Rabu, 04 Januari 2012

Membuat Novel Dalam Sebulan, Bisakah?

Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepat ditujukan untuk para novelis, bukan untuk saya. Saya yang lebih sering nulis curhatan aja, suruh bikin novel dalam 1 bulan? Gila, apa! Mana mungkin! Bahkan mungkin seorang novelis besar saja belum tentu bisa kalo harus satu bulan. Apalagi saya yang hanya penulis kacangan, emak-emak pula. Bisanya juga cuman nulis curhat. Nggak pandai nulis fiksi. Lha sekarang malah "ditantang" nulis novel, sebulan pula dan minimal harus 50000 kata. Haiyah apa bisa???
Tapi gara-gara dikomporin teman-teman di Kampung Fiksi, makanya saya pun membulatkan tekad, tepatnya nekad mengikuti even J50K, yaitu membuat novel sepanjang minimal 50000 kata dalam satu bulan selama bulan Januari. Dan tepat di tanggal 31 Desember 2011, yakni hari terakhir pendaftaran even ini, saya pun mendaftarkan nama saya di perhelatan besar ini. Bersama dengan para nekadter yang lain saya berlomba-lomba menulis novel, yang saya sendiri masih ragu, apakah mampu saya menyelesaikan target satu bulan menulis.
Lagi-lagi komporan teman-teman di Kampung Fiksi membuat nyali saya semakin besar. Saya yang biasanya berada di "zona aman" dalam menulis karena hanya bisa nulis opini atau curhatan, kali ini mencoba masuk ke "zona ketakutan". Takut gagal, takut tidak bisa, takut nggak sesuai target, dan beragam ketakutan menyelimuti saya. Tapi saya percaya dan yakin dengan ungkapan "ketika seseorang berada di zona ketakutan, maka ia akan cenderung berbuat lebih baik daripada jika ia berada di zona aman." Analoginya begini, jika seseorang merasa takut akan hantu, maka ketika berhadapan dengan hantu otomatis pasti ada yang dia lakukan. Entah itu menjerit, minta tolong, atau malah lari dan saya yakin kalo ia lari pasti akan lari sekencang-kencangnya. Kenapa, karena ia ketakutan. Beda jika dia lari karena memang sedang ingin jogging di pagi hari. Larinya juga pasti nyantai. Dia baru akan lari kencang jika ada anjing mengejarnya. Kenapa, karena takut. Nah berbekal itulah saya mencoba melawan ketakutan saya ini.
Akhirnya saya pun mencoba menulis fiksi bersambung atau novel ini terhitung sejak tanggal 1 Januari 2012. Walaupun tertatih-tatih saya berusaha menuangkan kata-kata lebay saya ke dalam tulisan. Bagaimana tidak saya bilang lebay, lha wong dalam kepala saya ini rasanya cerita yang saya ambil untuk tema pada novel yang insya Allah adalah yang perdana bagi saya, mungkin bisa saya tuntaskan hanya dalam 2 kali postingan yang tak lebih dari 3000 kata. Tapi karena berusaha untuk menjadikan sebuah novel yang panjangnya tak kurang dari 50000 kata, akhirnya saya pun berusaha memanjang-manjangkan kata sesuai imajinasi saya. Lebay bukan? Selain itu saya juga berusaha memunculkan konflik-konflik lain yang baru dalam alur cerita yang saya tulis nantinya. Dan itu sulitnya minta ampun. Tapi kalo tidak saya coba dari sekarang, kapan lagi ada even semacam ini. Kapan lagi saya tahu, sampai dimana batas kemampuan saya dalam menulis fiksi.
Kalo dibilang ini resolusi di tahun baru, bisa juga. Tapi saya sendiri tidak ingin terlalu mentargetkan untuk selesai dalam satu bulan. Kalo saya targetkan dan nanti gagal di tengah jalan, takutnya saya malah kecewa. Syukur kalo bisa selesai dalam satu bulan, kalo tidak ya tidak apa-apa. Mungkin bisa saya selesaikan dalam waktu 2 atau 3 bulan, ya nggak masalah. Yang penting saya sudah mencoba, saya sudah berusaha, masalah hasilnya ya saya pasrahkan sama Allah SWT aja. Doakan ya teman-teman, saya mampu menyelesaikan "proyek" saya ini.
Untuk judul, sengaja saya pilih "Kidung Cinta Girli" Sebuah cerita yang bergenre urban, tapi tetap saja dibumbui romantisme anak muda. Kenapa saya pilih judul itu karena setting cerita itu saya ambil di pinggiran kali atau biasa di sebut girli. Selain itu, Girli sebenarnya juga nama tokoh rekaan dari novel saya itu. Seorang pemuda yang lahir dan besar di pinggir kali. Karena itulah orang tuanya sengaja menamai dirinya Girli. Sementara Kidung adalah nama tokoh rekaan saya juga, seorang mahasiswi yang tengah menggarap skripsi yang mengambil lokasi penelitian di pingiran kali. Di pinggir kali inilah akhirnya mereka berdua dipertemukan. Tentu saja ceritanya tidak akan sesimple itu. Ada tokoh-tokoh lain yang saya munculkan nantinya, diantaranya adalah Jono. Jono adalah teman sefakultas Kidung yang sama-sama tengah membuat skripsi. Hanya saja tema dan lokasi penelitian mereka yang berbeda. Jono inilah tokoh yang akan menjembatani konflik antara Kidung dan Girli. Sebenarnya banyak konflik yang bisa dimunculkan mengingat setting cerita ini di pinggir kali. Seperti kita ketahui, pinggir kali biasanya merupakan pemukiman warga yang padat dengan berbagai permasalahan dan karakter yang beragam. Inilah yang akan saya coba angkat dalam cerita saya. Mudah-mudahan saya bisa. Sekali lagi doakan saya ya, agar mampu menuntaskan "Kidung Cinta Girli" saya. Okey...

Jumat, 04 November 2011

Akibat Otak dan Tangan Tak Sinkron


Pagi ini saya pengin curhat lagi. Ya maklumlah emak-emak ini bisanya cuman curhat sih, gak bisa nulis yang serius.   Mudah-mudahan teman-teman belum bosan mendengarkan curhat saya ya hehehe. Baiklah saya mulai saja ya curhat saya yang sebenarnya nggak penting sih, cuman daripada gak punya sambilan mendingan buat curhatan aja tho. Saya khan memang sukanya nyambi-nyambi gini. Nyuapin anak sambil nulis, nyuci sambil online, atau masak nyambi makan (belum mateng semua sudah dimakan hehehe). Akibat sering nyambi-nyambi inilah, makanya belakangan ini saya mengalami gejala ketidaksinkronan antara otak dan tangan. Sebenarnya ini sudah sering saya alami, dan saya sampai bingung juga kenapa hal ini bisa sering terjadi.
Salah satu ketidaksinkronan antara otak dan tangan misalnya saja yang semalam terjadi. Waktu itu saya bermaksud mengambil sirup untuk saya tuang ke gelas yang saya pegang. Entah mengapa saya bukannya memegang botol sirup, tapi malahan mengambil centong nasi yang nempel di magic jar. Kebetulan botol sirup itu letaknya memang disamping magic jar. Dengan santainya saya ambil secentong nasi dan saya taruh di gelas saya yang memang lumayan besar. Anehnya saya baru nyadar ketika mau nuang air dingin dari kulkas. Walah koq ternyata gelas saya isinya nasi bukan sirup...weleh...weleh... Nggak sinkron banget khan?
Sayangnya kejadian yang model begini sering lho! Pernah tuh saya mau ngambil kunci mobil, yang saya ambil ternyata kunci motor. Dengan santainya pula saya colokin tuh kunci motor ke mobil. Setengah mati nggak bisa-bisa, barulah saya sadar kalo saya salah ambil kunci. Atau misalnya saja mau nyalakan motor, eh saya ambil kunci rumah . Waktu itu saya tetap nggak nyadar tuh nyolokin kunci rumah ke motor saya. Saya sampai teriak-teriak ke suami saya yang kebetulan sedang ada di rumah. Begitu dia keluar melihat apa yang terjadi, bukannya bantu malah ngakak suami saya sambil berkata "mbok sampai lebaran monyet, juga nggak akan nyala motormu!" (emang ada ya lebaran monyet tuh, kapan?) Ada lagi misalnya mau bikin ceplok telur buat anak saya. Wajan dan minyak goreng sudah saya tuang. Kompor juga sudah saya nyalakan. Giliran mecahin telur, eh bukannya saya tumpahin ke wajan, tapi malah saya tumpahin ke panci sayur yang ada disamping wajan. Koplak nggak tuh! Huwahahaha....parah sekali kayaknya ketidaksinkronan antara otak dan tangan saya ya.
Bisa saja ini karena saya suka melakukan sesuatu sambil nyambi-nyambi gitu kali ya. Pikiran jadi bercabang rasanya. Otak kemana, tangan kemana, nggak jelas gitu. Untung saja (masih saja ada untung hehehe) saya nggak pernah naik motor nyambi sms. Kalo itu juga saya lakukan, saya nggak jamin apakah masih ada nyawa serep di badan saya. Lho ibarat kata, nyawa saya ini pernah juga pakai serep lho (halah kayak ban saja ya). Kata orang tua saya malah serepnya 3 hehehe. Bagaimana tidak, waktu masih muda (sekarang juga masih muda ding hehehe) saya pernah beberapa kali jatuh dari motor. Mulai dari motor yang sampai patah stangnya, motor yang tebengnya pecah, atau sampai pernah jatuh dari boncengan teman yang naik motor gara-gara boncengnya nyengklak (apa ya bahasa Indonesianya?) Badan saya memang bonyok, baju juga sampai robek-robek kena aspal, eh untungnya nggak sampai gegar otak (hahaha masih saja untung dibawa-bawa lagi). Nah karena sudah lumayan sering jatuh dari motor, makanya saya sekarang nggak mau tuh nyambi-nyambi kalo lagi nyetir. Bisa saja khan nyawa saya jadi nggak betah bersemayam di tubuh saya. Cari mati namanya. Yang ada ya pasti wassalam tho. Tapi kalo "hanya" trabas-trabas trotoar masih berani saya (nggak ada hubungan ya, yoben!). Paling-paling kalo apes ya kena tilang, gitu aja. Nggak parah-parah amat hehehe.
Ya sudah itu saja sekedar curhat saya. Mudah-mudahan teman-teman nggak pernah mengalami kejadian seperti saya. Nggak pernah suka nyambi-nyambi seperti saya. Cukup saya saja yang koplak ya, jangan ikut-ikutan! Ingat RSJ sudah mulai penuh, nggak bisa lagi nampung penghuni baru hehehe.







Ini Bukan FPK Lho!


Cintaku...
Itulah dirimu, yang selalu bersemu merah pipimu..
Ketika kukecup mesra keningmu dan kuungkapkan rasa rinduku padamu…
Atau ketika kubacakan puisi cintaku di musim penghujan ini.
Tiada henti bibirmu menyunggingkan senyum disertai lesung pipitmu itu..
Kemudian berubahlah pipimu itu makin memerah dan memerah lagi...
merah merona, bersinar mekar laksana bunga mawar...


mawar merah (gambar dari google)
mawar merah (gambar dari google)


Wahai kusuma..
Aku titipkan puisi ini untuk cintaku…
Wahai angin yang berhembus....
Sampaikanlah kepada kekasih hatiku...
Cintaku....
Hembusan angin dimusim penghujan ini..
Telah menebarkan bau semerbak harum bunga mawar itu…
Kusuma yang tidak akan pernah layu sepanjang musim penghujan ini.
Begitupun pesona dirimu cintaku...
Tidak akan pernah pudar dalam diriku..
Wahai istriku, cintaku....
Harum bunga mawar dihalaman rumah kita itu...
Telah membangkitkan gairah cintaku.
Membangkitkan gairah asmaraku padamu kekasihku...
Setiap kali kuingat dirimu yang tak pernah layu..
Meskipun lelah dan letih senantiasa bersamamu sepanjang waktu...
Namun kamu tak pernah meragu cintaku...
Duhai kasihku cintaku...
Dirimu harum semerbak seharum mawar itu…
Warna merahmu selalu abadi
Laksana warna cintaku padamu kekasihku

Wahai kusumaku..
Sekarang ini usiamu baru menginjak angka tiga puluh sekian...
Tapi bagiku dirimu lebih pantas berada diangka dua puluh sekian...

Karena bagiku dirimu selalu tampak muda dengan warna merah meronamu itu...
Lagipula buah cinta kitapun juga baru dua, kekasihku...
Masih ada kemungkinan untuk menambah buah hati lagi
Sebagai bukti cintaku padamu kasihku..



Istriku, cintaku, kekasihku, pujaan hatiku

Selamat ulang tahun cintaku
Suamimu selalu mencintaimu dengan apa adanya dirimu
Aku akan selalu ada di sampingmu, menjagamu dan melindungimu..
Itu janjiku padamu kekasihku...
Mendampingimu selalu...
Aahhh kasihku,
Kini aku sadar betapa aku semakin mencintaimu...
Aku merasa semakin membutuhkanmu...
Untuk berbagi rasa cinta padamu...
Semoga rasa ini tetap abadi, seabadi bunga mawar itu.....

Bontang, Kalimantan Timur, 19 Oktober 2011


NB : no coment! cuman bisa ngakak guling-guling sambil njedukin kepala ke bantal (mau ke tembok, keras sih!) wakakakkakkkkkkk

Sisi Lain Mbak Edi (Sepenggal Kisah)


Setiap orang pada dasarnya mempunyai sisi lain dalam kehidupannya yang mungkin tidak tampak di permukaan. Sebagai contoh misalnya saja saya sendiri. Orang mengira selama ini saya adalah perempuan tipikal ceria. Dimana-mana menebar keceriaan. Senangnya cengengesan. Bahkan di postingan yang sifatnya serius pun saya tetap suka cengengesan. Tapi itulah senyatanya saya. Dalam keseharian saya memang selalu ceria. Banyolan-banyolan ala pelawak sering sekali saya lakukan jika sedang berkumpul dengan keluarga besar saya. Tak hanya saya sebenarnya, hampir semua keluarga besar saya senang membanyol. Karena saking seringnya nyeletuk hal-hal yang konyol itulah, maka sampai-sampai kami menggelari keluarga kami sendiri dengan sebutan "keluarga srimulat".
Itu mungkin yang selalu tampak di permukaan, tapi sejujurnya saya mempunyai sisi lain yang bertolak belakang dengan itu. Saya sebenarnya orangnya mudah menangis. Tapi menangis saya bukan karena apa-apa, melainkan lebih pada rasa haru, rasa bahagia, dan juga rasa bangga. Jadi bukan karena sedih saya langsung menangis. Karena pada dasarnya saya bukan tipikal wanita yang "melow". Saya sendiri juga bingung dengan istilah "melow" ini. Apakah ketika saya menangis terharu, atau menangis karena bahagia dan bangga, lantas saya sudah dikatakan "melow", entahlah saya sendiri kurang tahu. Yang jelas begitulah saya, menangis saya hanya terjadi di saat-saat tertentu seperti itu. Tapi jangan dibayangkan saya menangis yang meratap-ratap begitu lho. Menangis saya pun hanya sebatas menitikkan air mata, itupun buru-buru akan saya hapus ketika ada orang lain yang melihatnya. Jadi kesannya malah nangis jaim gitu kali ya. Tapi ya begitulah, saya memang malu kalo sampai ketahuan orang lain sedang menangis. Saya berpikiran, biarlah saya menangis asalkan orang lain jangan sampai tahu. Malu kali ya kalo sampai ada yang bilang "Mbak Edi menangis, apa kata dunia?" hehehehe.
Ya begitulah sisi lain dari saya. Sebagai contoh ketika kemarin saat saya ulang tahun yang ke-38 (sudah tuwir ya, biarin tuwir yang penting tetap seksi hahaha). Banyak sekali ternyata yang perhatian dengan saya. Banyak sekali yang mengucapkan selamat ultah buat saya, baik lewat sms, lewat postingan di Kompasiana ini, lewat inbox, lewat FB, lewat YM, ataupun secara langsung. Dan karena mungkin tidak semuanya dapat saya balas satu persatu, maka pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian teman-teman semua. Terima kasih atas doanya. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan teman-teman semua. Bahagia, senang, bangga sekaligus haru menjadi satu. Karena itulah saya pun menitikkan air mata. Betapa bahagia, senang dan bangganya saya bisa berteman dengan para penulis hebat di Kompasiana ini. Walaupun sebagian besar belum pernah bertemu, tapi mereka masih mau meluangkan sejenak perhatian ke saya, itu sungguh mengharukan bagi saya. Maka wajar jika saya pun sampai menitikkan air mata.
Dari sekian banyak ucapan ultah yang saya terima kemarin, ini adalah salah satunya.
My dearest sister, Edi Kusumawati Adi Cahya,,
It's been nearly 1,5 years,
We haven't seen each other,,
And for nearly 1.5 years,
I've been missing you,,
Dear sister,,
Do you still remember the time when this baby Ana ran away from you
because you forced her to take a bath?
You ran fast after her,,
showing yourself couldn't be beaten by this such tiny brat,,
And this baby Ana, with her short legs and tiny feet, was easily caught by you.
Then she cried,,
She cried loudly,,
She cried cause she knew she had failed,,
"If only I could run faster,, If only I could have longer legs, bigger feet,, Not much, just like hers."
This is what the baby Ana was saying to herself when you dragged her to the bathroom.
Since the bathroom drama, I've always learned from you,,
How to be tough, how to be strong, how to be independent,
How to care...
Thank you Mbak Edi,
You're 38 now,,
Wish you to be a better wife, a better Mom, a better daughter, a better friend, and a better sister.
Happy Birthday :)

Ini adalah ucapan yang saya terima dari adik bungsu saya (kebetulan ia Kompasianer juga). Membaca ucapan itu membuat saya terharu. Ana (adik saya itu) sedikit banyak mewarisi sifat-sifat saya. Ana juga cenderung keras kepala seperti saya, apalagi kalo sedang mempertahankan pendapat yang dirasanya benar. Mungkin karena sebagian besar sifatnya sama dengan saya, orang tua saya selalu "mempercayakan" segala permasalahan tentang Ana ini ke saya selaku kakak sulungnya. Dan memang kenyataannya Ana ini hanya bisa menurut dengan omongan saya dibandingkan dengan dua orang kakak lainnya. Dan gara-gara ucapan yang kemarin dia kirim saat ultah saya itulah, saya tahu betapa dia selama ini memang banyak belajar dari saya. Sungguh saya terharu dibuatnya hiks...hiks...lebay ya.

bapak saya ketika berorasi di depan kraton Yogyakarta (ceritanya hehehe)


Dimata Ana, saya mungkin tampak kuat dan mandiri. Tapi sejujurnya saya bisa begitu justru karena saya belajar dari bapak saya sendiri. Bapak saya sendiri adalah seorang yang saya idolakan. Istilahnya saya ngefans berat sama bapak saya itu hehehe. Jiwa kepemimpinan bapak sudah saya lihat sejak kecil. Mulai saya kecil, bapak sudah sibuk jadi ketua RT, ketua RW dan beberapa posisi ketua-ketua yang lain, baik di bidang keagamaan maupun kesenian. Bahkan sampai sekarang pun bapak saya juga masih menjabat sebagai ketua di salah satu organisasi sosial (pengusaha eh pedagang ceritanya hehehe) di Yogyakarta. Mungkin gara-gara itu pula, maka bapak saya diwawancarai oleh wartawan RCTI. Ceritanya bapak saya jadi seleb sehari gitu pas acara Seputar Indonesia siang pada hari Selasa kemarin hehehe. Kebetulan khan kemarin di Yogyakarta ada perhelatan agung, yaitu pernikahan putri Sri Sultan HB ke-X. Bapak yang kebetulan jadi panitia seksi sibuk, ikutan memantau acara kerja bakti pemasangan janur atau umbul-umbul di sepanjang jalan Malioboro gitu. Terus-terang saya bangga bapak saya masuk televisi hehehe.
Kebanggaan saya terhadap bapak ini mungkin tidak disadari oleh Ana. Bisa jadi karena faktor usia kali ya, mengingat jarak usia saya dengan Ana terpaut hampir 13 tahun. Jadi ketika Ana masih kecil, dia belum tahu betapa kami dulu hidup susah. Semua pekerjaan rasanya sudah pernah dilakoni oleh bapak (juga ibu) demi bisa membiayai kehidupan kami sekeluarga. Jatuh bangun dalam usaha sudah sering menimpa keluarga kami, dan waktu itu Ana masih kecil. Dari situlah saya belajar banyak. Bagaimana usaha bapak dan ibu demi anak-anaknya (yang 4 orang) tetap bisa sekolah bahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Alhamdulillah keempat saudara kakak beradik ini akhirnya mampu menyelesaikan kuliahnya masing-masing dalam waktu singkat (kurang dari 5 tahun dan 2 diantaranya bisa cumlaude di Universitas Negeri ternama di Yogyakarta). Sungguh itu suatu kebahagiaan yang tak terhingga bagi kedua orang tua saya. Melihat keempat anaknya bisa memperoleh gelar sarjana S1, sementara mereka berdua bukanlah orang yang berpendidikan tinggi karena pendidikan bapak ibu saya hanya setara SMP sekarang. Dan menyekolahkan kami empat bersaudara ini ke jenjang perguruan tinggi bagi kami anak-anaknya ini adalah warisan yang tak ternilai harganya. Selanjutnya kami mau "jadi apa" selepas kuliah adalah sepenuhnya diserahkan kepada kami anak-anaknya. Dan Alhamdulillah juga ketiga adik saya sudah mandiri semua (satu bekerja di bagian accounting di salah satu pusat perbelanjaan, satu PNS di DEPKUMHAM, dan si bunggu Ana bekerja sebagai guru bahasa Inggris). Hanya saya saja yang memutuskan berhenti bekerja setelah menikah. Semua itu sudah sangat membahagiakan hati orang tua saya.

bapak-ibu saya, dan Mas Dalijo (seorang MC yang cukup dikenal di Yogyakarta)


Dan sekarang di saat kami empat bersaudara ini sudah mandiri semua, ibu bapak saya tetap saja masih menekuni usahanya. Meskipun sudah kami larang untuk bekerja, tapi mereka ternyata bukanlah tipe orang yang maunya hanya "duduk-duduk" manis di usia senjanya. Padahal sebenarnya bapak sudah mulai sering mengeluh akan ginjalnya. Tapi karena bapak saya ini juga tipikal keras kepala (seperti saya juga), maka agak susah pula menasehatinya. Maklum kami punya weton lahir sama, bulan lahir juga sama, apa hubungannya ya? Kalo orang Jawa sih bilangnya ada hubungannya, walaupun saya sendiri kurang paham. Penyakit itu sepertinya tidak terlalu dihiraukannya. Dan di ulang tahunnya yang ke 61 kali ini saya hanya bisa berdoa, semoga bapak panjang umur, tetap sehat, dan tetaplah menjadi pemimpin walaupun tanpa ijasah. Begitu pula dengan ibu saya tetap sehat dan sabar mendampingi bapak.