Selasa, 10 September 2013

Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Kalau berbicara tentang kesetaraan gender, lagi-lagi ingatan saya langsung mengarah ke figur pahlawan emansipasi wanita kita yaitu Raden Ajeng Kartini. Seperti kita ketahui, Raden Ajeng Kartini adalah seorang puteri Bupati Jepara bernama Raden Mas Aryo Sosroningrat. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong Jepara Jawa Tengah. Sebagai seorang puteri bangsawan, Kartini muda merasakan betul betapa kaum perempuan pada masanya dulu telah terbelenggu dan terjajah oleh adat dan feodalisme. Pada masanya dulu, kebebasan untuk mengenyam pendidikan tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Seorang perempuan di usia 12 tahun pada saat itu harus sudah dipingit, artinya ia tak boleh lagi belajar di luar rumah atau di sekolah formal. Hal ini juga berlaku pada Kartini muda.

Untungnya sejak kecil Kartini telah menjalin pertemanan dengan seorang anak Belanda yang bernama Rosa Abendanon. Berkat Rosa pula, Kartini belajar bahasa Belanda. Ia juga mulai menuliskan "kegelisahan-kegelisahannya" ke dalam bahasa Belanja dan selanjutkan tulisannya itu ia kirimkan kepada Rosa, sahabatnya itu. Meskipun masih muda, Kartini mulai melakukan "pemberontakan" melalui tulisan-tulisan yang ia kirimkan pada Rosa untuk mendapatkan kesempatan dan kesetaraan dalam pendidikan bagi kaum perempuan pada masanya. Kemerdekaan berpikir dan semua perasaannya yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya itu pada akhirnya dibukukan sebagai kumpulan surat-surat Kartini dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kita tentu pernah mendengar ungkapan Jawa yang menyatakan bahwa perempuan itu sekedar konco wingking (teman di belakang atau di rumah). Ibaratnya kata perempuan itu bisanya ya cuma masak, macak (berhias) dan manak (melahirkan). Ungkapan itu sebenarnya lebih didasari pada pandangan bahwa perempuan itu tugasnya lebih dominan di sektor domestik. Memasak, melahirkan dan mengurus keluarga memang seharusnya menjadi tugas perempuan sebagai ibu rumah tangga. Jadi sudah kodratnya jika perempuan itu tugasnya tidak jauh-jauh dari semua yang berbau sumur, kasur dan pupur (bedak). Sementara tugas laki-laki lebih dominan di sektor publik. Jadi mencari nafkah untuk keluarga adalah kewajiban kaum laki-laki sebagai kepala keluarga.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, di era Kartini dulu kaum perempuan tidak diijinkan untuk mengenyam pendidikan formal karena pendidikan memang hanya dikhususkan untuk kaum laki-laki. Untuk apa sekolah tinggi-tingi, toh nantinya juga cuma bekerja di dapur? Pandangan seperti ini sudah lama melekat di kalangan masyarakat kita. Sebagai suatu konstruksi sosial, paradigma semacam ini sudah selayaknya diubah. Sekarang jaman juga sudah berubah. Di era serba modern ini, perempuan sudah boleh bekerja di sektor publik.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kaum perempuan sekarang sudah banyak yang melek teknologi dan informasi. Di era modern ini, perempuan juga sudah banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Perempuan sudah tidak bisa dipandang lagi sebelah mata. Pada akhirnya banyak sekali profesi yang dulunya dominan dilakukan oleh laki-laki, sekarang menjadi lazim dilakukan oleh perempuan. Lihat saja berapa banyak perempuan yang menduduki jabatan direktur, manajer, atau bahkan arsitek. Jabatan-jabatan tersebut umumnya dulu diduduki oleh kaum laki-laki. Tapi seiring dengan kemajuan jaman, hal itu memungkinkan dijabat oleh perempuan. Perubahan paradigma inilah yang memungkinkan perempuan menjadi pemimpin. Jaman sekarang perempuan juga bisa menjadi kepala negara, bisa menjadi menteri dan juga menjadi anggota dewan.


Megawati Soekarno Putri, pernah memimpin negeri ini (sumber : http://javanews.co)

Apakah dalam kondisi ini bisa disebut sebagai perempuan yang menyalahi kodrat? Saya rasa tidak. Di jaman globalisasi ini “bertukar peran” antara tugas kaum laki-laki dengan kaum perempuan, atau sebaliknya bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan didukung adanya isu kesetaraan gender, laki-laki berprofesi di bidang yang mayoritas ditekuni perempuan atau sebaliknya perempuan berkutat di bidang pekerjaan yang mayoritas ditekuni oleh laki-laki sudah jamak terjadi. Jadi ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan permasalahan menyalahi kodrat.

Sebagai contoh misalnya seorang ibu rumah tangga yang semula hanya bekerja di lingkup domestik, memasak, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga pada umumnya, tiba-tiba harus bekerja di sektor publik menjadi sopir misalnya lantaran suaminya sakit dan tidak memungkinkannya untuk menunaikan tugasnya dalam mencari nafkah sebagai sopir. Apakah kondisi yang demikian ini dapat dipandang sebagai menyalahi kodrat? Saya lebih sependapat jika hal tersebut dimungkinkan terjadi lantaran tuntutan hidup. Kalau bukan karena tuntutan dapur agar tetap mengebul, tentunya ibu tersebut tidak akan bertindak "menyalahi kodrat"nya. Toh masih banyak pekerjaan lain yang dipandang lebih feminim daripada menjadi sopir.

Perempuan sebagai sopir, why not? Yang pentig dapur tetap mengebul (foto minjam di FBnya Mbak Olyvia Bendon)

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan itu kodratnya mengandung dan melahirkan. Sementara kaum laki-laki kebagian “jatah” untuk membuahi perempuan. Kodrat inilah yang tidak mungkin bisa diubah. Selebihnya paradigma tentang perempuan itu bisanya cuma masak, manak dan macak masih bisa diubah. Dengan pandangan yang baru tentang peran perempuan tak harus melulu di sektor domestik menjadikan kita tidak akan asing melihat para bapak memandikan anaknya atau memberikan susu formula untuk anaknya seperti foto dibawah ini, manakala istri sedang bekerja di luar rumah. Jadi ini bukan sekedar persoalan "menyalahi kodrat". Pertukaran peran itu pun juga dimungkinkan terjadi jika ada kesepakat bersama antara keduanya. 

Bapak-bapak memberi susu pada anaknya, itu sudah biasa sekarang ini 


Seperti kita ketahui, saat ini anggota DPRI RI pun tegah membentuk Panitia Kerja Rancangan Undang Undang tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) DPR RI. Adanya RUU KKG ini dimaksudkan agar negara mau memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada seluruh warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Memang RUU KG ini masih belum tuntas sepenuhnya, tapi setidaknya upaya ke arah sana sedang diupayakan demi menunjukkan bahwa kaum perempuan bukan warga kelas dua di negeri ini, bukan objek kekerasan. Kaum perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Mereka adalah tiang rumah tangga, pewaris generasi penerus, dan berbagai multiperan yang biasa dijalaninya saat ini.

Kembali ke persoalan kesetaraan gender, banyak orang awam yang masih beranggapan bahwa perspektif “gender” di sini diartikan sebagai simbolisasi “emansipasi wanita”. Mereka berpandangan bahwa para perempuan mulai menuntut hak-haknya dan ingin diperlakukan sama persis dengan kaum laki-laki. Padahal kenyataannya kesetaraan gender dalam hal ini tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan segala sesuatunya. Bagaimana pun juga segala sesuatu yang dituntut oleh kaum perempuan tak bisa mutlak sama persis dengan kaum laki-laki. Karena pada dasarnya, kaum perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung beban berat yang biasa ditanggung oleh laki-laki. Begitu pun sebaliknya laki-laki pun tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas rutin rumah tangga yang biasa dikerjakan perempuan. Semua itu dimungkinkan terjadi atas dasar kondisi atau faktor-faktor tertentu, seperti contoh kasus yang saya kemukakan di atas.

Pada dasarnya apa yang tengah diupayakan oleh anggota dewan kita berkaitan dengan RUU KG ini adalah dalam upaya untuk menghilangkan deskriminasi terhadap kaum perempuan yang masih saja terus berlangsung saat ini. Adanya segmentasi jenis kelamin angkatan kerja, praktik penerimaan dan promosi karyawan yang bersifat deskriminatif atas dasar gender masih banyak terjadi di negeri ini. Akibatnya banyak perempuan yang cenderung terkonsentrasi pada sejumlah kecil sektor perekonomian, umumnya pada pekerjaan-pekerjaan berstatus lebih rendah daripada laki-laki. Belum lagi ditambah dengan asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya sekedar tambahan peran dan tambahan penghasilan keluarga juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di sektor publik.      

Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kasus-kasus yang sering menimpa perempuan, misalnya perdagangan perempuan, prostitusi dan juga pelecehan perempuan. Meskipun pelecehan seksual saat ini dianggap sebagai kejahatan, akan tetapi hal itu umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan masih dianggap kaum yang lemah, sehingga pantas atau layak untuk dilecehkan. Itu sudah merupakan ancaman serius bagi perempuan Indonesia, terutama mereka yang miskin dan kurang berpendidikan. Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2004 menemukan bahwa 90% perempuan mengaku telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Angka tersebut bisa mungkin bertambah, kalau tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Karena itu sudah selayaknya perempuan itu diberdayakan. Perempuan berhak untuk mendapat pendidikan yang layak setara kaum laki-laki agar perempuan tak selalu dianggap kaum yang lemah, bodoh dan tak layak untuk jadi pemimpin. Itulah sebenarnya esensi dari kesetaraan gender di sini. Bukan semata-mata karena perempuan ingin dianggap sebagai makhluk yang lebih kuat daripada laki-laki. Tanpa hal itu pun kita juga mengakui, setiap perempuan itu kuat dan tangguh. Perempuan mampu melahirkan, sementara laki-laki tak bisa melakukan hal tersebut. Itu bukti bahwa perempuan itu kuat. Dengan upaya yang terus-menerus dalam membangun kesetaraan gender, itu berarti kita sudah berusaha membangun kesejahteraan bangsa. Pada akhirnya kita pun turut membangun peradaban bangsa. Itulah hal yang utama dan penting bagi  pembentukan jatidiri bangsa ini ke depan.





Note : tulisan ini diikutsertakan dalam even 2nd Give Away #Perempuan Keumala


Senin, 19 Agustus 2013

Angpao Lebaran yang Tak Terlupakan

Berkumpul di rumah nenek setelah pembagian angpao yang "menghebohkan" 

Lebaran adalah moment yang paling menyenangkan bagi anak-anak saya. Selain bisa berkumpul dengan saudara sepupu yang tinggalnya berjauhan, mereka juga selalu mengharapkan adanya angpao dari para orang tua, baik ayah-ibu, om-tante juga para kakek nenek mereka.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, biasanya kami para orang tua memberikan angpao dengan cara diberikan ke anak-anak atau keponakan dalam bentuk uang kertas lembaran baru secara langsung begitu saja. Kalaupun ada yang membagikan angpao dengan memasukkan uangnya ke dalam amplop, jumlahnya pasti bisa ditebak. 
Pada lebaran sebelumnya, kami rata-rata memberikan kepada anak-anak atau keponakan dengan nominal antara 25 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah, itu pun tergantung dari umur masing-masing anak. Anak yang umurnya lebih tua, otomatis akan mendapatkan jatah uang angpao dalam nominal lebih besar, sedangkan yang berumur lebih muda otomatis nominal angpaonya juga kecil.
Pertimbangan kami sengaja memberikan nominal yang berbeda adalah karena faktor "kebutuhan", dalam arti anak-anak yang berumur lebih tua (sudah SMA atau malah sudah kuliah) rata-rata mempunyai tingkat kebutuhan lebih tinggi, misalnya untuk membeli pulsa handphone (karena umumnya mereka sudah punya handphone). Sementara anak-anak yang berumur lebih muda (masih sekolah di SD atau TK) umumnya hanya berpikiran uang angpaonya akan dibelanjakan mainan karena rata-rata mereka belum diijinkan punya handphone seperti kakak-kakak mereka.
Akan tetapi di lebaran tahun ini, ada salah satu adik ipar saya (kebetulan dia belum mempunyai anak) yang mempunyai ide unik dalam pembagian angpao untuk para keponakan-keponakannya. Dia sengaja menyiapkan uang angpao dalam amplop, tetapi lain daripada yang lain.
Begitu para keponakan sudah kumpul (waktu itu masih ada tiga keponakan dari kakak tertua yang belum datang karena masih dalam perjalanan menuju lokasi kami berkumpul saat itu), adik ipar saya langsung berkata "Aku sudah menyiapkan angpao untuk kalian, tapi kali ini beda dengan yang sudah-sudah." Adik ipar saya langsung menunjukkan beberapa amplop yang berbeda-beda bentuk baik gambar, ukuran dan juga warnanya. "Di dalam amplop ini isinya juga berbeda-beda. Mulai dari yang terkecil isinya 5 ribu, sampai yang terbesar isinya 100 ribu. Nah kalian bebas memilih amplop yang mana. Tapi jangan kecewa kalau kalian dapat yang 5 ribu ya!", lanjutnya sambil senyum-senyum.
Foto bersama keluarga besar lengkap dengan para orang tua dan anak-anak saat lebaran tahun ini 

Kami para orang tua sudah ketawa-ketawa duluan melihat hal ini. Sementara anak-anak calon penerima angpao sudah pada manyun duluan, terutama anak-anak yang berumur lebih tua. Mereka semua tentunya sangat tidak ingin mendapatkan angpao dengan nominal 5 ribu rupiah itu. Jangankan untuk beli pulsa, buat beli es campur saja mungkin kurang. Tapi apa boleh buat, "aturan permainan" tetap harus mereka ikuti. 
Akhirnya satu persatu anak-anak ini maju untuk mengambil amplop angpao mereka. Anak saya Darryl yang saat ini masih termasuk yang termuda di antara yang lainnya langsung memilih amplop berukuran besar dengan gambar dan warna yang paling menyolok. sementara anak saya Danny yang sudah duduk di bangku SMP memilih amplop berukuran kecil dengan warna pastel.
Begitu acara buka amplop, mulailah terjadi kehebohan. Di luar dugaan, Darryl saya ternyata justru mendapatkan nominal angpao yang terbesar yaitu 100 ribu rupiah. Sedangkan Danny kakaknya mendapatkan angpao nominal 20 ribu rupiah. Sementara sepupu-sepupunya yang lain ada yang dapat 10 ribu rupiah, dan juga 50 ribu rupiah.
Keceriaan para keponakan di lebaran kemarin

Ada yang beruntung, sudah pasti ada yang tak beruntung. Yang paling apes adalah tiga keponakan saya yang datang belakangan. Berhubung nominal-nominal yang besar sudah terbuka semua, tinggal tersisa tiga amplop. Seperti penuturan adik ipar saya, ketiga amplop itu otomatis berisi nominal-nominal kecil yaitu 5 ribu rupiah dan 10 ribu rupiah. Benar saja begitu tiga keponakan saya membuka isi amplop tersebut, isinya memang hanya nominal 5 ribu rupiah dan 10 ribu rupiah. Parahnya yang dapat 5 ribu rupiah ini adalah Putri, salah satu keponakan saya yang sudah kuliah. Tentu saja Putri kecewa, tapi itulah aturan mainnya.
Akhirnya di lebaran kemarin kami memutuskan untuk berlibur ke pantai. Meskipun mendapat nominal yang kecil, ternyata Putri tetap ceria bersama sepupu-sepupunya yang lain. Tapi saya yakin justru gara-gara angpao yang 5 ribu rupiah itulah dia akan terus ingat terus akan kejadian hari itu. Tahun ini bisa jadi adalah lebaran yang tak terlupakan bagi Putri hehehe.      

"Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.”

Sabtu, 20 Juli 2013

Darryl Sekolah


Jumat ini adalah hari kelima Darryl, bungsu saya sekolah di Taman Kanak-Kanak. Sejak pertama kali masuk Senin kemarin, ia sudah sangat antusias menyambut dunia barunya. Malam hari sebelumnya (Minggu malam) saya sudah wanti-wanti agar ia tidur cepat supaya tak terlambat bangun untuk ke sekolah dan ia pun menurut. Kalau biasanya ia tidur selalu lewat pukul 22.00 wita, malam itu ia tidur sekitar pukul 21.00 wita. 

Keesokan harinya sekitar pukul 03.30 wita ia terbangun di saat kami (papa, mama dan kakaknya) sedang bersantap sahur. "Mama ini sudah pagi ya, ayo ke sekolah!", katanya waktu itu. Karena masih dini hari saya pun bilang "Ini masih malam, sekarang Darryl tidur lagi, ntar kalo sudah pagi mama bangunin," bujuk saya sembari membimbingnya masuk kembali ke kamar tidur. Ia pun akhirnya tidur lagi dan kembali terbangun
sendiri sekitar pukul 05.30 wita. Melihat papa dan kakaknya susah mandi hendak ke kantor dan ke sekolah, ia pun minta mandi dan kemudian cepat-cepat minta dipakaikan seragam sekolahnya. Hari itu ia benar-benar bersemangat ke sekolah.

Karena itu adalah hari pertama baginya ke sekolah, saya pun berniat mengantarnya bila perlu menungguinya di sekolah. Saya khawatir ia akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya mengingat ini adalah hari pertamanya ke sekolah. Sementara rata-rata teman sekolahnya sudah mulai masuk sejak tanggal 29 Juni. Berhubung kami masih cuti di Jawa, maka Darryl pun baru masuk sekitar seminggu setelah teman-temannya masuk. Semula saya khawatir ia akan menangis atau ngambek di sekolah (pengalaman dulu kakaknya di hari pertama sekolah), tapi ternyata tak seperti yang saya perkirakan. Darryl tampak tak kesulitan berinteraksi dengan lingkungan barunya. Bahkan ketika saya bilang "Darryl belajar sama bu Kikin ya, mama mau antar mas Danny dulu", ia tampak tak keberatan.

Biasanya Danny, kakaknya selalu ikut antar jemput sekolah, tapi berhubung hari itu mobil jemputannya tak datang, saya terpaksa mengantarnya ke sekolah dan tak bisa menunggui Darryl. Baru setelah saya selesai mengantar kakaknya, saya kembali ke sekolah Darryl. Dari luar ruang kelasnya, saya lihat ia enjoy belajar. Untungnya sepanjang hari itu di sekolah Darryl tak mengalami kendala sama sekali. Bahkan ketika saya tanya gurunya, katanya Darryl sama sekali tak nampak takut. Ia justru seolah ingin mengenal sekolahnya lebih jauh sembari berjalan-jalan di koridor kelas sesaat setelah tugas mewarnainya selesai.

Sepulang sekolah pun ia tak mau segera pulang, ia maunya main prosotan dulu. Hampir satu jam lamanya ia main prosotan bersama teman-teman barunya.

Ketika tiba di rumah, ia saya tanya apa saja yang diajarkan gurunya di sekolah hari itu. Darryl pun lantas memperlihatkan kertas hasil mewarnainya kepada saya sambil menunjukkan tanda "bintang tiga" di kertas itu. Kemudian ia juga cerita kalau ia senang sekolah karena gurunya baik dan juga cantik. Ternyata anak kecil saya sudah tahu perempuan cantik ya hahaha.

Di hari kedua hingga kelima ini, Darryl tetap bersemangat ke sekolah. Ia pun tak perlu ditunggui seperti beberapa teman lainnya. Demikian sekelumit cerita tentang hari-hari Darryl bersekolah. Semoga dia akan terus semangat di hari-hari selanjutnya. Insya Allah...aamiin....

Rabu, 12 Juni 2013

Pressure Test : Rainbow Cake Kukus

Rainbow Kukus ala Mak Edi
Rainbow Cake Kukus ala Mak Edi :)

Hai..hai...ketemu lagi nih kita. Kebetulan lagi mati listrik di rumah, karena gak bisa ngapa-ngapain makanya nulis-nulis aja di blog. Jadi gara-gara mati listrik malah jadi bisa update blog nih hihihi #gak banget deh :D
Ceritanya tuh tiga hari lalu saya sama Darryl lagi ke toko kue, biasa nyari roti tawar buat sarapan. Begitu lihat rainbow cake dipajang di etalase, langsung deh naluri ingin makan dia kumat. "Mama Darryl mau rainbow cake ya!" Darryl emang doyan kue pelangi yang satu itu. Padahal belum lama juga dia baru saya belikan. Memang sih biasanya cuman saya belikan yang potongan gitu. Tapi tetep saja harganya mahal, sepotong 50 ribu. Mahal kan? Kalo setiap saat diturutin, bisa-bisa jebol uang belanja bulanan hehehe.
Makanya saya cuman bilang gini waktu itu "Rainbow cake lagi sih, mama juga bisa bikin yang begitu." Maksud saya biar dia gak minta-minta lagi. Ehh diluar dugaan dia malah seperti nantangin saya "Coba bikin sana!" Nah lo jelas kelabakan dong saya. Seumur-umur saya memang belum pernah bikin kue semacam itu. Jangankan bikin, bahan-bahannya saja saya gak tau.
Akhirnya pulang ke rumah saya langsung googling resep rainbow cake yang termudah. Dan pilihan saya jatuh pada rainbow cake kukus. Begitu dapat resepnya saya langsung ke toko bahan kue dan belanja bahan-bahannya. Jadilah siang itu saya langsung berubah jadi chef dadakan. Dan pressure testnya kali ini gak main-main, rainbow cake kukus.
Pertimbangan saya waktu itu karena cake ini dibuatnya secara berlapis, maka proses pemanggangannya juga berulang-ulang. Dan kalo saya bikin rainbow cake biasa (pake oven) saya takut gagal. Takut adonan yang saya bikin terlalu lama mengendap, sehingga saat di oven untuk pemanggangan yang lapisan berikutnya bisa-bisa malah bantat. Makanya akhirnya pilih yang versi kukusnya saja. Karena berdasarkan pengalaman ketika membuat bolu negro (semacam brownies kukus, tapi kecil-kecil gitu) dulu, meskipun adonan sudah mengendap agak lama baru kemudian dikukus tetep saja mengembang alias tidak bantat.
Dan berikut ini resep sekaligus proses membuatnya.

Bahan-bahannya :
  • Tepung terigu 250gr
  • Gula pasir 350gr
  • Margarine 100gr, bisa juga diganti minyak goreng
  • Telur 10 butir
  • Garam 1 sdt
  • Vanili 1sdt
  • Ovalet 1sdt
  • Pewarna makanan, bisa terdiri dari 5 atau lebih warna
  • Wipi dan springkle, untuk topping
Cara membuatnya :
  • Kocok telur dengan gula pasir hingga agak mengembang
  • Kemudian masukkan garam, vanili, dan ovalet
  • Kocok kembali hingga benar-benar mengembang, baru kemudian masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu dan kocok kembali dengan kecepatan sedang sampai benar-benar tercampur rata. Sambil melakukan pengocokan, jangan lupa untuk memanaskan alat kukusan.
  • Kemudian masukkan margarine yang telah dicairkan dan aduk kembali.
  • Setelah itu pisahkan adonan menjadi beberapa bagian sesuai warna yang diinginkan, baru masukkan pewarna ke masing-masing adonan tersebut.
  • Selanjutnya tuang adonan pertama ke dalam cetakan yang telah diolesi margarine, bisa juga dilapisi kertas roti.
  • Kukus adonan pertama kurang lebih 10 menit, hingga adonan matang dan mengembang.
  • Angkat dan keluarkan dari cetakan. Biarkan dingin.
  • Ulangi kembali mengukus adonan untuk lapisan berikutnya, sampai akhirnya terkukus semua adonan sesuai warna yang diinginkan.
  • Setelah semua lapisan kue dingin, barulah kita olesi masing-masing lapisan dengan wipi dan selanjutnya tutupi semua permukaan dengan wipi juga.
  • Terakhir taburi springkle diatasnya.













Jadi sudah rainbow cake kukusnya. Gampang ternyata. Saya saja bisa bikinnya, mosok teman-teman gak bisa sih. Soal rasa sih, ya lumayan. Bisa sedikit mengganjal perut yang lapar deh hehehe...
Nah itulah tadi cerita singkat (panjang ding hehehe) tentang pressure test dari anak saya Darryl. Kebetulan tanggal 10 Juni kemarin dia ulang tahun yang ke 4. Jadi deh saya gak perlu beli kue ultah lagi seperti biasanya. Cukup rainbow cake kukus bikinan emaknya ini hehehe.