ngarep

Lama sudah gak update blog saya ini. Rasanya gimana gitu. Merinding disko...*halah lebay. Ini blog atau lokasi uji nyali? Saking lamanya gak dirawat, jadi sudah banyak nih semak-semak belukar yang tumbuh hehehe.

Kali ini saya wajib berterima kasih pada Mak Gaoel Winda Krisnadefa, karena gara-gara dia bikin giveaway di blognya, maka mau tak mau saya tergelitik untuk mengupdate blog saya ini. *cipok mak Winda dulu deh!

Tapi beneran lho, Mak Gaoel satu itu belakangan sukses bikin saya ikutan beberapa challenge yang diadakannya, baik itu di FB maupun di IG. Gara-gara dia kemarin bikin fun challenge foto ala-ala seleb gitu, saya jadi ketagihan berfoto seleb wannabe lho. Meski gak menang, saya gak nyesal ikutan. Seru sih bisa foto mirip seleb kayak gitu, meski gak wangun sama sekali alias gak pantas kalo saya. Habis si seleb jelas-jelas langsing, sementara saya langsung hahaha. *baca montok

Back to topic... kali ini Mak Winda bikin giveaway tentang isi pouch kosmetik. Jadi apa aja biasanya isi pouch kita, upload aja di sini. Sejujurnya saya ini jarang bawa-bawa pouch kosmetik di tas saya. Kalo pun bawa biasanya juga kalo lagi keluar kota. Kalo masih dalam kota, gak pernah bawa apa-apa. Bahkan lispstik atau bedak sekalipun, gak pernah bawa. Kalo lagi jalan-jalan gitu, isi tas saya ya cuma hape sama dompet. Habisnya saya ini jarang dandan sih. Dulu jaman saya sekolah sampai kuliah, teman-teman malah bilang saya ini lebih banyak bambangnya daripada endangnya hehehe. Tahu kan maksudnya? Itu lho katanya saya tuh lebih banyak tampang maskulinnya daripada femininnya. Lha wong gak pernah make up-an sama sekali koq hahaha. Tapi kalo sekarang sudah mendingan sih. Meskipun gak feminin banget, tapi adalah kalo kosmetik dikit-dikit. Apalagi setelah punya suami dan sering ikutan acara-acara kantor nemenin suami, sedikit-sedikit maulah moles wajah walau sekedarnya.

Nah, berhubung ini temanya tentang isi pouch, baiklah ini adalah pouch kosmetik kesayangan saya.

Ini lho penampakan pouch kosmetik saya

Terus apa aja isinya pouch saya itu, mari kita bongkar isinya! Dan isinya adalah...jreng...jreng...

Tuh isi pouch kosmetik saya, gak banyak kan hehehe


* sebuah sisir
* satu bedak two way cake
* satu pensil alis
* dua buah lipstik, satu warna lembut satunya lagi lebih ngejreng, pokoknya nyesuain warna baju aja
* satu botol kecil parfum
* satu buah deodoran
* satu buah day cream
* satu botol handbody
* satu gunting kuku, gak bisa lihat kuku panjang dikit sih hehehe
* cottonbud, wajib bawa karena kalo habis mandi mesti bersihin kuping dulu hihihi

Ya seperti itulah biasanya isi pouch saya. Karena gak pandai dan gak suka dandan, makanya alat make up saya sih standar-standar aja. Gak ada foundation karena sudah pake daycream dan juga bedak two way cake. Itu aja sudah terasa tebal di wajah. Gak pernah pake eyeshadow karena konon katanya kelopak mata saya sudah coklat alami, persis kayak pake eyeshadow coklat keemasan gitu...katanya lho!

Dan ini adalah penampakan saya kalo sudah pake alat tempur saya itu...taraaaa

Gimana, lumayan kan hahaha *iya-in aja biar seneng :P

Ya udah gitu aja. Yang mau ikutan buruan, soalnya giveaway ini cuman sebentar. Siapa tahu hoki dan dapat lipstik atau eyeliner hehehe. *ngarep banget

Oh iya, giveaway ini gak hanya di blog lho, di IG-nya mak Winda juga ada. Dan saya pun juga ikutan disana hehehe *maruk


Postingan ini diikutkan dalam rangka Giveaway Blog Emak Gaoel
Bongkar Pouch Kosmetikmu

http://www.emakgaoel.com/

Sabtu, 21 Desember 2013

Emak Sekarang Harus Kreatif

Jika sedang belanja di mini market, si bungsu Darryl, anak saya itu paling senang beli minuman dingin dalam kemasan botol. Akibatnya, sisa-sisa botol bekas di rumah lumayan banyak. Mau dibuang, koq sayang. Lagipula membuang botol plastik begitu saja juga sangat tidak dianjurkan. Konon, sampah plastik, termasuk botol bekas minuman, sulit untuk terurai dalam tanah. Kalaupun terurai butuh waktu hingga ratusan tahun. Waduh, lama amat ya? Sudah lingkungan tercemar, ekosistem rusak pula akibat limbah plastik. Kalau ukurannya besar, botol bekas memang sering saya pakai untuk pengganti pitcher dalam kulkas. Tapi kalau ukurannya kecil atau nanggung, ribet juga ya. Di buang salah, tidak dibuang pun koq jadi nyampah di rumah. Kasih ke pemulung aja! Wah, kebetulan di komplek saya jarang ada pemulung lewat. Jadi?

Namanya juga emak smart, kudu pinter dong hehehe. Apa saja yang sering kita anggap tak berguna, pasti bisa kita manfaatkan. Terus apa hubungannya dengan botol bekas tadi. Ya itu tadi, bagaimana caranya memanfaatkan botol bekas minuman kemasan agar tidak dibuang percuma begitu saja. Caranya? Gampang, browsing aja di internet, pasti beres! Hari gini gak tau internet? Wah, gak gaul dong! Emak jaman sekarang kudu gaul sama internet juga lho. Kalau tidak, bisa "kegilas" jaman. Segala rupa kan ada di internet, jadi manfaatkan dong internet. Browsing aja di internet, kira-kira botol bekas minuman bisa kita manfaatkan untuk apa saja. Kalau saya sih yang simple aja dan hasilnya adalah...taraaaa...pot tanaman.


Karena kebetulan halaman rumah saya sempit dan mayoritas sudah dipakai sebagai garasi dan diplester dengan semen. Jadi, susah kalau mau bercocok tanam. Nah, dengan botol bekas minuman tersebut, bisa kita manfaatkan jadi pot tanaman, seperti foto di atas. Kemudian kita gantung-gantungkan pot tanaman dari botol bekas tadi di dinding atau pagar rumah. Jadi deh! Rumah kita juga tampak seger. Yang lebih keren lagi, beberapa waktu lalu saya lihat seorang teman memanfaatkan botol plastik bekas dan juga gelas-gelas plastik, bahkan pralon bekas untuk bercocok tanam sayuran organik. Model-model hidroponik gitu. Ada selada, bayam merah, sawi dan sebagainya. Semua juga hanya ditaruh dan di gantung di dinding rumahnya. Kalau butuh sayuran, tinggal petik di rumah sendiri. Sudah gratis, sehat pula karena tanpa pestisida. Keren bukan? Yang itu jelas-jelas kreatif. 
  
Emak-emak jaman sekarang memang kudu smart, gaul dan kreatif. Percuma ada gadget, tapi tidak dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan. Bukankah teknologi itu diciptakan untuk mempermudah hidup manusia? Jadi semua tergantung dari bagaimana kita menyikapi kehadiran teknologi itu. Punya gadget keren dan mahal, tapi cuma buat telpon dan sms doang! Mubazir, kalau kata saya hehehe


Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Smart di Era Modern

Ujian Semester anak sekolah telah usai sekitar seminggu lalu. Termasuk di sekolah anak saya Danny, yang sekarang duduk di kelas 2 SMP. Meskipun sudah selesai ujian semester, tapi seminggu ini anak saya tetap masuk sekolah seperti biasa. Bukan untuk belajar, melainkan class meeting di sekolahnya, bertanding olah raga antar kelas.

"Ma, aku harus ngumpulin tugas TIK, suruh bikin kliping sama guruku." Ucapnya suatu siang sepulang class meeting.
"Ya sudah bikin sana!" Balas saya sambil menyelesaikan masakan untuk makan siang.
"Tapi aku mau mama yang nyarikan tugasnya."
"Lho, koq mama? Cari sendiri kan bisa, googling aja TIK di internet kan ada." Saya masih saja melanjutkan pekerjaan saya di dapur.
"Iya, tapi ntar sama dengan teman-temanku, Ma. Aku maunya yang beda."
"Maksudnya?" tanya saya masih tak paham dengan perkataan sulung saya itu.
"Maksudku, teman-temanku tuh pasti juga googlingnya dengan keyword seperti itu. Pasti deh hasilnya sama. Aku maunya artikelku beda dengan temanku, meski sama-sama googling di internet." Danny menerangkan ucapannya.
"Oh, gitu. Kalau gitu buka aja blognya mama. Ada koq beberapa tulisan mama yang tentang teknologi."
Tak berapa lama saya lihat anak saya itu sudah sibuk di depan komputer. Ia seperti sedang mencari artikel-artikel tentang teknologi informasi di blog kroyokan saya.
"Gimana, ada kan?" Sekian lama di depan komputer, anak saya tampak belum mendapatkan hasil yang dia mau.
"Gak ada, Ma. Tulisan mama ini kebanyakan curhat melulu." Anak saya itu tampak kurang senang dengan apa yang diperolehnya dari blog saya.
"Lho katanya mau yang beda dengan teman-temanmu. Kalau mau beda yang kayak punya mama, meskipun hanya curhatan tapi itu menarik karena ditulis oleh ibu-ibu. Ibu-ibu itu kalau nulis sepenuh hati lho!" ucap saya meyakinkan.
"Tapi aku bingung, curhatan mama yang tentang teknologi yang mana? Mama aja yang nyarikan ya!" Danny bicara dengan tanpa semangat.
"Ya, sudah nanti mama carikan. Sekarang mama masih sibuk."

Kurang lebih sejam kemudian, anak saya menagih apa yang saya janjikan tentang tugas klipingnya. Saya yang kala itu sedang ngecek orderan tas, hanya menjawab "sebentar". Tak sampai setengah jam, anak saya sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Belasan artikel tentang TIK, yang beberapa di antaranya adalah tulisan ibunya sendiri. Dia tinggal mengeprint artikel dan menyusunnya dalam sebuah kliping.

Belakangan ini saya memang lagi asyik menikmati kegiatan baru saya yaitu jualan tas secara online. Saya pikir sayang saja punya smartphone yang sudah diinstal aplikasi BB, tapi tak saya manfaatkan secara optimal. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan lewat aplikasi BB di smartphone saya tak lain jualan online. Hitung-hitung untuk menambah income keluarga. Apalagi saya punya banyak teman di facebook. Jualan saya bisa saya pasarkan pula melalui facebook. Jadi saya anggap teman-teman saya itu pangsa pasar yang potensial untuk memasarkan dagangan saya. Dan Alhamdulillah, meski tak banyak ada saja yang order tas. Malah beberapa teman sudah berminat menjadi reseller saya. Senang, sudah pasti. Saya sudah mampu menghasilkan hanya berbekal hape smart saya itu.

Menulis bisa dilakukan di mana saja, termasuk saat sedang menunggu menu di rumah makan ini

Setelah lewat tulisan, ternyata sekarang saya juga mampu menghasilkan uang dari jualan secara online. Iya, beberapa artikel yang saya tulis memang telah menghasilkan uang. Ada yang dimuat di majalah, ada pula yang dimuat di surat kabar. Dari yang dihargai puluhan ribu sampai jutaan rupiah per artikel juga ada. Selain berbayar, beberapa artikel saya juga telah mampu menghasilkan barang, baik berupa buku atau malah motor. Ini biasanya saya dapatkan ketika saya menang kontes nulis. Dan semua yang saya hasilkan itu hanya berbekal hape smart saya itu dan pastinya bisa saya lakukan di mana dan kapan saja. Saya bisa menulis sambil nongkrong di warung, bisa juga saat sedang momong anak di taman. Walaupun hanya di rumah, bukan pekerja kantoran, tapi saya tetap tak mau jadi ibu yang gaptek. Saya berusaha untuk update informasi terbaru lewat internet. Karena itu saya butuh gadget yang mampu untuk memenuhi kebutuhan saya itu. Saya tak ingin ibu-ibu seperti saya ini dipandang sebelah mata. Ibu-ibu jaman sekarang harus melek teknologi. Jangan hanya seperti katak dalam tempurung. Tahunya itu-itu saja, dapur, sumur dan kasur. Paradigma lama itu harus diubah.

Sebagai ibu-ibu yang meskipun hanya di rumah, kita harus mampu menghasilkan sesuatu. Ada banyak peluang dan kesempatan di depan mata dan itu bisa kita raih hanya dengan gadget dalam genggaman kita. Buat apa kita punya hape mahal yang katanya smart, tapi tidak dimanfaatkan secara optimal. Sayang bukan? Teknologi itu diciptakan untuk membantu manusia. Usahakan teknologi itu bekerja untuk kita, jangan justru sebaliknya. Jadilah ibu-ibu yang smart, menangkap peluang yang ada di depan mata.

Seperti yang saya lakukan sekarang ini, di samping menulis saya juga berusaha menangkap peluang dengan berjualan secara online. Terus apa hubungan dengan tugas sekolah anak saya tadi? Ya justru itulah, dalam rangka menangkap peluang saya berusaha "mengenalkan" diri saya yang sebenarnya. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi semata-mata ingin mengubah paradigma lama itu. Bahwa saya tidak seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya, yang tahunya hanya dapur, sumur dan kasur itu. Saya juga mampu menulis, meskipun masih tulisan ringan-ringan saja. Siapa tahu justru ada yang tertarik untuk membukukan catatan-catatan ringan saya itu. Who knows? 

Lagipula semua yang saya lakukan, baik itu menulis, berjualan secara online tetap tak mengganggu rutinitas saya sebagai ibu rumah tangga. Semua yang saya lakukan tetap tak mengganggu tugas utama saya sebagai ibu rumah tangga. Saya tak pernah melalaikan tugas saya yang tetap memasak, menyapu, mengepel, nyuci, dan beres-beres rumah. Karena itulah suami dan anak-anak tak pernah komplain dengan aktifitas saya tersebut. Mereka justru mensuport karena apa yang saya lakukan tujuannya baik dan positif.  Semua itu bisa kita lakukan asalkan ada kemauan dan niat. Jadi tunggu apalagi, jadilah ibu-ibu yang gaul, yang smart, dan kreatif. Tangkaplah segala peluang di depan mata. Ubah paradigma lama itu! Salam smart, gaul, dan kreatif dari saya.



Kamis, 14 November 2013

(W4) Emak Aktif dan "Berisik" Seperti Saya, Cocoknya Pakai Acer Aspire E1-432

Dari awal saya ikutan kontes ini, saya bilang kalau saya tak punya notebook, adanya laptop (itupun punya suami yang susah diganggunya) *eh, belakangan baru saya tahu kalau ternyata notebook itu sama ya dengan laptop hahaha. Punya komputer dan juga tablet, tapi sayangnya selalu rebutan juga dengan anak, yang kebetulan pada hobi ngegames yang diturunkan dari ayahnya. Ya, akhirnya sebagai emak yang baik dan penyayang *tsahhh, sayalah yang lebih banyak ngalahnya. Akibatnya kalau ada ide nulis, gagal deh dituangkan dalam blog karena tak adanya sarana untuk menumpahkan uneg-uneg yang sudah ngendon di kepala *alasan hehehe.

Padahal saya ini termasuk orang yang bisa nulis di mana saja lho, mau sambil nungguin anak main atau lagi momong anak juga bisa kalau sekedar nulis curhatan alakadarnya seperti biasanya. Apalagi kalau sambil nunggu pesanan menu datang pas di warung atau restoran, lebih baik ya saya pakai untuk nulis. Jadi tempat tak jadi soal bagi saya, asal ada alatnya buat nulis. Kalau tak nulis ya minimal merusuh di jejaring sosial hahaha. Saking tak bisa lepas dari gadget dan internet, pernah ada yang menyebut saya sebagai emak-emak yang "berisik" di media sosial. Tak ada komputer buat update blog ya "larinya" ke facebook dan twitter, tapi ya itu tadi pakai hape. Meski tulisannya hanya tampak kecil-kecil, akibat keterbatasan mata saya menangkap huruf/font di layar hape, ya tetap dijabanin. Kalau tidak, apa kata dunia? Fans-fans saya pada nyari pastinya kalau saya hilang dari peredaran dunia maya, kan seleb dunia maya hahaha *abaikan.

Ya gitulah, saya itu penginnya bisa update blog setiap hari seperti emak-emak blogger yang lainnya itu. Ngakunya blogger, koq gak pernah update blog, lucu kan? Tapi ya itu tadi, pas mau update blog, eh komputernya dipakai. Ibarat "bom", sudah mau "meledak", gagal deh! Akhirnya merusuhlah saya di facebook, berkicaulah saya di twitter. Padahal saya ini termasuk emak-emak banci kontes. Setiap ada kontes berusaha saya ikuti. Kalau menang kan lumayan hadiahnya. Pernah lho saya menang kontes dapat motor dan itu adalah hadiah kontes terbesar yang pernah saya terima. Terus mana itu motor sekarang? Sayangnya motornya sudah dilipat jadi uang hahaha. Habisnya dulu ribet sih mau bawa pulang itu motor ke Bontang, Kalimantan Timur. Ongkos pengirimannya dari Jakarta bisa ngabisin hampir separuh dari harga motor. Ogah saya keluar duit segitu banyaknya. Coba ambil hadiahnya gak di Jakarta atau hadiahnya dikirim gratis ke tempat tinggal saya, pasti itu motor masih ada wujudnya *hiks hiks.

Selain itu, jelek-jelek begini, ada lho pihak yang sudah mempercayakan saya untuk menulis beberapa artikel dan lumayan juga bayarannya. Ada juga seorang teman yang mengijinkan saya mengirim artikel setiap saat saya mau untuk dimuat di salah satu majalah internal gitu. Meskipun honornya tak seberapa, tapi kan rasanya gimana gitu tulisan kita dihargai. Apa gak asyik tuh? Hari gini ditawari nulis artikel, dibayar pula! Tapi ya itu tadi, tak semua tawaran bisa saya jabanin karena sarana untuk menulisnya tak selalu siap alias sedang dipakai. Nah, maka dari itu ikutan kontes ini siapa tahu saya hoki. Notebook Acer Aspire E1-432 keluaran terbaru yang lebih slim dan keren itu jadi milik saya. Jadi kalau saya bawa ke mana-mana itu notebook, gak bakalan merepotkan karena ringan ditenteng. Menulis bisa makin produktif. Siapa yang tak mau tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya? Jadi gimana, kira-kira saya layak kan untuk bisa dapati notebook Acer Aspire E1-432 ini hehehe. Pokoknya kalau sampai notebook Acer ini jadi milik saya, wuih pasti girang bukan main deh saya. Saya janji mau rajin update blog deh hehehe. Kan saya gak perlu rebutan dengan anak lagi gitu. Paling tidak ya bisa nambah-nambah sedikit uang belanja kalau saya rajin menulis artikel di majalah yang ditawarkan seseorang itu hehehe. Jadi kasih ke saya ya hadiah notebook Acernya hehehe *ngrayu admin nih ceritanya


Tuh keren kan notebooknya (sumber gambar di sini )


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Rabu, 06 November 2013

(W3) Notebook Slim Impian Keluarga

Suami saya penggemar berat games, jauh sebelum menikah dengan saya. Sebagai gamer sejati koleksi CD gamesnya saat ini telah mencapai 4 ribu lebih. Awalnya koleksi CD gamesnya hanya dipakainya sendiri. Lama-lama keponakan mulai tertarik untuk meminjamnya dan akhirnya CD itu berputar pula ke teman-temannya. Karena saking seringnya dipinjam orang, tak sedikit yang berakibat rusaknya koleksi CD games suami saya itu. Untungnya semua CD koleksinya itu telah diback up filenya ke harddisk sehingga jika rusak pun, suami saya masih bisa mengkopi ulang ke CD yang baru. Persoalan mulai muncul manakala suami saya mulai mengeluarkan uang ekstra demi membeli CD kosong untuk mengkopi ulang CD yang telah rusak. Akhirnya tercetuslah ide untuk sekalian saja merentalkan CD koleksi itu demi menutup biaya perawatan CD yang rusak tersebut. Apalagi mengingat pangsa pasar penggemar CD games saat itu lumayan besar. Benar saja begitu dibuka sekitar 8 tahunan lalu, rental games suami saya terbilang sukses. Meski hanya usaha sampingan, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan suami yang hanya "kuli" di salah satu perusahaan migas ternama di Bontang, Kalimantan Timur. Rupanya kegemaran main games ini pun ditularkan pula pada anak-anak saya. Anak sulung saya yang sekarang sudah kelas 2 SMP, sejak masih SD terbilang piawai untuk mengoperasikan CD games koleksi ayahnya. Mulai dari menginstal, mengkopi ulang ke CD baru jika ada konsumen yang menghendaki untuk membeli, dan pastinya memainkannya juga.

Dari jaman anak masih bayi, suami saya sudah tak bisa lepas dari laptop


Sambil momong anak, tetap masih bekerja di depan laptop

Belakangan begitu era games internet mulai booming, konsumen pun mulai beralih games online, begitu pun dengan suami saya. Meski masih terus mengkoleksi CD games, tapi kegemarannya memainkan games CD sudah beralih ke games online. Awalnya suami dan anak-anak masih setia dengan komputer di rumah setiap kali memainkan koleksi gamesnya. Tapi karena semua juga hobby ngegames, akhirnya dua komputer di rumah masih dirasa tak mencukupi. Karena itulah suami memutuskan untuk membeli laptop agar tak selalu rebutan dengan anak setiap hendak menggunakannya. Namanya juga gamer sejati, kemana pun pergi selain tentunya pergi ke kantor, ia tak pernah lepas dari games online itu. Meski sedang liburan, ia hampir tidak pernah ketinggalan akan laptop dan modemnya. Begitu harus menemani anak-anak bermain, laptop dan modem ikut pula menemaninya. Belum lagi dengan pekerjaan suami yang kebetulan tak pernah lepas dari internet, begitu libur pun email-email yang berhubungan dengan pekerjaan pun terus saja berdatangan dan menunggu untuk difollow up. Itulah kenapa suami saya hampir tidak pernah lepas dari yang namanya laptop dan internet. Itu pula sebabnya saya dan anak-anak juga hampir-hampir tak pernah menyentuh laptop milik suami karena takut rusak, sementara banyak data perihal pekerjaan ada di dalamnya. Kalaupun kami menyentuhnya pasti atas pengawasan suami.

Anak-anak saya pun tak bisa lepas dari yang namanya laptop
Permasalahannya setiap kali kami liburan keluar jalan-jalan atau menemani anak bermain, kerepotan selalu saja muncul. Namanya juga anak-anak, selalu saja ada yang ingin dibawanya. Tas saya selalu saja penuh, entah dengan mainan, bekal makanan dan minuman, belum lagi baju ganti. Padahal kami main hanya di sekitar lingkungan komplek, tapi kalau sudah di pantai, ya baju ganti itu selalu saya siapkan untuk anak-anak karena umumnya mereka selalu ingin nyebur ke air. Belum lagi ketambahan laptop papanya anak-anak yang lumayan berat. Maklum itu laptop masih generasi yang lama, yang tebal sekaligus berat. Penginnya sih tak perlu bawa laptop agar tak menambah berat tas saya, tapi ya itu tadi mana bisa suami lepas dari laptop. Ya mau tak mau laptop yang lumayan berat itu terbawa juga. Andai dari dulu ada laptop yang ringan-ringan saja, tapi dengan spec yang tinggi dan fitur yang lengkap pasti tak akan beli yang seberat itu karena pada dasarnya suami suka yang praktis dan tak merepotkan.

Sejak saya mengikuti kontes ngeblog ini, saya sering cerita pada suami perihal notebook Acer keluaran terbaru yang lebih tipis dari generasi sebelumnya. Selain tipis, notebook Acer ini juga terbilang murah dengan spec yang terbilang tinggi dan fitur yang komplit, yang tentunya sangat mensuport untuk kegemaran ngegames suami dan pastinya untuk urusan kerjaannya. Sebagai material engginer di perusahaannya, suami saya sangat memerlukan processor yang kelasnya tinggi agar lebih efisien waktu dalam bekerja. Apa jadinya jika untuk browsing suatu barang yang urgent di pabrik, komputer loadingnya kayak keong? Begitu pun dengan memori dan harddisknya pun harus yang ukurannya besar. Untuk itulah suami saya memang selalu mencari laptop yang specnya tinggi. Padahal suatu laptop yang specnya tinggi pastinya mahal harganya. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing item, misalnya processor, harddisk, memori, dan sebagainya sudah terbilang mahal harganya. Ibarat pepatah, ada harga ada rupa. Bagaimana mungkin harganya minta murah, tapi barangnya bagus? 

Nah, begitu saya cerita perihal notebook Acer yang specnya tinggi, didukung performa Intel® Processor di dalamnya, tapi harganya terjangkau, suami saya langsung tertarik. Antara percaya dan tak percaya, begitu browsing di web Acer ini, suami terkejut dengan harga yang tertera di sana. Untuk seri Aspire E1-432 saja harganya tak lebih dari 5 juta. Jangankan suami, saya saja juga tertarik. Selain harga yang miring, notebook seri ini juga lebih slim sehingga tak berat kalau mesti dibawa kemana-mana seperti yang biasa kami lakukan. Siapa yang tak ingin tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya ini? Kalau saya ingin ngeblog pun, juga nyaman karena layarnya lebar yakni 14 inci sehingga tak cepat membuat mata saya lelah. Begitu saya ajukan keinginan untuk memiliki notebook ini, suami malah bilang "kan kamu sudah ikutan kontesnya, siapa tahu menang hehehe". Yaelah.... kalau itu saya juga bisa hehehe. Siapa coba yang tak ingin punya notebook Acer Aspire E1-432 ini? Sudah slim, murah, keren pula. Handal buat kerja, asyik pula buat ngegames. Benar-benar notebook impian keluarga deh hehehe.


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Jumat, 01 November 2013

Akhirnya, Saya Pun Bisa Melumat Roti Durian Panglima

Roti Durian Panglima rasa keju

Beberapa waktu lalu ketika saya blog walking, saya menemukan satu tulisan yang menceritakan tentang salah satu produk makanan yang akhir-akhir ini begitu fenomenal di Kalimantan Timur, khususnya di Kota Samarinda. Dalam tulisannya, blogger itu menceritakan bahwa untuk mendapatkan produk makanan tersebut, pembeli tak bisa begitu saja dengan mudah mendapatkannya seperti kalau kita membeli makanan pada umumnya, tetapi perlu "berjuang" ekstra keras demi bisa merasakan nikmatnya makanan tersebut. Untuk mendapatkan satu kotak saja, pembeli harus antri bila perlu beberapa jam sebelumnya karena waktu penjualan produk ini juga terbatas, yakni dari pukul 4 sore hingga pukul 6 sore. Selain itu prosedur antriannya juga terbilang unik karena pembeli atau konsumen harus mengambil nomer antrian terlebih dahulu di kasir dengan cara membayar harga produk makanan yang akan dibeli. Kalau sudah membayar di kasir, konsumen akan mendapat nomer urut dan selanjutnya tinggal menunggu saja sampai mobil van putih yang membawa produk makanan itu datang. Nomer urut itulah yang nantinya ditukarkan dengan produk makanan itu. Produk makanan yang saya maksud itu tak lain dan tak bukan adalah Roti Durian Panglima, salah satu olahan roti yang didalamnya terdapat selai durian.

Potongan Roti Durian Panglima rasa keju. selai duriannya di tengah-tengah, so yummy

Sebagai penggemar durian, begitu membaca kata durian, insting saya langsung tergerak. Saya cari tahu dimana produk itu bisa saya dapatkan. Ternyata Roti Durian Panglima itu hanya bisa saya dapatkan di Pusat Oleh-Oleh Khas Kalimantan Timur atau yang biasa dikenal dengan East Kalimantan Center, tepatnya di Jalan P. Antasari no.1 Samarinda. Waduh, saya kan tinggal di Bontang dan tidak setiap hari juga bisa ke Samarinda. Masih mending kalau saya bisa nitip ke adik saya yang kebetulan tinggal di Samarinda, tapi masalahnya adik saya kerja PNS yang harus pagi sampai sore di kantor. Pulang kantor juga sudah habis tuh rotinya. Saya pun tak kehilangan akal, sebagai suatu produk yang fenomenal pasti tak lepas dari peran media social, entah itu blog, facebook atau twitter. Mustahil dong Roti Durian Panglima tak punya akun twitter? Saya yang kebetulan sudah memfollow akun twitter  East Kalimantan Center sebelumnya langsung memfollow juga twitter dari Roti Durian Panglima. Saya langsung mentwit pertanyaan, dimana kira-kira saya bisa mendapatkan roti itu di Bontang. Sayangnya, saya tak bisa mendapatkan selain di outlet  East Kalimantan Center. Walah, gagal deh bisa merasakan roti durian. Saya hanya bisa menelan ludah setiap membaca twitt dari orang-orang yang berhasil mendapatkan roti itu yang pastinya disertai foto roti dengan selai durian di dalamnya. Ihhh...sebel deh! Mau nekad ikutan antri juga belum tentu dapat karena saking banyaknya antrian yang juga ingin membeli roti itu. Saya lihat foto-foto di beberapa blog yang menulis tentang roti durian, antriannya sampai mengular begitu. Gila! Ini benar-benar gila, hanya demi roti durian mereka rela antri seperti itu, meski dibela-belain datang duluan, hujan pula. Memang seberapa enaknya sih Roti Durian Panglima ini? Makin penasaran saja saya!

Twitter saya yang memamerkan hasil "perburuan" Roti Durian Panglima

Hingga akhirnya kesempatan untuk mendapatkan roti itu datang juga. Waktu itu kebetulan saya harus mengantarkan orang tua saya yang mau pulang ke Yogyakarta. Harus ke Balikpapan dong saya hehehe. Lewat Samarinda dong pastinya hehehe. Tapi karena waktu itu saya mengantar orang tua saya ke Balikpapan pagi-pagi sekali demi mengejar pesawat pagi dan begitu lewat di depan outlet East Kalimantan Center ternyata outletnya masih tutup. Yahh... gak papa deh! Masih ada kesempatan besok. Toh kalau saya pulang ke Bontang pasti lewat lagi di depan East Kalimantan Center. Tapi demi menghindari kehabisan stok, saya terlebih dulu menyuruh adik saya yang tinggal di Samarinda itu untuk mengantri di depan outlet East Kalimantan Center. Jadi besok kalau saya lewat sudah ada adik saya yang mengantrikannya. Tapi lagi-lagi saya kurang beruntung, begitu adik saya sampai di outlet ternyata nomer antrian sudah habis. Padahal waktu itu masih pukul 4.15 sore. Kabar itu saya dapatkan langsung dari sms adik saya karena saat adik saya mengantri, saya masih di perjalanan antara Balikpapan-Samarinda. Dan benar saja ketika saya melintas di depan outlet East Kalimantan Center, antrian orang untuk mengambil "jatah" roti dari mobil van sudah berjubel. Sial! Pas ada kesempatan ke Samarinda, roti durian tetap tak bisa saya dapatkan.

Roti Durian Panglima rasa original

Ya sudah akhirnya saya hanya bisa pasrah. Mungkin belum rejeki saya untuk bisa menikmati kelesatan roti durian itu. Tapi saya terus berupaya untuk mendapatkannya. Namanya juga masih penasaran kalau belum merasakan secara langsung, bukan sekedar lewat foto-foto langsung bilang "enak nih kayaknya." Belum afdol dong bilang "enaknya" kalau belum melumat sendiri selai durian yang dibalut roti itu. Saya pun terus berusaha untuk mendapatkan roti itu, bagaimana pun caranya. Setiap ada teman kantor suami atau tetangga yang kebetulan pergi ke Samarinda selalu saya pesanin untuk membelikan roti itu. Tapi karena pembelian hanya dibatasi 2 kotak untuk setiap orang, makanya kalau pun dapat rotinya yang dapat ya orang-orang yang saya pesanin itu karena mereka pun juga penasaran dengan rasanya roti durian. Walah, pengharapan saya serasa sudah habis. Saya hanya bisa berharap agar roti durian buka cabang di Bontang. Itu saja deh harapan saya, gak muluk-muluk.

Ehh, koq ternyata saya hoki. Harapan saya bisa menikmati kelezatan roti durian akhirnya datang juga. Kebetulan saya punya teman yang suaminya sering bolak-balik ke Samarinda dan kebetulan sekali teman saya itu tak ada yang suka durian. Klop sudah! Pucuk dicinta, ulam tiba. Ada yang rajin ke Samarinda, bisa dititipin beli pula. Dan benar saja, begitu roti durian sudah didepan mata, langsung deh saya lumat itu roti. Rasanya benar-benar lezat, persis yang dikatakan orang-orang. Top markotop kalau Pak Bondan yang pakar kuliner itu bilang. Selainya duriannya lembut dan tebal pula. Rotinya juga empuk. Kebetulan saya lebih suka yang rasa keju daripada yang original. Keju taburannya itu lho banyak banget. Saya bisa habis sekotak sendiri sekali makan. Tapi sebelum saya lumat, saya foto dulu deh buat bukti kalau akhirnya saya bisa merasakan kelesatan roti durian yang fenomenal ini. Sejak saat itu, setiap saya ingin roti durian, tinggal sms ke teman dan sore atau malamnya saya ambil ke rumahnya. Roti durian ini harganya lumayan murah, untuk yang original hanya dihargai Rp20.000,-. Sementara yang rasa keju hanya dibandrol Rp25.000,-. Murah bukan? Nah, kalau teman-teman penasaran buruan aja datangi outlet East Kalimantan Center, tapi harus antri lho hehehe. Tapi kalau nitip ke teman saya, yang original dihargai Rp 50.000,- sekotak, sedang yang keju Rp 55.000,- sekotak. Ya, gak papa deh, itung-itung ongkos ngantri dan juga ganti transportnya hehehe. 

NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka memperingati 2 tahun hadirnya Toko Oleh-oleh Khas Kalimantan Timur East Kalimantan Center Samarinda.    

Kamis, 31 Oktober 2013

Noda Apapun, Tak Perlu Khawatir Deh!

Rinso cair andalan keluarga


Darryl anak saya yang masih sekolah di Taman Kanak-Kanak dan baru berumur 4 tahun, sedang aktif-aktifnya bermain. Setiap pulang sekolah selalu saja maunya bermain, entah hanya bermain di lingkungan rumah atau malah bermain di luar rumah. Apalagi semenjak dibelikan sepeda baru oleh papanya beberapa bulan lalu, intensitas bermainnya makin bertambah saja, terutama belajar mengendarai sepeda barunya itu. Awalnya Darryl memang hanya bermain sepeda di lingkungan rumah, misalnya di teras atau di garasi. Tetapi sejak beberapa teman-temannya juga memiliki sepeda baru dan hampir setiap sore pada ramai-ramai bermain sepeda di luar rumah, Darryl pun ikut-ikutan bermain hingga di gang di depan rumah. Saya pun tak mempermasalahkan Darryl bermain sepeda hingga di gang depan rumah karena gang depan rumah di komplek saya tinggal terbilang tidak ramai. Jadi relatif aman bagi Darryl dan teman-temannya bermain sepeda.

Daaryl, waktu dapat sepeda baru


Darryl sesaat setelah terjatuh, bibirnya tampak jontor
Hingga suatu sore saat saya tengah menyetrika baju, sementara Darryl bermain bersama teman-temannya di luar rumah, saya dikejutkan oleh teriakan Danny kakaknya Darryl. "Mamaaa...Darryl jatuh dari sepeda, mukanya berdarah!" Spontan saya cabut kabel setrikaan saya dan langsung menghambur keluar rumah. Di luar rumah saya lihat Darryl sudah berlari-lari kecil ke arah saya sambil menangis dan mengusap bibirnya yang tampak mengeluarkan darah. Sementara itu di belakang Darryl, tampak Danny tengah menuntun sepeda Darryl yang sebelumnya ada di tengah jalan dalam posisi terjungkal. 



Akhirnya tertidur juga

 Sebenarnya saya agak kaget juga melihat luka Darryl terutama di bagian bibirnya.  Saya pikir kalau tidak karena Darryl ngebut naik sepedanya, pastilah lukanya tak akan seperti itu. Paling-paling hanya luka lecet, tapi yang saya lihat sore itu tak hanya kaki dan tangannya yang lecet melainkan bibirnya ikut sobek. Luka di bibirnya itulah yang terus mengeluarkan darah dan Darryl spontan mengusap-usap lukanya itu dengan kaosnya. Noda darah pun mulai mengotori kaosnya. Mungkin karena perihnya, Darryl tetap saja menangis meraung-raung, meskipun telah saya gendong. Saya coba tenangkan dia sambil menggendongnya masuk ke dalam rumah.  Saya berusaha tak panik di depan Darryl, meskipun sebenarnya hati kecil saya sungguh panik melihat darah yang cukup banyak keluar dari bibirnya. Apalagi saat itu papanya juga belum pulang kerja. Pertolongan pertama yang saya lakukan kala itu adalah langsung mengganti baju kotornya kemudian membersihkan lukanya dengan air hangat. Setelah itu baru saya olesi obat luka untuk bagian lecet-lecetnya. Sambil tiduran di ranjang, bagian bibirnya tetap saya kompres dengan air hangat. Tangisnya pun mulai reda dan tak lama kemudian ia pun tertidur dengan pulasnya. Darah pun juga mulai berhenti keluar dari luka di bibirnya. 

Cukup tuang atau oles sedikit di bagian noda

Keesokan harinya saya langsung mencuci baju kaos yang kemarin hari dipakai Darryl bersepeda. Saya lihat noda darah mulai mengering di kaosnya itu. Tanpa pikir panjang, langsung saya ambil Rinso cair dan menuang sedikit ke bagian noda darah itu, kemudian merendamnya dalam ember dan sedikit air selama kurang lebih 15 menit saja. Setelah itu barulah saya kucek sebentar di bagian yang terkena noda-noda darah itu. Dan seperti biasa, noda darah itu pun hilang sudah. Baju Darryl pun kembali bersih seperti sedia kala. Dengan Rinso cair saya tak perlu khawatir noda akan sulit hilang. Tidak perlu dengan menyikat, cukup dengan mengucek sebentar, noda membandel pun bisa hilang lho! Berdasarkan pengalaman, bukan hanya noda darah, noda masakan seperti kecap dan saos, bahkan noda tinta dari spidol yang biasa digunakan Darryl jika mulai asyik menggambar juga biasa saya cuci pakai Rinso cair. Bukan hanya baju yang ternoda, baju kita sehari-hari pun aman lho dicuci dengan Rinso cair. Kita tak perlu menyikat seperti kalau kita menggunakan deterjen bubuk. Sudah capek menyikat, baju rusak karena kerasnya menyikat, nodanya pun tetap tidak hilang dengan sempurna. Tapi dengan Rinso cair, hasilnya jauh berbeda, baju kembali bersih seperti sedia kala karena Rinso cair 2x lebih efektif, meresap lebih ke dalam serat kain saat perendaman, untuk seluruh cucian sehari-hari.  Jadi buat ibu-ibu yang punya anak sedang aktif-aktifnya seperti anak saya Darryl, tak usah khawatir deh jika baju anak kita terkena noda. Cukup tuang atau oles sedikit Rinso cair pada bagian yang ternoda, rendam sebentar, kemudian kucek, pasti deh nodanya akan hilang. 

Meskipun lukanya masih membekas, tetap ceria
Tak perlu takut bajunya kotor, ada Rinso cair yang membersihkan nodanya koq hehehe

Beberapa hari setelah insiden Darryl jatuh dari sepedanya itu, Darryl tetap bermain seperti sedia kala. Meskipun masih terlihat bekas lukanya, ia tetap saja ceria. Ia juga tak kapok lagi bersepeda. Seiring berjalannya waktu, luka Darryl pun sembuh. Bekas lukanya sudah tak tampak. Saya juga tak pernah khawatir jika ia pulang bermain dengan baju yang kotor. Selama masih ada Rinso cair, noda apa pun tak akan saya khawatirkan. Demikian ibu-ibu, pengalaman saya menggunakan Rinso cair. Untuk segala cucian kotor, Rinso cairlah yang saya andalkan.   

Dengan Rinso cair, noda membandel sekalipun, mudah hilang lho!
Nah, berhubung Laiqa Magazine sedang mengadakan kontes Rinso cair, makanya saya bagikan pengalaman saya ini. Semua kisah yang saya ceritakan di sini merupakan pengalaman pribadi saya dan sepenuhnya bukan merupakan tanggung jawab Laiqa Magazine

NB : semua foto-foto diatas merupakan foto koleksi pribadi