Tampilkan postingan dengan label Sosbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosbud. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Sosok dibalik Group of The Deaf People


Anda ibu rumah tangga? Rajin berbelanja kebutuhan rumah tangga? Kalau iya, sama dong dengan saya. Tapi pernahkan anda berpikir, hendak diapakan sampah-sampah rumah tangga kita? Kalau sampah sisa-sisa masakan mungkin gampang, bisa kita buang begitu saja karena mudah hancur atau busuk, jadi bisa dimanfaatkan jadi kompos. Tapi bagaimana dengan sampah yang susah hancur, misalnya bungkus plastik minyak goreng, bungkus deterjen, bungkus sabun, bungkus pewangi pakaian, bungkus kopi bubuk dan bungkus-bungkus plastik barang kebutuhan rumah tangga lainnya? Ditangan orang-orang kreatif sampah limbah rumah tangga seperti itu justru bisa dimanfaatkan sedemikian rupa lho! Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Bu Sunarni. 

 Bu Sunarni adalah perempuan kelahiran Jakarta, 35 tahun silam. Beliau telah bergulat dengan sampah-sampah rumah tangga sejak belasan tahun silam. Untuk selanjutnya sampah-sampah plastik rumah tangga itu diolahnya menjadi barang-barang yang bernilai ekonomis. Di tangan perempuan kelahiran 5 Juni 1978 ini, sampah-sampah bekas bungkus kopi, plastik bekas bungkus detergen, plastik bekas bungkus sabun, dan lain sebagainya disulap menjadi aneka tas dan souvenir hingga mampu bernilai jual tinggi. Tak hanya sampah rumah tangga, Bu Sunarni juga memanfaatkan sampah industri seperti bekas banner, spanduk, baliho, dan lain-lain untuk bahan baku dalam memproduksi tas.

Ide pembuatan usaha tas dari limbah rumah tangga ini justru datang dari Bu Kasmi (almarhumah), ibunda Bu Sunarni. Ketika Bu Kasmi melahirkan seorang anak, adik dari Bu Sunarni, yang kebetulan menyandang cacat tuna rungu, terlintas pikiran tentang bagaimana kelanjutan masa depan anaknya yang cacat tersebut. Bu Kasmi tak ingin anaknya yang cacat tersebut selalu tergantung hidupnya pada orang lain. Beliau ingin anaknya menjadi manusia mandiri, gaul dan tidak minder pada orang lain, meskipun fisiknya cacat. Akhirnya dimulailah usaha kecil-kecilan di rumahnya guna melatih kemandirian anaknya tersebut. Karena keterbatasan modal, maka modal yang digunakan masih seadanya. Bu Sunarni dan ibunya mulai mengumpulkan sampah rumah tangga. Mereka juga membeli sampah rumah tangga dari para pemulung di sekitarnya. Setelah dibersihkan, dengan kreatifitasnya, barulah sampah rumah tangga itu diolah menjadi tas kosmetik, tas fashion, tempat ipad dan aneka souvenir lainnya.

Bu Sunarni, lihatlah gambar di sampingnya, itulah hasil limbah sampah yang telah diolahnya menjadi tas 

Untuk mengenalkan produknya, Bu Sunarni rajin mengikuti pameran-pameran industri di kotanya. Seiring berjalannya waktu, usaha industri rumahan Bu Sunarni makin berkembang hingga terpikirlah untuk membuat kelompok usaha kecil di rumahnya. Usaha kecil itu diberinya nama Group of The Deaf People. Nama ini sengaja dipilih karena saat itu yang dididik adalah kaum tuna rungu, termasuk adik Bu Sunarni sendiri. Mereka dididik agar tidak merasa malu atau minder dalam pergaulan dengan lingkungan masyarakat luas. Kemudian hasil usaha dari para penyandang tuna rungu didikan Bu Sunarni itu diberi brand “The Happy Trash Bag”, terhitung sejak tahun 1995 yang lalu.

Ternyata sambutan masyarakat  di sekitar tempat tinggal Bu Sunarni di daerah Bojong Sari, Depok sangat positif. Produksi tas limbahnya pun mulai laris di pasaran. Apalagi sejak didukung oleh berbagai pihak terkait seperti Departemen Sosial, Departemen Pemberdayaan Wanita dan juga Dinas Kebersihan setempat, semakin membuat usaha Bu Sunarni berkembang. Berbagai departemen tersebut tidak saja membantu memasarkan produk tasnya, tetapi sekaligus sebagai pemasok bahan baku untuk produksinya dengan cara mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga ke kantor mereka untuk selanjutnya diserahkan ke tempat usaha Bu Sunarni, setiap 2 minggu sekali.  

Demi memenuhi permintaan pasar sekaligus untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usahanya, Bu Sunarni mulai melirik sampah-sampah plastik dari perhotelan. Akhirnya hotel-hotel di sekitar lingkungan tempat tinggalnya menjadi penyuplai bahan baku  dengan sistem konsinyasi. Dengan sistem ini secara otomatis produk tas limbah Bu Sunarni dipasarkan juga oleh hotel-hotel yang menjadi rekanan kerja usaha tas Bu Sunarni.

Seiring kemajuan usahanya,  Bu Sunarni pun mulai merekrut beberapa ibu rumah tangga di sekitarnya yang selama ini terlihat memiliki waktu luang. Sama halnya para penyandang tuna rungu, para ibu rumah tangga tersebut mulai diberi pelatihan membuat tas limbah. Dengan cara itu otomatis Bu Sunarni telah memberdayakan para perempuan di sekitarnya sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi mereka. 

Nama Bu Sunarni pun mulai berkibar setelah beberapa media meliputnya.  Akibatnya pangsa pasar produksi tas limbah Bu Sunarni juga semakin meluas. Produknya sekarang tak hanya dijual di pameran-pameran dan di mini market hotel-hotel yang menjadi rekan kerja Sunarni, melainkan mulai masuk ke ranch market di Kelapa Gading dan Kemchicks Kemang, Jakarta. Tak hanya itu, usaha Bu Sunarni pun akhirnya mulai merambah ke pasar luar negeri. Bu Sunarni mulai berani mengekspor produksi tasnya ke Dubai, Australia, Inggris, dan Singapore. Sampai saat ini negara Singapore menjadi negara yang rutin mendapat kiriman produksi tas limbah Bu Sunarni. Untuk pangsa dalam negeri sendiri, Bu Sunarni rutin mengirim produknya ke Bali sampai sekarang.  Selain itu, Bu Sunarni juga makin sering dipanggil ke berbagai tempat utuk memberikan pelatihan membuat tas limbah. Dengan dukungan penuh dari salah satu foundation, Bu Sunarni mulai memberi pelatihan kepada ibu-ibu yang kurang mampu, yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Beberapa kota di Kalimantan, Irian, Surabaya, dan Yogyakarta setidaknya pernah dikunjungi Bu Sunarni guna memberi pelatihan pengolahan limbah daur ulang sampah rumah tangga ini. 
  
Usaha yang semula hanya bermodal seadanya ini ternyata sekarang mampu menghasilkan omzet yang lumayan besar. Dalam sebulan rata-rata usaha Bu Sunarni ini mampu menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp 20 juta. Sedangkan pendapatan bersihnya sebulan berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Sementara para tenaga kerjanya, yang terdiri dari para penyandang tuna rungu dan para ibu rumah tangga, sebulan mampu mengantongi Rp 1,5 juta. Pendapatan itu belum lagi ditambah dengan uang transport, uang bonus dan uang makan. Selain itu perempuan yang beralamat di Jl.H Kenan. Rt.002/012 Bojong Sari Depok ini sekarang juga telah mempunyai workshop guna menampung anak didiknya.

Berkat kegigihannya pula, saat ini Bu Sunarni telah berhasil memberdayakan 7 orang penyandang tuna rungu menjadi wirausahawan baru di bidang tas limbah ini. Sejalan dengan itu, Bu Sunarni juga terus memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Saat ini pun Bu Sunarni juga bekerja sama dengan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerah Lebak Bulus, Cipete, dan Pondok Cabe untuk menampung para murid dari sekolah-sekolah tersebut agar bisa praktek kerja lapangan di workshopnya yang beralamat di JL SD impres no 79 RT 02/ RW 09 Pisangan Barat, Ciputat Cirendeu, Tangerang (Telp :  081218118683/081908828997).

Bu Sunarni masih berharap agar kelak muncul wirausahawan-wirausahawan baru yang termotivasi oleh usaha yang telah dirintisnya tersebut. Karena itulah Bu Sunarni akan dengan senang hati menerima uluran tangan, baik perseorangan atau lembaga, agar para anak didiknya yang menderita cacat fisik bisa lebih mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Anda tertarik? Silakan saja menghubungi Bu Sunarni di alamat yang tertera di atas. Pasti Bu Sunarni akan menyambut uluran tangan anda dengan suka cita.   

"Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel"  





Selasa, 10 September 2013

Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Kalau berbicara tentang kesetaraan gender, lagi-lagi ingatan saya langsung mengarah ke figur pahlawan emansipasi wanita kita yaitu Raden Ajeng Kartini. Seperti kita ketahui, Raden Ajeng Kartini adalah seorang puteri Bupati Jepara bernama Raden Mas Aryo Sosroningrat. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong Jepara Jawa Tengah. Sebagai seorang puteri bangsawan, Kartini muda merasakan betul betapa kaum perempuan pada masanya dulu telah terbelenggu dan terjajah oleh adat dan feodalisme. Pada masanya dulu, kebebasan untuk mengenyam pendidikan tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Seorang perempuan di usia 12 tahun pada saat itu harus sudah dipingit, artinya ia tak boleh lagi belajar di luar rumah atau di sekolah formal. Hal ini juga berlaku pada Kartini muda.

Untungnya sejak kecil Kartini telah menjalin pertemanan dengan seorang anak Belanda yang bernama Rosa Abendanon. Berkat Rosa pula, Kartini belajar bahasa Belanda. Ia juga mulai menuliskan "kegelisahan-kegelisahannya" ke dalam bahasa Belanja dan selanjutkan tulisannya itu ia kirimkan kepada Rosa, sahabatnya itu. Meskipun masih muda, Kartini mulai melakukan "pemberontakan" melalui tulisan-tulisan yang ia kirimkan pada Rosa untuk mendapatkan kesempatan dan kesetaraan dalam pendidikan bagi kaum perempuan pada masanya. Kemerdekaan berpikir dan semua perasaannya yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya itu pada akhirnya dibukukan sebagai kumpulan surat-surat Kartini dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kita tentu pernah mendengar ungkapan Jawa yang menyatakan bahwa perempuan itu sekedar konco wingking (teman di belakang atau di rumah). Ibaratnya kata perempuan itu bisanya ya cuma masak, macak (berhias) dan manak (melahirkan). Ungkapan itu sebenarnya lebih didasari pada pandangan bahwa perempuan itu tugasnya lebih dominan di sektor domestik. Memasak, melahirkan dan mengurus keluarga memang seharusnya menjadi tugas perempuan sebagai ibu rumah tangga. Jadi sudah kodratnya jika perempuan itu tugasnya tidak jauh-jauh dari semua yang berbau sumur, kasur dan pupur (bedak). Sementara tugas laki-laki lebih dominan di sektor publik. Jadi mencari nafkah untuk keluarga adalah kewajiban kaum laki-laki sebagai kepala keluarga.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, di era Kartini dulu kaum perempuan tidak diijinkan untuk mengenyam pendidikan formal karena pendidikan memang hanya dikhususkan untuk kaum laki-laki. Untuk apa sekolah tinggi-tingi, toh nantinya juga cuma bekerja di dapur? Pandangan seperti ini sudah lama melekat di kalangan masyarakat kita. Sebagai suatu konstruksi sosial, paradigma semacam ini sudah selayaknya diubah. Sekarang jaman juga sudah berubah. Di era serba modern ini, perempuan sudah boleh bekerja di sektor publik.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kaum perempuan sekarang sudah banyak yang melek teknologi dan informasi. Di era modern ini, perempuan juga sudah banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Perempuan sudah tidak bisa dipandang lagi sebelah mata. Pada akhirnya banyak sekali profesi yang dulunya dominan dilakukan oleh laki-laki, sekarang menjadi lazim dilakukan oleh perempuan. Lihat saja berapa banyak perempuan yang menduduki jabatan direktur, manajer, atau bahkan arsitek. Jabatan-jabatan tersebut umumnya dulu diduduki oleh kaum laki-laki. Tapi seiring dengan kemajuan jaman, hal itu memungkinkan dijabat oleh perempuan. Perubahan paradigma inilah yang memungkinkan perempuan menjadi pemimpin. Jaman sekarang perempuan juga bisa menjadi kepala negara, bisa menjadi menteri dan juga menjadi anggota dewan.


Megawati Soekarno Putri, pernah memimpin negeri ini (sumber : http://javanews.co)

Apakah dalam kondisi ini bisa disebut sebagai perempuan yang menyalahi kodrat? Saya rasa tidak. Di jaman globalisasi ini “bertukar peran” antara tugas kaum laki-laki dengan kaum perempuan, atau sebaliknya bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan didukung adanya isu kesetaraan gender, laki-laki berprofesi di bidang yang mayoritas ditekuni perempuan atau sebaliknya perempuan berkutat di bidang pekerjaan yang mayoritas ditekuni oleh laki-laki sudah jamak terjadi. Jadi ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan permasalahan menyalahi kodrat.

Sebagai contoh misalnya seorang ibu rumah tangga yang semula hanya bekerja di lingkup domestik, memasak, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga pada umumnya, tiba-tiba harus bekerja di sektor publik menjadi sopir misalnya lantaran suaminya sakit dan tidak memungkinkannya untuk menunaikan tugasnya dalam mencari nafkah sebagai sopir. Apakah kondisi yang demikian ini dapat dipandang sebagai menyalahi kodrat? Saya lebih sependapat jika hal tersebut dimungkinkan terjadi lantaran tuntutan hidup. Kalau bukan karena tuntutan dapur agar tetap mengebul, tentunya ibu tersebut tidak akan bertindak "menyalahi kodrat"nya. Toh masih banyak pekerjaan lain yang dipandang lebih feminim daripada menjadi sopir.

Perempuan sebagai sopir, why not? Yang pentig dapur tetap mengebul (foto minjam di FBnya Mbak Olyvia Bendon)

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan itu kodratnya mengandung dan melahirkan. Sementara kaum laki-laki kebagian “jatah” untuk membuahi perempuan. Kodrat inilah yang tidak mungkin bisa diubah. Selebihnya paradigma tentang perempuan itu bisanya cuma masak, manak dan macak masih bisa diubah. Dengan pandangan yang baru tentang peran perempuan tak harus melulu di sektor domestik menjadikan kita tidak akan asing melihat para bapak memandikan anaknya atau memberikan susu formula untuk anaknya seperti foto dibawah ini, manakala istri sedang bekerja di luar rumah. Jadi ini bukan sekedar persoalan "menyalahi kodrat". Pertukaran peran itu pun juga dimungkinkan terjadi jika ada kesepakat bersama antara keduanya. 

Bapak-bapak memberi susu pada anaknya, itu sudah biasa sekarang ini 


Seperti kita ketahui, saat ini anggota DPRI RI pun tegah membentuk Panitia Kerja Rancangan Undang Undang tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) DPR RI. Adanya RUU KKG ini dimaksudkan agar negara mau memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada seluruh warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Memang RUU KG ini masih belum tuntas sepenuhnya, tapi setidaknya upaya ke arah sana sedang diupayakan demi menunjukkan bahwa kaum perempuan bukan warga kelas dua di negeri ini, bukan objek kekerasan. Kaum perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Mereka adalah tiang rumah tangga, pewaris generasi penerus, dan berbagai multiperan yang biasa dijalaninya saat ini.

Kembali ke persoalan kesetaraan gender, banyak orang awam yang masih beranggapan bahwa perspektif “gender” di sini diartikan sebagai simbolisasi “emansipasi wanita”. Mereka berpandangan bahwa para perempuan mulai menuntut hak-haknya dan ingin diperlakukan sama persis dengan kaum laki-laki. Padahal kenyataannya kesetaraan gender dalam hal ini tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan segala sesuatunya. Bagaimana pun juga segala sesuatu yang dituntut oleh kaum perempuan tak bisa mutlak sama persis dengan kaum laki-laki. Karena pada dasarnya, kaum perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung beban berat yang biasa ditanggung oleh laki-laki. Begitu pun sebaliknya laki-laki pun tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas rutin rumah tangga yang biasa dikerjakan perempuan. Semua itu dimungkinkan terjadi atas dasar kondisi atau faktor-faktor tertentu, seperti contoh kasus yang saya kemukakan di atas.

Pada dasarnya apa yang tengah diupayakan oleh anggota dewan kita berkaitan dengan RUU KG ini adalah dalam upaya untuk menghilangkan deskriminasi terhadap kaum perempuan yang masih saja terus berlangsung saat ini. Adanya segmentasi jenis kelamin angkatan kerja, praktik penerimaan dan promosi karyawan yang bersifat deskriminatif atas dasar gender masih banyak terjadi di negeri ini. Akibatnya banyak perempuan yang cenderung terkonsentrasi pada sejumlah kecil sektor perekonomian, umumnya pada pekerjaan-pekerjaan berstatus lebih rendah daripada laki-laki. Belum lagi ditambah dengan asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya sekedar tambahan peran dan tambahan penghasilan keluarga juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di sektor publik.      

Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kasus-kasus yang sering menimpa perempuan, misalnya perdagangan perempuan, prostitusi dan juga pelecehan perempuan. Meskipun pelecehan seksual saat ini dianggap sebagai kejahatan, akan tetapi hal itu umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan masih dianggap kaum yang lemah, sehingga pantas atau layak untuk dilecehkan. Itu sudah merupakan ancaman serius bagi perempuan Indonesia, terutama mereka yang miskin dan kurang berpendidikan. Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2004 menemukan bahwa 90% perempuan mengaku telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Angka tersebut bisa mungkin bertambah, kalau tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Karena itu sudah selayaknya perempuan itu diberdayakan. Perempuan berhak untuk mendapat pendidikan yang layak setara kaum laki-laki agar perempuan tak selalu dianggap kaum yang lemah, bodoh dan tak layak untuk jadi pemimpin. Itulah sebenarnya esensi dari kesetaraan gender di sini. Bukan semata-mata karena perempuan ingin dianggap sebagai makhluk yang lebih kuat daripada laki-laki. Tanpa hal itu pun kita juga mengakui, setiap perempuan itu kuat dan tangguh. Perempuan mampu melahirkan, sementara laki-laki tak bisa melakukan hal tersebut. Itu bukti bahwa perempuan itu kuat. Dengan upaya yang terus-menerus dalam membangun kesetaraan gender, itu berarti kita sudah berusaha membangun kesejahteraan bangsa. Pada akhirnya kita pun turut membangun peradaban bangsa. Itulah hal yang utama dan penting bagi  pembentukan jatidiri bangsa ini ke depan.





Note : tulisan ini diikutsertakan dalam even 2nd Give Away #Perempuan Keumala


Sabtu, 29 September 2012

Hargai Mereka Yang Tidak Merokok

Anda tentu pernah membaca atau melihat peringatan semacam ini :

"MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN" 

Peringatan semacam ini paling mudah kita jumpai justru di kemasan/bungkus rokok itu sendiri. Meskipun jelas-jelas disebutkan bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan, toh nyatanya jumlah perokok menunjukkan angka yang tidak sedikit. Hal ini dibuktikan oleh salah satu artikel VOA yang menyatakan bahwa dua pertiga pria dewasa di Indonesia perokok (11/9). Dalam artikel itu juga disebutkan bahwa berdasarkan hasil suatu survei tahun 2011, Kementerian Kesehatan menyebutkan 61,4 juta orang dewasa di Indonesia merokok, dua pertiganya laki-laki dan sisanya perempuan. Jumlah itu kemungkinan besar akan terus bertambah jika tidak dibarengi dengan kesadaran para perokok itu sendiri.   

Berbicara perihal merokok, saya termasuk orang yang anti rokok. Jangankan menghisap langsung, terkena asap orang yang sedang merokok saja saya sering terbatuk-batuk. Jika melihat orang merokok, sebisa mungkin saya akan menghindar. Karena jika berdekatan dengan orang yang sedang merokok itu sama saja artinya saya juga menikmati asap rokoknya alias perokok pasif. 

Walaupun istilahnya perokok pasif, tetapi dampak buruk bagi kesehatan yang ditimbulkan akibat asap rokok ini akan sama dengan perokok aktif. Dengan kata lain perokok pasif pun juga akan bisa terkena berbagai penyakit seperti yang disebutkan di atas. Padahal kalau kita sedang di tempat umum, terpapar asap rokok seringkali terjadi. Oleh karena itu menghindar dari sekumpulan orang-orang yang tengah merokok lebih sering saya lakukan daripada melarangnya secara ekstrem, terkecuali memang di area tersebut terdapat larangan untuk merokok.  
Melarang orang merokok di tempat umum juga bukan perkara mudah. Bagaimana pun juga merokok seringkali berkaitan dengan gaya hidup seseorang. Bagi perokok "kelas berat" kadang bahkan lebih memilih tidak makan daripada tidak merokok. Benar-benar sudah salah kaprah. Duit yang seharusnya bisa untuk sekedar menyambung hidup, malah "dibakar" begitu saja demi sepuntung rokok. Dunia sudah dijungkir-balik. Tapi begitulah kenyataannya. Sebagai seorang yang bukan perokok, seringkali justru kitalah yang harus menghargai kebiasaan buruk mereka. "Saya sedang merokok, kalau anda merasa terganggu ya silakan saja menyingkir!", begitu kira-kira saya menterjemahkan perilaku perokok yang seenaknya menghisap rokoknya di tempat umum.
Saya ingat sekitar 3 tahun lalu saya sempat jengkel dengan ulah para perokok yang seenaknya saja menghisap rokok tidak pada tempatnya. Waktu itu saya bermaksud kontrol kehamilan anak saya yang kedua di suatu rumah sakit. Begitu mau masuk ke rumah sakit itu, di depan pintu masuk terdapat beberapa orang bapak-bapak yang asyik mengobrol. Sambil mengobrol mereka juga menghisap rokok. Inilah yang membuat saya jengkel. Bagaimana tidak jengkel kalau saat sedang menunggu giliran untuk periksa kehamilan di suatu rumah sakit, eh ada saja orang yang seenaknya menghisap rokok di sekitar situ. Dan mereka ini adalah pria-pria dewasa. Harusnya mereka sadar bahwa mereka berada di lingkungan rumah sakit yang di sekitarnya banyak ibu-ibu hamil yang sedang menunggu periksa. Selain itu juga banyak anak-anak yang lalu-lalang di sekitar situ. Kebetulan ini adalah rumah sakit umum sehingga pasien yang datang tak hanya melulu ibu-ibu hamil, melainkan juga anak-anak.
Saya sendiri berusaha menutup hidung demi menghindari asap rokok itu, tapi ibu-ibu yang lain dan juga anak-anak itu tidak melakukukannya. Mungkin mereka termasuk orang-orang yang tahan atau terbiasa dengan asap rokok di rumahnya sehingga santai-santai saja melihat ada orang merokok di sekitar mereka. Tapi kalau saya jelas tidak tahan karena dirumah pun juga tidak ada yang merokok. Menunggu antrian di rumah sakit dekat dengan orang yang merokok benar-benar "penderitaan" bagi saya. Akhirnya saya hanya bisa menahan kedongkolan. Tambah dongkol lagi ketika melihat para perokok itu cuek-cuek saja. Meskipun di tempat umum, tapi jika di area rumah sakit menurut saya tidaklah pada tempatnya. Mau menegur koq nanti dikira sok! Serba salah memang. Ujung-ujungnya ya cuma menggerutu dalam hati.


Spanduk larangan merokok di depan pintu masuk rumah sakit

Itu kejadian sekitar 3 tahun lalu. Beberapa bulan lalu ketika saya ke rumah sakit itu lagi untuk memeriksakan anak saya, saya melihat "pemandangan" lain di depan pintu masuk rumah sakit itu. Tak jauh dari pintu masuk rumah sakit itu terpampang spanduk yang cukup besar dan mencolok. 

"DEMI KENYAMANAN BERSAMA DILARANG MEROKOK DI SEKITAR AREA INI"

Kaget sekaligus senang membaca tulisan di spanduk itu. Kaget kenapa baru sekarang spanduk itu dipasang, kenapa tidak dari dulu? Tapi bagaimana pun juga saya senang, akhirnya "penderitaan" orang-orang seperti saya hilang sudah. Kalau kemarin-kemarin mau negur orang yang sedang merokok serba sungkan, sekarang jadi lebih enak. Tinggal menunjukkan spanduk itu harusnya mereka sadar diri untuk tidak merokok di area itu. Paling tidak mereka mau menghargai orang yang tidak merokok karena bagaimana pun juga setiap orang berhak atas udara yang bersih dan segar. Saya berharap spanduk-spanduk seperti ini tidak hanya ada di rumah sakit di tempat saya periksa, tapi juga di rumah sakit-rumah sakit lain. Kita pergi ke rumah sakit agar kita tambah sehat, bukan malah tambah penyakit, iya kan? Dan memang seharusnya rumah sakit itu bebas dari asap rokok! 


Dulu di sekitar pintu masuk ini saya jumpai para perokok sedang menghisap rokoknya

Tulisan ini terinspirasi dari artikel VOA  Mahasiswa UGM Adakan Gerakan Rumah Bebas Asap Rokok (19/9) dan Dua Pertiga Pria Dewasa di Indonesia Perokok (11/9)

Rabu, 07 September 2011

Kemarin Cabe, Sekarang Kedelai, Besok Apalagi Nih Pak Beye?

Kemarin sore saya dibuat terkejut oleh berita di salah satu televisi swasta. Bukan tentang crop circle atau tentang Gayus Tambunan. Bukan pula tentang kerusuhan berbau SARA yang akhir-akhir ini merebak kembali di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah, tetapi ini masalah perut. “Harga kedelai meroket”, begitu kira-kira inti sari dari berita sore itu. Lantas apa hubungannya kedelai sama perut? Ya jelas ada dong! Kedelai kan bahan bakunya tempe, sementara saya sekeluarga termasuk penikmat utama tempe. Rasanya hampir setiap hari ada menu tempe dalam olahan hidangan keluarga saya. Entah itu berupa tempe goreng tepung, sambel goreng tempe, ataupun berbagai macam tumisan berbahan dasar tempe. Maklumlah saya bukan keluarga berada yang setiap harinya bisa makan dengan menu daging, telor, ayam ataupun ikan. Lagian kata ibu saya, selain murah meriah dan menyehatkan, tempe itu bikin awet muda. Saya sendiri juga tidak tahu, ibu saya dapat info itu dari mana. Yang jelas saya sih percaya saja sama omongan ibu saya itu. Buktinya saya sekeluarga tetap sehat-sehat saja meskipun hanya mengkonsumsi lauk tempe. Selain itu saya juga merasa tetap masih kelihatan muda, meskipun umur saya sudah hampir menginjak kepala empat (yang ini mungkin sugesti atau terlalu pede kali ya hehehe). Selain itu saya juga pernah melihat di buku KMS (Kartu Menuju Sehat) anak saya, bahwa tempe termasuk makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi selain nasi, sayur-sayuran, buah-buahan, daging, telor, ikan, dan susu. Nah klop bukan, kalau ibu saya suka menyuruh mengkonsumsi tempe dari dulu? Memang kenyataannya tempe itu murah meriah koq!

Anakku keturunan Cina (juga)

Keluarga besar mama sesaat sebelum upacara kremasi Mak Co sekitar 1 tahun lalu. Ada yang beragama Islam, Kristen, dan ada juga yang Katolik. (ini belum semua anak dan cucu mama hadir disini lho!)
Didalam darah anakku mengalir darah Cina. Mengapa bisa demikian? Ya, ibu mertuaku ternyata keturunan Cina. Ibu mertuaku ini adalah anak tertua dari 7 bersaudara. Meskipun keturunan Cina, tetapi ibu mertuaku adalah seorang muslim. Bahkan dari 7 bersaudara, ibu mertuaku itu satu-satunya yang menganut agama Islam. Sedangkan yang lainnya berkeyakinan berbeda. Ada yang beragama Kristen dan ada pula yang Katolik. Sementara orang tua dari ibu mertuaku (aku biasa menyebutnya Mak Co) sendiri beragama Kong Hu Cu, agama dari leluhurnya. Demokratis, begitu kata mama waktu itu. Mama, ya begitu aku biasa memanggil ibu mertuaku itu.
Entah mulai kapan mama menganut Islam. Waktu kecil rumah mama kebetulan dekat mesjid, begitu mula-mula mamaku bercerita. Mamaku sendiri lahir di Banyuwangi pada tanggal 24 April 1944, dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di kota kelahirannya itu. Sebagai orang minoritas, mama justru tidak pernah menutup diri. Mama biasa bergaul dengan anak-anak di sekitar rumahnya. Hampir semua penduduk di sekitar mamaku tinggal beragama Islam. Karena pergaulannya itu pula, lama-lama mamaku pun memeluk Islam. Oleh karena itu sejak kapan tepatnya mamaku beragama Islam, tidak tahu pasti. Yang pasti sejak kecil, begitu mamaku selalu mengatakannya.