Kamis, 24 Oktober 2013

(W1) Bukan Hanya Tipis, Bila Perlu Gratis!

Hai... hai ....

Akhirnya saya ikutan juga kontes ini hehehe.

Terus-terang dari kemarin saya blank begitu muncul tema untuk kontes minggu ini. Bagaimana tidak, selama saya ngeblog ini, hampir-hampir tidak pernah menyentuh yang namanya notebook. Kenapa, karena memang gak punya. Terus kalau laptop? Ada sih di rumah, tapi itu punya suami dan biasa dipakai kerja di kantor. Karena itulah saya juga jarang menyentuhnya karena takutnya rusak, sementara banyak banget data kerjaan suami ada di dalamnya. Bisa berabe kan? Lha, kalau komputer? Ada juga sih, hanya saja saya bisa menggunakannya di saat anak-anak sedang sekolah. Diluar itu sudah "dikuasai" oleh dua krucil-krucil saya itu. Nah, persoalannya di saat anak-anak sekolah saya justru seringn disibukkan dengan berbagai rutinitas pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya. Memasak, mencuci, nyetrika, ngepel, beres-beres rumah dan itu lumayan makan waktu saya. Maklum semua dari A sampai Z saya kerjakan sendiri karena memang saya tak punya asisten rumah tangga. Jadi belum juga saya sempat menggunakan komputer, eh dua krucil saya sudah pulang dari sekolah. Ya sudah, terpaksa saya mengalah. Baru saat mereka tidur atau main diluar rumah, kesempatan untuk nulis-nulis di depan komputer itu ada. Padahal terkadang ketika pekerjaan rumah saya sudah beres dan sedang ada ide untuk menulis, ternyata piranti untuk menulisnya sedang dipakai. Yang namanya blogger itu kan kerjaannya nulis di blog, lha kalau piranti untuk nulisnya saja gak ada, bagaimana mau nulis? Ya nulis aja di buku atau diary dulu kan bisa? Waduh, sejak kenal tulis-menulis di media sosial, saya sudah tak punya lagi yang namanya diary atau buku harian. Semua sudah tergantikan dengan berbagai piranti modern itu. Oleh karena itu saya jadi jarang update blog hehehe *alasan.

Yang ini layarnya lebar, tapi tebal dan berat kalau dibawa 

Akibatnya saya hanya bisa mengeluh pada suami karena sulitnya saya menyalurkan hobby menulis saya lantaran selalu "rebutan" komputer dengan anak. Karena merasa kasihan "hasrat" menulis istrinya tak tersalurkan *halah, suami saya pun meminjamkan tabletnya pada saya. Awalnya saya enjoy aja menulis dengan tablet suami, selain tipis dan enteng, tablet itu tergolong lengkap fitur-fiturnya. Selain itu tablet suami ini boleh saya gunakan kapan pun terutama saat-saat sedang berpergian. Jadi saat sedang makan diluar misalnya, sambil menunggu menu datang saya bisa nulis-nulis di tablet itu. Tak sekedar nulis di blog sih, saya juga bisa berinteraksi dengan teman-teman di dunia lewat jejaring sosial yang saya punya. Jadi saya tetap bisa eksis dimana pun berada dengan gadget itu. Pokoknya praktis karena tak membuat tas tentengan saya penuh karena tipis dan entengnya piranti ini. Tapi belakangan saya sering dibuat senewen gara-gara salah ketik. Ya iyalah salah-salah ketik! Itu tablet ukuran layarnya "hanya" 7 inci, belum lagi "dimakan" keyboardnya, makin terasa sempitlah layarnya. Sudah gitu jari-jari tangan saya ini tergolong ukuran jumbo untuk memencet tombol-tombol di keyboard yang touchscreen itu, makanya jadi salah-salah ketik. Sudah salah-salah ketik terus ukuran huruf jadi kelihatan kecil pula, benar-benar menyiksa mata saya yang sepertinya sudah mulai butuh bantuan kacamata. Baru ngetik sebentar saja sudah lelah mata saya saking seringnya ngedit. Kalau yang dulu satu atau dua jam jadi satu artikel, dengan alat ini bisa sampai dua kali lipat waktu yang saya perlukan untuk menulis satu artikel saja. Benar-benar buang waktu kan. Sebel? Sudah pasti dong!

Yang ini tipis dan enteng, muat di tas saya, tapi mahal dan sering rebutan dengan anak

Akhirnya ngeluh lagi deh ke suami. Kebetulan pas suami pergi ke Jakarta bulan Mei lalu saya "merengek-rengek" minta dibeliin tablet yang layarnya lebih lebar. Untungnya suami saya yang super ganteng, baik hati, dan tidak sombong itu *halah, luluh juga mendengar keluh-kesah istrinya ini. Jadilah saya dibelikan tablet ukuran 10 inci hehehe. Lumayan mahal sih sebenarnya, tapi saking cinta dan sayangnya suami pada istrinya *halah, dibelikan juga deh. Saya pun mulai bisa ngetik dengan nyaman karena gadget ini juga bisa saya bawa kemana-mana. Bentuknya tipis dan tak berat pula. Tapi yang namanya anak-anak, kalau ada barang baru selalu saja ingin tahu. Ujung-ujungnya anak-anak terutama anak bungsu yang masih berumur 4 tahun mulai juga mengganggu keasyikan saya nulis pakai tablet yang berlayar lebar itu. Ia jadi sering main games dengan gadget saya itu. Beuuhh... akhirnya jadi sering rebutan juga dengan anak bungsu saya. Terpaksa deh emaknya ngalah lagi. Mau balik ke komputer, jelas-jelas sekarang sudah dikuasai sepenuhnya oleh anak sulung yang sekarang kelas 2 SMP. Apalagi semenjak ia rajin membawa teman-temannya ke rumah. Entah untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar main games bersama. Dan saya hanya bisa nangis di pojokan karena tak bisa nulis hiks hiks... *mulai deh lebaynya hehehe

Yang ini layarnya lebar, tipis, enteng dibawa, murah pula (sumber gambar http://www.acerid.com)

Ya begitu deh, akhirnya berangan-angan pengin punya gadget yang tipis, enteng, dan pastinya layarnya harus lebar agar mata ini tak cepat lelah. Mau minta belikan koq kepikiran juga harganya pasti mahal. Jaman sekarang gadget yang tipis-tipis begitu kan mahal. Lihat saja televisi LED atau yang slim begitu, mahal sekali kan harganya? Atau smartphone yang modelnya tipis-tipis begitu, mahalnya minta ampun. Kecil barangnya, tapi mahal harganya. Mau beli laptop, wah jelas tak praktis. Sudah barangnya gede, berat pula! Mana muat di dalam tas saya yang tak terlalu besar itu? Jadi ya masih sebatas angan saja punya gadget yang tipis, ringan dan hemat di kantong. Eh, tapi baru kemarin saya tahu ternyata ada lho gadget seperti yang saya idam-idamkan itu. Saya sih tahunya dari Emak-Emak Blogger yang kebetulan ngadain lomba ngeblog ini. Dan hadiahnya kebetulan juga gadget yang saya idam-idamkan itu. Bentuknya notebook, mereknya Acer. Siapa yang tak tergiur coba? Karena itulah saya pun nekad ikutan lomba ini, siapa tahu saya lagi hoki. Bukan hanya notebook tipis yang saya dapatkan, bila perlu gratis hehehe. Siapa tahu kan? Insya Allah...aamiin. 

 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia."

Senin, 21 Oktober 2013

Darryl, Calon Pemimpin Masa Depan


Darryl, calon pemimpin masa depan :)


"Mama lihat, Darryl dapat bintang!" ujar Darryl seraya menunjukkan punggung kedua tangannya yang telah bergambar bintang, suatu siang sesaat setelah saya jemput ia dari sekolahnya. Di kesempatan lain Darryl juga berucap "Mama, bu Kikin tadi bilang gini 'Subhanallah Darryl hebat!'", sembari memamerkan kertas gambarnya yang penuh dengan coretan crayon warna-warni. Sebenarnya kertas mewarnainya cenderung acak-adul, tapi demi melihat wajah cerianya, saya pun tersenyum sambil mengacungkan jempol sembari mengucap "Darryl memang hebat ya!"  

Darryl dapat "bintang" dari gurunya :)
Begitulah Darryl, hampir setiap hari selalu ada saja yang ia ceritakan pada saya sepulang sekolah. Darryl saya memang pandai bercerita. Segala sesuatu "hal baru" yang diajarkan atau ditemuinya di sekolah selalu ia ceritakan pada saya sepulang sekolah. Ada saja cerita baru dari sekolah yang dibawanya ke rumah. Entah itu tentang pelajarannya hari itu, tentang guru-guru yang mengajarnya hari itu, tentang teman-temannya yang lucu bahkan tentang ruang kelasnya yang panas karena AC-nya mati. Saya pun dengan senang hati selalu menjadi pendengar setianya setiap hari.

Lain waktu saya juga akan melontarkan pujian "Nah, begitu dong, baru namanya anak jempol!", manakala ia berhasil membereskan mainan yang berserakan di lantai. Meskipun mainannya hanya sekedar ditumpuknya begitu saja di pojokan ruangan, tapi itu sudah menunjukkan bahwa ia memiliki rasa tanggung jawab, minimal menghargai akan suatu barang. Saya pun juga tak segan mengucap "Wah, Darryl sekarang sudah pintar ya?" dan ia akan menjawab "Iya dong!" dengan bangganya, saat ia berhasil memakai kaos kaki dan sepatu sekolahnya sendiri. Memang hanya ucapan atau pujian sederhana, tapi buat Darryl mungkin sangat istimewa. Terbukti hanya dengan pujian sederhana seperti itu, ia menjadi rajin dan bersemangat, baik di sekolah maupun di rumah.  


Darryl memamerkan coretan crayonnya
Darryl adalah anak bungsu saya. Bulan Juni lalu usianya genap 4 tahun. Saat ini Darryl duduk di bangku Taman Kanak-Kanak kelas A. Selain senang bercerita, Darryl termasuk anak yang supel, ramah, ceria dan murah senyum. Ia pandai bergaul dan mudah menyesuaikan diri, meskipun dengan lingkungan yang baru. Ia jauh lebih mandiri dibandingkan kakaknya di usia yang sama dengannya kala itu. Saya masih ingat betul di hari pertama sekolah dulu, Darryl bahkan tak perlu saya tunggui sekolahnya. Sementara ada beberapa temannya yang masih perlu di dampingi orang tuanya, bahkan hingga masuk ke dalam kelas, persis seperti yang saya alami saat Danny, anak sulung saya masuk sekolah Taman Kanak-Kanak dulu. Sebaliknya Darryl, ia mau saja saya tinggal di sekolah karena saya harus mengantar Danny, yang sekarang sudah duduk di bangku SMP kelas 2, lantaran mobil jemputan sekolahnya tak datang.

Darryl saat bertanya pada wali kelasnya, foto ini sengaja saya candid lho :)

Selain beberapa hal yang saya sebutkan di atas, Darryl ini terkenal sebagai anak pemberani. Badannya memang tak terlalu besar, tapi juga tak terbilang kecil, namun demikian nyalinya cukup besar. Ia sangat lincah dan cenderung tak bisa diam. Kata gurunya Darryl ini juga lumayan kritis dalam berucap. Tak heran jika ia pernah protes tentang AC di kelasnya yang terpaksa dimatikan lantaran kelebihan beban listrik. Di kelas ia termasuk murid yang mudah menghafal. Dalam waktu tak lebih dari seminggu, ia sudah mampu menghafal beberapa hadist dan juga nama-nama bulan, baik bulan masehi maupun bulan hijriah. Karena itulah ia jadi sering ditunjuk gurunya untuk membimbing teman-temannya yang belum hafal. Darryl memang saya sekolahkan di sekolah Islam, sesuai dengan agama kami.

Darryl saat latihan Manasik Haji

Meskipun masih balita, Darryl juga antusias jika diajak sholat ke masjid. Kebetulan rumah kami memang tak jauh dari masjid. Bekal agama saya rasa penting ditanamkan sejak usia dini, seperti usia Darryl saat ini. Karena dari sanalah pondasi iman dan akhlaqnya dimulai. Salah satu caranya adalah membiasakan diri untuk sholat berjamaah di masjid. Dari sana pula ia belajar tentang arti pentingnya disiplin. Bahwa disiplin itu penting, tak hanya di sekolah dan di rumah, tapi juga saat beribadah. Ketika tiba waktunya sholat, ia harus menghentikan acara mainnya, jika memang sedang bermain bersama teman sebayanya. Ketika hari sudah malam, waktunya untuk tidur, ia juga harus tidur agar esok hari bisa bangun pagi dengan bugar. Begitu selalu saya tanamkan nilai-nilai kedisiplinan pada diri Darryl. Memang semua tidak mudah, tapi dengan kesabaran semua akan terasa mudah. Namanya juga anak-anak, ada kalanya ia membangkang. Misalnya saja waktunya mandi sore, ia masih saja asyik bermain, biasanya saya akan menegur dengan cara mengatakan "Yang tidak segera mandi, pasti bukan anak yang hebat." Cukup dengan teguran semacam itu, sudah mampu membuat ia beranjak ke kamar mandi. Cara-cara menegur semacam ini justru saya pelajari dari gurunya, bahwa anak seusia Darryl ini memang senang dipuji, meskipun untuk hal-hal yang sepele.

Darryl yang selalu ceria

Bagi saya, Darryl ini memang "istimewa". Rentang umur yang lumayan jauh dengan Danny kakaknya yang berjarak 9 tahun, membuat saya serasa belajar lagi caranya mengasuh, mendidik dan merawat anak. Semuanya serasa dimulai dari nol kembali lantaran banyak hal-hal baru yang saya jumpai pada diri Darryl, tetapi tak saya jumpai pada kakaknya dulu.

Kemampuan yang dimiliki Darryl saat ini tentu tak lepas dari berbagai hal. Sejak kecil Darryl memang cenderung saya "biarkan" mengenal segala hal. Saya biasa melepaskan Darryl begitu saja di arena bermain yang ada di komplek tempat tinggal saya. Bermain ayunan, bermain prosotan, bermain pasir di pantai sekali pun. Biarlah ia berkotor-kotor, tanpa saya perlu larang-larang, sepanjang itu tak membahayakan dirinya. Saya biarkan ia melepaskan rasa ingin tahunya terhadap segala hal. Saya juga biasa mengajak Darryl ke berbagai acara yang melibatkan banyak orang. Saya biarkan ia bergaul dengan semua kalangan. Dari sanalah rasa percaya diri Darryl mulai terbentuk. Ia tak pernah takut pada orang lain, sekali pun itu baru pertama kali dijumpainya.

Sejak kecil sudah terbiasa dengan yang "kotor-kotor"

Hal ini berbeda jauh dengan kakaknya Danny. Sejak kecil Danny cenderung saya "jaga" ekstra ketat mengingat ia anak pertama saya, yang setelah lahir pun masih perlu perawatan dari rumah sakit (di awal kelahirannya Danny rutin disuntik antibiotik karena sempat sakit kuning). Karena riwayat kesehatannya itulah saya jadi cenderung "menjaga" Danny. Ia tak boleh main sembarangan terutama yang kotor-kotor. Saya selalu merasa was-was jika itu berakibat buruk pada kesehatannya. Padahal kenyataannya hal itu justru membuat Danny menjadi anak yang "kuper". Ia sering merasa minder jika bertemu dengan orang lain. Ia juga selalu merasa jijik jika memegang sesuatu yang dirasanya kotor, padahal itu tak membahayakan dirinya.

Belajar dari pengalaman itulah, saya tak ingin Darryl seperti kakaknya. Akhirnya saya biarkan Darryl "bebas" mengenal dunia luar. Saya biarkan ia bermain kotor-kotor. Saya biarkan ia bermain dengan teman-teman sebayanya. Saya berpikir, setiap anak pasti tak selalu sama sifatnya. Padahal sebenarnya di masa bayi pun Darryl juga mempunyai riwayat kesehatan yang kurang lebih sama dengan kakaknya. Ia pernah juga dirawat beberapa hari lantaran sempat "meminum" air ketuban sejak dalam kandungan dan parahnya lagi air ketuban itu telah bercampur dengan BAB-nya sendiri. Jadi pada dasarnya sejak bayi Darryl mempunyai riwayat kesehatan yang hampir sama dengan kakaknya, tapi karena saya yakin setiap anak punya "keunikan" tersendiri, punya kekebalan tubuh yang berbeda, makanya saya tak ingin memperlakukan Darryl sama seperti kakaknya. Itulah kenapa saya bilang, saya belajar banyak dalam merawat dan mendidik Darryl karena jelas-jelas penanganan terhadapnya berbeda jauh dibandingkan saat saya menangani kakaknya.

Selalu ingin jadi anak yang jempolan :)

Meskipun berbeda penanganan, saya tak membedakan dalam hal kasih-sayang. Kedua kakak beradik ini saya perlakukan sama dan adil. Untuk asupan gizi dan nutrisinya pun tak jauh berbeda. Sejak lepas ASI, Darryl rutin mengkonsumsi susu formula untuk tumbuh kembangnya. Begitu pun dengan kakaknya dulu. Asupan makanannya pun sebisa mungkin saya olah sendiri, bahkan masing-masing anak saya memiliki makanan favorit hasil olahan ibunya. Apalagi saya memang tidak mempunyai kesibukan di luar rumah, selain mengurus rumah-tangga. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk bermalas-malasan menyediakan semua kebutuhan makanan buat anak-anak saya. Dengan asupan gizi dan nutrisi yang baik dan mencukupi, saya yakin kesehatan mereka pun terjamin. Terbukti anak-anak saya jarang sakit. Jika anak sehat tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan mereka. Saya ingin anak saya sehat lahir maupun batin. Itulah kenapa saya bekali mereka dengan pengetahuan, baik pengetahuan formal maupun informal. Saya tak hanya menanamkan nilai moral, tapi juga mengajarkan tentang budi pekerti. Di rumah Darryl haruslah hormati dan patuh pada orang tua dan kakaknya. Sementara di sekolah, ia juga harus menghormati guru-guru dan menghargai teman-temannya. Bekal ini penting karena kelak Darryl akan menjadi pemimpin, entah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga atau pun masyarakat pada umumnya.

Badannya memang tak besar, tapi nyalinya cukup besar lho!


Sejauh ini saya sangat bangga melihat perkembangan Darryl sekarang. Ia sudah menunjukkan banyak sifat dan karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik tentunya harus memiliki sifat-sifat, di antaranya :
  1. Pemimpin yang baik harus berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya.
  2. Seorang pemimpin haruslah kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
  3. Pemimpin yang baik haruslah berakhlaq mulia dan takut akan Tuhan.
  4. Seorang pemimpin juga harus cakap memanage waktu.
  5. Pemimpin yang baik harus bisa menghargai orang lain.


Darryl, calon pemimpin masa depan :)


Dengan kemampuan yang saya miliki, saya berusaha agar Darryl memiliki sifat dan karakter-karakter tersebut.  Saya akan terus memotivasi dirinya agar bisa mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Dan seandainya kelak ia benar-benar menjadi pemimpin, saya ingin ia menjadi pemimpin yang bertanggung jawab karena apa yang diperbuatnya kelak akan dipertanggung-jawabkan sepenuhnya di hadapan Tuhan. Saya ingin ia menjadi pemimpin yang bisa dibanggakan di masa depan.




        


Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba "Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil"#LombaBlogNUB

Selasa, 10 September 2013

Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Kalau berbicara tentang kesetaraan gender, lagi-lagi ingatan saya langsung mengarah ke figur pahlawan emansipasi wanita kita yaitu Raden Ajeng Kartini. Seperti kita ketahui, Raden Ajeng Kartini adalah seorang puteri Bupati Jepara bernama Raden Mas Aryo Sosroningrat. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong Jepara Jawa Tengah. Sebagai seorang puteri bangsawan, Kartini muda merasakan betul betapa kaum perempuan pada masanya dulu telah terbelenggu dan terjajah oleh adat dan feodalisme. Pada masanya dulu, kebebasan untuk mengenyam pendidikan tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Seorang perempuan di usia 12 tahun pada saat itu harus sudah dipingit, artinya ia tak boleh lagi belajar di luar rumah atau di sekolah formal. Hal ini juga berlaku pada Kartini muda.

Untungnya sejak kecil Kartini telah menjalin pertemanan dengan seorang anak Belanda yang bernama Rosa Abendanon. Berkat Rosa pula, Kartini belajar bahasa Belanda. Ia juga mulai menuliskan "kegelisahan-kegelisahannya" ke dalam bahasa Belanja dan selanjutkan tulisannya itu ia kirimkan kepada Rosa, sahabatnya itu. Meskipun masih muda, Kartini mulai melakukan "pemberontakan" melalui tulisan-tulisan yang ia kirimkan pada Rosa untuk mendapatkan kesempatan dan kesetaraan dalam pendidikan bagi kaum perempuan pada masanya. Kemerdekaan berpikir dan semua perasaannya yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya itu pada akhirnya dibukukan sebagai kumpulan surat-surat Kartini dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kita tentu pernah mendengar ungkapan Jawa yang menyatakan bahwa perempuan itu sekedar konco wingking (teman di belakang atau di rumah). Ibaratnya kata perempuan itu bisanya ya cuma masak, macak (berhias) dan manak (melahirkan). Ungkapan itu sebenarnya lebih didasari pada pandangan bahwa perempuan itu tugasnya lebih dominan di sektor domestik. Memasak, melahirkan dan mengurus keluarga memang seharusnya menjadi tugas perempuan sebagai ibu rumah tangga. Jadi sudah kodratnya jika perempuan itu tugasnya tidak jauh-jauh dari semua yang berbau sumur, kasur dan pupur (bedak). Sementara tugas laki-laki lebih dominan di sektor publik. Jadi mencari nafkah untuk keluarga adalah kewajiban kaum laki-laki sebagai kepala keluarga.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, di era Kartini dulu kaum perempuan tidak diijinkan untuk mengenyam pendidikan formal karena pendidikan memang hanya dikhususkan untuk kaum laki-laki. Untuk apa sekolah tinggi-tingi, toh nantinya juga cuma bekerja di dapur? Pandangan seperti ini sudah lama melekat di kalangan masyarakat kita. Sebagai suatu konstruksi sosial, paradigma semacam ini sudah selayaknya diubah. Sekarang jaman juga sudah berubah. Di era serba modern ini, perempuan sudah boleh bekerja di sektor publik.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kaum perempuan sekarang sudah banyak yang melek teknologi dan informasi. Di era modern ini, perempuan juga sudah banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Perempuan sudah tidak bisa dipandang lagi sebelah mata. Pada akhirnya banyak sekali profesi yang dulunya dominan dilakukan oleh laki-laki, sekarang menjadi lazim dilakukan oleh perempuan. Lihat saja berapa banyak perempuan yang menduduki jabatan direktur, manajer, atau bahkan arsitek. Jabatan-jabatan tersebut umumnya dulu diduduki oleh kaum laki-laki. Tapi seiring dengan kemajuan jaman, hal itu memungkinkan dijabat oleh perempuan. Perubahan paradigma inilah yang memungkinkan perempuan menjadi pemimpin. Jaman sekarang perempuan juga bisa menjadi kepala negara, bisa menjadi menteri dan juga menjadi anggota dewan.


Megawati Soekarno Putri, pernah memimpin negeri ini (sumber : http://javanews.co)

Apakah dalam kondisi ini bisa disebut sebagai perempuan yang menyalahi kodrat? Saya rasa tidak. Di jaman globalisasi ini “bertukar peran” antara tugas kaum laki-laki dengan kaum perempuan, atau sebaliknya bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan didukung adanya isu kesetaraan gender, laki-laki berprofesi di bidang yang mayoritas ditekuni perempuan atau sebaliknya perempuan berkutat di bidang pekerjaan yang mayoritas ditekuni oleh laki-laki sudah jamak terjadi. Jadi ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan permasalahan menyalahi kodrat.

Sebagai contoh misalnya seorang ibu rumah tangga yang semula hanya bekerja di lingkup domestik, memasak, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga pada umumnya, tiba-tiba harus bekerja di sektor publik menjadi sopir misalnya lantaran suaminya sakit dan tidak memungkinkannya untuk menunaikan tugasnya dalam mencari nafkah sebagai sopir. Apakah kondisi yang demikian ini dapat dipandang sebagai menyalahi kodrat? Saya lebih sependapat jika hal tersebut dimungkinkan terjadi lantaran tuntutan hidup. Kalau bukan karena tuntutan dapur agar tetap mengebul, tentunya ibu tersebut tidak akan bertindak "menyalahi kodrat"nya. Toh masih banyak pekerjaan lain yang dipandang lebih feminim daripada menjadi sopir.

Perempuan sebagai sopir, why not? Yang pentig dapur tetap mengebul (foto minjam di FBnya Mbak Olyvia Bendon)

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan itu kodratnya mengandung dan melahirkan. Sementara kaum laki-laki kebagian “jatah” untuk membuahi perempuan. Kodrat inilah yang tidak mungkin bisa diubah. Selebihnya paradigma tentang perempuan itu bisanya cuma masak, manak dan macak masih bisa diubah. Dengan pandangan yang baru tentang peran perempuan tak harus melulu di sektor domestik menjadikan kita tidak akan asing melihat para bapak memandikan anaknya atau memberikan susu formula untuk anaknya seperti foto dibawah ini, manakala istri sedang bekerja di luar rumah. Jadi ini bukan sekedar persoalan "menyalahi kodrat". Pertukaran peran itu pun juga dimungkinkan terjadi jika ada kesepakat bersama antara keduanya. 

Bapak-bapak memberi susu pada anaknya, itu sudah biasa sekarang ini 


Seperti kita ketahui, saat ini anggota DPRI RI pun tegah membentuk Panitia Kerja Rancangan Undang Undang tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) DPR RI. Adanya RUU KKG ini dimaksudkan agar negara mau memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada seluruh warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Memang RUU KG ini masih belum tuntas sepenuhnya, tapi setidaknya upaya ke arah sana sedang diupayakan demi menunjukkan bahwa kaum perempuan bukan warga kelas dua di negeri ini, bukan objek kekerasan. Kaum perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Mereka adalah tiang rumah tangga, pewaris generasi penerus, dan berbagai multiperan yang biasa dijalaninya saat ini.

Kembali ke persoalan kesetaraan gender, banyak orang awam yang masih beranggapan bahwa perspektif “gender” di sini diartikan sebagai simbolisasi “emansipasi wanita”. Mereka berpandangan bahwa para perempuan mulai menuntut hak-haknya dan ingin diperlakukan sama persis dengan kaum laki-laki. Padahal kenyataannya kesetaraan gender dalam hal ini tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan segala sesuatunya. Bagaimana pun juga segala sesuatu yang dituntut oleh kaum perempuan tak bisa mutlak sama persis dengan kaum laki-laki. Karena pada dasarnya, kaum perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung beban berat yang biasa ditanggung oleh laki-laki. Begitu pun sebaliknya laki-laki pun tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas rutin rumah tangga yang biasa dikerjakan perempuan. Semua itu dimungkinkan terjadi atas dasar kondisi atau faktor-faktor tertentu, seperti contoh kasus yang saya kemukakan di atas.

Pada dasarnya apa yang tengah diupayakan oleh anggota dewan kita berkaitan dengan RUU KG ini adalah dalam upaya untuk menghilangkan deskriminasi terhadap kaum perempuan yang masih saja terus berlangsung saat ini. Adanya segmentasi jenis kelamin angkatan kerja, praktik penerimaan dan promosi karyawan yang bersifat deskriminatif atas dasar gender masih banyak terjadi di negeri ini. Akibatnya banyak perempuan yang cenderung terkonsentrasi pada sejumlah kecil sektor perekonomian, umumnya pada pekerjaan-pekerjaan berstatus lebih rendah daripada laki-laki. Belum lagi ditambah dengan asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya sekedar tambahan peran dan tambahan penghasilan keluarga juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di sektor publik.      

Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kasus-kasus yang sering menimpa perempuan, misalnya perdagangan perempuan, prostitusi dan juga pelecehan perempuan. Meskipun pelecehan seksual saat ini dianggap sebagai kejahatan, akan tetapi hal itu umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan masih dianggap kaum yang lemah, sehingga pantas atau layak untuk dilecehkan. Itu sudah merupakan ancaman serius bagi perempuan Indonesia, terutama mereka yang miskin dan kurang berpendidikan. Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2004 menemukan bahwa 90% perempuan mengaku telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Angka tersebut bisa mungkin bertambah, kalau tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Karena itu sudah selayaknya perempuan itu diberdayakan. Perempuan berhak untuk mendapat pendidikan yang layak setara kaum laki-laki agar perempuan tak selalu dianggap kaum yang lemah, bodoh dan tak layak untuk jadi pemimpin. Itulah sebenarnya esensi dari kesetaraan gender di sini. Bukan semata-mata karena perempuan ingin dianggap sebagai makhluk yang lebih kuat daripada laki-laki. Tanpa hal itu pun kita juga mengakui, setiap perempuan itu kuat dan tangguh. Perempuan mampu melahirkan, sementara laki-laki tak bisa melakukan hal tersebut. Itu bukti bahwa perempuan itu kuat. Dengan upaya yang terus-menerus dalam membangun kesetaraan gender, itu berarti kita sudah berusaha membangun kesejahteraan bangsa. Pada akhirnya kita pun turut membangun peradaban bangsa. Itulah hal yang utama dan penting bagi  pembentukan jatidiri bangsa ini ke depan.





Note : tulisan ini diikutsertakan dalam even 2nd Give Away #Perempuan Keumala


Senin, 19 Agustus 2013

Angpao Lebaran yang Tak Terlupakan

Berkumpul di rumah nenek setelah pembagian angpao yang "menghebohkan" 

Lebaran adalah moment yang paling menyenangkan bagi anak-anak saya. Selain bisa berkumpul dengan saudara sepupu yang tinggalnya berjauhan, mereka juga selalu mengharapkan adanya angpao dari para orang tua, baik ayah-ibu, om-tante juga para kakek nenek mereka.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, biasanya kami para orang tua memberikan angpao dengan cara diberikan ke anak-anak atau keponakan dalam bentuk uang kertas lembaran baru secara langsung begitu saja. Kalaupun ada yang membagikan angpao dengan memasukkan uangnya ke dalam amplop, jumlahnya pasti bisa ditebak. 
Pada lebaran sebelumnya, kami rata-rata memberikan kepada anak-anak atau keponakan dengan nominal antara 25 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah, itu pun tergantung dari umur masing-masing anak. Anak yang umurnya lebih tua, otomatis akan mendapatkan jatah uang angpao dalam nominal lebih besar, sedangkan yang berumur lebih muda otomatis nominal angpaonya juga kecil.
Pertimbangan kami sengaja memberikan nominal yang berbeda adalah karena faktor "kebutuhan", dalam arti anak-anak yang berumur lebih tua (sudah SMA atau malah sudah kuliah) rata-rata mempunyai tingkat kebutuhan lebih tinggi, misalnya untuk membeli pulsa handphone (karena umumnya mereka sudah punya handphone). Sementara anak-anak yang berumur lebih muda (masih sekolah di SD atau TK) umumnya hanya berpikiran uang angpaonya akan dibelanjakan mainan karena rata-rata mereka belum diijinkan punya handphone seperti kakak-kakak mereka.
Akan tetapi di lebaran tahun ini, ada salah satu adik ipar saya (kebetulan dia belum mempunyai anak) yang mempunyai ide unik dalam pembagian angpao untuk para keponakan-keponakannya. Dia sengaja menyiapkan uang angpao dalam amplop, tetapi lain daripada yang lain.
Begitu para keponakan sudah kumpul (waktu itu masih ada tiga keponakan dari kakak tertua yang belum datang karena masih dalam perjalanan menuju lokasi kami berkumpul saat itu), adik ipar saya langsung berkata "Aku sudah menyiapkan angpao untuk kalian, tapi kali ini beda dengan yang sudah-sudah." Adik ipar saya langsung menunjukkan beberapa amplop yang berbeda-beda bentuk baik gambar, ukuran dan juga warnanya. "Di dalam amplop ini isinya juga berbeda-beda. Mulai dari yang terkecil isinya 5 ribu, sampai yang terbesar isinya 100 ribu. Nah kalian bebas memilih amplop yang mana. Tapi jangan kecewa kalau kalian dapat yang 5 ribu ya!", lanjutnya sambil senyum-senyum.
Foto bersama keluarga besar lengkap dengan para orang tua dan anak-anak saat lebaran tahun ini 

Kami para orang tua sudah ketawa-ketawa duluan melihat hal ini. Sementara anak-anak calon penerima angpao sudah pada manyun duluan, terutama anak-anak yang berumur lebih tua. Mereka semua tentunya sangat tidak ingin mendapatkan angpao dengan nominal 5 ribu rupiah itu. Jangankan untuk beli pulsa, buat beli es campur saja mungkin kurang. Tapi apa boleh buat, "aturan permainan" tetap harus mereka ikuti. 
Akhirnya satu persatu anak-anak ini maju untuk mengambil amplop angpao mereka. Anak saya Darryl yang saat ini masih termasuk yang termuda di antara yang lainnya langsung memilih amplop berukuran besar dengan gambar dan warna yang paling menyolok. sementara anak saya Danny yang sudah duduk di bangku SMP memilih amplop berukuran kecil dengan warna pastel.
Begitu acara buka amplop, mulailah terjadi kehebohan. Di luar dugaan, Darryl saya ternyata justru mendapatkan nominal angpao yang terbesar yaitu 100 ribu rupiah. Sedangkan Danny kakaknya mendapatkan angpao nominal 20 ribu rupiah. Sementara sepupu-sepupunya yang lain ada yang dapat 10 ribu rupiah, dan juga 50 ribu rupiah.
Keceriaan para keponakan di lebaran kemarin

Ada yang beruntung, sudah pasti ada yang tak beruntung. Yang paling apes adalah tiga keponakan saya yang datang belakangan. Berhubung nominal-nominal yang besar sudah terbuka semua, tinggal tersisa tiga amplop. Seperti penuturan adik ipar saya, ketiga amplop itu otomatis berisi nominal-nominal kecil yaitu 5 ribu rupiah dan 10 ribu rupiah. Benar saja begitu tiga keponakan saya membuka isi amplop tersebut, isinya memang hanya nominal 5 ribu rupiah dan 10 ribu rupiah. Parahnya yang dapat 5 ribu rupiah ini adalah Putri, salah satu keponakan saya yang sudah kuliah. Tentu saja Putri kecewa, tapi itulah aturan mainnya.
Akhirnya di lebaran kemarin kami memutuskan untuk berlibur ke pantai. Meskipun mendapat nominal yang kecil, ternyata Putri tetap ceria bersama sepupu-sepupunya yang lain. Tapi saya yakin justru gara-gara angpao yang 5 ribu rupiah itulah dia akan terus ingat terus akan kejadian hari itu. Tahun ini bisa jadi adalah lebaran yang tak terlupakan bagi Putri hehehe.      

"Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.”