Tampilkan postingan dengan label Kontes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 November 2017

So Good CERDIK, Anak Cerdik, Ibu Pun Ikut Kreatif!

Aplikasi So Good CERDIK

Anda suka dongeng atau malah sering membacakan dongeng?

Darryl, putra saya sekarang sudah kelas 3 SD. Sejak belum sekolah ia sudah terbiasa dengan yang namanya dongeng. Dulu ketika ia masih rajin minum susu formula, banyak sekali koleksi buku dongeng yang ia miliki. Bagaimana tidak kalau setiap beli satu kotak susu, ada hadiahnya buku dongeng. Kalau 1 minggu 1 kotak, bisa dipastikan ada 4 buku dongeng yang bisa dikoleksinya dalam sebulan. Judulnya pun bermacam-macam. Ada Timun Emas, Kisah Si Malin Kundang, Hikayat Rawa Pening, dan masih banyak lagi judul menarik lainnya. Berhubung saat itu Darryl belum sekolah dan belum bisa membaca, maka tugas utama saya adalah membacakan kisah-kisah dongeng itu setiap kali ada koleksi buku dongeng baru.

Darryl dengan aplikasi So Good CERDIK

Selain rajin minum susu, Darryl kala itu juga hobby makan es cream. Dulu ada salah satu produsen es cream yang juga memberikan hadiah CD cerita, setiap kali membeli 5 bungkus es cream. Saat saya berbelanja di minimarket, Darryl saya tak pernah melewatkan yang namanya freezer es cream. Ketika saya sibuk mengambil barang belanjaan, tangan mungil Darryl pun tak kalah sibuknya dengan saya. Bedanya saya mengambil barang kebutuhan rumah tangga. Sedangkan Darryl sibuk memilih es cream kesukaannya. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya 5 bungkus tapi kadang hingga 2 kali lipatnya dengan harapan dapat hadiah CD cerita yang lebih banyak. Begitu sampai rumah, ia akan buru-buru minta disetelkan CD itu di laptop. Dan kalau sudah di depan laptop begitu, Darryl saya akan menjadi anak super manis di mata saya. Ia bisa betah menikmati jalan cerita sembari menikmati es creamnya. Sementara saya bisa leluasa melakukan pekerjaan harian saya (memasak, mencuci dan beberes rumah). Saking seringnya diputar, sampai-sampai bungsu saya itu hafal dialog perdialog yang disajikan dari CD cerita tersebut. Hingga akhirnya pernah saya iseng mendokumentasikan dalam bentuk video dan saya upload di Youtube ini.

Predikat Anak Rajin Sekolah

Sampai sekarang saya masih sesekali membuka video youtube Darryl yang tengah story telling. Lucu juga ternyata melihat anak seusia Darryl bercerita dengan runtut tentang kisah yang berulang-ulang dia lihat dan dengar di laptop. Terus terang kehadiran teknologi digital berupa CD cerita itu benar-benar membantu tugas harian saya kala itu. Saya tak perlu lagi membacakan cerita untuk Darryl karena ia bisa mendengarkan sendiri cerita yang diputar dari laptop. Seiring berjalannya waktu, Darryl pun mulai masuk TK dan diluar perkiraan saya, Darryl termasuk cepat dalam hal membaca. Saya tak begitu susah mengajarinya membaca. Tahu-tahu dia sudah lancar saja membacanya, bahkan di kala dia masih di TK A. Setiap hari ada saja buku cerita yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Gurunya bilang, Darryl termasuk anak paling rajin meminjam buku di perpustakaan. Hingga akhirnya ketika lulus TK, gelar "Anak Rajin Sekolah" pun ia raih.

Menemani Darryl bermain So Good CERDIK

Menginjak bangku SD, hobby membaca Darryl tak juga berkurang. Bahkan tak hanya buku cerita, kali ini buku-buku bertema science pun juga dibacanya. Ketika berada di mall yang kebetulan ada counter bukunya, pasti ada saja buku yang dibelinya. Karena temanya science, maka ada saja hal yang terkadang ia kurang faham. Biasanya ia akan bertanya kepada saya tentang apa yang kurang dimengertinya. Sebagai ibu saya akan menjelaskan semampu saya. Tapi dasarnya anak seumuran Darryl ini rasa ingin tahunya sangat tinggi, sementara kemampuan saya menjelaskan secara mudah agar dimengerti anak juga terbatas, terkadang saya suruh ia untuk membuka gadget. Saya ijinkan ia googling sampai benar-benar paham apa yang belum ia mengerti. Jadi, tak heran jika anak saya itu sudah piawai untuk seaching dengan gadget.

Menjelaskan apa yang Darryl kurang paham

Ya, saya memang tak serta merta melarang Darryl menggunakan gadget. Bahkan di hari libur pun saya bebaskan untuk bermain games dengan gadget. Tentu saja semua tetap dalam pengawasan saya. Saya harus tahu games yang ia mainkan. Saya juga harus tahu, channel apa saja yang biasa ia setel di youtube. Biasanya sih ia suka tema-tema science gitu, misalnya kenapa air soda dalam botol kalau dikocok akan menyembur busanya. Atau bagaimana membuat aneka makanan dengan plastisin. Kalaupun channel cerita, ia sukanya Upin-Ipin versi Disney Channel. Jadi sampai sejauh ini tak ada yang perlu saya khawatirkan dengan kegemaran Darryl bermain gadget.

Kedekatan saya dengan Darryl

Bagaimana pun juga di era teknologi sekarang ini, kita memang tak bisa dilepaskan dari gadget. Gadget sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup manusia jaman now. Lantas bagaimana dengan kids jaman now? Ya seperti saya bilang tadi, sepanjang itu untuk menambah wawasan sih okey-okey saja anak megang gadget. Tapi yang pasti jangan sampai kecanduan. Mereka juga masih anak-anak. Kontrol orang tua masih sangat dibutuhkan dalam hal ini. Karena bagaimana pun juga, sekarang ini segala sesuatu seringkali dikoneksikan dengan gadget, dengan internet. Bahkan untuk mengerjakan soal ulangan atau tugas-tugas sekolah pun, kids jaman now juga harus terbiasa menggunakan komputer atau laptop. Tidak seperti saya dulu, emak-emak jaman old kalau mau mengerjakan ulangan atau tugas sekolah ya harus tulis tangan. Belajar juga harus teks book. Tidak bisa googling dari internet.

Permainan Kids Jaman Now

Ya eranya memang sudah berubah. Sekarang eranya sudah digital. Tak harus dari komputer atau laptop, dari hape yang kita pegang pun sepanjang ada koneksi internetnya, informasi apa saja bisa dengan mudah kita peroleh. Tinggal klik-klik, beres deh!

Begitulah teknologi, pun yang sekarang tengah dilakukan oleh PT. So Good Food, salah satu brand makanan ternama di Indonesia yang produknya tak asing lagi (bakso, nugget, stick, seafood, shaped nugget, whole muscle, sausege). Belakangan ini PT. So Good Food mengeluarkan gebrakan baru dalam kaitannya dengan teknologi digital ini yaitu berupa buku cerita (dongeng) digital augmented reality (AR) yang diberi nama So Good CERDIK. Buku dongeng ini memiliki karakter-karakter utama yang juga berperan sebagai story teller. Adanya buku dongeng digital ini diharapkan selain sebagai alternatif permainan yang mendidik sekaligus juga hiburan bagi anak atau pun keluarga.

Apa sih augmented reality (AR) itu? Augmented reality (AR) adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan atau pun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata. Wah, panjang banget ya definisinya? Mungkin akan lebih mudah kalau saya kasih contoh. Anda masih ingat Game Pokemon GO, yang dulu begitu digandrungi seantero dunia? Nah, itu salah satu contoh game yang menggunakan teknologi AR. Bukan hanya orang dewasa bahkan anak-anak seusia Darryl tahun lalu juga ikutan ngejar-ngejar Pokemon tuh! Teknologi semacam itulah yang juga ada dalam So Good CERDIK.
Produk So Good kemasan 400gr bertanda khusus 

Lho koq CERDIK? Iyalah, kan artinya Cerdas, Digital dan Interaktif, disingkat menjadi CERDIK! Bagaimana cara mengoperasikan buku cerita ini. Gampang! Tinggal beli produk So Good kemasan 400gr yang bertanda khusus, yang didalamnya nanti ada hadiahnya frame beserta kartu digital story AR. Ada 3 judul cerita berseri yang bisa dikoleksi setiap membeli produk So Good yaitu cerita Lala dan Sing Sing, Umbo Larage, serta Chika dan Chiko. Kartu-kartu inilah yang nantikan akan kita scan dengan hape kita untuk memulai bercerita. Iya, "kartu" inilah yang nantinya akan bercerita sendiri. Jadi bagi yang belum bisa membaca pun, tak perlu khawatir. Kan bukunya sudah bercerita sendiri! Eits... Tapi jangan lupa, sebelumnya kita harus menginstal dulu aplikasi So Good CERDIK yang ada playstore. Jangan khawatir, aplikasinya free koq alias gratis. Kalau sudah terinstal baru deh kita bisa scan kartunya dan ikuti perintah di dalamnya. Tinggal klik-klik doang koq. Sangat mudah sekali.

Koleksi frame beserta kartu digital story AR milik Darryl

Darryl saya begitu menikmati cerita-cerita yang disajikan di So Good CERDIK ini. Kisah yang paling disukai adalah Lala dan Sing Sing. Lucu katanya karena ada tokoh Sing Sing yang bisa berputar-putar dan berubah-ubah, menjadi payung, perahu bahkan bisa mengecilkan tubuhnya yang bulat. Kalau saya sih suka cerita Chika dan Chiko karena Chika kan seorang chef cilik dan saya sangat ngefans dengan seseorang yang berprofesi sebagai chef hehehe.





Oh iya, selain cerita di dalam aplikasi ini ada bermacam-macam resep lho yang sangat berguna bagi emak-emak seperti saya ini. Banyak kumpulan resep-resep sederhana dari olahan berbagai produk So Good. Buat saya ini sangat membantu untuk menyiapkan bekal sekolah bagi Darryl. Saya bisa memodifikasi resep-resep yang ada dan terkadang saya sesuaikan dengan stok bahan yang ada di kulkas. Praktis dan pastinya higienis. Kebetulan Darryl ini tak suka jajan di sekolah. Ia lebih memilih membawa bekal dari rumah. Otomatis saya harus selalu menyediakan bekalnya setiap hari dan pastinya harus bervariasi agar Darryl tak bosan. Dan menjadi emak-emak jaman now memang harus cerdik dan kreatif!

Buat anak-anak seusia Darryl, cerita-cerita yang disajikan dengan metode AR oleh So Good CERDIK ini sangatlah menarik. Karena benar-benar terasa seperti riil akibat efek 3 dimensinya itu. Selain tampak nyata juga banyak sekali pesan moral dari setiap karakter yang disajikan dalam setiap kisahnya. Bagaimana perlunya bekerja sama, pentingnya rasa setia kawan, tolong-menolong antar sesama dan juga memunculkan daya kreatifitas anak. Hal ini sangat perlu untuk membentuk karakter anak itu sendiri. Sementara buat emak-emak seperti saya ini, sangat terbantukan dengan metode bercerita seperti AR ini. Saya tidak perlu susah-susah untuk memberikan contoh bagaimana agar menjadi anak yang suka menolong, setia kawan dan pandai berkreasi karena buku cerita di So Good CERDIK ini kan sudah bisa bercerita sendiri. Saya cukup mendampinginya dan membantu menjelaskan apa-apa yang sekiranya dia tak paham. Dengan begitu Darryl akan merasa bahwa saya, ibunya ini akan selalu berada di dekatnya. Selain itu, seperti yang saya bilang tadi, saya bisa mencontek resep-resep yang ada di dalam aplikasi ini. Berkreasi dengan resep-resep yang ada, sesuka saya.
Roti goreng isi nugget dan keju ala emaknya Darryl

Pengin bukti? Ini nih, kalau Chika bikin sandwich saya bikin roti goreng isi nugget dan keju. Caranya gampang, roti tawar diisi keju slice dan nugget stick yang sudah digoreng, bungkus dan gulirkan di kocokan telur, baluri tepung roti, goreng sebentar, jadi deh! Enak lho! Cerdik dan kreatif kan saya! Emak-emak jaman now hahaha. Pokoknya tak rugi deh, untuk instal aplikasi So Good CERDIK ini. Karena itu buruan ke toko atau supermarket terdekat anda dan belilah produk So Good kemasan 400gr bertanda khusus ini dan nikmati keseruan bercerita secara AR. Dijamin asyik deh! So Good CERDIK ini tak hanya membuat anak cerdik, tapi emak-emak seperti saya pun ikut kreatif hehehe.

#SOGOODCERDIK
#KEBxSOGOOD 

Sabtu, 04 Maret 2017

Gammi, Kuliner Khas Bontang dalam Bidikan Smartphone

ULTAH-GANDJELREL-2TH

Sambal Gammi (dok.pri)
Pernahkah anda mencicipi masakan yang bernama Gammi? Belum pernah? Mendengar nama masakan ini? Belum pernah juga? Wah, kalau begitu anda perlu datang ke Bontang nih! Atau jangan-jangan anda juga belum tahu, Bontang itu ada di mana? Walah... kalau begitu anda kalah dong sama Bapak Jokowi! Iya, Bapak Presiden kita itu sudah pernah berkunjung ke Bontang lho!

Sedikit informasi, Bontang adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur yang terletak sekitar 123 km di utara Kota Samarinda. Luas wilayah Kota Bontang hanya sekitar 147,80 km². Relatif kecil sih wilayahnya dibandingkan kota atau kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Timur. Meskipun demikian kota ini memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan Kalimantan Timur maupun nasional. Mengapa, karena di Bontang ini terdapat dua perusahaan raksasa bertaraf internasional yaitu PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim.

Walaupun kota ini kecil, tapi sangat ramah pada pendatang. Penduduk Bontang umumnya adalah pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Dulu pertama datang ke Bontang, saya beranggapan akan bertemu dengan banyak orang Dayak yang merupakan suku asli di Kalimantan. Anggapan itu ternyata salah besar. Bontang sangat terbuka pada kaum pendatang. Ketika di Bontang anda akan bertemu dengan orang Bugis, Jawa, Batak, Toraja, Palembang dan lain sebagainya. Mereka hidup berdampingan dan rukun. Jika anda baru pertama datang ke Bontang, begitu memasuki gerbang Kota Bontang, anda akan disuguhi pemandangan yang menentramkan. Jalanan yang selalu bersih karena setiap hari, selalu saja ada "pasukan kuning" yang membersihkan dan menyapu kotoran di jalan. Tak hanya itu, tanaman penghias jalan pun tertata dengan rapi. Tak heran jika Kota Bontang pernah mendapat penghargaan Adipura untuk kebersihan kotanya selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2012.

Mata pencaharian penduduk Bontang pun beragam. Mayoritas bekerja di pabrik (gas dan pupuk), perusahaan tambang dan juga pegawai kantoran. Kalaupun tidak bekerja di sektor formal, warga di Bontang juga banyak bergerak di sektor perikanan dan gemar berwirausaha. Warung-warung kuliner banyak terdapat di segala penjuru Bontang. Selalu saja ada yang bisa dilakukan dan dijadikan mata pencaharian jika kita tinggal di Bontang. Sekarang ini malahan mulai menjamur kafe-kafe dan angkringan di Bontang ini yang tentu saja tak ingin ketinggalan dengan kafe di kota-kota besar yang selalu dilengkapi dengan internet atau free wifi. Ini bisa dimungkinkan karena warga Bontang termasuk warga yang melek informasi, mereka fasih bersosial media. Bahkan untuk memasarkan produk dagangannya pun mereka rajin memanfaatkan media semacam facebook dan instagram.

Dan di antara yang banyak dipasarkan di medsos adalah menu Gammi ini. Apa sih Gammi itu? Gammi adalah semacam sambal. Yaelah... sambal tho? Iya, sambal! Eits, tapi jangan salah ya! Sambal gammi ini "beda" lho dengan sambal pada umumnya. Memang bahan pokoknya tetap seperti sambal pada umumnya, ada cabai/lombok, tomat, dan bawang merah/putih, tapi yang membuat sambal ini menjadi "beda" adalah cara memasak dan penyajiannya. Sambal gammi dimasak langsung di atas kompor lengkap dengan cobeknya. Ya, cobek sambal yang biasa terbuat dari tanah liat itu ikutan nangkring di atas kompor. Dan begitu matang, langsung saja disajikan utuh dengan cobeknya itu. Nah, di sinilah letak uniknya! Jadi begitu sambel ini tersaji di meja makan, maka jangan heran anda akan melihat sambal tomat yang masih meletup-letup di atas cobek dan ini sungguh menggugah selera seperti tampak pada video di bawah ini.



Sepanjang pengetahuan saya, hanya di Bontang ini saya menjumpai penyajian model begini. Kalau penyajian di atas cobek sih biasa, tapi yang masih meletup-letup seperti itu ya baru ada di Bontang ini. Sambal gammi saat ini menjadi kuliner khas Bontang dan belum pernah saya jumpai di kota lain di wilayah Kalimantan Timur.

Seiring berjalannya waktu, sambal gammi tak melulu hanya berupa sambal saja. Ada banyak bahan makanan lain yang bisa dicampurkan di dalam sambal gammi. Ada udang, cumi, telur, ayam, kerang dan pastinya ikan. Dan yang paling spesial adalah ikan bawis. Konon ikan bawis ini hanya bisa dijumpai di perairan Bontang. Jadi gammi bawislah yang paling fenomenal di antara semuanya. Selain karena ikannya yang gurih, ikan bawis juga tak terlalu banyak durinya seperti ikan bandeng atau ikan mas. Dipadu dengan sambal gammi yang pedas-pedas asam manis (kadang ada juga yang mencampur potongan jeruk nipis di dalamnya) membuat gammi bawis "pecah" dilidah. Satu porsi gammi bawis biasanya berisi 3 potong ikan. Soal harga? Relatif murah, sekitar 30 ribu rupiah. Gammi bawis dimakan dengan nasi putih yang masih hangat sangat lezat dan dijamin nambah deh! *itu kalau saya lho hehehe. 

Terus di mana kalau ke Bontang bisa menjumpai menu spesial ini? Banyak! Hampir semua warung makan khususnya yang menyediakan olahan seafood biasanya menu satu ini tak pernah ketinggalan. Bahkan seperti yang saya bilang di atas, saat ini banyak warga yang menjajakan menu satu ini lewat facebook ataupun instagram. Tentu saja dengan penampilan beda (tidak ada cobeknya) dengan kalau kita datang langsung ke resto/warung makan ya. Jadi ada baiknya datang langsung ke warung makan biar bisa merasakan sensasi sambal yang meletup-letup itu hehehe.

Nah, beberapa hari lalu saya makan di salah satu warung makan yang menyajikan aneka menu sambal gammi. Dan kalau sudah lihat makanan tuh bawaannya pengin pamer aja. Namanya juga hobby hahaha. Cekrek-cekrek sebentar sebelum disantap itu wajib hukumnya bagi saya. Apalagi ini kuliner khas daerah saya tinggal sekarang. Siapa tahu setelah saya upload di medsos terus saya dijadikan duta kuliner ehh duta pariwisata hahaha. *ngimpi. Ya paling tidak saya sudah memperkenalkan kuliner khas daerah, ya tho?

Bagaimana hasil jepretan saya waktu itu? Ini dia....

Gammi Bawis, paling fenomenal di antara gammi lainnya
Bagaimana, tampak lezat bukan? Semua ini hanya saya potret dengan kamera smartphone saya lho! Gak percaya? Nih buktinya!


Ya, saya memang lebih sering menggunakan kamera smartphone daripada dslr saya. Bukan apa-apa sih, beratnya itu lho. Mosok mau makan aja mesti nenteng-nenteng kamera segede gaban demi untuk mengabadikan makanan yang kita makan. Sekarang sih kamera smartphone sudah canggih-canggih. Namanya juga smartphone alias telpon pintar, tak sekolah saja sudah pintar dia hahaha. Tak kalah deh dengan kamera dslr. Apalagi kamera dari ASUS ZenFone ini. Benar-benar andalan buat saya saat ini. Sudah sejak April 2015, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini setia menemani ke mana saya pergi.


Modal smartphone saja hehehe
Selain ringan dibawa, hanya 170 gram termasuk baterainya, dan ringan di harga (tak lebih dari 3 juta rupiah saat saya beli dulu), ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini juga spesifikasinya tak kalah dengan smartphone mahal pada umumnya. Sistem operasinya sudah Android Lollipop 5.0 serta didukung oleh prosesor quad-core Intel Atom Z3560 yang mampu bekerja hingga kecepatan 1,8 GHz dengan kapasitas RAM 2GB. Keren kan? Ukuran layarnya juga sudah lumayan lebar, yakni 5.5 inci. Nah, yang paling penting buat saya sebagai penggemar foto selfie, ASUS Zenfone 2 ZE550ML ini sudah dual kamera, beresolusi 13 MP (pada kamera utamanya) dan 5 MP (kamera depan). Dan pastinya sudah didukung dengan teknologi PixelMaster Camera dengan beragam fitur seperti Autofocus, Dual-LED (dual tone) flash, Geo-tagging, Touch focus, Face detection, Panorama, HDR dan masih banyak lagi.

Gammi Telur
Gammi Cumi, masih tersisa asap tipis karena panas
Gammi Udang
Ngomong-ngomong apa sih PixelMaster itu? Itu lho semacam teknologi yang memungkinkan kita mengambil gambar ataupun video meski dalam kondisi gelap. Jadi kita tak perlu khawatir akan gambar yang kita hasilkan meski kita potret dalam ruangan gelap atau minim cahaya karena kecerahannya dapat kita tingkatkan hingga 400% dari kamera biasanya. Canggih kan? Contohnya ya seperti foto Gammi Bawis saya itu. Foto itu saya ambil di dalam ruangan di salah satu warung makan langganan saya. Meskipun diambil pada siang hari, tapi karena di dalam ruangan yang tertutup agak jauh dari jendela (hanya mengandalkan cahaya alami) maka hasilnya kurang maksimal. Tapi dengan teknologi ini dan juga sedikit editing bisa tetap jadi foto yang kece koq. Pokoknya dengan teknologi ini, ponsel ASUS saya satu ini gak ada matinya deh dan pastinya sudah mampu membuat saya makin kece kalau di kamera hahaha.

Memotret makanan dengan mode Depth of Field agar background tampak ngeblur

Hampir semua foto-foto (baik foto makanan maupun foto selfie) di medsos saya, ya dari kamera ASUS ini. Pengin hasilnya bagus, tinggal atur settingannya itu. Mau dibikin bokeh atau ngeblur di bagian belakangnya? Bisa banget! Tinggal atur di mode Depth of Field, beres deh! Memang sih saya belum pinter main setting-setting gitu. Maklum masih belajar dan terus belajar. Jadi kalau motret masih sering pakai mode Auto dan bahkan sering mengandalkan feeling aja. *yaa.. .ketahuan deh! wakakkk. Yang penting tetep keren kan hasilnya hahaha.

Di jaman sekarang tak usah ragu untuk mengandalkan kamera dari ponsel kita, termasuk ASUS Zenfone 2 ZE550ML milik saya ini. Untuk saat ini, di jajaran ponsel Android, seri ini masih masuk di kelas menengah yang patut untuk dipertimbangkan. Jadi untuk pindah ke lain hati, saya perlu mikir lama deh rasanya. Kecuali ada yang ngasih ASUS gratisan dengan spesifikasi yang lebih tinggi tentunya, dijamin gak nolak deh hahaha. Jadi, mengabadikan kuliner khas daerah seperti Gammi saya itu "hanya" dengan kamera smartphone, why not? Saya saja sering, bagaimana dengan anda? Yuks ikutan share mumpung lagi ada kontesnya tuh di blog Gandjel Rel.

Note : Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Rabu, 18 Januari 2017

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah, Mengobati Kerinduan Pada Masakan Ibu


Berkreasi dengan Bakmi Mewah, siapa takut? Setidaknya ini adalah postingan ketiga saya yang saya tuangkan ke dalam blog tentang kreasi Bakmi Mewah. Bagi saya ini seperti tantangan tersendiri. Apalagi belakangan ini saya memang sedang enjoy banget menikmati hobby baru saya di bidang masak-memasak. Rasanya ada kepuasan tiada tara jika hasil masakan saya disukai tak hanya oleh keluarga saya, tetapi juga teman-teman saya.

Terus Kenapa Mesti Bakmi Mewah?

Buat saya Bakmi Mewah ini lain daripada mie instan pada umumnya. Bentuk mienya pipih dan tidak mudah putus. Teksturnya yang lembut, kenyal, halus dan licin dengan aroma yang mewah benar-benar menggugah selera. Jadi kita tak perlu khawatir akan merasa seret di kerongkongan setelah kita menyantapnya. Karena mie ini aslinya sudah enak, jadi tak perlu tambahan bahan macam-macam pun, disajikan begitu saja seperti dalam saran penyajian di kemasannya, Bakmi Mewah sudah lezat koq. Apalagi memang sudah dilengkapi dengan potongan daging ayam dan jamur berbumbu, benar-benar mewah deh! Bukan hanya tampilan di kemasannya, tapi memang benar-benar asli daging ayam dan jamurnya. Juicy di mulut pula rasanya.

Bakmi Mewah ini bisa dikatakan pelopor topping ayam dan jamur asli pertama di Indonesia lho! Apa yang ditampilkan dalam kemasan, ya seperti itulah adanya. Istimewa pokoknya. Memasaknya pun sangat mudah. Cukup di masak sekitar 3 menit, dan tambahkan potongan daging ayam dan jamurnya, Bakmi Mewah ala restoran mewah sudah siap santap. Gampang dan praktis kan? 

Tanpa tambahan telur seperti itu pun, sudah mewah koq rasanya
Bakmi Mewah ini selain murah harganya, tak lebih dari 8 ribu rupiah perbungkus, juga jelas komposisi dan nilai gizinya. Bakmi Mewah juga tidak mengandung bahan pengawet dan MSG. Sudah gitu ada label halalnya pula. Jadi benar-benar aman untuk dikonsumsi keluarga.

Komposisi dan nilai gizinya jelas!

Halal ya!
Murah harganya, eye catching kemasannya
Dari segi kemasan pun berbeda dengan mie instan pada umumnya. Kemasan Bakmi Mewah benar-benar wah dan mewah. Warna hitam pada kemasannya sungguh eye catching saat dipajang di rak-rak supermarket atau swalayan. Kalau biasanya mie instan hanya dikemas plastik biasa sehingga mudah bocor dan robek, kalau Bahmi Mewah kemasannya terdiri dari 3 lapis. Lapisan pertama berupa plastik seperti mie instan umumnya, kemudian kardus/karton berwarna hitam dengan tulisan Bakmi Mewah berwarna kuning keemasan. Lapisan selanjutnya plastik tipis untuk wrapping kardusnya. Jelas sekali bahwa PT. MAYORA INDAH TBK, sebagai produsen Bakmi Mewah ini memperhatikan betul segi penampilan dan keamanan barang produksinya.

Kemasannya sampai lapis tiga, aman tidak mudah bocor
Nah, beberapa hari lalu ceritanya saya video call-an dengan ibu saya yang di Jogja sana. Ngobrol ngalor-ngidul ujung-ujungnya lari ke makanan. Ya, namanya juga emak-emak. Obrolannya kan juga seputar dapur. Kebetulan waktu itu saya belum sempat makan. "Masak apa hari ini, Buk?", iseng saya tanya ke ibu. "Gak masak, tadi cuma bikinin Bapakmu mie ceker pedes aja." Wow... Mie ceker pedes buatan ibu saya kan juara! Apalagi kalau di makan panas-panas gitu. Wuihhh... Dijamin langsung meleleh deh keringat hahaha.

video call-an dengan ibu di Jogja

Dan ibu saya memang begitu, masak mie ceker bilang gak masak. Buat ibu saya mungkin gak dianggap masak karena bikin mie ceker sangatlah simpel. Gak makan waktu lama dan gak ribet. Terus-terang obrolan tentang mie ceker dengan ibu saya kala itu terngiang-ngiang terus di benak saya. Rindu saya untuk dimasakkan mie ceker oleh ibu. Tapi sayang, jarak antara Jogja-Bontang menghalangi kami. Andai saja....aaa..*nyanyi deh hehehe

Kebetulan beberapa hari lalu saya dapat kiriman 2 bungkus Bakmi Mewah dari KEB. Akhirnya, demi mengobati rasa rindu pada masakan ibu, saya pun mencoba membuat mie ceker pedas, tentunya dengan Bakmi Mewah kiriman itu. Kira-kira apa saja bahan yang diperlukan? Ini dia...

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 4 buah ceker ayam
  • 3 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 5 biji cabe merah keriting (boleh lebih jika suka pedas)
  • 2 lembar daun jeruk
  • 1 batang serai yang dimemarkan
  • minyak goreng untuk menumis
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Bahan Mie Ceker Pedas

Cara membuat :

  • Rebus ceker hingga lunak (kalau saya pakai presto). Angkat, sisihkan.
  • Rebus mie dengan daun bawang kering (ada di kemasan) kurang lebih selama 2 menit. Angkat dan tiriskan. Tuang ke mangkok saji, sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang merah dan cabe yang telah dihaluskan, daun jeruk, batang sereh hingga harum. Masukkan ceker rebus, daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula dan garam secukupnya.
  • Aduk ceker dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Pedas-pedas yummy... Mienya itu lho, licin dan tak mudah putus

Mie ceker pedas Bakmi Mewah pun siap disantap. Bagaimana, mudahkan! Semangkok mie ceker pedas Bakmi Mewah ini sudah cukup mengobati rasa rindu saya pada masakan ibu.

Ini Instagram saya ya, yang mau follow boleh koq hehehe

Selain mie ceker pedas, saya juga mencoba mengkreasikan Bakmi Mewah menjadi menu lain yaitu Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl atau Ayam Lada Hitam dalam Mie Mangkok.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 1/4 buah bawang bombai, potong kasar
  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 biji cabe merah besar/paprika, potong kasar
  • 1/4 sdt lada hitam bubuk
  • minyak goreng secukupnya
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Cara membuat :

  • Rebus mie selama 2 menit. Angkat dan tiriskan.
  • Taruh mie pada saringan kawat yang berbentuk cekung, goreng mie dalam minyak yang cukup panas hingga kuning kecoklatan. Angkat dan susun mie yang telah menyerupai mangkok (akibat proses penggorengan) ke piring saji. Sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang bombai dan cabe/paprika hingga harum.
  • Masukkan daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula, garam, dan lada bubuk secukupnya.
  • Aduk daging ayam potong dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl pun siap disantap. Resep ini sengaja saya bagikan juga di sini karena kebetulan bahan yang diperlukan hampir sama dengan kreasi sebelumnya. Selain itu anak-anak saya juga suka sekali menu ini. Kriuk-kriuk pedas gimana gitu katanya.

Sebenarnya banyak menu yang bisa kita kreasikan dari sebungkus Bakmi Mewah ini. Mau dibuat menu berkuah, digoreng atau ditumis pun bisa asal kita mau sedikit kreatif saja. Ditambah topping telur, sosis, nugget, udang, cumi atau bahkan keju sih okey aja. Dan pastinya akan tambah mewah persis menu-menu mahal di restoran mewah. Saya saja sudah coba membuat beberapa kreasi dari Bakmi Mewah ini lho! Contohnya seperti di bawah ini.



Bagaimana tampilannya, sudah seperti menu di restoran mewah kan? Untuk tahu resep dan cara membuatnya bisa diintip di Berkat Bakmi Mewah, Restoran Mewah Pindah Ke Rumah dan Omelette Bakmi Mewah ya!
Bagaimana teman-teman, kira-kira kreasi apa saja yang telah teman-teman buat dari Bakmi Mewah ini? Boleh dong kita saling berbagi resep hehehe.

NB : Postingan ini diikutsertakan dalam Kreasi Bakmi Mewah Bersama Emak-Emak Blogger



Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Menikmati Tom Yam langsung dari negara asalnya? Wow... siapa yang tak tergoda? Thailand, ya Negeri Gajah Putih tempat muasal Tom Yam ini memang belum pernah saya kunjungi. Meskipun demikian, toh beberapa kuliner asal Thailand pernah saya cicipi di Tanah Air, setidaknya di restoran Thailand di kota kelahiran saya, Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri ada beberapa restoran yang spesial menyajikan hidangan khas Thailand. Salah satunya adalah restoran Thailand yang terletak di Jalan Taman Siswa, kurang lebih hanya sekitar 300 meter dari rumah saya di Yogyakarta sana. Tom Yam adalah salah satu menu favorit saya jika berkunjung ke restoran Thailand ini. 

Hidangan berkuah semacam sup seafood ini rasanya asam-asam pedas, sungguh menggugah selera. Apalagi dinikmati dalam kondisi masih panas di saat cuaca dingin atau musim penghujan seperti sekarang ini, pasti langsung menambah kehangatan tubuh sekian derajat dari suhu sebelumnya. Semangkok Tom Yam bisa saja kurang buat saya, terutama di saat kondisi badan sedang "aras-arasen" istilah Jawanya atau kurang bersemangat, Tom Yam yang pedas itu sudah mampu mengembalikan semangat saya. Potongan cumi yang dipadu dengan udang dan beberapa sayuran, bisa wortel ataupun bunga kol dalam rendaman kuah asam pedas itu sungguh pas dilidah saya. Aroma daun serai, daun jeruk, lengkuas, cabai merah menyatu bersama bumbu-bumbu lainnya benar-benar nendang rasanya. 

Hampir serupa dengan kuliner nusantara gulai kepala ikan, yang kalau tak pedas dan asam kurang maknyus bagi saya. Begitu pun dengan Tom Yam ini. Rasa amis layaknya makanan berbahan dasar seafood lenyap manakala dipadu dengan kucuran air jeruk nipis dalam racikan bumbunya. Itulah kenapa, Tom Yam terasa asam-asam pedas di lidah. Kalau sedang berkunjung di restoran Thailand, menu satu ini tak pernah ketinggalan. Lain saya, lain pula anak saya. Sebagai anak SD yang tidak suka makanan yang serbapedas, membuat anak saya melirik ke menu lain yang lebih familiar di lidah orang Indonesia pada umumnya, yaitu nasi goreng. Ya, siapa yang tak kenal nasi goreng? Kalau Anda tak kenal nasi goreng berarti tingkat kegantengan Anda turun 5 tingkat dibandingkan Presiden Barack Obama hahaha. President Obama adalah salah satu presiden di dunia ini yang berani menyebut nasi goreng, sate dan bakso sebagai kuliner Nusantara yang lezat. Mosok Anda kalah sama presiden Amerika itu sih? Kalau nasi goreng ala Indonesia sudah acap kali anda santap, bagaimana dengan nasi goreng ala Thailand?

Khao Pad Poo atau nasi goreng Thailand ala saya hehehe (dok.pri)

Hampir sama dengan nasi goreng Indonesia, nasi goreng Thailand pun ada campuran telur dan kadang juga ada daging kepitingnya. Persis nasi goreng seafood yang biasa dijual di restoran Indonesia. Koq bisa mirip ya? Memang konon katanya Thailand itu agak-agak mirip dengan Indonesia. Bangkok misalnya, sebagai ibu kota negara sangatlah mirip dengan ibu kota negara kita Jakarta, baik dalam tata kotanya maupun kemacetannya. Begitu pula dengan kulinernya, seperti pada nasi goreng tadi. Bedanya, nasi goreng Thailand atau biasa disebut Khao Pad Poo ini dimasak dengan menggunakan campuran bunga melati, perasan air jeruk nipis dan saus ikan khas Thailand. Tak heran nasi goreng Thailand rasanya juga agak-agak asam dan sangat kental aroma melatinya. Ini merupakan menu andalan anak saya jika berkunjung ke restoran Thailand.

Sweet Cassava atau Singkong Thailand ala saya (dok.pri)

Setelah puas makan, tak lengkap rasanya jika tidak ada minumannya. Segelas Cha Yen atau semacam teh yang dicampur dengan rempah-rempah (asam, adas) serta creamer (susu) cukup menambah hangat suasana santap bersama keluarga. Kalau cuaca sedang panas, cukup menambah beberapa potongan es batu ke dalamnya, dijamin tetap akan segar rasanya. Kalaupun masih dirasa belum cukup dan perut masih mampu menampung makanan, bisa juga ditambah dessert Singkong Thailand atau biasa disebut dengan Sweet Cassava. Sweet Cassava ini berupa potongan singkong yang direbus dengan air dan gula sampai lunak kemudian disiram dengan kuah santan yang kental. Bisa juga ditambah topping parutan keju bila suka. Hmmm... legit-legit gurih menggoda. Lumer dan pecah di mulut deh. Sepiring kecil Singkong Thailand cukuplah karena menu ini juga sangat mengenyangkan jika disantap dalam porsi yang banyak. Jadi tak perlu banyak-banyaklah agar kenikmatan bersantap semangkok Tom Yam atau sepiring Khao Pad Poo lenyap akibat perut Anda terlalu penuh atau istilahnya Jawanya bengep akibat kekenyangan.  

Ya kalau habis makan Anda tidak ada aktivitas lain, bisa saja bersantai sambil melonggarkan isi perut. Tapi bagaimana jika Anda berencana menghabiskan hari sambil jalan-jalan, menyusuri Sungai Chao Phraya misalnya, anggap aja kita sudah berada di Thailand ya hahaha. Kan gak asyik jalan-jalan perutnya kekenyangan.

Salah satu bagian dari restoran Thailand di Jalan Taman Siswa Yogyakarta. Ada bendera Thailandnya juga. Foto diambil medio 2013 (dok.pri)

Sekarang ini Singkong Thailand tak melulu dijual di restoran Thailand. Di kafe-kafe pun mulai banyak dijajakan dan menjadi pesaing utama pisang keju yang telah dulu ada. Bahkan di hotel-hotel berbintang juga mulai diperkenalkan. Singkong yang harganya tak lebih dari 5 ribu rupiah per kilonya, menjadi "naik kelas" ketika diolah menjadi Singkong Thailand ini. Saya sendiri biasa mengolah singkong menjadi Singkong Thailand karena begitu mudahnya membuat menu satu ini. Lumayan untuk sekedar menemani ngeteh di sore hari. Bahkan bagi keluarga saya singkong sudah menjadi hidangan yang wajib untuk berbuka di kala bulan puasa. Entah itu hanya sekedar digoreng crispy ataupun diolah menjadi Singkong Thailand tak menjadi masalah bagi keluarga kecil saya

Tom Yam ala restoran Thailand di Yogyakarta (dok.pri)

Sayangnya di kota saya tinggal sekarang ini tak ada restoran Thailand. Dan kerinduan pada menu-menu khas Thailand di restoran Kota Gudeg itu mau tak mau membuat saya menjadi sedikit "kreatif". Beberapa kali saya berhasil menduplikat kuliner Thailand ke dapur saya. Alhasil, keluarga tak pernah komplain dengan masakan saya itu. Kalaupun tak mirip rasanya, setidaknya tampilannya sudah mirip hahaha. Toh kata teman saya yang sudah berkunjung ke Thailand, di sana juga tak semua menu seragam rasanya. Jadi jangan heran bila kita menemukan menu yang sama, tapi rasanya berbeda antara restoran yang satu dengan restoran yang lain, meski itu sama-sama terdapat di sepanjang Chao Phraya.

Novel inilah yang membuat saya sering berkhayal berkunjung ke Thailand hehehe (dok.pri)

Saya memang sering berkhayal untuk bisa menghabiskan senja di Chao Phraya sembari menikmati kuliner khas Thailand yang banyak ditawarkan di restoran sepanjang sungai yang menjadi penopang penghidupan orang-orang yang bermukim di tepiannya itu. Apalagi semenjak saya membaca novel "Senja di Chao Phraya", karangan seorang teman di Yogyakarta yang begitu apik menampilkan tempat-tempat yang indah di Thailand sebagai setting ceritanya, menjadikan keinginan untuk berkunjung ke sana kian menggebu.  Tak hanya sekedar ingin melihat The Golden Buddha atau "Phra Phuttha Suwon Patimakon", patung Buddha yang terbuat dari emas dan tingginya tak kurang dari 3 meter itu, tapi saya juga sering menghayal menjadi Laras, salah satu tokoh dalam novel karya teman saya itu. Betapa Laras yang karena pekerjaannya mengharuskan ia bolak-balik Indonesian-Thailand, akhirnya menginap di Hotel Golden Temple, yang kalau ingin ke Sungai Chao Phraya cukup berjalan kaki saja. Di restoran pinggir sungai itulah Laras biasa menikmati senja bersama Osken O'Shea, pujaan hatinya. Lelaki campuran Turki dan Irlandia. Menikmati kuliner Thailand di waktu senja bersama pujaan hati di pinggir Sungai Chao Phraya, oh so sweet. Benar-benar romantis!   Tak hanya restoran dan pedagang kaki lima di sepanjang Sungai Chao Phraya yang menjajakan makanan-makanan enak. Di Phuket misalnya, salah satu pulau terbesar di Thailand sekaligus menjadi destinasi wisata populer di negara tersebut, bahkan ada yang namanya Phuket Walking Street yang menjajakan aneka macam kuliner Thailand. Dan menariknya semuanya enak-enak dan murah. Bahkan banyak juga jajanan yang dijual di sana mirip dengan jajanan Indonesia.  Ada lumpia goreng, sosis bakar, pentol bakar, martabak yang dalamnya diisi pisang, bahkan jagung rebus dan kacang rebus juga ada. Jadi kita tak perlu khawatir akan kesulitan menyesuaikan lidah kita dengan aneka makanan di sana jika kita berkunjung ke Thailand. Semua bisa kita pilih sesuai selera, mau yang halal atau haram juga ada. Bahkan menu yang ekstrem semacam belalang goreng seperti yang dijual di sepanjang jalan ke arah Wonosari Yogyakarta, jangkrik goreng dan kecoa goreng pun dijual di Phuket Walking Street tadi. Makanya jangan terlalu penuh mengisi perut jika sedang jalan-jalan ke Thailand. Setidaknya begitu pesan teman saya yang pernah beberapa hari liburan ke Thailand. Itu mungkin salah satu yang membuat saya ingin berkunjung ke Thailand. Selain banyak destinasi wisata yang menarik, menu makanannya pun beragam, enak-enak, dan murah pula. Tak hanya berkhayal menikmati Tom Yam di waktu senja di pinggir Chao Phraya, tapi saya juga ingin menyusuri sungainya, naik boat melintas Rama 8 Bridge sembari menyantap Konom Krok, kue kelapa seukuran takoyaki yang ditaburi daun bawang. Atau naik Tuk-Tuk menyusuri jalan-jalan di Bangkok sambil menyantap Kha Nie Ma Muang, dessert ketan yang disajikan dengan potongan mangga segar dan saus santan yang manis. Hmmm... Yummy. Tapi semua ini masih khayalan dan saya tetap membiarkan khayalan saya ini tumbuh subur dalam benak saya. Entah kapan akan tumbuh menjadi kenyataan, ya kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki sehingga bisa benar-benar menikmati Tom Yam dari negara asalnya. Aamiin... Doain ya... 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/edikusumawati/sepotong-senja-di-chao-phraya-bersama-tom-yam_5878864c22afbd1e0761303d

Note : Tulisan ini sudah saya post ke Kompasiana pada tanggal 13 Januari 2017 lalu.


Minggu, 24 Mei 2015

Dua Kali Hamil dan Melahirkan, Dua-Duanya Amazing!

Tentang Kehamilan Danny

Bulan Oktober sudah pasti menempati relung khusus dalam hati saya. Karena di bulan ini ada tiga generasi sekaligus di keluarga saya yang dilahirkan di bulan yang sama. Pertama adalah bapak saya, kedua adalah saya dan yang ketiga adalah anak sulung saya. 

Terus bagaimana rasanya mempunyai anak? Sudah pasti bahagia tentunya. Apalagi ada anggapan bahwa kesempurnaan seorang perempuan terjadi ketika ia berhasil melahirkan seorang anak. Dan anggapan itu bagi saya ada benarnya. Saya merasakan benar-benar menjadi seorang perempuan “sempurna” ketika saya melahirkan anak sulung saya. Tidak bisa saya pungkiri, saya benar-benar dapat merasakan panggilan sayang “mama” ketika saya sudah punya anak. Dan itu sungguh luar biasa. Saya yang dulunya (kata orang sih) tomboy itu bisa juga punya anak, sungguh menakjubkan. 

Bersyukur dan berbahagia atas nikmat yang luar biasa sudah pasti saya rasakan. Hanya orang-orang yang “buta hati”-lah yang tidak bisa merasakan kebahagiaan dan tidak bersyukur akan lahirnya seorang “manusia baru” di dunia ini. Karena sudah “buta hati” itulah, maka ada saja orang yang tega membuang atau bahkan membunuh buah hati yang baru dilahirkannya hanya karena sang jabang bayi lahir tidak diharapkan. Akan tetapi apakah pernah ditanyakan pada sang jabang bayi, apakah mereka semua minta dilahirkan? Tidak bukan, karena kitalah yang sebenarnya telah merancangnya sendiri hingga akhirnya bayi itu lahir ke muka bumi. Jadi karena sudah saya rancang akan kelahirannya, maka saya sangat bersuka-cita akan hadirnya bayi dalam kehidupan rumah tangga saya.

Bagaimana suka-citanya mendapatkan momongan baru sudah tidak bisa saya lukiskan lagi. Hilang sudah rasa pegal-pegal yang selama 9 bulanan saya alami karena menggendongnya kesana-kemari di perut saya ketika saya mengandungnya. Tak terasakan lagi betapa susahnya masa-masa kehamilan pertama saya. Betapa setiap hari saya selalu muntah-muntah hingga hampir 8 bulan lamanya. Betapa susahnya saya melawan rasa ngidam saya itu dan semua seperti terbayar lunas ketika bayi itu lahir ke muka bumi. Lahir dengan keluhan yang menurut saya tidak terlalu berarti, walaupun bagi dunia medis kelahirannya harus menjadi catatan sendiri mengingat proses persalinannya yang tidak bisa dibilang gampang juga. 

Anak sulung saya memang bisa dibilang lahir normal, tapi tidak normal dalam prosesnya. Kenapa bisa demikian? Baiklah saya akan coba membuka kembali memori saya untuk mengingat-ingat proses kelahirannya. Bagi saya mudah saja “memanggil” kembali ingatan itu karena memang itu pengalaman pertama dan tentunya akan terus membekas diingatan saya.

Saya menikah tanggal 7 Agustus 1999 di Yogyakarta, kota kelahiran saya. Kira-kira seminggu setelah menikah, saya langsung diboyong suami ke Bontang, Kalimantan Timur. Berat rasanya berpisah dengan orang tua, tapi apa boleh buat setelah menikah tanggung jawab sepenuhnya atas diri saya beralih ke tangan suami yang kebetulan bekerja di Kalimantan Timur. Sejak menikah saya sama sekali tak memakai alat kontrasepsi, meskipun demikian kehamilan tak kunjung menghampiri saya. Baru pada bulan kelima, saya mengalami keterlambatan menstruasi. Untuk memastikan saya hamil atau tidak, bersama suami saya beli alat tes kehamilan di apotik dan pagi harinya saya tes sendiri urine saya. Alhamdulillah, ada dua garis strip berwarna merah di alat tersebut. Namun untuk lebih meyakinkan, bersama suami pula saya pergi ke bidan sore harinya. Dan ternyata benar, hasilnya tetap sama. Saya dinyatakan positif hamil. Bahagia tak terkira sudahlah pasti, mengingat saya sangat mengharap kehadiran janin di rahim saya. 

Kalau dihitung dari mulai saya menikah hingga hamil sebenarnya tak terlalu lama, hanya lima bulan saja. Namun sejak kepindahan ke Kalimantan Timur saya memutuskan berhenti kerja, maka hari-hari saya di rumah terasa sepi ketika ditinggal suami bekerja. Karena itulah saya pengin cepat-cepat hamil agar ada "teman" bermain selama ditinggal suami bekerja. Jadi lima bulan merupakan waktu yang lumayan lama bagi saya untuk menunggu kehamilan saya itu.

Sejak dinyatakan positif hamil oleh bidan, maka sejak saat itu saya rutin kontrol sebulan sekali. Setiap kali kontrol bidan juga memberi saya vitamin yang harus rutin saya minum setiap harinya. Karena ini kehamilan anak pertama dan suami juga begitu excited akan segera punya anak, maka segala sesuatu yang saya minta selalu diturutinya. Mau minta makanan apa saja sepanjang itu tak membahayakan kehamilan saya, pasti dituruti. Terkadang keinginan itu datangnya tiba-tiba dan malam hari pula. Orang bilang hal semacam itu namanya ngidam. Hanya satu hal yang sulit dipenuhi oleh suami yaitu ketika suatu malam tiba-tiba saya ngidam kepingin makan sayur tumis kangkung dan itu harus buatan ibu saya. Tengah malam minta tumis kangkung buatan ibu saya yang tinggal di Yogyakarta sana, jelaslah sulit untuk dipenuhi. Saya sampai telpon ibu saya, nangis-nangis tetap tak bisa berbuat apa-apa. Itu terjadi di awal-awal kehamilan saya. Setelah kehamilan menginjak bulan keempat, saya mulai tak pernah ngidam yang "aneh-aneh" lagi. Hanya saja mual-mual dan muntah-muntah saya tak kunjung berhenti dari bulan pertama kehamilan sampai menginjak bulan ke delapan. Semula saya berpikir, mual-mual dan muntah-muntah saya itu lantaran susu hamil yang saya konsumsi. Tapi ternyata tidak, meskipun saya ganti dengan susu merek lain dan juga cita rasa yang lain, tetap saja tak berpengaruh. Saya terus saja muntah-muntah setiap hari, bahkan tengah malam pun saat sudah terlelap tidur dan terbangun lantaran ingin buang air kecil, muntah-muntah itu sering kali terjadi. Bukan hanya muntah sedikit, sering kali saya muntah sangat banyak hingga saya lemas. Untungnya suami saya selalu menguatkan, meskipun muntah-muntah terus saya tetap diharuskan minum susu hamil dan makan-makanan yang bergizi.

Karena keseringan muntah-muntah, praktis berat badan saya tak terlalu mengalami kenaikan yang berarti. Kalau ibu-ibu hamil pada umumnya bisa naik sekilo atau bahkan dua kilo. Bulan ketiga dan keempat justru berat badan saya turun dari sebelumnya. Segala nasihat bidan dan orang-orang yang telah berpengalaman hamil sudah saya ikuti, tapi tetap tak berpengaruh. Kenaikan berat badan saya tidak terlalu signifikan.  Di umur kehamilan yang kelima bulan saja saya masih bisa mengenakan celana jeans yang biasa saya pakai sebelum hamil. Beberapa tetangga bahkan mengira saya tidak hamil saking "tipis"-nya perut saya. Meskipun sering muntah-muntah, tapi ternyata bayi di perut saya cukup kuat. Pernah ada pengalaman menyedihkan sekaligus membuat saya was-was dengan kondisi janin saya. Suatu ketika di bulan kelima kehamilan, saya jalan-jalan bersama suami di pusat perbelanjaan. Kebetulan ada beberapa tangga yang harus saya lalui di pusat perbelanjaan itu. Mungkin karena kurang hati-hati, saya pernah terjatuh di tangga, kurang lebih sekitar 3 atau 4 undakan. Suami saya yang saat itu sedang membawa barang belanjaan, tak sempat menggapai saya.  Saya terjerembab ke lantai dasar.  Untunglah begitu diperiksa ke bidan, kondisi janin saya baik-baik saja. Begitupun dengan saya, hanya luka-luka lecet di tangan. Kejadian itu menjadi pengalaman yang berarti bagi saya untuk lebih berhati-hati.

Begitulah, bulan demi bulan kehamilan saya lalui dengan mual dan muntah-muntah. Karena kondisi yang tak kunjung membaik, menginjak bulan ke delapan saya memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta sekaligus untuk melahirkan disana. Keputusan itu saya ambil karena saya merasa akan lebih nyaman berada di samping ibu saya di saat melahirkan nanti. Suami pun juga tak keberatan dengan keputusan saya itu. Akhirnya dengan diantar kakak ipar yang kebetulan sedang ada perjalanan ke Cepu, saya terbang dari Bontang ke Balikpapan, kemudian dilanjutkan ke Surabaya. Waktu itu tidak ada route yang langsung ke Yogyakarta. Di Surabaya, bapak saya sudah menunggu di bandara baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Sementara kakak ipar saya melanjutkan perjalanan ke Cepu.

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang beresiko mengingat usia kandungan saya yang sudah menginjak delapan bulan. Salah-salah kontraksi dan bisa melahirkan di pesawat. Tapi karena waktu itu saya sama sekali tak mempersiapkan surat keterangan dokter yang mengijinkan saya terbang dalam kondisi seperti itu, maka petugas di bandara pun percaya saja ketika saya bilang usia kehamilan saya masih lima bulan. Hal itu karena perut saya memang tak seperti orang hamil delapan bulan. Begitulah, akhirnya saya tiba di Yogyakarta dengan selamat.

Aneh tapi nyata, justru di Yogyakarta saya sama sekali tak mengalami muntah-muntah. Segala makanan saya santap, tanpa peduli sudah berapa kali saya makan dalam sehari. Orang bilang saya "ngebo" (seperti kerbau yang melahap apa saja). Saya juga sering minum air es jeruk setiap kali kehausan, meski ibu saya melarang. Takutnya saya nanti mengalami "kembar banyu" (hamil penuh air) saking seringnya minum es. Satu bulan di Yogyakarta, kenaikan badan saya lumayan drastis, kira-kira hampir sama dengan kenaikan badan selama delapan bulan kehamilan di Bontang. Sebelum hamil, berat badan saya hanya 40kg, kemudian saat hamil delapan bulan naik menjadi sekitar 46kg. Di usia kehamilan sembilan bulan, berat badan saya sudah mencapai 51kg dan masih bertambah hingga mendekati hari H kelahiran. Saya pun mulai rutin periksa ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta, seminggu sekali.

Tanggal 19 Oktober 2000 tepatnya (bersamaan dengan hari ulang tahun saya), sekitar pukul 10 pagi selepas saya mandi. Tiba-tiba saya seperti "mengompol” tanpa saya sadari. Tiba-tiba saja ada semacam cairan yang tanpa saya bisa kendalikan keluar dengan sendirinya. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya coba menelpon ibu saya yang kebetulan lagi keluar rumah. “Ah paling-paling kamu masuk angin, khan kamu suka minum es jeruk setiap hari”, dan jawaban ibu saya itupun cukup melegakan hati saya. Saya coba tanya lagi, apakah itu bukan tanda-tanda orang akan melahirkan, begitulah pertanyaan saya selanjutnya. “Memang sudah ada flek-flek belum? Kalau sudah ada berarti memang sudah mau melahirkan, tapi kalau belum ya itu cuma masuk angin tadi.” Begitulah penjelasan ibu saya waktu itu. Mungkin karena dari semua keempat anaknya, ibu saya selalu mengawalinya dengan tanda-tanda flek seperti orang yang mau menstruasi, makanya ibu saya bisa menyimpulkan begitu.

Akan tetapi ternyata kejadian saya “mengompol” dengan sendirinya itulah sebenarnya merupakan proses awal akan terjadinya kelahiran. Dokter bilang saya sudah mengalami pecah ketuban dan sayangnya itu baru saya ketahui sekitar 3 hari kemudian atau tepatnya tanggal 22 Oktober 2000 malam, ketika saya datang ke rumah sakit. Dokter kandungan saya bilang, bahwa tak semua orang menunjukkan tanda-tanda yang sama saat akan melahirkan. Ada memang yang ditandai dengan keluarnya flek-flek darah seperti halnya orang yang mau menstruasi dilanjutkan dengan kontraksi, ada yang tiba-tiba pecah ketuban seperti yang saya alami, tapi ada juga yang tetap bersih sampai masa persalinan tiba. Sebenarnya saya ke rumah sakit saat itu juga bukan karena sudah merasakan kontraksi yang begitu hebat seperti umumnya orang jika akan melahirkan, melainkan hanya karena saya berpegang pada perkataan dokter bahwa HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya adalah 23 Oktober 2000. Daripada besoknya saya buru-buru ke rumah sakit, makanya saya malam itu memutuskan untuk “ngamar” dulu saja di rumah sakit. Dan ini sebenarnya mungkin “kebodohan” saya juga. Kurang pengalaman tepatnya. Maklumlah baru pertama kali mau punya anak. Lagipula waktu itu juga informasi tak semudah sekarang, yang tinggal klik semua informasi seputar kelahiran ada di internet. Waktu itu informasi mengenai kelahiran yang paling mudah ya dari orang yang pernah mengalaminya, dalam hal ini saya hanya mengandalkan pengalaman dari ibu saya. Seandainya saya tahu kalau tragedi saya “ngompol” itu adalah pecah ketuban, mungkin tidak akan seperti itu ceritanya. Tentu perawat juga tidak akan terheran-heran melihat saya datang ke UGD mengenakan pembalut sementara saya tidak sedang menstruasi. Perawat juga tidak akan terkaget-kaget ketika saya bilang sudah memakai pembalut seperti itu sejak tanggal 19 Oktober karena memang “ngompol” saya tidak pernah berhenti sejak itu. Dan mungkin saya juga tidak akan mengalami beberapa suntikan yang katanya adalah antibiotik dan juga suntikan induksi agar saya segera mengalami kontraksi. Karena kalau bayi saya tidak segera keluar, dikhawatirkan akan kehabisan cairan ketuban dan kata dokter ini sangat berbahaya. Sayangnya bayi saya pun masih belum mau keluar meskipun sudah diinduksi semalaman. Ia rupanya masih betah berlama-lama di dalam perut saya yang hangat meskipun cairan ketuban sudah hampir mengering. 

Semalaman saya diinduksi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kontraksi. Saya justru melihat beberapa orang yang masuk setelah saya ke rumah sakit itu, tapi sudah melahirkan duluan daripada saya. Proses kelahiran bayi-bayi mereka pun saya sempat melihat langsung, baik yang lahir tunggal ataupun lahir kembar. Dokter kandungan yang menangani saya memang tidak melarang saya melihat hal itu sepanjang saya tidak takut melihat darah, untuk melihat beberapa proses lahirnya seorang bayi di muka bumi ini. Mulai dari bukaan 10 hingga proses keluarnya bayi sampai menjahit kembali jalan keluar yang mungkin telah robek, saya sempat melihat semua hingga pagi menjelang. Dan selama itu pula saya tetap tidak merasakan kontraksi. Sementara saya sebenarnya sudah mulai lelah karena tidak tidur semalaman. Begitu pula tensi saya sudah mulai menurun menjadi 60/90. Karena itulah pihak rumah sakit telah menyiapkan segala kemungkinan jika sesuatu hal yang buruk terjadi. Pagi itu saya lihat perawat hilir mudik di ruang persalinan saya sambil menyiapkan segala peralatan. Menurut saya peralatan yang disiapkan jauh berbeda dengan yang dipakai oleh beberapa orang yang sempat saya lihat proses persalinannya. Ada beberapa tabung oksigen besar di sekitar tempat tidur saya di samping peralatan lain yang saya sama sekali tidak tahu kegunaannya.

Sementara disaat yang bersamaan saya belum juga mengalami kontraksi pagi itu. Terdorong rasa penasaran, saya pun bertanya ke beberapa perawat yang berada disitu. Dan jawaban salah satu perawat cukup membuat saya kaget. Katanya kalau saya bisa segera kontraksi, maka bisa dilakukan dengan proses normal. Tapi kalau tidak bisa keluar, maka bisa juga nanti dibantu dengan vacum. Dan bila tetap tidak berhasil, jalan terakhir satu-satunya adalah dengan proses ceasar. Wah, saya hanya bisa membatin sembari terus berdoa, agar semua proses apapun yang nanti bakal saya lakukan berjalan dengan lancar. Pasrah dan berserah diri, itulah yang saya bisa lakukan. Akhirnya sekitar pukul 09.30 pagi saya pun mengalami kontraksi yang hebat. Jalan lahirpun sudah terbuka semua, tapi sampai sekian menit tetap saja bayi saya tidak mau keluar. Setelah sekian lama dengan susah payah barulah pada pukul 09.50 pagi, tanggal 23 Oktober 2000 lahir bayi mungil saya. Itupun dengan melalui proses vacum sebelumnya. Semua saya lewati tanpa didampingi suami karena memang disaat bersamaan suami saya masih berada di perjalanan dari Balikpapan menuju Yogyakarta. Namun demikian, kedua orang tua senantiasa mendampingi saya selama proses persalinan berlangsung, meski dari luar ruangan.


Bayi laki-laki seberat 3.05kg dan panjang 49cm itu akhirnya saya beri nama Danny. Pada awalnya tubuhnya pucat membiru, karena itulah pasca kelahirannya ia harus tetap menjalani perawatan yang ekstra. Bahkan sampai 3 hari kemudian ketika saya sudah diperbolehkan pulang, Danny masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ada beberapa suntikan yang harus ia terima selama beberapa hari di rumah sakit. Katanya itu antibiotik dan harus diberikan sampai habis dosisnya. Hanya karena saya merasa tidak bisa lepas dari bayi kecil saya itulah, maka di hari ke-4 ia di rumah sakit, saya dan suami nekad memaksa dokter untuk membawa pulang Danny dengan segala resiko yang seandainya terjadi sesuatu hal tidak akan menuntut rumah sakit. Apalagi saat saya berada di rumah, badan saya sempat demam lantaran proses keluarnya ASI dari payudara saya. Selama di rumah sakit, ASI saya memang belum keluar. Dan ternyata justru saat di rumah itulah ASI saya mulai keluar, meskipun masih sedikit. Berbekal tanda tangan suami saya, akhirnya Danny bisa saya bawa pulang dan pihak rumah sakit mengharuskan saya datang di jam-jam tertentu untuk menghabiskan sisa dosis antibiotik yang harus diberikan pada anak saya itu. Bagi saya itu bukan masalah, daripada saya harus berjauhan dengan bayi saya itu.

Danny yang tahun ini masuk SMA

Sekarang Danny sudah berumur 14 tahun lebih. Tahun ini ia sudah duduk di bangku SMA. Tak terasa bayi kecil saya sudah tumbuh besar, bahkan tinggi badannya sudah melampaui tinggi badan saya. Ia juga tumbuh sehat dan belum pernah mengalami sakit yang berat (semoga tidak pernah), kecuali batuk, pilek dan demam biasa.


Tentang Kehamilan Darryl

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Seberapa nakalnya seorang anak, ia toh tetap anak kita. Jadi tidak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan seorang anak, bagaimanapun kondisinya.

Lain Danny, lain pula kisah kehamilan Darryl, anak kedua saya. Jarak kehamilan antara anak pertama dengan anak kedua yang lumayan jauh yaitu 9 tahunan, membuat saya dan suami tak kalah excitednya dengan kehamilan Danny dulu. Kami sama-sama sukacita menyambut kehadiran calon jabang bayi di perut saya. Begitu pun dengan Danny, ia sangat ingin adiknya segera keluar dari dalam perut ibunya.

Berbeda dengan kehamilan pertama dulu, kehamilan kedua ini relatif lancar. Saya hanya mengalami mual dan muntah-muntah di bulan pertama kehamilan. Selebihnya saya justru terlihat "ngebo". Segala makanan saya santap hingga akhirnya berat badan saya naik dengan drastis. Kalau di kehamilan pertama, berat saya dari 40kg menjadi 52kg atau naik 12kg saja. Di kehamilan kedua berat saya dari 44kg menjadi 62kg saat melahirkan, yang artinya naik sekitar 18kg. Dokter bahkan sempat khawatir saya tak bisa mengontrol nafsu makan saya mengingat besarnya perut saya. Takutnya bayi saya terlalu besar sehingga menyulitkan proses persalinannya. Ternyata begitu di cek USG, berat janin saya masih kisaran 2kg. Jadi dapat disimpulkan bahwa makanan yang saya konsumsi selama hamil, larinya justru lebih banyak ke diri saya sendiri, bukan ke janin saya.

Selain faktor umur (saya umur 36 tahun saat hamil kedua) dan berat badan yang bertambah dengan cepat, di kehamilan kedua ini saya juga sering merasakan cepat lelah. Rasanya berat sekali membawa perut yang begitu besar untuk kesana kemari. Saya tak selincah kehamilan pertama dulu. Meski dibarengi muntah-muntah yang hebat, saya masih rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara di kehamilan kedua ini, aktifitas rumah tangga agak terganggu. Jangankan untuk berjalan, duduk saja rasanya susah, termasuk dalam mengerjakan tugas-tugas ibu rumah tangga setiap harinya. Meskipun demikian saya tak berusaha mencari asisten rumah tangga. Selain mencari asisten rumah tangga tak semudah yang dibayangkan, saya merasa pekerjaan sehari-hari masih sanggup saya kerjakan sendiri semampu saya. Saya berusaha menikmati proses kehamilan saya dengan santai hingga waktu persalinan tiba.

Akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Sesosok makhluk mungil telah lahir dari rahim saya. Lahir normal dalam artian tidak kurang suatu apapun, walaupun melalui proses yang tidak normal. Ya, dengan sangat terpaksa bayi kecil itu saya lahirkan secara ceasar. Bukan karena saya menghendaki begitu, tetapi memang usia kandungan saya sudah lewat bulan. Sudah 10 bulan bayi saya bersemayam di dalam rahim saya. Mungkin bayi saya betah berlama-lama  berada di dalam perut saya yang hangat.

Sesuai perkiraan dokter seharusnya bayi saya lahir pada tanggal 27 Mei 2009. Tetapi ditunggu sampai 2 minggu kemudian, bayi saya tetap tidak menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari rahim saya. Ia tetap anteng tanpa adanya kontraksi hingga masuk bulan 10 kehamilan. Karena itulah begitu "ngamar" perawat langsung menginduksi agar saya segera kontraksi. Saya mulai "ngamar" sejak habis Dhuhur, tapi tak juga kontraksi. Hampir sama dengan kehamilan pertama, saya sempat "dibalap" beberapa ibu yang "ngamar" setelah saya, tapi melahirkan duluan. Rata-rata mereka memang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kontraksi atau sudah siap melahirkan. Sementara saya, jangankan bukaan dua, kontraksi pun tidak meski sudah "ngamar" hampir seharian. Semalaman kondisi saya dipantau karena detak jantung bayi di kandungan berubah-ubah. Kadang normal kadang cepat, bahkan sekitar pukul 2 dinihari alat pendeteksi detak jantung terpaksa ditempel permanen ditubuh saya sampai menjelang Subuh karena angka di alat tersebut mendekati 190, dari yang seharusnya 150. Itu kata perawat yang setiap saat mengontrol saya. Dan pada malam itu pula saya disarankan untuk berpuasa untuk kemungkinan yang terburuk, yaitu operasi.

Praktis semalaman saya tidak tidur karena alat yang menempel di perut saya. Selain karena lapar juga karena bunyi alat itu yang sengaja dikeraskan volumenya oleh perawat yang mengontrol saya. Empat botol infus induksi telah saya habiskan. Saya kurang tahu atas pertimbangan apa dokter memberi induksi dalam bentuk infus dan bukan injeksi langsung seperti pada kasus kelahiran anak saya yang pertama dulu. Kalau pada kehamilan pertama dulu, saya sempat kontraksi setelah diinduksi. Sedangkan pada kehamilan kedua ini, setelah ditunggu sehari semalam, tanda-tanda kontraksipun tidak muncul. Dalam istilah kedokteran, kata dokter saya mengalami gagal induksi atau gagal drip. Selain itu ternyata air ketuban saya juga sudah mulai keruh. Kalau tidak segera dikeluarkan bayi saya bisa keracunan. Atas dasar itulah keesokan harinya dokter memutuskan untuk segera mengoperasi saya.

Darryl, sesaat setelah kelahirannya, berat 3,2kg panjang 50cm


Sekitar pukul 10 pagi, tanggal 10 Juni 2009,  saya masuk ke ruang operasi. Campur-aduk perasaan saya saat itu. Maklum ini pengalaman pertama saya menjalani operasi ceasar. Untunglah dokter anastesi, yang kebetulan adalah tetangga depan rumah saya, selalu berusaha menenangkan saya dengan mengobrol biasa seperti layaknya bertetangga. Semua dilakukan sembari menyiapkan peralatan yang semestinya menempel ditubuh saya. Sampai pada akhirnya dokter anastesi tadi menyuruh saya untuk membungkuk sambil memeluk bantal dan beberapa detik kemudian saya merasakan seperti orang yang ditembak di bagian tulang punggung hingga menembus ke kaki. Dari dokter anastesi itu pula akhirnya saya tahu (dan tentunya setelah saya sadar) kalau saya baru saja disuntik bius lokal dari perut ke bawah. Beberapa detik kemudian dokter kandungan mulai bekerja, dibantu oleh beberapa asisten dan perawat tentunya. Pertama-tama dia (mungkin) menyayat perut saya. Saat itu dia masih sempat menanyakan "sakit nggak?", dan karena memang sakit saya jawab "sakit". Pertanyaan itu diulang sampai 2 kali dan untuk selanjutnya saya sudah tidak merasakan apa-apa. Rupanya saat itulah bius saya baru benar-benar bekerja. Lamat-lamat saya mendengar salah seorang diantara asisten dokter tadi mengatakan "aduh banyaknya darahnya". Terus terang walaupun dibius lokal saya merasa seperti dibius total. Entah berapa lama saya terpejam dalam ketidaksadaran (menurut suami saya proses operasinya sangat singkat, hanya sekitar 10 menit saja sejak saya masuk kamar operasi karena pada waktu itu bayi saya sudah dikeluarkan dari ruang operasi untuk diadzani oleh suami saya). Bayi saya lahir dengan berat 3,2kg dan panjang 50cm, hanya selisih sedikit dengan kakaknya waktu lahir dulu. Sama seperti kakaknya dulu, ia pun lahir dengan ditunggui kedua orang tua saya yang jauh-jauh terbang dari Yogyakarta ke Bontang untuk menunggui kelahiran cucunya.

Darryl, meski selang di hidung dan di mulut sudah dilepas, tapi selang infus masih menempel di tangannya 

Selama proses operasi berlangsung saya seperti mendapat pengalaman batin tersendiri. Saya seperti berada disuatu tempat yang lapang, hijau, terang benderang, sendirian pula. Mungkinkah ini yang disebut antara hidup dan mati, saya tidak tahu. Dan apakah orang lain juga mengalami hal seperti itu, entahlah! Saya baru benar-benar tersadar ketika dokter anastesi membangunkan saya : "Mbak... bangun, ini anaknya laki-laki lagi. Ini kalau mau nyium, nanti baru saya keluarkan biar diadzani bapaknya", begitu katanya seraya meletakkan bayi saya di samping saya. Saya cuma bisa bersyukur seraya mengucapkan terima kasih. Masih dalam pengaruh bius, saya mendengar suara berisik seperti mesin jahit disekitar saya. Rupanya saat itu dokter tengah melaser perut saya. Sekitar sejam proses ini berlangsung, selanjutnya saya dibawa ke ruang observasi dan baru setelah Dhuhur saya dipindah ke ruang perawatan.

Pada kesempatan lain saya baru tahu ternyata bayi kecil saya yang akhirnya kami beri nama Darryl  mengalami sedikit keracunan air ketuban. Dan selama dalam kandungan pula Darryl sempat buang air besar dan menelan beolnya. Itulah kenapa setelah kelahirannya, untuk sementara waktu Darryl harus menjalani observasi dan belum boleh dibawa ke ruang perawatan saya sampai kondisinya memungkinkan. Selama beberapa hari Darryl menjalani perawatan ekstra diruang khusus. Selain karena muntah terus setiap minum susu (pada waktu itu ASI saya memang belum keluar sehingga Darryl harus minum susu formula), Darryl masih perlu penanganan lebih lanjut dari dokter. Dan dari orang-orang yang menunggui dan membezuk saya, barulah saya tahu (karena sekitar 3 hari saya belum boleh beranjak dari tempat tidur), ditangan bayi kecil saya itu menancap jarum infus, dihidungnya juga dipasang selang (mungkin selang oksigen), sementara dimulutnya dimasukkan juga selang hingga ke lambung untuk memasukkan susu agar tidak muntah lagi. Sedih saya bila mengingat hal itu, Darryl harus sudah merasakan sakit ditusuk jarum infus diusianya yang baru beberapa jam kelahirannya.

Beberapa hari dirawat Darryl menunjukkan perkembangan yang baik. Pada akhirnya setelah berada di rumah sakit selama seminggu kami berdua diperbolehkan pulang. Sebulan pasca melahirkan, ternyata ada sedikit masalah dengan bekas operasi saya. Ada sedikit infeksi di bekas jahitannya hingga mengeluarkan darah dan nanah. Oleh karena itu saya harus rutin kontrol ke rumah sakit paling tidak 2 hari sekali selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Dan selama proses perawatan luka saya itu, saya diharuskan minum antibiotik dengan dosis tinggi. Akibatnya setiap kali minum ASI, Darryl selalu muntah-muntah. Karena kondisi yang tidak memungkinkan itulah, maka Darryl kecil pun terpaksa saya beri susu formula. Selang beberapa waktu kemudian baru ketahuan pula kalau ternyata Darryl menderita alergi susu formula. Mukanya sempat merah-merah dan mungkin sangat gatal karena setiap saat sering saya lihat ia menggaruk-garuk pipinya. Atas saran dokter akhirnya saya ganti susu formulanya dengan susu soya. Alhamdulillah ternyata cocok. Berangsur-angsur wajahnya membaik seiring dengan baiknya juga kondisi perut saya yang infeksi.




Tanpa terasa hampir 6 tahun berlalu sudah. Darryl sekarang sudah besar dan tahun ini menginjak bangku SD. Darryl tumbuh sehat dan cerdas menurut saya. Mungkin karena sejak bayi sudah terbiasa dengan hal-hal yang menyakitkan (ditusuk jarum infus dan dimasukkan selang ditubuhnya plus menelan beolnya sendiri), maka Darryl terkesan "tahan banting". Tak pernah menangis setiap kali disuntik imunisasi semasa balita.

Danny dan Darryl, dua buah hati saya
Itulah sekelumit kisah saat saya hamil kedua buah hati saya. Dua-duanya sungguh menakjubkan. Setiap kali melihat kedua buah hati saya tumbuh dengan sehat, rasanya sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semuanya ternyata amazing dan Allah itu Maha Baik karena telah menganugerahkan anak-anak yang seperti anak-anak saya. Pengalaman adalah guru yang baik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pembelajaran buat ibu-ibu yang saat ini tengah mengandung atau hendak melahirkan. Harapan saya semoga kehamilan dan persalinannya lancar. Peluk cium dan sayang dari saya untuk para ibu semua. Salam....

*) Postingan ini saya ikutkan dalam Pregnancy Story Writing Competition bersama NUK Baby Indonesia
8