Rabu, 18 Januari 2017

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah, Mengobati Kerinduan Pada Masakan Ibu


Berkreasi dengan Bakmi Mewah, siapa takut? Setidaknya ini adalah postingan ketiga saya yang saya tuangkan ke dalam blog tentang kreasi Bakmi Mewah. Bagi saya ini seperti tantangan tersendiri. Apalagi belakangan ini saya memang sedang enjoy banget menikmati hobby baru saya di bidang masak-memasak. Rasanya ada kepuasan tiada tara jika hasil masakan saya disukai tak hanya oleh keluarga saya, tetapi juga teman-teman saya.

Terus Kenapa Mesti Bakmi Mewah?

Buat saya Bakmi Mewah ini lain daripada mie instan pada umumnya. Bentuk mienya pipih dan tidak mudah putus. Teksturnya yang lembut, kenyal, halus dan licin dengan aroma yang mewah benar-benar menggugah selera. Jadi kita tak perlu khawatir akan merasa seret di kerongkongan setelah kita menyantapnya. Karena mie ini aslinya sudah enak, jadi tak perlu tambahan bahan macam-macam pun, disajikan begitu saja seperti dalam saran penyajian di kemasannya, Bakmi Mewah sudah lezat koq. Apalagi memang sudah dilengkapi dengan potongan daging ayam dan jamur berbumbu, benar-benar mewah deh! Bukan hanya tampilan di kemasannya, tapi memang benar-benar asli daging ayam dan jamurnya. Juicy di mulut pula rasanya.

Bakmi Mewah ini bisa dikatakan pelopor topping ayam dan jamur asli pertama di Indonesia lho! Apa yang ditampilkan dalam kemasan, ya seperti itulah adanya. Istimewa pokoknya. Memasaknya pun sangat mudah. Cukup di masak sekitar 3 menit, dan tambahkan potongan daging ayam dan jamurnya, Bakmi Mewah ala restoran mewah sudah siap santap. Gampang dan praktis kan? 

Tanpa tambahan telur seperti itu pun, sudah mewah koq rasanya
Bakmi Mewah ini selain murah harganya, tak lebih dari 8 ribu rupiah perbungkus, juga jelas komposisi dan nilai gizinya. Bakmi Mewah juga tidak mengandung bahan pengawet dan MSG. Sudah gitu ada label halalnya pula. Jadi benar-benar aman untuk dikonsumsi keluarga.

Komposisi dan nilai gizinya jelas!

Halal ya!
Murah harganya, eye catching kemasannya
Dari segi kemasan pun berbeda dengan mie instan pada umumnya. Kemasan Bakmi Mewah benar-benar wah dan mewah. Warna hitam pada kemasannya sungguh eye catching saat dipajang di rak-rak supermarket atau swalayan. Kalau biasanya mie instan hanya dikemas plastik biasa sehingga mudah bocor dan robek, kalau Bahmi Mewah kemasannya terdiri dari 3 lapis. Lapisan pertama berupa plastik seperti mie instan umumnya, kemudian kardus/karton berwarna hitam dengan tulisan Bakmi Mewah berwarna kuning keemasan. Lapisan selanjutnya plastik tipis untuk wrapping kardusnya. Jelas sekali bahwa PT. MAYORA INDAH TBK, sebagai produsen Bakmi Mewah ini memperhatikan betul segi penampilan dan keamanan barang produksinya.

Kemasannya sampai lapis tiga, aman tidak mudah bocor
Nah, beberapa hari lalu ceritanya saya video call-an dengan ibu saya yang di Jogja sana. Ngobrol ngalor-ngidul ujung-ujungnya lari ke makanan. Ya, namanya juga emak-emak. Obrolannya kan juga seputar dapur. Kebetulan waktu itu saya belum sempat makan. "Masak apa hari ini, Buk?", iseng saya tanya ke ibu. "Gak masak, tadi cuma bikinin Bapakmu mie ceker pedes aja." Wow... Mie ceker pedes buatan ibu saya kan juara! Apalagi kalau di makan panas-panas gitu. Wuihhh... Dijamin langsung meleleh deh keringat hahaha.

video call-an dengan ibu di Jogja

Dan ibu saya memang begitu, masak mie ceker bilang gak masak. Buat ibu saya mungkin gak dianggap masak karena bikin mie ceker sangatlah simpel. Gak makan waktu lama dan gak ribet. Terus-terang obrolan tentang mie ceker dengan ibu saya kala itu terngiang-ngiang terus di benak saya. Rindu saya untuk dimasakkan mie ceker oleh ibu. Tapi sayang, jarak antara Jogja-Bontang menghalangi kami. Andai saja....aaa..*nyanyi deh hehehe

Kebetulan beberapa hari lalu saya dapat kiriman 2 bungkus Bakmi Mewah dari KEB. Akhirnya, demi mengobati rasa rindu pada masakan ibu, saya pun mencoba membuat mie ceker pedas, tentunya dengan Bakmi Mewah kiriman itu. Kira-kira apa saja bahan yang diperlukan? Ini dia...

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Mie Ceker Pedas Bakmi Mewah

Bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 4 buah ceker ayam
  • 3 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 5 biji cabe merah keriting (boleh lebih jika suka pedas)
  • 2 lembar daun jeruk
  • 1 batang serai yang dimemarkan
  • minyak goreng untuk menumis
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Bahan Mie Ceker Pedas

Cara membuat :

  • Rebus ceker hingga lunak (kalau saya pakai presto). Angkat, sisihkan.
  • Rebus mie dengan daun bawang kering (ada di kemasan) kurang lebih selama 2 menit. Angkat dan tiriskan. Tuang ke mangkok saji, sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang merah dan cabe yang telah dihaluskan, daun jeruk, batang sereh hingga harum. Masukkan ceker rebus, daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula dan garam secukupnya.
  • Aduk ceker dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Pedas-pedas yummy... Mienya itu lho, licin dan tak mudah putus

Mie ceker pedas Bakmi Mewah pun siap disantap. Bagaimana, mudahkan! Semangkok mie ceker pedas Bakmi Mewah ini sudah cukup mengobati rasa rindu saya pada masakan ibu.

Ini Instagram saya ya, yang mau follow boleh koq hehehe

Selain mie ceker pedas, saya juga mencoba mengkreasikan Bakmi Mewah menjadi menu lain yaitu Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl atau Ayam Lada Hitam dalam Mie Mangkok.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • sebungkus Bakmi Mewah
  • 1/4 buah bawang bombai, potong kasar
  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 biji cabe merah besar/paprika, potong kasar
  • 1/4 sdt lada hitam bubuk
  • minyak goreng secukupnya
  • gula dan garam secukupnya
  • air secukupnya

Cara membuat :

  • Rebus mie selama 2 menit. Angkat dan tiriskan.
  • Taruh mie pada saringan kawat yang berbentuk cekung, goreng mie dalam minyak yang cukup panas hingga kuning kecoklatan. Angkat dan susun mie yang telah menyerupai mangkok (akibat proses penggorengan) ke piring saji. Sisihkan.
  • Tumis bawang putih, bawang bombai dan cabe/paprika hingga harum.
  • Masukkan daging ayam potong, saos sambal, minyak dan kecap (yang ada di kemasan). Tambahkan air secukupnya. Tambah gula, garam, dan lada bubuk secukupnya.
  • Aduk daging ayam potong dan bumbu hingga tercampur rata. Biarkan kuah sedikit mengental dan bumbu meresap. Jangan lupa koreksi rasa. Angkat dan tuang di atas mie. Sajikan.

Chicken Blackpepper in the Noodle Bowl pun siap disantap. Resep ini sengaja saya bagikan juga di sini karena kebetulan bahan yang diperlukan hampir sama dengan kreasi sebelumnya. Selain itu anak-anak saya juga suka sekali menu ini. Kriuk-kriuk pedas gimana gitu katanya.

Sebenarnya banyak menu yang bisa kita kreasikan dari sebungkus Bakmi Mewah ini. Mau dibuat menu berkuah, digoreng atau ditumis pun bisa asal kita mau sedikit kreatif saja. Ditambah topping telur, sosis, nugget, udang, cumi atau bahkan keju sih okey aja. Dan pastinya akan tambah mewah persis menu-menu mahal di restoran mewah. Saya saja sudah coba membuat beberapa kreasi dari Bakmi Mewah ini lho! Contohnya seperti di bawah ini.



Bagaimana tampilannya, sudah seperti menu di restoran mewah kan? Untuk tahu resep dan cara membuatnya bisa diintip di Berkat Bakmi Mewah, Restoran Mewah Pindah Ke Rumah dan Omelette Bakmi Mewah ya!
Bagaimana teman-teman, kira-kira kreasi apa saja yang telah teman-teman buat dari Bakmi Mewah ini? Boleh dong kita saling berbagi resep hehehe.

NB : Postingan ini diikutsertakan dalam Kreasi Bakmi Mewah Bersama Emak-Emak Blogger



Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Sepotong Senja di Chao Phraya bersama Tom Yam

Menikmati Tom Yam langsung dari negara asalnya? Wow... siapa yang tak tergoda? Thailand, ya Negeri Gajah Putih tempat muasal Tom Yam ini memang belum pernah saya kunjungi. Meskipun demikian, toh beberapa kuliner asal Thailand pernah saya cicipi di Tanah Air, setidaknya di restoran Thailand di kota kelahiran saya, Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri ada beberapa restoran yang spesial menyajikan hidangan khas Thailand. Salah satunya adalah restoran Thailand yang terletak di Jalan Taman Siswa, kurang lebih hanya sekitar 300 meter dari rumah saya di Yogyakarta sana. Tom Yam adalah salah satu menu favorit saya jika berkunjung ke restoran Thailand ini. 

Hidangan berkuah semacam sup seafood ini rasanya asam-asam pedas, sungguh menggugah selera. Apalagi dinikmati dalam kondisi masih panas di saat cuaca dingin atau musim penghujan seperti sekarang ini, pasti langsung menambah kehangatan tubuh sekian derajat dari suhu sebelumnya. Semangkok Tom Yam bisa saja kurang buat saya, terutama di saat kondisi badan sedang "aras-arasen" istilah Jawanya atau kurang bersemangat, Tom Yam yang pedas itu sudah mampu mengembalikan semangat saya. Potongan cumi yang dipadu dengan udang dan beberapa sayuran, bisa wortel ataupun bunga kol dalam rendaman kuah asam pedas itu sungguh pas dilidah saya. Aroma daun serai, daun jeruk, lengkuas, cabai merah menyatu bersama bumbu-bumbu lainnya benar-benar nendang rasanya. 

Hampir serupa dengan kuliner nusantara gulai kepala ikan, yang kalau tak pedas dan asam kurang maknyus bagi saya. Begitu pun dengan Tom Yam ini. Rasa amis layaknya makanan berbahan dasar seafood lenyap manakala dipadu dengan kucuran air jeruk nipis dalam racikan bumbunya. Itulah kenapa, Tom Yam terasa asam-asam pedas di lidah. Kalau sedang berkunjung di restoran Thailand, menu satu ini tak pernah ketinggalan. Lain saya, lain pula anak saya. Sebagai anak SD yang tidak suka makanan yang serbapedas, membuat anak saya melirik ke menu lain yang lebih familiar di lidah orang Indonesia pada umumnya, yaitu nasi goreng. Ya, siapa yang tak kenal nasi goreng? Kalau Anda tak kenal nasi goreng berarti tingkat kegantengan Anda turun 5 tingkat dibandingkan Presiden Barack Obama hahaha. President Obama adalah salah satu presiden di dunia ini yang berani menyebut nasi goreng, sate dan bakso sebagai kuliner Nusantara yang lezat. Mosok Anda kalah sama presiden Amerika itu sih? Kalau nasi goreng ala Indonesia sudah acap kali anda santap, bagaimana dengan nasi goreng ala Thailand?

Khao Pad Poo atau nasi goreng Thailand ala saya hehehe (dok.pri)

Hampir sama dengan nasi goreng Indonesia, nasi goreng Thailand pun ada campuran telur dan kadang juga ada daging kepitingnya. Persis nasi goreng seafood yang biasa dijual di restoran Indonesia. Koq bisa mirip ya? Memang konon katanya Thailand itu agak-agak mirip dengan Indonesia. Bangkok misalnya, sebagai ibu kota negara sangatlah mirip dengan ibu kota negara kita Jakarta, baik dalam tata kotanya maupun kemacetannya. Begitu pula dengan kulinernya, seperti pada nasi goreng tadi. Bedanya, nasi goreng Thailand atau biasa disebut Khao Pad Poo ini dimasak dengan menggunakan campuran bunga melati, perasan air jeruk nipis dan saus ikan khas Thailand. Tak heran nasi goreng Thailand rasanya juga agak-agak asam dan sangat kental aroma melatinya. Ini merupakan menu andalan anak saya jika berkunjung ke restoran Thailand.

Sweet Cassava atau Singkong Thailand ala saya (dok.pri)

Setelah puas makan, tak lengkap rasanya jika tidak ada minumannya. Segelas Cha Yen atau semacam teh yang dicampur dengan rempah-rempah (asam, adas) serta creamer (susu) cukup menambah hangat suasana santap bersama keluarga. Kalau cuaca sedang panas, cukup menambah beberapa potongan es batu ke dalamnya, dijamin tetap akan segar rasanya. Kalaupun masih dirasa belum cukup dan perut masih mampu menampung makanan, bisa juga ditambah dessert Singkong Thailand atau biasa disebut dengan Sweet Cassava. Sweet Cassava ini berupa potongan singkong yang direbus dengan air dan gula sampai lunak kemudian disiram dengan kuah santan yang kental. Bisa juga ditambah topping parutan keju bila suka. Hmmm... legit-legit gurih menggoda. Lumer dan pecah di mulut deh. Sepiring kecil Singkong Thailand cukuplah karena menu ini juga sangat mengenyangkan jika disantap dalam porsi yang banyak. Jadi tak perlu banyak-banyaklah agar kenikmatan bersantap semangkok Tom Yam atau sepiring Khao Pad Poo lenyap akibat perut Anda terlalu penuh atau istilahnya Jawanya bengep akibat kekenyangan.  

Ya kalau habis makan Anda tidak ada aktivitas lain, bisa saja bersantai sambil melonggarkan isi perut. Tapi bagaimana jika Anda berencana menghabiskan hari sambil jalan-jalan, menyusuri Sungai Chao Phraya misalnya, anggap aja kita sudah berada di Thailand ya hahaha. Kan gak asyik jalan-jalan perutnya kekenyangan.

Salah satu bagian dari restoran Thailand di Jalan Taman Siswa Yogyakarta. Ada bendera Thailandnya juga. Foto diambil medio 2013 (dok.pri)

Sekarang ini Singkong Thailand tak melulu dijual di restoran Thailand. Di kafe-kafe pun mulai banyak dijajakan dan menjadi pesaing utama pisang keju yang telah dulu ada. Bahkan di hotel-hotel berbintang juga mulai diperkenalkan. Singkong yang harganya tak lebih dari 5 ribu rupiah per kilonya, menjadi "naik kelas" ketika diolah menjadi Singkong Thailand ini. Saya sendiri biasa mengolah singkong menjadi Singkong Thailand karena begitu mudahnya membuat menu satu ini. Lumayan untuk sekedar menemani ngeteh di sore hari. Bahkan bagi keluarga saya singkong sudah menjadi hidangan yang wajib untuk berbuka di kala bulan puasa. Entah itu hanya sekedar digoreng crispy ataupun diolah menjadi Singkong Thailand tak menjadi masalah bagi keluarga kecil saya

Tom Yam ala restoran Thailand di Yogyakarta (dok.pri)

Sayangnya di kota saya tinggal sekarang ini tak ada restoran Thailand. Dan kerinduan pada menu-menu khas Thailand di restoran Kota Gudeg itu mau tak mau membuat saya menjadi sedikit "kreatif". Beberapa kali saya berhasil menduplikat kuliner Thailand ke dapur saya. Alhasil, keluarga tak pernah komplain dengan masakan saya itu. Kalaupun tak mirip rasanya, setidaknya tampilannya sudah mirip hahaha. Toh kata teman saya yang sudah berkunjung ke Thailand, di sana juga tak semua menu seragam rasanya. Jadi jangan heran bila kita menemukan menu yang sama, tapi rasanya berbeda antara restoran yang satu dengan restoran yang lain, meski itu sama-sama terdapat di sepanjang Chao Phraya.

Novel inilah yang membuat saya sering berkhayal berkunjung ke Thailand hehehe (dok.pri)

Saya memang sering berkhayal untuk bisa menghabiskan senja di Chao Phraya sembari menikmati kuliner khas Thailand yang banyak ditawarkan di restoran sepanjang sungai yang menjadi penopang penghidupan orang-orang yang bermukim di tepiannya itu. Apalagi semenjak saya membaca novel "Senja di Chao Phraya", karangan seorang teman di Yogyakarta yang begitu apik menampilkan tempat-tempat yang indah di Thailand sebagai setting ceritanya, menjadikan keinginan untuk berkunjung ke sana kian menggebu.  Tak hanya sekedar ingin melihat The Golden Buddha atau "Phra Phuttha Suwon Patimakon", patung Buddha yang terbuat dari emas dan tingginya tak kurang dari 3 meter itu, tapi saya juga sering menghayal menjadi Laras, salah satu tokoh dalam novel karya teman saya itu. Betapa Laras yang karena pekerjaannya mengharuskan ia bolak-balik Indonesian-Thailand, akhirnya menginap di Hotel Golden Temple, yang kalau ingin ke Sungai Chao Phraya cukup berjalan kaki saja. Di restoran pinggir sungai itulah Laras biasa menikmati senja bersama Osken O'Shea, pujaan hatinya. Lelaki campuran Turki dan Irlandia. Menikmati kuliner Thailand di waktu senja bersama pujaan hati di pinggir Sungai Chao Phraya, oh so sweet. Benar-benar romantis!   Tak hanya restoran dan pedagang kaki lima di sepanjang Sungai Chao Phraya yang menjajakan makanan-makanan enak. Di Phuket misalnya, salah satu pulau terbesar di Thailand sekaligus menjadi destinasi wisata populer di negara tersebut, bahkan ada yang namanya Phuket Walking Street yang menjajakan aneka macam kuliner Thailand. Dan menariknya semuanya enak-enak dan murah. Bahkan banyak juga jajanan yang dijual di sana mirip dengan jajanan Indonesia.  Ada lumpia goreng, sosis bakar, pentol bakar, martabak yang dalamnya diisi pisang, bahkan jagung rebus dan kacang rebus juga ada. Jadi kita tak perlu khawatir akan kesulitan menyesuaikan lidah kita dengan aneka makanan di sana jika kita berkunjung ke Thailand. Semua bisa kita pilih sesuai selera, mau yang halal atau haram juga ada. Bahkan menu yang ekstrem semacam belalang goreng seperti yang dijual di sepanjang jalan ke arah Wonosari Yogyakarta, jangkrik goreng dan kecoa goreng pun dijual di Phuket Walking Street tadi. Makanya jangan terlalu penuh mengisi perut jika sedang jalan-jalan ke Thailand. Setidaknya begitu pesan teman saya yang pernah beberapa hari liburan ke Thailand. Itu mungkin salah satu yang membuat saya ingin berkunjung ke Thailand. Selain banyak destinasi wisata yang menarik, menu makanannya pun beragam, enak-enak, dan murah pula. Tak hanya berkhayal menikmati Tom Yam di waktu senja di pinggir Chao Phraya, tapi saya juga ingin menyusuri sungainya, naik boat melintas Rama 8 Bridge sembari menyantap Konom Krok, kue kelapa seukuran takoyaki yang ditaburi daun bawang. Atau naik Tuk-Tuk menyusuri jalan-jalan di Bangkok sambil menyantap Kha Nie Ma Muang, dessert ketan yang disajikan dengan potongan mangga segar dan saus santan yang manis. Hmmm... Yummy. Tapi semua ini masih khayalan dan saya tetap membiarkan khayalan saya ini tumbuh subur dalam benak saya. Entah kapan akan tumbuh menjadi kenyataan, ya kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki sehingga bisa benar-benar menikmati Tom Yam dari negara asalnya. Aamiin... Doain ya... 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/edikusumawati/sepotong-senja-di-chao-phraya-bersama-tom-yam_5878864c22afbd1e0761303d

Note : Tulisan ini sudah saya post ke Kompasiana pada tanggal 13 Januari 2017 lalu.


Rabu, 11 Januari 2017

Omelette Bakmi Mewah

.
Omelette Bakmi Mewah ala saya

Kalau ditanya apakah saya suka makan? Pastinya iya! Tapi kalau ditanya, apakah saya suka sarapan? Saya jawab tidak! Ya, sebenarnya saya adalah orang yang jarang sarapan, khususnya nasi. Kalaupun ingin sarapan, palingan makan kue basah yang dijual pedagang keliling yang biasa lewat depan rumah tiap pagi. Atau kalau pas lapar banget ya bikin mie instan. Mudah, cepat dan pastinya kenyang. Apalagi kalau sedang musim penghujan seperti saat ini. Bawaannya memang lapar melulu kan hehehe. Dan karena saya tipikal orang yang gak suka ribet, mie instanlah andalan keluarga saya. Tak harus saya yang masak, anak saya juga biasa masak sendiri mie instan kesukaannya. Itulah kenapa di rumah selalu sedia mie instan. Meski tak banyak, minimal adalah kalau cuma 4 bungkus. Sesuai dengan jumlah anggota keluarga saya yang hanya 4 orang, saya, suami dan 2 orang anak saya.

Ngomongin mie instan, saya mungkin termasuk orang yang senang berkreasi dengan mie, khususnya Bakmi Mewah. Kenapa mesti Bakmi Mewah, karena mie instan yang satu ini beda dengan mie instan pada umumnya. Selama ini kita biasa melihat mie instan dengan tampilan yang menggoda pada kemasannya, ada mie dalam mangkok atau piring yang diatasnya ada topping telur ceplok atau ayam potong. Tapi begitu kita buka, ternyata isinya mie instan doang. Sama sekali tak ada ayam potong atau telur ceploknya. Kalau pun ada hanya perisa atau bumbunya saja. Tapi kalau Bakmi Mewah ini lain. Daging ayam potongnya bener-bener ada. Berbumbu plus potongan jamur. Asli pula. Persis seperti tampilan dalam kemasannya yang memang terkesan mewah. Keren kan?

kemasannya eye chatcing banget

kemasannya memang mewah
  
Sudah ada beberapa kreasi Bakmi Mewah yang sudah saya upload di akun medsos saya, baik itu di instagram maupun di blog (kroyokan). Pada umumnya berupa mie kuah gitu, Selain karena paling mudah dan cepat, tinggal masak, tuang potongan daging ayam dan sajikan. Meski sederhana, tetap sudah mewah rasanya. Tapi bagaimana andai mie dan kuahnya dipisah atau tak pakai kuah sama sekali? Wah, kayak lirik lagunya Inka Kristie dong! Andai dipisah, bakmi dan kuah....hahaha. Bisa saja! Gampang juga koq, Saya pernah membuat Beef /Chicken Blackpepper in The Noodle Bowl dan juga Omelette dari Bakmi Mewah. Keduanya tanpa kuah. Yang penting asal kita kreatif, banyak kreasi yang bisa kita ciptakan dari sebungkus Bakmi Mewah. Bagaimana kreasi bakmi mewah saya? Ini dia, Omelette Bakmi Mewah ala saya.
Saya sengaja berkreasi dengan tampilan seperti ini karena pernah melihat omelette mie mirip seperti itu di salah satu restoran Jepang di Jakarta. Sangat mewah kan? Padahal itu hanya terbuat dari sebungkus Bakmi Mewah lho! Murah, tapi gak murahan. Persis seperti menu di restoran mewah hehehe. Bagaimana cara membuat Omelette Bakmi Mewah ini? Simak resep saya berikut ini ya!

Omelette Bakmi Mewah ala saya

Bahan-bahan yang diperlukan : 
- 1 bungkus Bakmi Mewah 
- 2 butir telur ayam 
- 1 sdm minyak goreng atau margarin untuk menumis 
- 1 siung bawang putih 
- 1/4 potong bawang bombai 
- sedikit mayonnaise 
- garnish sesuai selera  

Cara membuat : 
- Kocok lepas telur dan bikin dadar di atas wajan anti lengket. Angkat, sisihkan. 
- Rebus Bakmi Mewah dan daun bawang kering (ada dalam kemasan) sekitar 3 menit, angkat dan tiriskan. 
- Tuang mie dalam mangkok kemudian masukkan kecap, minyak, potongan daging ayam aduk hingga tercampur rata. 
- Susun campuran mie dan ayam di atas lembaran telur dadar kemudian gulung. Potong-potong gulungan telur dadar sesuai selera. Susun di piring saji. 
- Tuang mayonnaise dan saos sambal (ada dalam kemasan). Tambahkan garnish. 

Omelette Bakmi Mewah siap disantap. Sudah mudah, murah, bergizi, dan kenyang pastinya! Kreasi omelette ini cocok buat sarapan atau makan malam, tapi lagi malas makan nasi, Kalau buat saya, sarapan seporsi omelette ini sudah sangat kenyang. Bukan hanya saya, anak-anak pun suka kalau saya buatkan mie instan dengan berbagai kreasi semacam ini.


kemasannya terdiri dari 3 lapis, sehingga tidak mudah jebol

Mienya keriting dan pipih, lembut dan teksturnya tak gampang putus

Kenapa saya pilih Bakmi Mewah ini?

Banyak faktor yang membuat saya jatuh hati pada Bakmi Mewah, diantaranya adalah :

1. Dari segi rasa, mie Bakmi Mewah ini aromanya lezat dan bener-bener mantap rasanya. Bentuk mienya keriting dan pipih. Lembut pula teksturnya dan tak gampang putus. 
2. Dari segi harga, Bakmi Mewah sangat terjangkau harganya. Satu bungkus tak lebih dari Rp 8.000,-.
3. Di dalam kemasan Bakmi Mewah terdapat potongan daging ayam serta jamur asli, jadi kita tak perlu repot-repot untuk menambahkan potongan ayam lagi.
4. Dari segi kemasan. Bakmi Mewah Kalau di pajang di rak supermarket langsung kelihatan, eye chatcing banget deh! Hitam warnanya dengan tulisan Bakmi Mewah berwarna kuning keemasan, benar-benar terkesan mewah. Sudah gitu kemasannya juga beda dengan mie instan pada umumnya, yang hanya plastik biasa, sehingga mudah robek. Kemasan Bakmi Mewah terdiri dari 3 lapis, paling luar adalah plastik bening semacam wrapping begitu, baru kemudian kardus dan selanjutnya baru plastik seperti mie instan pada umumnya. Jadi kemasannya sangat aman dan tidak mudah robek. 
5. Bakmi Mewah juga aman dikonsumsi oleh keluarga karena ada label halalnya dan pastinya sehat karena tanpa bahan pengawet dan MSG. PT. MAYORA INDAH Tbk, sebagai produsen Bakmi Mewah sepertinya tahu betul selera konsumennya ya.


Nah, kurang apa lagi coba? Segeralah berkreasi dengan Bakmi Mewah. Hadirkanlah nuansa restoran mewah di rumahmu. Mumpung ada challengenya tuh di Indonesian Food Blogger yang bekerja sama dengan Bakmi Mewah.
.

Minggu, 24 Mei 2015

Dua Kali Hamil dan Melahirkan, Dua-Duanya Amazing!

Tentang Kehamilan Danny

Bulan Oktober sudah pasti menempati relung khusus dalam hati saya. Karena di bulan ini ada tiga generasi sekaligus di keluarga saya yang dilahirkan di bulan yang sama. Pertama adalah bapak saya, kedua adalah saya dan yang ketiga adalah anak sulung saya. 

Terus bagaimana rasanya mempunyai anak? Sudah pasti bahagia tentunya. Apalagi ada anggapan bahwa kesempurnaan seorang perempuan terjadi ketika ia berhasil melahirkan seorang anak. Dan anggapan itu bagi saya ada benarnya. Saya merasakan benar-benar menjadi seorang perempuan “sempurna” ketika saya melahirkan anak sulung saya. Tidak bisa saya pungkiri, saya benar-benar dapat merasakan panggilan sayang “mama” ketika saya sudah punya anak. Dan itu sungguh luar biasa. Saya yang dulunya (kata orang sih) tomboy itu bisa juga punya anak, sungguh menakjubkan. 

Bersyukur dan berbahagia atas nikmat yang luar biasa sudah pasti saya rasakan. Hanya orang-orang yang “buta hati”-lah yang tidak bisa merasakan kebahagiaan dan tidak bersyukur akan lahirnya seorang “manusia baru” di dunia ini. Karena sudah “buta hati” itulah, maka ada saja orang yang tega membuang atau bahkan membunuh buah hati yang baru dilahirkannya hanya karena sang jabang bayi lahir tidak diharapkan. Akan tetapi apakah pernah ditanyakan pada sang jabang bayi, apakah mereka semua minta dilahirkan? Tidak bukan, karena kitalah yang sebenarnya telah merancangnya sendiri hingga akhirnya bayi itu lahir ke muka bumi. Jadi karena sudah saya rancang akan kelahirannya, maka saya sangat bersuka-cita akan hadirnya bayi dalam kehidupan rumah tangga saya.

Bagaimana suka-citanya mendapatkan momongan baru sudah tidak bisa saya lukiskan lagi. Hilang sudah rasa pegal-pegal yang selama 9 bulanan saya alami karena menggendongnya kesana-kemari di perut saya ketika saya mengandungnya. Tak terasakan lagi betapa susahnya masa-masa kehamilan pertama saya. Betapa setiap hari saya selalu muntah-muntah hingga hampir 8 bulan lamanya. Betapa susahnya saya melawan rasa ngidam saya itu dan semua seperti terbayar lunas ketika bayi itu lahir ke muka bumi. Lahir dengan keluhan yang menurut saya tidak terlalu berarti, walaupun bagi dunia medis kelahirannya harus menjadi catatan sendiri mengingat proses persalinannya yang tidak bisa dibilang gampang juga. 

Anak sulung saya memang bisa dibilang lahir normal, tapi tidak normal dalam prosesnya. Kenapa bisa demikian? Baiklah saya akan coba membuka kembali memori saya untuk mengingat-ingat proses kelahirannya. Bagi saya mudah saja “memanggil” kembali ingatan itu karena memang itu pengalaman pertama dan tentunya akan terus membekas diingatan saya.

Saya menikah tanggal 7 Agustus 1999 di Yogyakarta, kota kelahiran saya. Kira-kira seminggu setelah menikah, saya langsung diboyong suami ke Bontang, Kalimantan Timur. Berat rasanya berpisah dengan orang tua, tapi apa boleh buat setelah menikah tanggung jawab sepenuhnya atas diri saya beralih ke tangan suami yang kebetulan bekerja di Kalimantan Timur. Sejak menikah saya sama sekali tak memakai alat kontrasepsi, meskipun demikian kehamilan tak kunjung menghampiri saya. Baru pada bulan kelima, saya mengalami keterlambatan menstruasi. Untuk memastikan saya hamil atau tidak, bersama suami saya beli alat tes kehamilan di apotik dan pagi harinya saya tes sendiri urine saya. Alhamdulillah, ada dua garis strip berwarna merah di alat tersebut. Namun untuk lebih meyakinkan, bersama suami pula saya pergi ke bidan sore harinya. Dan ternyata benar, hasilnya tetap sama. Saya dinyatakan positif hamil. Bahagia tak terkira sudahlah pasti, mengingat saya sangat mengharap kehadiran janin di rahim saya. 

Kalau dihitung dari mulai saya menikah hingga hamil sebenarnya tak terlalu lama, hanya lima bulan saja. Namun sejak kepindahan ke Kalimantan Timur saya memutuskan berhenti kerja, maka hari-hari saya di rumah terasa sepi ketika ditinggal suami bekerja. Karena itulah saya pengin cepat-cepat hamil agar ada "teman" bermain selama ditinggal suami bekerja. Jadi lima bulan merupakan waktu yang lumayan lama bagi saya untuk menunggu kehamilan saya itu.

Sejak dinyatakan positif hamil oleh bidan, maka sejak saat itu saya rutin kontrol sebulan sekali. Setiap kali kontrol bidan juga memberi saya vitamin yang harus rutin saya minum setiap harinya. Karena ini kehamilan anak pertama dan suami juga begitu excited akan segera punya anak, maka segala sesuatu yang saya minta selalu diturutinya. Mau minta makanan apa saja sepanjang itu tak membahayakan kehamilan saya, pasti dituruti. Terkadang keinginan itu datangnya tiba-tiba dan malam hari pula. Orang bilang hal semacam itu namanya ngidam. Hanya satu hal yang sulit dipenuhi oleh suami yaitu ketika suatu malam tiba-tiba saya ngidam kepingin makan sayur tumis kangkung dan itu harus buatan ibu saya. Tengah malam minta tumis kangkung buatan ibu saya yang tinggal di Yogyakarta sana, jelaslah sulit untuk dipenuhi. Saya sampai telpon ibu saya, nangis-nangis tetap tak bisa berbuat apa-apa. Itu terjadi di awal-awal kehamilan saya. Setelah kehamilan menginjak bulan keempat, saya mulai tak pernah ngidam yang "aneh-aneh" lagi. Hanya saja mual-mual dan muntah-muntah saya tak kunjung berhenti dari bulan pertama kehamilan sampai menginjak bulan ke delapan. Semula saya berpikir, mual-mual dan muntah-muntah saya itu lantaran susu hamil yang saya konsumsi. Tapi ternyata tidak, meskipun saya ganti dengan susu merek lain dan juga cita rasa yang lain, tetap saja tak berpengaruh. Saya terus saja muntah-muntah setiap hari, bahkan tengah malam pun saat sudah terlelap tidur dan terbangun lantaran ingin buang air kecil, muntah-muntah itu sering kali terjadi. Bukan hanya muntah sedikit, sering kali saya muntah sangat banyak hingga saya lemas. Untungnya suami saya selalu menguatkan, meskipun muntah-muntah terus saya tetap diharuskan minum susu hamil dan makan-makanan yang bergizi.

Karena keseringan muntah-muntah, praktis berat badan saya tak terlalu mengalami kenaikan yang berarti. Kalau ibu-ibu hamil pada umumnya bisa naik sekilo atau bahkan dua kilo. Bulan ketiga dan keempat justru berat badan saya turun dari sebelumnya. Segala nasihat bidan dan orang-orang yang telah berpengalaman hamil sudah saya ikuti, tapi tetap tak berpengaruh. Kenaikan berat badan saya tidak terlalu signifikan.  Di umur kehamilan yang kelima bulan saja saya masih bisa mengenakan celana jeans yang biasa saya pakai sebelum hamil. Beberapa tetangga bahkan mengira saya tidak hamil saking "tipis"-nya perut saya. Meskipun sering muntah-muntah, tapi ternyata bayi di perut saya cukup kuat. Pernah ada pengalaman menyedihkan sekaligus membuat saya was-was dengan kondisi janin saya. Suatu ketika di bulan kelima kehamilan, saya jalan-jalan bersama suami di pusat perbelanjaan. Kebetulan ada beberapa tangga yang harus saya lalui di pusat perbelanjaan itu. Mungkin karena kurang hati-hati, saya pernah terjatuh di tangga, kurang lebih sekitar 3 atau 4 undakan. Suami saya yang saat itu sedang membawa barang belanjaan, tak sempat menggapai saya.  Saya terjerembab ke lantai dasar.  Untunglah begitu diperiksa ke bidan, kondisi janin saya baik-baik saja. Begitupun dengan saya, hanya luka-luka lecet di tangan. Kejadian itu menjadi pengalaman yang berarti bagi saya untuk lebih berhati-hati.

Begitulah, bulan demi bulan kehamilan saya lalui dengan mual dan muntah-muntah. Karena kondisi yang tak kunjung membaik, menginjak bulan ke delapan saya memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta sekaligus untuk melahirkan disana. Keputusan itu saya ambil karena saya merasa akan lebih nyaman berada di samping ibu saya di saat melahirkan nanti. Suami pun juga tak keberatan dengan keputusan saya itu. Akhirnya dengan diantar kakak ipar yang kebetulan sedang ada perjalanan ke Cepu, saya terbang dari Bontang ke Balikpapan, kemudian dilanjutkan ke Surabaya. Waktu itu tidak ada route yang langsung ke Yogyakarta. Di Surabaya, bapak saya sudah menunggu di bandara baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Sementara kakak ipar saya melanjutkan perjalanan ke Cepu.

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang beresiko mengingat usia kandungan saya yang sudah menginjak delapan bulan. Salah-salah kontraksi dan bisa melahirkan di pesawat. Tapi karena waktu itu saya sama sekali tak mempersiapkan surat keterangan dokter yang mengijinkan saya terbang dalam kondisi seperti itu, maka petugas di bandara pun percaya saja ketika saya bilang usia kehamilan saya masih lima bulan. Hal itu karena perut saya memang tak seperti orang hamil delapan bulan. Begitulah, akhirnya saya tiba di Yogyakarta dengan selamat.

Aneh tapi nyata, justru di Yogyakarta saya sama sekali tak mengalami muntah-muntah. Segala makanan saya santap, tanpa peduli sudah berapa kali saya makan dalam sehari. Orang bilang saya "ngebo" (seperti kerbau yang melahap apa saja). Saya juga sering minum air es jeruk setiap kali kehausan, meski ibu saya melarang. Takutnya saya nanti mengalami "kembar banyu" (hamil penuh air) saking seringnya minum es. Satu bulan di Yogyakarta, kenaikan badan saya lumayan drastis, kira-kira hampir sama dengan kenaikan badan selama delapan bulan kehamilan di Bontang. Sebelum hamil, berat badan saya hanya 40kg, kemudian saat hamil delapan bulan naik menjadi sekitar 46kg. Di usia kehamilan sembilan bulan, berat badan saya sudah mencapai 51kg dan masih bertambah hingga mendekati hari H kelahiran. Saya pun mulai rutin periksa ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta, seminggu sekali.

Tanggal 19 Oktober 2000 tepatnya (bersamaan dengan hari ulang tahun saya), sekitar pukul 10 pagi selepas saya mandi. Tiba-tiba saya seperti "mengompol” tanpa saya sadari. Tiba-tiba saja ada semacam cairan yang tanpa saya bisa kendalikan keluar dengan sendirinya. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya coba menelpon ibu saya yang kebetulan lagi keluar rumah. “Ah paling-paling kamu masuk angin, khan kamu suka minum es jeruk setiap hari”, dan jawaban ibu saya itupun cukup melegakan hati saya. Saya coba tanya lagi, apakah itu bukan tanda-tanda orang akan melahirkan, begitulah pertanyaan saya selanjutnya. “Memang sudah ada flek-flek belum? Kalau sudah ada berarti memang sudah mau melahirkan, tapi kalau belum ya itu cuma masuk angin tadi.” Begitulah penjelasan ibu saya waktu itu. Mungkin karena dari semua keempat anaknya, ibu saya selalu mengawalinya dengan tanda-tanda flek seperti orang yang mau menstruasi, makanya ibu saya bisa menyimpulkan begitu.

Akan tetapi ternyata kejadian saya “mengompol” dengan sendirinya itulah sebenarnya merupakan proses awal akan terjadinya kelahiran. Dokter bilang saya sudah mengalami pecah ketuban dan sayangnya itu baru saya ketahui sekitar 3 hari kemudian atau tepatnya tanggal 22 Oktober 2000 malam, ketika saya datang ke rumah sakit. Dokter kandungan saya bilang, bahwa tak semua orang menunjukkan tanda-tanda yang sama saat akan melahirkan. Ada memang yang ditandai dengan keluarnya flek-flek darah seperti halnya orang yang mau menstruasi dilanjutkan dengan kontraksi, ada yang tiba-tiba pecah ketuban seperti yang saya alami, tapi ada juga yang tetap bersih sampai masa persalinan tiba. Sebenarnya saya ke rumah sakit saat itu juga bukan karena sudah merasakan kontraksi yang begitu hebat seperti umumnya orang jika akan melahirkan, melainkan hanya karena saya berpegang pada perkataan dokter bahwa HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya adalah 23 Oktober 2000. Daripada besoknya saya buru-buru ke rumah sakit, makanya saya malam itu memutuskan untuk “ngamar” dulu saja di rumah sakit. Dan ini sebenarnya mungkin “kebodohan” saya juga. Kurang pengalaman tepatnya. Maklumlah baru pertama kali mau punya anak. Lagipula waktu itu juga informasi tak semudah sekarang, yang tinggal klik semua informasi seputar kelahiran ada di internet. Waktu itu informasi mengenai kelahiran yang paling mudah ya dari orang yang pernah mengalaminya, dalam hal ini saya hanya mengandalkan pengalaman dari ibu saya. Seandainya saya tahu kalau tragedi saya “ngompol” itu adalah pecah ketuban, mungkin tidak akan seperti itu ceritanya. Tentu perawat juga tidak akan terheran-heran melihat saya datang ke UGD mengenakan pembalut sementara saya tidak sedang menstruasi. Perawat juga tidak akan terkaget-kaget ketika saya bilang sudah memakai pembalut seperti itu sejak tanggal 19 Oktober karena memang “ngompol” saya tidak pernah berhenti sejak itu. Dan mungkin saya juga tidak akan mengalami beberapa suntikan yang katanya adalah antibiotik dan juga suntikan induksi agar saya segera mengalami kontraksi. Karena kalau bayi saya tidak segera keluar, dikhawatirkan akan kehabisan cairan ketuban dan kata dokter ini sangat berbahaya. Sayangnya bayi saya pun masih belum mau keluar meskipun sudah diinduksi semalaman. Ia rupanya masih betah berlama-lama di dalam perut saya yang hangat meskipun cairan ketuban sudah hampir mengering. 

Semalaman saya diinduksi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kontraksi. Saya justru melihat beberapa orang yang masuk setelah saya ke rumah sakit itu, tapi sudah melahirkan duluan daripada saya. Proses kelahiran bayi-bayi mereka pun saya sempat melihat langsung, baik yang lahir tunggal ataupun lahir kembar. Dokter kandungan yang menangani saya memang tidak melarang saya melihat hal itu sepanjang saya tidak takut melihat darah, untuk melihat beberapa proses lahirnya seorang bayi di muka bumi ini. Mulai dari bukaan 10 hingga proses keluarnya bayi sampai menjahit kembali jalan keluar yang mungkin telah robek, saya sempat melihat semua hingga pagi menjelang. Dan selama itu pula saya tetap tidak merasakan kontraksi. Sementara saya sebenarnya sudah mulai lelah karena tidak tidur semalaman. Begitu pula tensi saya sudah mulai menurun menjadi 60/90. Karena itulah pihak rumah sakit telah menyiapkan segala kemungkinan jika sesuatu hal yang buruk terjadi. Pagi itu saya lihat perawat hilir mudik di ruang persalinan saya sambil menyiapkan segala peralatan. Menurut saya peralatan yang disiapkan jauh berbeda dengan yang dipakai oleh beberapa orang yang sempat saya lihat proses persalinannya. Ada beberapa tabung oksigen besar di sekitar tempat tidur saya di samping peralatan lain yang saya sama sekali tidak tahu kegunaannya.

Sementara disaat yang bersamaan saya belum juga mengalami kontraksi pagi itu. Terdorong rasa penasaran, saya pun bertanya ke beberapa perawat yang berada disitu. Dan jawaban salah satu perawat cukup membuat saya kaget. Katanya kalau saya bisa segera kontraksi, maka bisa dilakukan dengan proses normal. Tapi kalau tidak bisa keluar, maka bisa juga nanti dibantu dengan vacum. Dan bila tetap tidak berhasil, jalan terakhir satu-satunya adalah dengan proses ceasar. Wah, saya hanya bisa membatin sembari terus berdoa, agar semua proses apapun yang nanti bakal saya lakukan berjalan dengan lancar. Pasrah dan berserah diri, itulah yang saya bisa lakukan. Akhirnya sekitar pukul 09.30 pagi saya pun mengalami kontraksi yang hebat. Jalan lahirpun sudah terbuka semua, tapi sampai sekian menit tetap saja bayi saya tidak mau keluar. Setelah sekian lama dengan susah payah barulah pada pukul 09.50 pagi, tanggal 23 Oktober 2000 lahir bayi mungil saya. Itupun dengan melalui proses vacum sebelumnya. Semua saya lewati tanpa didampingi suami karena memang disaat bersamaan suami saya masih berada di perjalanan dari Balikpapan menuju Yogyakarta. Namun demikian, kedua orang tua senantiasa mendampingi saya selama proses persalinan berlangsung, meski dari luar ruangan.


Bayi laki-laki seberat 3.05kg dan panjang 49cm itu akhirnya saya beri nama Danny. Pada awalnya tubuhnya pucat membiru, karena itulah pasca kelahirannya ia harus tetap menjalani perawatan yang ekstra. Bahkan sampai 3 hari kemudian ketika saya sudah diperbolehkan pulang, Danny masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ada beberapa suntikan yang harus ia terima selama beberapa hari di rumah sakit. Katanya itu antibiotik dan harus diberikan sampai habis dosisnya. Hanya karena saya merasa tidak bisa lepas dari bayi kecil saya itulah, maka di hari ke-4 ia di rumah sakit, saya dan suami nekad memaksa dokter untuk membawa pulang Danny dengan segala resiko yang seandainya terjadi sesuatu hal tidak akan menuntut rumah sakit. Apalagi saat saya berada di rumah, badan saya sempat demam lantaran proses keluarnya ASI dari payudara saya. Selama di rumah sakit, ASI saya memang belum keluar. Dan ternyata justru saat di rumah itulah ASI saya mulai keluar, meskipun masih sedikit. Berbekal tanda tangan suami saya, akhirnya Danny bisa saya bawa pulang dan pihak rumah sakit mengharuskan saya datang di jam-jam tertentu untuk menghabiskan sisa dosis antibiotik yang harus diberikan pada anak saya itu. Bagi saya itu bukan masalah, daripada saya harus berjauhan dengan bayi saya itu.

Danny yang tahun ini masuk SMA

Sekarang Danny sudah berumur 14 tahun lebih. Tahun ini ia sudah duduk di bangku SMA. Tak terasa bayi kecil saya sudah tumbuh besar, bahkan tinggi badannya sudah melampaui tinggi badan saya. Ia juga tumbuh sehat dan belum pernah mengalami sakit yang berat (semoga tidak pernah), kecuali batuk, pilek dan demam biasa.


Tentang Kehamilan Darryl

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Seberapa nakalnya seorang anak, ia toh tetap anak kita. Jadi tidak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan seorang anak, bagaimanapun kondisinya.

Lain Danny, lain pula kisah kehamilan Darryl, anak kedua saya. Jarak kehamilan antara anak pertama dengan anak kedua yang lumayan jauh yaitu 9 tahunan, membuat saya dan suami tak kalah excitednya dengan kehamilan Danny dulu. Kami sama-sama sukacita menyambut kehadiran calon jabang bayi di perut saya. Begitu pun dengan Danny, ia sangat ingin adiknya segera keluar dari dalam perut ibunya.

Berbeda dengan kehamilan pertama dulu, kehamilan kedua ini relatif lancar. Saya hanya mengalami mual dan muntah-muntah di bulan pertama kehamilan. Selebihnya saya justru terlihat "ngebo". Segala makanan saya santap hingga akhirnya berat badan saya naik dengan drastis. Kalau di kehamilan pertama, berat saya dari 40kg menjadi 52kg atau naik 12kg saja. Di kehamilan kedua berat saya dari 44kg menjadi 62kg saat melahirkan, yang artinya naik sekitar 18kg. Dokter bahkan sempat khawatir saya tak bisa mengontrol nafsu makan saya mengingat besarnya perut saya. Takutnya bayi saya terlalu besar sehingga menyulitkan proses persalinannya. Ternyata begitu di cek USG, berat janin saya masih kisaran 2kg. Jadi dapat disimpulkan bahwa makanan yang saya konsumsi selama hamil, larinya justru lebih banyak ke diri saya sendiri, bukan ke janin saya.

Selain faktor umur (saya umur 36 tahun saat hamil kedua) dan berat badan yang bertambah dengan cepat, di kehamilan kedua ini saya juga sering merasakan cepat lelah. Rasanya berat sekali membawa perut yang begitu besar untuk kesana kemari. Saya tak selincah kehamilan pertama dulu. Meski dibarengi muntah-muntah yang hebat, saya masih rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara di kehamilan kedua ini, aktifitas rumah tangga agak terganggu. Jangankan untuk berjalan, duduk saja rasanya susah, termasuk dalam mengerjakan tugas-tugas ibu rumah tangga setiap harinya. Meskipun demikian saya tak berusaha mencari asisten rumah tangga. Selain mencari asisten rumah tangga tak semudah yang dibayangkan, saya merasa pekerjaan sehari-hari masih sanggup saya kerjakan sendiri semampu saya. Saya berusaha menikmati proses kehamilan saya dengan santai hingga waktu persalinan tiba.

Akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Sesosok makhluk mungil telah lahir dari rahim saya. Lahir normal dalam artian tidak kurang suatu apapun, walaupun melalui proses yang tidak normal. Ya, dengan sangat terpaksa bayi kecil itu saya lahirkan secara ceasar. Bukan karena saya menghendaki begitu, tetapi memang usia kandungan saya sudah lewat bulan. Sudah 10 bulan bayi saya bersemayam di dalam rahim saya. Mungkin bayi saya betah berlama-lama  berada di dalam perut saya yang hangat.

Sesuai perkiraan dokter seharusnya bayi saya lahir pada tanggal 27 Mei 2009. Tetapi ditunggu sampai 2 minggu kemudian, bayi saya tetap tidak menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari rahim saya. Ia tetap anteng tanpa adanya kontraksi hingga masuk bulan 10 kehamilan. Karena itulah begitu "ngamar" perawat langsung menginduksi agar saya segera kontraksi. Saya mulai "ngamar" sejak habis Dhuhur, tapi tak juga kontraksi. Hampir sama dengan kehamilan pertama, saya sempat "dibalap" beberapa ibu yang "ngamar" setelah saya, tapi melahirkan duluan. Rata-rata mereka memang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kontraksi atau sudah siap melahirkan. Sementara saya, jangankan bukaan dua, kontraksi pun tidak meski sudah "ngamar" hampir seharian. Semalaman kondisi saya dipantau karena detak jantung bayi di kandungan berubah-ubah. Kadang normal kadang cepat, bahkan sekitar pukul 2 dinihari alat pendeteksi detak jantung terpaksa ditempel permanen ditubuh saya sampai menjelang Subuh karena angka di alat tersebut mendekati 190, dari yang seharusnya 150. Itu kata perawat yang setiap saat mengontrol saya. Dan pada malam itu pula saya disarankan untuk berpuasa untuk kemungkinan yang terburuk, yaitu operasi.

Praktis semalaman saya tidak tidur karena alat yang menempel di perut saya. Selain karena lapar juga karena bunyi alat itu yang sengaja dikeraskan volumenya oleh perawat yang mengontrol saya. Empat botol infus induksi telah saya habiskan. Saya kurang tahu atas pertimbangan apa dokter memberi induksi dalam bentuk infus dan bukan injeksi langsung seperti pada kasus kelahiran anak saya yang pertama dulu. Kalau pada kehamilan pertama dulu, saya sempat kontraksi setelah diinduksi. Sedangkan pada kehamilan kedua ini, setelah ditunggu sehari semalam, tanda-tanda kontraksipun tidak muncul. Dalam istilah kedokteran, kata dokter saya mengalami gagal induksi atau gagal drip. Selain itu ternyata air ketuban saya juga sudah mulai keruh. Kalau tidak segera dikeluarkan bayi saya bisa keracunan. Atas dasar itulah keesokan harinya dokter memutuskan untuk segera mengoperasi saya.

Darryl, sesaat setelah kelahirannya, berat 3,2kg panjang 50cm


Sekitar pukul 10 pagi, tanggal 10 Juni 2009,  saya masuk ke ruang operasi. Campur-aduk perasaan saya saat itu. Maklum ini pengalaman pertama saya menjalani operasi ceasar. Untunglah dokter anastesi, yang kebetulan adalah tetangga depan rumah saya, selalu berusaha menenangkan saya dengan mengobrol biasa seperti layaknya bertetangga. Semua dilakukan sembari menyiapkan peralatan yang semestinya menempel ditubuh saya. Sampai pada akhirnya dokter anastesi tadi menyuruh saya untuk membungkuk sambil memeluk bantal dan beberapa detik kemudian saya merasakan seperti orang yang ditembak di bagian tulang punggung hingga menembus ke kaki. Dari dokter anastesi itu pula akhirnya saya tahu (dan tentunya setelah saya sadar) kalau saya baru saja disuntik bius lokal dari perut ke bawah. Beberapa detik kemudian dokter kandungan mulai bekerja, dibantu oleh beberapa asisten dan perawat tentunya. Pertama-tama dia (mungkin) menyayat perut saya. Saat itu dia masih sempat menanyakan "sakit nggak?", dan karena memang sakit saya jawab "sakit". Pertanyaan itu diulang sampai 2 kali dan untuk selanjutnya saya sudah tidak merasakan apa-apa. Rupanya saat itulah bius saya baru benar-benar bekerja. Lamat-lamat saya mendengar salah seorang diantara asisten dokter tadi mengatakan "aduh banyaknya darahnya". Terus terang walaupun dibius lokal saya merasa seperti dibius total. Entah berapa lama saya terpejam dalam ketidaksadaran (menurut suami saya proses operasinya sangat singkat, hanya sekitar 10 menit saja sejak saya masuk kamar operasi karena pada waktu itu bayi saya sudah dikeluarkan dari ruang operasi untuk diadzani oleh suami saya). Bayi saya lahir dengan berat 3,2kg dan panjang 50cm, hanya selisih sedikit dengan kakaknya waktu lahir dulu. Sama seperti kakaknya dulu, ia pun lahir dengan ditunggui kedua orang tua saya yang jauh-jauh terbang dari Yogyakarta ke Bontang untuk menunggui kelahiran cucunya.

Darryl, meski selang di hidung dan di mulut sudah dilepas, tapi selang infus masih menempel di tangannya 

Selama proses operasi berlangsung saya seperti mendapat pengalaman batin tersendiri. Saya seperti berada disuatu tempat yang lapang, hijau, terang benderang, sendirian pula. Mungkinkah ini yang disebut antara hidup dan mati, saya tidak tahu. Dan apakah orang lain juga mengalami hal seperti itu, entahlah! Saya baru benar-benar tersadar ketika dokter anastesi membangunkan saya : "Mbak... bangun, ini anaknya laki-laki lagi. Ini kalau mau nyium, nanti baru saya keluarkan biar diadzani bapaknya", begitu katanya seraya meletakkan bayi saya di samping saya. Saya cuma bisa bersyukur seraya mengucapkan terima kasih. Masih dalam pengaruh bius, saya mendengar suara berisik seperti mesin jahit disekitar saya. Rupanya saat itu dokter tengah melaser perut saya. Sekitar sejam proses ini berlangsung, selanjutnya saya dibawa ke ruang observasi dan baru setelah Dhuhur saya dipindah ke ruang perawatan.

Pada kesempatan lain saya baru tahu ternyata bayi kecil saya yang akhirnya kami beri nama Darryl  mengalami sedikit keracunan air ketuban. Dan selama dalam kandungan pula Darryl sempat buang air besar dan menelan beolnya. Itulah kenapa setelah kelahirannya, untuk sementara waktu Darryl harus menjalani observasi dan belum boleh dibawa ke ruang perawatan saya sampai kondisinya memungkinkan. Selama beberapa hari Darryl menjalani perawatan ekstra diruang khusus. Selain karena muntah terus setiap minum susu (pada waktu itu ASI saya memang belum keluar sehingga Darryl harus minum susu formula), Darryl masih perlu penanganan lebih lanjut dari dokter. Dan dari orang-orang yang menunggui dan membezuk saya, barulah saya tahu (karena sekitar 3 hari saya belum boleh beranjak dari tempat tidur), ditangan bayi kecil saya itu menancap jarum infus, dihidungnya juga dipasang selang (mungkin selang oksigen), sementara dimulutnya dimasukkan juga selang hingga ke lambung untuk memasukkan susu agar tidak muntah lagi. Sedih saya bila mengingat hal itu, Darryl harus sudah merasakan sakit ditusuk jarum infus diusianya yang baru beberapa jam kelahirannya.

Beberapa hari dirawat Darryl menunjukkan perkembangan yang baik. Pada akhirnya setelah berada di rumah sakit selama seminggu kami berdua diperbolehkan pulang. Sebulan pasca melahirkan, ternyata ada sedikit masalah dengan bekas operasi saya. Ada sedikit infeksi di bekas jahitannya hingga mengeluarkan darah dan nanah. Oleh karena itu saya harus rutin kontrol ke rumah sakit paling tidak 2 hari sekali selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Dan selama proses perawatan luka saya itu, saya diharuskan minum antibiotik dengan dosis tinggi. Akibatnya setiap kali minum ASI, Darryl selalu muntah-muntah. Karena kondisi yang tidak memungkinkan itulah, maka Darryl kecil pun terpaksa saya beri susu formula. Selang beberapa waktu kemudian baru ketahuan pula kalau ternyata Darryl menderita alergi susu formula. Mukanya sempat merah-merah dan mungkin sangat gatal karena setiap saat sering saya lihat ia menggaruk-garuk pipinya. Atas saran dokter akhirnya saya ganti susu formulanya dengan susu soya. Alhamdulillah ternyata cocok. Berangsur-angsur wajahnya membaik seiring dengan baiknya juga kondisi perut saya yang infeksi.




Tanpa terasa hampir 6 tahun berlalu sudah. Darryl sekarang sudah besar dan tahun ini menginjak bangku SD. Darryl tumbuh sehat dan cerdas menurut saya. Mungkin karena sejak bayi sudah terbiasa dengan hal-hal yang menyakitkan (ditusuk jarum infus dan dimasukkan selang ditubuhnya plus menelan beolnya sendiri), maka Darryl terkesan "tahan banting". Tak pernah menangis setiap kali disuntik imunisasi semasa balita.

Danny dan Darryl, dua buah hati saya
Itulah sekelumit kisah saat saya hamil kedua buah hati saya. Dua-duanya sungguh menakjubkan. Setiap kali melihat kedua buah hati saya tumbuh dengan sehat, rasanya sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semuanya ternyata amazing dan Allah itu Maha Baik karena telah menganugerahkan anak-anak yang seperti anak-anak saya. Pengalaman adalah guru yang baik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pembelajaran buat ibu-ibu yang saat ini tengah mengandung atau hendak melahirkan. Harapan saya semoga kehamilan dan persalinannya lancar. Peluk cium dan sayang dari saya untuk para ibu semua. Salam....

*) Postingan ini saya ikutkan dalam Pregnancy Story Writing Competition bersama NUK Baby Indonesia
8