Sabtu, 21 Desember 2013

Sosok dibalik Group of The Deaf People


Anda ibu rumah tangga? Rajin berbelanja kebutuhan rumah tangga? Kalau iya, sama dong dengan saya. Tapi pernahkan anda berpikir, hendak diapakan sampah-sampah rumah tangga kita? Kalau sampah sisa-sisa masakan mungkin gampang, bisa kita buang begitu saja karena mudah hancur atau busuk, jadi bisa dimanfaatkan jadi kompos. Tapi bagaimana dengan sampah yang susah hancur, misalnya bungkus plastik minyak goreng, bungkus deterjen, bungkus sabun, bungkus pewangi pakaian, bungkus kopi bubuk dan bungkus-bungkus plastik barang kebutuhan rumah tangga lainnya? Ditangan orang-orang kreatif sampah limbah rumah tangga seperti itu justru bisa dimanfaatkan sedemikian rupa lho! Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Bu Sunarni. 

 Bu Sunarni adalah perempuan kelahiran Jakarta, 35 tahun silam. Beliau telah bergulat dengan sampah-sampah rumah tangga sejak belasan tahun silam. Untuk selanjutnya sampah-sampah plastik rumah tangga itu diolahnya menjadi barang-barang yang bernilai ekonomis. Di tangan perempuan kelahiran 5 Juni 1978 ini, sampah-sampah bekas bungkus kopi, plastik bekas bungkus detergen, plastik bekas bungkus sabun, dan lain sebagainya disulap menjadi aneka tas dan souvenir hingga mampu bernilai jual tinggi. Tak hanya sampah rumah tangga, Bu Sunarni juga memanfaatkan sampah industri seperti bekas banner, spanduk, baliho, dan lain-lain untuk bahan baku dalam memproduksi tas.

Ide pembuatan usaha tas dari limbah rumah tangga ini justru datang dari Bu Kasmi (almarhumah), ibunda Bu Sunarni. Ketika Bu Kasmi melahirkan seorang anak, adik dari Bu Sunarni, yang kebetulan menyandang cacat tuna rungu, terlintas pikiran tentang bagaimana kelanjutan masa depan anaknya yang cacat tersebut. Bu Kasmi tak ingin anaknya yang cacat tersebut selalu tergantung hidupnya pada orang lain. Beliau ingin anaknya menjadi manusia mandiri, gaul dan tidak minder pada orang lain, meskipun fisiknya cacat. Akhirnya dimulailah usaha kecil-kecilan di rumahnya guna melatih kemandirian anaknya tersebut. Karena keterbatasan modal, maka modal yang digunakan masih seadanya. Bu Sunarni dan ibunya mulai mengumpulkan sampah rumah tangga. Mereka juga membeli sampah rumah tangga dari para pemulung di sekitarnya. Setelah dibersihkan, dengan kreatifitasnya, barulah sampah rumah tangga itu diolah menjadi tas kosmetik, tas fashion, tempat ipad dan aneka souvenir lainnya.

Bu Sunarni, lihatlah gambar di sampingnya, itulah hasil limbah sampah yang telah diolahnya menjadi tas 

Untuk mengenalkan produknya, Bu Sunarni rajin mengikuti pameran-pameran industri di kotanya. Seiring berjalannya waktu, usaha industri rumahan Bu Sunarni makin berkembang hingga terpikirlah untuk membuat kelompok usaha kecil di rumahnya. Usaha kecil itu diberinya nama Group of The Deaf People. Nama ini sengaja dipilih karena saat itu yang dididik adalah kaum tuna rungu, termasuk adik Bu Sunarni sendiri. Mereka dididik agar tidak merasa malu atau minder dalam pergaulan dengan lingkungan masyarakat luas. Kemudian hasil usaha dari para penyandang tuna rungu didikan Bu Sunarni itu diberi brand “The Happy Trash Bag”, terhitung sejak tahun 1995 yang lalu.

Ternyata sambutan masyarakat  di sekitar tempat tinggal Bu Sunarni di daerah Bojong Sari, Depok sangat positif. Produksi tas limbahnya pun mulai laris di pasaran. Apalagi sejak didukung oleh berbagai pihak terkait seperti Departemen Sosial, Departemen Pemberdayaan Wanita dan juga Dinas Kebersihan setempat, semakin membuat usaha Bu Sunarni berkembang. Berbagai departemen tersebut tidak saja membantu memasarkan produk tasnya, tetapi sekaligus sebagai pemasok bahan baku untuk produksinya dengan cara mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga ke kantor mereka untuk selanjutnya diserahkan ke tempat usaha Bu Sunarni, setiap 2 minggu sekali.  

Demi memenuhi permintaan pasar sekaligus untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usahanya, Bu Sunarni mulai melirik sampah-sampah plastik dari perhotelan. Akhirnya hotel-hotel di sekitar lingkungan tempat tinggalnya menjadi penyuplai bahan baku  dengan sistem konsinyasi. Dengan sistem ini secara otomatis produk tas limbah Bu Sunarni dipasarkan juga oleh hotel-hotel yang menjadi rekanan kerja usaha tas Bu Sunarni.

Seiring kemajuan usahanya,  Bu Sunarni pun mulai merekrut beberapa ibu rumah tangga di sekitarnya yang selama ini terlihat memiliki waktu luang. Sama halnya para penyandang tuna rungu, para ibu rumah tangga tersebut mulai diberi pelatihan membuat tas limbah. Dengan cara itu otomatis Bu Sunarni telah memberdayakan para perempuan di sekitarnya sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi mereka. 

Nama Bu Sunarni pun mulai berkibar setelah beberapa media meliputnya.  Akibatnya pangsa pasar produksi tas limbah Bu Sunarni juga semakin meluas. Produknya sekarang tak hanya dijual di pameran-pameran dan di mini market hotel-hotel yang menjadi rekan kerja Sunarni, melainkan mulai masuk ke ranch market di Kelapa Gading dan Kemchicks Kemang, Jakarta. Tak hanya itu, usaha Bu Sunarni pun akhirnya mulai merambah ke pasar luar negeri. Bu Sunarni mulai berani mengekspor produksi tasnya ke Dubai, Australia, Inggris, dan Singapore. Sampai saat ini negara Singapore menjadi negara yang rutin mendapat kiriman produksi tas limbah Bu Sunarni. Untuk pangsa dalam negeri sendiri, Bu Sunarni rutin mengirim produknya ke Bali sampai sekarang.  Selain itu, Bu Sunarni juga makin sering dipanggil ke berbagai tempat utuk memberikan pelatihan membuat tas limbah. Dengan dukungan penuh dari salah satu foundation, Bu Sunarni mulai memberi pelatihan kepada ibu-ibu yang kurang mampu, yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Beberapa kota di Kalimantan, Irian, Surabaya, dan Yogyakarta setidaknya pernah dikunjungi Bu Sunarni guna memberi pelatihan pengolahan limbah daur ulang sampah rumah tangga ini. 
  
Usaha yang semula hanya bermodal seadanya ini ternyata sekarang mampu menghasilkan omzet yang lumayan besar. Dalam sebulan rata-rata usaha Bu Sunarni ini mampu menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp 20 juta. Sedangkan pendapatan bersihnya sebulan berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Sementara para tenaga kerjanya, yang terdiri dari para penyandang tuna rungu dan para ibu rumah tangga, sebulan mampu mengantongi Rp 1,5 juta. Pendapatan itu belum lagi ditambah dengan uang transport, uang bonus dan uang makan. Selain itu perempuan yang beralamat di Jl.H Kenan. Rt.002/012 Bojong Sari Depok ini sekarang juga telah mempunyai workshop guna menampung anak didiknya.

Berkat kegigihannya pula, saat ini Bu Sunarni telah berhasil memberdayakan 7 orang penyandang tuna rungu menjadi wirausahawan baru di bidang tas limbah ini. Sejalan dengan itu, Bu Sunarni juga terus memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Saat ini pun Bu Sunarni juga bekerja sama dengan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerah Lebak Bulus, Cipete, dan Pondok Cabe untuk menampung para murid dari sekolah-sekolah tersebut agar bisa praktek kerja lapangan di workshopnya yang beralamat di JL SD impres no 79 RT 02/ RW 09 Pisangan Barat, Ciputat Cirendeu, Tangerang (Telp :  081218118683/081908828997).

Bu Sunarni masih berharap agar kelak muncul wirausahawan-wirausahawan baru yang termotivasi oleh usaha yang telah dirintisnya tersebut. Karena itulah Bu Sunarni akan dengan senang hati menerima uluran tangan, baik perseorangan atau lembaga, agar para anak didiknya yang menderita cacat fisik bisa lebih mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Anda tertarik? Silakan saja menghubungi Bu Sunarni di alamat yang tertera di atas. Pasti Bu Sunarni akan menyambut uluran tangan anda dengan suka cita.   

"Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel"  





Emak Sekarang Harus Kreatif

Jika sedang belanja di mini market, si bungsu Darryl, anak saya itu paling senang beli minuman dingin dalam kemasan botol. Akibatnya, sisa-sisa botol bekas di rumah lumayan banyak. Mau dibuang, koq sayang. Lagipula membuang botol plastik begitu saja juga sangat tidak dianjurkan. Konon, sampah plastik, termasuk botol bekas minuman, sulit untuk terurai dalam tanah. Kalaupun terurai butuh waktu hingga ratusan tahun. Waduh, lama amat ya? Sudah lingkungan tercemar, ekosistem rusak pula akibat limbah plastik. Kalau ukurannya besar, botol bekas memang sering saya pakai untuk pengganti pitcher dalam kulkas. Tapi kalau ukurannya kecil atau nanggung, ribet juga ya. Di buang salah, tidak dibuang pun koq jadi nyampah di rumah. Kasih ke pemulung aja! Wah, kebetulan di komplek saya jarang ada pemulung lewat. Jadi?

Namanya juga emak smart, kudu pinter dong hehehe. Apa saja yang sering kita anggap tak berguna, pasti bisa kita manfaatkan. Terus apa hubungannya dengan botol bekas tadi. Ya itu tadi, bagaimana caranya memanfaatkan botol bekas minuman kemasan agar tidak dibuang percuma begitu saja. Caranya? Gampang, browsing aja di internet, pasti beres! Hari gini gak tau internet? Wah, gak gaul dong! Emak jaman sekarang kudu gaul sama internet juga lho. Kalau tidak, bisa "kegilas" jaman. Segala rupa kan ada di internet, jadi manfaatkan dong internet. Browsing aja di internet, kira-kira botol bekas minuman bisa kita manfaatkan untuk apa saja. Kalau saya sih yang simple aja dan hasilnya adalah...taraaaa...pot tanaman.


Karena kebetulan halaman rumah saya sempit dan mayoritas sudah dipakai sebagai garasi dan diplester dengan semen. Jadi, susah kalau mau bercocok tanam. Nah, dengan botol bekas minuman tersebut, bisa kita manfaatkan jadi pot tanaman, seperti foto di atas. Kemudian kita gantung-gantungkan pot tanaman dari botol bekas tadi di dinding atau pagar rumah. Jadi deh! Rumah kita juga tampak seger. Yang lebih keren lagi, beberapa waktu lalu saya lihat seorang teman memanfaatkan botol plastik bekas dan juga gelas-gelas plastik, bahkan pralon bekas untuk bercocok tanam sayuran organik. Model-model hidroponik gitu. Ada selada, bayam merah, sawi dan sebagainya. Semua juga hanya ditaruh dan di gantung di dinding rumahnya. Kalau butuh sayuran, tinggal petik di rumah sendiri. Sudah gratis, sehat pula karena tanpa pestisida. Keren bukan? Yang itu jelas-jelas kreatif. 
  
Emak-emak jaman sekarang memang kudu smart, gaul dan kreatif. Percuma ada gadget, tapi tidak dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan. Bukankah teknologi itu diciptakan untuk mempermudah hidup manusia? Jadi semua tergantung dari bagaimana kita menyikapi kehadiran teknologi itu. Punya gadget keren dan mahal, tapi cuma buat telpon dan sms doang! Mubazir, kalau kata saya hehehe


Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Smart di Era Modern

Ujian Semester anak sekolah telah usai sekitar seminggu lalu. Termasuk di sekolah anak saya Danny, yang sekarang duduk di kelas 2 SMP. Meskipun sudah selesai ujian semester, tapi seminggu ini anak saya tetap masuk sekolah seperti biasa. Bukan untuk belajar, melainkan class meeting di sekolahnya, bertanding olah raga antar kelas.

"Ma, aku harus ngumpulin tugas TIK, suruh bikin kliping sama guruku." Ucapnya suatu siang sepulang class meeting.
"Ya sudah bikin sana!" Balas saya sambil menyelesaikan masakan untuk makan siang.
"Tapi aku mau mama yang nyarikan tugasnya."
"Lho, koq mama? Cari sendiri kan bisa, googling aja TIK di internet kan ada." Saya masih saja melanjutkan pekerjaan saya di dapur.
"Iya, tapi ntar sama dengan teman-temanku, Ma. Aku maunya yang beda."
"Maksudnya?" tanya saya masih tak paham dengan perkataan sulung saya itu.
"Maksudku, teman-temanku tuh pasti juga googlingnya dengan keyword seperti itu. Pasti deh hasilnya sama. Aku maunya artikelku beda dengan temanku, meski sama-sama googling di internet." Danny menerangkan ucapannya.
"Oh, gitu. Kalau gitu buka aja blognya mama. Ada koq beberapa tulisan mama yang tentang teknologi."
Tak berapa lama saya lihat anak saya itu sudah sibuk di depan komputer. Ia seperti sedang mencari artikel-artikel tentang teknologi informasi di blog kroyokan saya.
"Gimana, ada kan?" Sekian lama di depan komputer, anak saya tampak belum mendapatkan hasil yang dia mau.
"Gak ada, Ma. Tulisan mama ini kebanyakan curhat melulu." Anak saya itu tampak kurang senang dengan apa yang diperolehnya dari blog saya.
"Lho katanya mau yang beda dengan teman-temanmu. Kalau mau beda yang kayak punya mama, meskipun hanya curhatan tapi itu menarik karena ditulis oleh ibu-ibu. Ibu-ibu itu kalau nulis sepenuh hati lho!" ucap saya meyakinkan.
"Tapi aku bingung, curhatan mama yang tentang teknologi yang mana? Mama aja yang nyarikan ya!" Danny bicara dengan tanpa semangat.
"Ya, sudah nanti mama carikan. Sekarang mama masih sibuk."

Kurang lebih sejam kemudian, anak saya menagih apa yang saya janjikan tentang tugas klipingnya. Saya yang kala itu sedang ngecek orderan tas, hanya menjawab "sebentar". Tak sampai setengah jam, anak saya sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Belasan artikel tentang TIK, yang beberapa di antaranya adalah tulisan ibunya sendiri. Dia tinggal mengeprint artikel dan menyusunnya dalam sebuah kliping.

Belakangan ini saya memang lagi asyik menikmati kegiatan baru saya yaitu jualan tas secara online. Saya pikir sayang saja punya smartphone yang sudah diinstal aplikasi BB, tapi tak saya manfaatkan secara optimal. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan lewat aplikasi BB di smartphone saya tak lain jualan online. Hitung-hitung untuk menambah income keluarga. Apalagi saya punya banyak teman di facebook. Jualan saya bisa saya pasarkan pula melalui facebook. Jadi saya anggap teman-teman saya itu pangsa pasar yang potensial untuk memasarkan dagangan saya. Dan Alhamdulillah, meski tak banyak ada saja yang order tas. Malah beberapa teman sudah berminat menjadi reseller saya. Senang, sudah pasti. Saya sudah mampu menghasilkan hanya berbekal hape smart saya itu.

Menulis bisa dilakukan di mana saja, termasuk saat sedang menunggu menu di rumah makan ini

Setelah lewat tulisan, ternyata sekarang saya juga mampu menghasilkan uang dari jualan secara online. Iya, beberapa artikel yang saya tulis memang telah menghasilkan uang. Ada yang dimuat di majalah, ada pula yang dimuat di surat kabar. Dari yang dihargai puluhan ribu sampai jutaan rupiah per artikel juga ada. Selain berbayar, beberapa artikel saya juga telah mampu menghasilkan barang, baik berupa buku atau malah motor. Ini biasanya saya dapatkan ketika saya menang kontes nulis. Dan semua yang saya hasilkan itu hanya berbekal hape smart saya itu dan pastinya bisa saya lakukan di mana dan kapan saja. Saya bisa menulis sambil nongkrong di warung, bisa juga saat sedang momong anak di taman. Walaupun hanya di rumah, bukan pekerja kantoran, tapi saya tetap tak mau jadi ibu yang gaptek. Saya berusaha untuk update informasi terbaru lewat internet. Karena itu saya butuh gadget yang mampu untuk memenuhi kebutuhan saya itu. Saya tak ingin ibu-ibu seperti saya ini dipandang sebelah mata. Ibu-ibu jaman sekarang harus melek teknologi. Jangan hanya seperti katak dalam tempurung. Tahunya itu-itu saja, dapur, sumur dan kasur. Paradigma lama itu harus diubah.

Sebagai ibu-ibu yang meskipun hanya di rumah, kita harus mampu menghasilkan sesuatu. Ada banyak peluang dan kesempatan di depan mata dan itu bisa kita raih hanya dengan gadget dalam genggaman kita. Buat apa kita punya hape mahal yang katanya smart, tapi tidak dimanfaatkan secara optimal. Sayang bukan? Teknologi itu diciptakan untuk membantu manusia. Usahakan teknologi itu bekerja untuk kita, jangan justru sebaliknya. Jadilah ibu-ibu yang smart, menangkap peluang yang ada di depan mata.

Seperti yang saya lakukan sekarang ini, di samping menulis saya juga berusaha menangkap peluang dengan berjualan secara online. Terus apa hubungan dengan tugas sekolah anak saya tadi? Ya justru itulah, dalam rangka menangkap peluang saya berusaha "mengenalkan" diri saya yang sebenarnya. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi semata-mata ingin mengubah paradigma lama itu. Bahwa saya tidak seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya, yang tahunya hanya dapur, sumur dan kasur itu. Saya juga mampu menulis, meskipun masih tulisan ringan-ringan saja. Siapa tahu justru ada yang tertarik untuk membukukan catatan-catatan ringan saya itu. Who knows? 

Lagipula semua yang saya lakukan, baik itu menulis, berjualan secara online tetap tak mengganggu rutinitas saya sebagai ibu rumah tangga. Semua yang saya lakukan tetap tak mengganggu tugas utama saya sebagai ibu rumah tangga. Saya tak pernah melalaikan tugas saya yang tetap memasak, menyapu, mengepel, nyuci, dan beres-beres rumah. Karena itulah suami dan anak-anak tak pernah komplain dengan aktifitas saya tersebut. Mereka justru mensuport karena apa yang saya lakukan tujuannya baik dan positif.  Semua itu bisa kita lakukan asalkan ada kemauan dan niat. Jadi tunggu apalagi, jadilah ibu-ibu yang gaul, yang smart, dan kreatif. Tangkaplah segala peluang di depan mata. Ubah paradigma lama itu! Salam smart, gaul, dan kreatif dari saya.



Kamis, 14 November 2013

(W4) Emak Aktif dan "Berisik" Seperti Saya, Cocoknya Pakai Acer Aspire E1-432

Dari awal saya ikutan kontes ini, saya bilang kalau saya tak punya notebook, adanya laptop (itupun punya suami yang susah diganggunya) *eh, belakangan baru saya tahu kalau ternyata notebook itu sama ya dengan laptop hahaha. Punya komputer dan juga tablet, tapi sayangnya selalu rebutan juga dengan anak, yang kebetulan pada hobi ngegames yang diturunkan dari ayahnya. Ya, akhirnya sebagai emak yang baik dan penyayang *tsahhh, sayalah yang lebih banyak ngalahnya. Akibatnya kalau ada ide nulis, gagal deh dituangkan dalam blog karena tak adanya sarana untuk menumpahkan uneg-uneg yang sudah ngendon di kepala *alasan hehehe.

Padahal saya ini termasuk orang yang bisa nulis di mana saja lho, mau sambil nungguin anak main atau lagi momong anak juga bisa kalau sekedar nulis curhatan alakadarnya seperti biasanya. Apalagi kalau sambil nunggu pesanan menu datang pas di warung atau restoran, lebih baik ya saya pakai untuk nulis. Jadi tempat tak jadi soal bagi saya, asal ada alatnya buat nulis. Kalau tak nulis ya minimal merusuh di jejaring sosial hahaha. Saking tak bisa lepas dari gadget dan internet, pernah ada yang menyebut saya sebagai emak-emak yang "berisik" di media sosial. Tak ada komputer buat update blog ya "larinya" ke facebook dan twitter, tapi ya itu tadi pakai hape. Meski tulisannya hanya tampak kecil-kecil, akibat keterbatasan mata saya menangkap huruf/font di layar hape, ya tetap dijabanin. Kalau tidak, apa kata dunia? Fans-fans saya pada nyari pastinya kalau saya hilang dari peredaran dunia maya, kan seleb dunia maya hahaha *abaikan.

Ya gitulah, saya itu penginnya bisa update blog setiap hari seperti emak-emak blogger yang lainnya itu. Ngakunya blogger, koq gak pernah update blog, lucu kan? Tapi ya itu tadi, pas mau update blog, eh komputernya dipakai. Ibarat "bom", sudah mau "meledak", gagal deh! Akhirnya merusuhlah saya di facebook, berkicaulah saya di twitter. Padahal saya ini termasuk emak-emak banci kontes. Setiap ada kontes berusaha saya ikuti. Kalau menang kan lumayan hadiahnya. Pernah lho saya menang kontes dapat motor dan itu adalah hadiah kontes terbesar yang pernah saya terima. Terus mana itu motor sekarang? Sayangnya motornya sudah dilipat jadi uang hahaha. Habisnya dulu ribet sih mau bawa pulang itu motor ke Bontang, Kalimantan Timur. Ongkos pengirimannya dari Jakarta bisa ngabisin hampir separuh dari harga motor. Ogah saya keluar duit segitu banyaknya. Coba ambil hadiahnya gak di Jakarta atau hadiahnya dikirim gratis ke tempat tinggal saya, pasti itu motor masih ada wujudnya *hiks hiks.

Selain itu, jelek-jelek begini, ada lho pihak yang sudah mempercayakan saya untuk menulis beberapa artikel dan lumayan juga bayarannya. Ada juga seorang teman yang mengijinkan saya mengirim artikel setiap saat saya mau untuk dimuat di salah satu majalah internal gitu. Meskipun honornya tak seberapa, tapi kan rasanya gimana gitu tulisan kita dihargai. Apa gak asyik tuh? Hari gini ditawari nulis artikel, dibayar pula! Tapi ya itu tadi, tak semua tawaran bisa saya jabanin karena sarana untuk menulisnya tak selalu siap alias sedang dipakai. Nah, maka dari itu ikutan kontes ini siapa tahu saya hoki. Notebook Acer Aspire E1-432 keluaran terbaru yang lebih slim dan keren itu jadi milik saya. Jadi kalau saya bawa ke mana-mana itu notebook, gak bakalan merepotkan karena ringan ditenteng. Menulis bisa makin produktif. Siapa yang tak mau tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya? Jadi gimana, kira-kira saya layak kan untuk bisa dapati notebook Acer Aspire E1-432 ini hehehe. Pokoknya kalau sampai notebook Acer ini jadi milik saya, wuih pasti girang bukan main deh saya. Saya janji mau rajin update blog deh hehehe. Kan saya gak perlu rebutan dengan anak lagi gitu. Paling tidak ya bisa nambah-nambah sedikit uang belanja kalau saya rajin menulis artikel di majalah yang ditawarkan seseorang itu hehehe. Jadi kasih ke saya ya hadiah notebook Acernya hehehe *ngrayu admin nih ceritanya


Tuh keren kan notebooknya (sumber gambar di sini )


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Rabu, 06 November 2013

(W3) Notebook Slim Impian Keluarga

Suami saya penggemar berat games, jauh sebelum menikah dengan saya. Sebagai gamer sejati koleksi CD gamesnya saat ini telah mencapai 4 ribu lebih. Awalnya koleksi CD gamesnya hanya dipakainya sendiri. Lama-lama keponakan mulai tertarik untuk meminjamnya dan akhirnya CD itu berputar pula ke teman-temannya. Karena saking seringnya dipinjam orang, tak sedikit yang berakibat rusaknya koleksi CD games suami saya itu. Untungnya semua CD koleksinya itu telah diback up filenya ke harddisk sehingga jika rusak pun, suami saya masih bisa mengkopi ulang ke CD yang baru. Persoalan mulai muncul manakala suami saya mulai mengeluarkan uang ekstra demi membeli CD kosong untuk mengkopi ulang CD yang telah rusak. Akhirnya tercetuslah ide untuk sekalian saja merentalkan CD koleksi itu demi menutup biaya perawatan CD yang rusak tersebut. Apalagi mengingat pangsa pasar penggemar CD games saat itu lumayan besar. Benar saja begitu dibuka sekitar 8 tahunan lalu, rental games suami saya terbilang sukses. Meski hanya usaha sampingan, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan suami yang hanya "kuli" di salah satu perusahaan migas ternama di Bontang, Kalimantan Timur. Rupanya kegemaran main games ini pun ditularkan pula pada anak-anak saya. Anak sulung saya yang sekarang sudah kelas 2 SMP, sejak masih SD terbilang piawai untuk mengoperasikan CD games koleksi ayahnya. Mulai dari menginstal, mengkopi ulang ke CD baru jika ada konsumen yang menghendaki untuk membeli, dan pastinya memainkannya juga.

Dari jaman anak masih bayi, suami saya sudah tak bisa lepas dari laptop


Sambil momong anak, tetap masih bekerja di depan laptop

Belakangan begitu era games internet mulai booming, konsumen pun mulai beralih games online, begitu pun dengan suami saya. Meski masih terus mengkoleksi CD games, tapi kegemarannya memainkan games CD sudah beralih ke games online. Awalnya suami dan anak-anak masih setia dengan komputer di rumah setiap kali memainkan koleksi gamesnya. Tapi karena semua juga hobby ngegames, akhirnya dua komputer di rumah masih dirasa tak mencukupi. Karena itulah suami memutuskan untuk membeli laptop agar tak selalu rebutan dengan anak setiap hendak menggunakannya. Namanya juga gamer sejati, kemana pun pergi selain tentunya pergi ke kantor, ia tak pernah lepas dari games online itu. Meski sedang liburan, ia hampir tidak pernah ketinggalan akan laptop dan modemnya. Begitu harus menemani anak-anak bermain, laptop dan modem ikut pula menemaninya. Belum lagi dengan pekerjaan suami yang kebetulan tak pernah lepas dari internet, begitu libur pun email-email yang berhubungan dengan pekerjaan pun terus saja berdatangan dan menunggu untuk difollow up. Itulah kenapa suami saya hampir tidak pernah lepas dari yang namanya laptop dan internet. Itu pula sebabnya saya dan anak-anak juga hampir-hampir tak pernah menyentuh laptop milik suami karena takut rusak, sementara banyak data perihal pekerjaan ada di dalamnya. Kalaupun kami menyentuhnya pasti atas pengawasan suami.

Anak-anak saya pun tak bisa lepas dari yang namanya laptop
Permasalahannya setiap kali kami liburan keluar jalan-jalan atau menemani anak bermain, kerepotan selalu saja muncul. Namanya juga anak-anak, selalu saja ada yang ingin dibawanya. Tas saya selalu saja penuh, entah dengan mainan, bekal makanan dan minuman, belum lagi baju ganti. Padahal kami main hanya di sekitar lingkungan komplek, tapi kalau sudah di pantai, ya baju ganti itu selalu saya siapkan untuk anak-anak karena umumnya mereka selalu ingin nyebur ke air. Belum lagi ketambahan laptop papanya anak-anak yang lumayan berat. Maklum itu laptop masih generasi yang lama, yang tebal sekaligus berat. Penginnya sih tak perlu bawa laptop agar tak menambah berat tas saya, tapi ya itu tadi mana bisa suami lepas dari laptop. Ya mau tak mau laptop yang lumayan berat itu terbawa juga. Andai dari dulu ada laptop yang ringan-ringan saja, tapi dengan spec yang tinggi dan fitur yang lengkap pasti tak akan beli yang seberat itu karena pada dasarnya suami suka yang praktis dan tak merepotkan.

Sejak saya mengikuti kontes ngeblog ini, saya sering cerita pada suami perihal notebook Acer keluaran terbaru yang lebih tipis dari generasi sebelumnya. Selain tipis, notebook Acer ini juga terbilang murah dengan spec yang terbilang tinggi dan fitur yang komplit, yang tentunya sangat mensuport untuk kegemaran ngegames suami dan pastinya untuk urusan kerjaannya. Sebagai material engginer di perusahaannya, suami saya sangat memerlukan processor yang kelasnya tinggi agar lebih efisien waktu dalam bekerja. Apa jadinya jika untuk browsing suatu barang yang urgent di pabrik, komputer loadingnya kayak keong? Begitu pun dengan memori dan harddisknya pun harus yang ukurannya besar. Untuk itulah suami saya memang selalu mencari laptop yang specnya tinggi. Padahal suatu laptop yang specnya tinggi pastinya mahal harganya. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing item, misalnya processor, harddisk, memori, dan sebagainya sudah terbilang mahal harganya. Ibarat pepatah, ada harga ada rupa. Bagaimana mungkin harganya minta murah, tapi barangnya bagus? 

Nah, begitu saya cerita perihal notebook Acer yang specnya tinggi, didukung performa Intel® Processor di dalamnya, tapi harganya terjangkau, suami saya langsung tertarik. Antara percaya dan tak percaya, begitu browsing di web Acer ini, suami terkejut dengan harga yang tertera di sana. Untuk seri Aspire E1-432 saja harganya tak lebih dari 5 juta. Jangankan suami, saya saja juga tertarik. Selain harga yang miring, notebook seri ini juga lebih slim sehingga tak berat kalau mesti dibawa kemana-mana seperti yang biasa kami lakukan. Siapa yang tak ingin tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya ini? Kalau saya ingin ngeblog pun, juga nyaman karena layarnya lebar yakni 14 inci sehingga tak cepat membuat mata saya lelah. Begitu saya ajukan keinginan untuk memiliki notebook ini, suami malah bilang "kan kamu sudah ikutan kontesnya, siapa tahu menang hehehe". Yaelah.... kalau itu saya juga bisa hehehe. Siapa coba yang tak ingin punya notebook Acer Aspire E1-432 ini? Sudah slim, murah, keren pula. Handal buat kerja, asyik pula buat ngegames. Benar-benar notebook impian keluarga deh hehehe.


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Jumat, 01 November 2013

Akhirnya, Saya Pun Bisa Melumat Roti Durian Panglima

Roti Durian Panglima rasa keju

Beberapa waktu lalu ketika saya blog walking, saya menemukan satu tulisan yang menceritakan tentang salah satu produk makanan yang akhir-akhir ini begitu fenomenal di Kalimantan Timur, khususnya di Kota Samarinda. Dalam tulisannya, blogger itu menceritakan bahwa untuk mendapatkan produk makanan tersebut, pembeli tak bisa begitu saja dengan mudah mendapatkannya seperti kalau kita membeli makanan pada umumnya, tetapi perlu "berjuang" ekstra keras demi bisa merasakan nikmatnya makanan tersebut. Untuk mendapatkan satu kotak saja, pembeli harus antri bila perlu beberapa jam sebelumnya karena waktu penjualan produk ini juga terbatas, yakni dari pukul 4 sore hingga pukul 6 sore. Selain itu prosedur antriannya juga terbilang unik karena pembeli atau konsumen harus mengambil nomer antrian terlebih dahulu di kasir dengan cara membayar harga produk makanan yang akan dibeli. Kalau sudah membayar di kasir, konsumen akan mendapat nomer urut dan selanjutnya tinggal menunggu saja sampai mobil van putih yang membawa produk makanan itu datang. Nomer urut itulah yang nantinya ditukarkan dengan produk makanan itu. Produk makanan yang saya maksud itu tak lain dan tak bukan adalah Roti Durian Panglima, salah satu olahan roti yang didalamnya terdapat selai durian.

Potongan Roti Durian Panglima rasa keju. selai duriannya di tengah-tengah, so yummy

Sebagai penggemar durian, begitu membaca kata durian, insting saya langsung tergerak. Saya cari tahu dimana produk itu bisa saya dapatkan. Ternyata Roti Durian Panglima itu hanya bisa saya dapatkan di Pusat Oleh-Oleh Khas Kalimantan Timur atau yang biasa dikenal dengan East Kalimantan Center, tepatnya di Jalan P. Antasari no.1 Samarinda. Waduh, saya kan tinggal di Bontang dan tidak setiap hari juga bisa ke Samarinda. Masih mending kalau saya bisa nitip ke adik saya yang kebetulan tinggal di Samarinda, tapi masalahnya adik saya kerja PNS yang harus pagi sampai sore di kantor. Pulang kantor juga sudah habis tuh rotinya. Saya pun tak kehilangan akal, sebagai suatu produk yang fenomenal pasti tak lepas dari peran media social, entah itu blog, facebook atau twitter. Mustahil dong Roti Durian Panglima tak punya akun twitter? Saya yang kebetulan sudah memfollow akun twitter  East Kalimantan Center sebelumnya langsung memfollow juga twitter dari Roti Durian Panglima. Saya langsung mentwit pertanyaan, dimana kira-kira saya bisa mendapatkan roti itu di Bontang. Sayangnya, saya tak bisa mendapatkan selain di outlet  East Kalimantan Center. Walah, gagal deh bisa merasakan roti durian. Saya hanya bisa menelan ludah setiap membaca twitt dari orang-orang yang berhasil mendapatkan roti itu yang pastinya disertai foto roti dengan selai durian di dalamnya. Ihhh...sebel deh! Mau nekad ikutan antri juga belum tentu dapat karena saking banyaknya antrian yang juga ingin membeli roti itu. Saya lihat foto-foto di beberapa blog yang menulis tentang roti durian, antriannya sampai mengular begitu. Gila! Ini benar-benar gila, hanya demi roti durian mereka rela antri seperti itu, meski dibela-belain datang duluan, hujan pula. Memang seberapa enaknya sih Roti Durian Panglima ini? Makin penasaran saja saya!

Twitter saya yang memamerkan hasil "perburuan" Roti Durian Panglima

Hingga akhirnya kesempatan untuk mendapatkan roti itu datang juga. Waktu itu kebetulan saya harus mengantarkan orang tua saya yang mau pulang ke Yogyakarta. Harus ke Balikpapan dong saya hehehe. Lewat Samarinda dong pastinya hehehe. Tapi karena waktu itu saya mengantar orang tua saya ke Balikpapan pagi-pagi sekali demi mengejar pesawat pagi dan begitu lewat di depan outlet East Kalimantan Center ternyata outletnya masih tutup. Yahh... gak papa deh! Masih ada kesempatan besok. Toh kalau saya pulang ke Bontang pasti lewat lagi di depan East Kalimantan Center. Tapi demi menghindari kehabisan stok, saya terlebih dulu menyuruh adik saya yang tinggal di Samarinda itu untuk mengantri di depan outlet East Kalimantan Center. Jadi besok kalau saya lewat sudah ada adik saya yang mengantrikannya. Tapi lagi-lagi saya kurang beruntung, begitu adik saya sampai di outlet ternyata nomer antrian sudah habis. Padahal waktu itu masih pukul 4.15 sore. Kabar itu saya dapatkan langsung dari sms adik saya karena saat adik saya mengantri, saya masih di perjalanan antara Balikpapan-Samarinda. Dan benar saja ketika saya melintas di depan outlet East Kalimantan Center, antrian orang untuk mengambil "jatah" roti dari mobil van sudah berjubel. Sial! Pas ada kesempatan ke Samarinda, roti durian tetap tak bisa saya dapatkan.

Roti Durian Panglima rasa original

Ya sudah akhirnya saya hanya bisa pasrah. Mungkin belum rejeki saya untuk bisa menikmati kelesatan roti durian itu. Tapi saya terus berupaya untuk mendapatkannya. Namanya juga masih penasaran kalau belum merasakan secara langsung, bukan sekedar lewat foto-foto langsung bilang "enak nih kayaknya." Belum afdol dong bilang "enaknya" kalau belum melumat sendiri selai durian yang dibalut roti itu. Saya pun terus berusaha untuk mendapatkan roti itu, bagaimana pun caranya. Setiap ada teman kantor suami atau tetangga yang kebetulan pergi ke Samarinda selalu saya pesanin untuk membelikan roti itu. Tapi karena pembelian hanya dibatasi 2 kotak untuk setiap orang, makanya kalau pun dapat rotinya yang dapat ya orang-orang yang saya pesanin itu karena mereka pun juga penasaran dengan rasanya roti durian. Walah, pengharapan saya serasa sudah habis. Saya hanya bisa berharap agar roti durian buka cabang di Bontang. Itu saja deh harapan saya, gak muluk-muluk.

Ehh, koq ternyata saya hoki. Harapan saya bisa menikmati kelezatan roti durian akhirnya datang juga. Kebetulan saya punya teman yang suaminya sering bolak-balik ke Samarinda dan kebetulan sekali teman saya itu tak ada yang suka durian. Klop sudah! Pucuk dicinta, ulam tiba. Ada yang rajin ke Samarinda, bisa dititipin beli pula. Dan benar saja, begitu roti durian sudah didepan mata, langsung deh saya lumat itu roti. Rasanya benar-benar lezat, persis yang dikatakan orang-orang. Top markotop kalau Pak Bondan yang pakar kuliner itu bilang. Selainya duriannya lembut dan tebal pula. Rotinya juga empuk. Kebetulan saya lebih suka yang rasa keju daripada yang original. Keju taburannya itu lho banyak banget. Saya bisa habis sekotak sendiri sekali makan. Tapi sebelum saya lumat, saya foto dulu deh buat bukti kalau akhirnya saya bisa merasakan kelesatan roti durian yang fenomenal ini. Sejak saat itu, setiap saya ingin roti durian, tinggal sms ke teman dan sore atau malamnya saya ambil ke rumahnya. Roti durian ini harganya lumayan murah, untuk yang original hanya dihargai Rp20.000,-. Sementara yang rasa keju hanya dibandrol Rp25.000,-. Murah bukan? Nah, kalau teman-teman penasaran buruan aja datangi outlet East Kalimantan Center, tapi harus antri lho hehehe. Tapi kalau nitip ke teman saya, yang original dihargai Rp 50.000,- sekotak, sedang yang keju Rp 55.000,- sekotak. Ya, gak papa deh, itung-itung ongkos ngantri dan juga ganti transportnya hehehe. 

NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka memperingati 2 tahun hadirnya Toko Oleh-oleh Khas Kalimantan Timur East Kalimantan Center Samarinda.    

Kamis, 31 Oktober 2013

Noda Apapun, Tak Perlu Khawatir Deh!

Rinso cair andalan keluarga


Darryl anak saya yang masih sekolah di Taman Kanak-Kanak dan baru berumur 4 tahun, sedang aktif-aktifnya bermain. Setiap pulang sekolah selalu saja maunya bermain, entah hanya bermain di lingkungan rumah atau malah bermain di luar rumah. Apalagi semenjak dibelikan sepeda baru oleh papanya beberapa bulan lalu, intensitas bermainnya makin bertambah saja, terutama belajar mengendarai sepeda barunya itu. Awalnya Darryl memang hanya bermain sepeda di lingkungan rumah, misalnya di teras atau di garasi. Tetapi sejak beberapa teman-temannya juga memiliki sepeda baru dan hampir setiap sore pada ramai-ramai bermain sepeda di luar rumah, Darryl pun ikut-ikutan bermain hingga di gang di depan rumah. Saya pun tak mempermasalahkan Darryl bermain sepeda hingga di gang depan rumah karena gang depan rumah di komplek saya tinggal terbilang tidak ramai. Jadi relatif aman bagi Darryl dan teman-temannya bermain sepeda.

Daaryl, waktu dapat sepeda baru


Darryl sesaat setelah terjatuh, bibirnya tampak jontor
Hingga suatu sore saat saya tengah menyetrika baju, sementara Darryl bermain bersama teman-temannya di luar rumah, saya dikejutkan oleh teriakan Danny kakaknya Darryl. "Mamaaa...Darryl jatuh dari sepeda, mukanya berdarah!" Spontan saya cabut kabel setrikaan saya dan langsung menghambur keluar rumah. Di luar rumah saya lihat Darryl sudah berlari-lari kecil ke arah saya sambil menangis dan mengusap bibirnya yang tampak mengeluarkan darah. Sementara itu di belakang Darryl, tampak Danny tengah menuntun sepeda Darryl yang sebelumnya ada di tengah jalan dalam posisi terjungkal. 



Akhirnya tertidur juga

 Sebenarnya saya agak kaget juga melihat luka Darryl terutama di bagian bibirnya.  Saya pikir kalau tidak karena Darryl ngebut naik sepedanya, pastilah lukanya tak akan seperti itu. Paling-paling hanya luka lecet, tapi yang saya lihat sore itu tak hanya kaki dan tangannya yang lecet melainkan bibirnya ikut sobek. Luka di bibirnya itulah yang terus mengeluarkan darah dan Darryl spontan mengusap-usap lukanya itu dengan kaosnya. Noda darah pun mulai mengotori kaosnya. Mungkin karena perihnya, Darryl tetap saja menangis meraung-raung, meskipun telah saya gendong. Saya coba tenangkan dia sambil menggendongnya masuk ke dalam rumah.  Saya berusaha tak panik di depan Darryl, meskipun sebenarnya hati kecil saya sungguh panik melihat darah yang cukup banyak keluar dari bibirnya. Apalagi saat itu papanya juga belum pulang kerja. Pertolongan pertama yang saya lakukan kala itu adalah langsung mengganti baju kotornya kemudian membersihkan lukanya dengan air hangat. Setelah itu baru saya olesi obat luka untuk bagian lecet-lecetnya. Sambil tiduran di ranjang, bagian bibirnya tetap saya kompres dengan air hangat. Tangisnya pun mulai reda dan tak lama kemudian ia pun tertidur dengan pulasnya. Darah pun juga mulai berhenti keluar dari luka di bibirnya. 

Cukup tuang atau oles sedikit di bagian noda

Keesokan harinya saya langsung mencuci baju kaos yang kemarin hari dipakai Darryl bersepeda. Saya lihat noda darah mulai mengering di kaosnya itu. Tanpa pikir panjang, langsung saya ambil Rinso cair dan menuang sedikit ke bagian noda darah itu, kemudian merendamnya dalam ember dan sedikit air selama kurang lebih 15 menit saja. Setelah itu barulah saya kucek sebentar di bagian yang terkena noda-noda darah itu. Dan seperti biasa, noda darah itu pun hilang sudah. Baju Darryl pun kembali bersih seperti sedia kala. Dengan Rinso cair saya tak perlu khawatir noda akan sulit hilang. Tidak perlu dengan menyikat, cukup dengan mengucek sebentar, noda membandel pun bisa hilang lho! Berdasarkan pengalaman, bukan hanya noda darah, noda masakan seperti kecap dan saos, bahkan noda tinta dari spidol yang biasa digunakan Darryl jika mulai asyik menggambar juga biasa saya cuci pakai Rinso cair. Bukan hanya baju yang ternoda, baju kita sehari-hari pun aman lho dicuci dengan Rinso cair. Kita tak perlu menyikat seperti kalau kita menggunakan deterjen bubuk. Sudah capek menyikat, baju rusak karena kerasnya menyikat, nodanya pun tetap tidak hilang dengan sempurna. Tapi dengan Rinso cair, hasilnya jauh berbeda, baju kembali bersih seperti sedia kala karena Rinso cair 2x lebih efektif, meresap lebih ke dalam serat kain saat perendaman, untuk seluruh cucian sehari-hari.  Jadi buat ibu-ibu yang punya anak sedang aktif-aktifnya seperti anak saya Darryl, tak usah khawatir deh jika baju anak kita terkena noda. Cukup tuang atau oles sedikit Rinso cair pada bagian yang ternoda, rendam sebentar, kemudian kucek, pasti deh nodanya akan hilang. 

Meskipun lukanya masih membekas, tetap ceria
Tak perlu takut bajunya kotor, ada Rinso cair yang membersihkan nodanya koq hehehe

Beberapa hari setelah insiden Darryl jatuh dari sepedanya itu, Darryl tetap bermain seperti sedia kala. Meskipun masih terlihat bekas lukanya, ia tetap saja ceria. Ia juga tak kapok lagi bersepeda. Seiring berjalannya waktu, luka Darryl pun sembuh. Bekas lukanya sudah tak tampak. Saya juga tak pernah khawatir jika ia pulang bermain dengan baju yang kotor. Selama masih ada Rinso cair, noda apa pun tak akan saya khawatirkan. Demikian ibu-ibu, pengalaman saya menggunakan Rinso cair. Untuk segala cucian kotor, Rinso cairlah yang saya andalkan.   

Dengan Rinso cair, noda membandel sekalipun, mudah hilang lho!
Nah, berhubung Laiqa Magazine sedang mengadakan kontes Rinso cair, makanya saya bagikan pengalaman saya ini. Semua kisah yang saya ceritakan di sini merupakan pengalaman pribadi saya dan sepenuhnya bukan merupakan tanggung jawab Laiqa Magazine

NB : semua foto-foto diatas merupakan foto koleksi pribadi
     

(W2) Yang Tipis-Tipis Memang Keren

Holaaaa...

Masih sanggup ikutan kontes yang "slim dan tipis" ini kan hehehe...

Ya meskipun sedikit puyeng, mengingat temanya mirip-mirip dengan minggu lalu, tapi tetap harus kita jalani teman hehehe. Komitmen itu penting saudara-saudara! *halah. Demi menaklukkan "tantangan" ini saya pun akan kembali curhat. Ini masih soal notebook impian saya. Kemarin saya sudah berkhayal tentang notebook yang tipis, layarnya lebar dan pastinya harganya gak bikin dompet jebol. Dan ternyata notebook yang seperti itu memang ada, mereknya Acer dengan serinya Acer Aspire E1-432. Karena itulah saya ikutan kontes ini, siapa tahu dapat gratisannya hehehe.

Setelah saya baca-baca di sini, ini notebook memang keren koq. Bagaimana tak keren kalau segala keunggulan yang umumnya dimiliki oleh sebuah laptop canggih ada pada sebuah notebook Acer Aspire E1-432 ini. Sebagai emak-emak yang tak muda lagi (bulan ini genap usia saya 40 tahun lho!), saya akui mata saya sudah tidak secermat atau sesehat waktu muda dulu. Jika membaca tulisan atau artikel yang fontnya kecil-kecil, saya sering puyeng sendiri. Tulisan kecil-kecil itu seakan menjadi dobel-dobel di mata saya. Salah satu cara agar saya lancar membacanya, ya biasanya saya ganti fontnya menjadi besar. Selain font harus besar, saya juga butuh layar yang lebar agar mata saya semakin nyaman.
Gadget atau tablet pintar milik saya ternyata tak selamanya membantu atau mempermudah kerja tulis-menulis saya. Sebenarnya tablet ukuran 10 inci sudah lumayan memenuhi kebutuhan saya menulis, tapi keyboard touchscreennya sering menjadi masalah tersendiri bagi saya. Jari tangan saya kan ukuran jahe, sekali pencet yang keluar bukan hanya huruf yang saya maksud, melainnya juga huruf di kanan kirinya. Memang sih untuk masalah huruf ini masih bisa diakali dengan mengubah ke font yang lebih besar, tapi kalau setiap mau nulis atau mau membaca harus bolak-balik ganti font apa tak puyeng tuh? *perasaan dari tadi saya ngomong puyeng-puyeng melulu ya, semoga bukan lantaran tanggal tua deh hehehe.

saya perlu memperbesar "keyboard" touchscreen tablet saya ini agar tak salah-salah pencet

Nah Acer Aspire E1-432 ini ternyata menjawab kebutuhan saya. Layarnya sudah 14 inci. Sangat nyaman buat emak-emak yang tak muda lagi seperti saya. Jadi kalau saya jenuh nulis terus ingin main games atau nonton film *ehh, bisa koq!. Toh notebook yang tipis ini sudah dilengkapi dengan DVD-RW yang terintegrasi di dalamnya, kurang apa coba? Selain itu keyboard juga terpisah dari monitor dengan ukuran tuts yang proporsional di jari-jari tangan, otomatis saya tak salah-salah pencet seperti kalau saya mengetik di tablet. 

Kemarin saya sudah cerita kalau sedang mood nulis, saya sering tak peduli tempat. Misalnya sedang nongkrong di kafe sambil nunggu pesanan datang, saya juga biasa melewatkannya sembari ngetik-ngetik atau nulis di blog. Beberapa tulisan atau artikel saya ada lho yang "lahir" saat saya sedang nongkrong di luar begitu. Karena itulah kenapa saya seringnya mencari tempat makan atau nongkrong yang ada fasilitas internet atau wifi gratisnya hehehe *pengiritan banget ya? Karena sedang tak berada di rumah, maka baterai yang tahan lama itu sangat penting bagi saya. Apa jadinya ketika mau publish tulisan, pas deadline pula, tiba-tiba laptop mati. Menyebalkan sekali kan? Karena itu untuk suatu piranti menulis yang punya ketahanan baterai yang cukup lama, amat saya butuhkan. Eh, lagi-lagi Acer Aspire E1-432, memenuhi kriteria yang saya butuhkan. Konon baterainya tahan lama hingga 6 jam lho! Coba saja nonton film dari DVD, bisa 3 film terputar tanpa putus tuh *ehh hehehe 

Terus satu hal yang tak kalah penting bagi saya, saya juga biasa menyertakan foto-foto ke dalam artikel yang saya tulis, maka card reader dan USB port sangat saya perlukan. Ternyata Acer Aspire E1-432 ini juga menyediakan fasilitas itu semua. Jadi buat emak-emak seperti saya, yang kebutuhannya masih sebatas itu, notebook ini sudah sangat menunjang kegiatan tulis-menulis saya. 

notebook milik anak tetangga, generasi Acer yang sebelumnya, masih tebal dan berat

Berhubung saya ini orangnya tipe penasaran, saya datangi tetangga yang seingat saya anaknya punya notebook merek Acer. Memang bukan generasi Acer Aspire E1-432, tapi saya penasaran ingin membandingkan dengan generasi yang sebelumnya. Sepintas notebook anak tetangga saya itu memang lebih tebal. Sudah begitu berat pula ditenteng-tenteng. Jelas kalau ada duit saya lebih memilih yang Acer Aspire E1-432 dong! Habis lebih slim dengan ketebalan sekitar 25.3 mm saja (dimensi 30% lebih tipis dari notebook konvensional lainnya) dan pastinya lebih ringan untuk dibawa kemana-mana. Ringan pula harganya. Tapi ya itu tadi, kalau ada duit lho ya hehehe. Semurah apapun harganya kalau duitnya tak ada, ya tak akan terbeli. Karena tak ada duit itulah, ya ngimpi dulu deh, ngontes dulu hahaha. Siapa tahu hoki terus dapat hadiah notebook yang keren, slim dan yang paling tipis di kelasnya ini *ngarep

Acer generasi yang sebelumnya, layarnya sudah lebar, tapi masih kurang tipis dibanding Acer Aspire E1-432 
     
Kemarin sebelum saya nulis curhatan saya ini, saya sempat update status di facebook tentang kebingungan saya pada notebook yang "keren dan tipis", maklum saya kan tak punya notebook selama ini *hiks hiks. Eh, ternyata ada teman yang komen kalau dia justru terbayang pada salah satu iklan produk pembalut *jiaahh. Tapi entah kenapa dari tadi malam, saya justru ikutan terbayang pada iklan pembalut itu. Dalam iklan itu kurang lebih diceritakan tentang seorang remaja yang tak nyaman beraktifitas lantaran sedang haid. Mau banyak gerak takutnya darahnya tembus. Oleh teman lainnya disarankan untuk berganti pembalut, yang tipis, ada wingnya, dan pastinya merekat kuat pada tempatnya alias tidak mudah bergeser. Jadi kekhawatiran untuk tembus tidak ada lagi sehingga membuat si pemakai merasa nyaman menggunakan pembalut yang meskipun tipis mampu menampung darah haid cukup banyak. Kenyataannya pembalut yang tipis-tipis begitu justru yang laris di pasaran kan? Lebih keren dong daripada pembalut yang tebal. Nah, dari bayangan iklan pembalut inilah, saya coba menggambarkan notebook  Acer Aspire E1-432 ini serupa dengan pembalut yang tipis dan laris di pasaran *koq jadi larinya ke pembalut ya hahaha. Bagaimana tak laris kalau harganya terjangkau, slim atau tipis, keren pula tampilannya, terus semua fiturnya lengkap. Semua orang pasti nyaman menggunakannya senyaman menggunakan pembalut yang tipis itu hahaha *halah. Jadi buat blogger yang mobilitasnya tinggi, Acer Aspire E1-432 ini recomended deh!  


"Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia."

Kamis, 24 Oktober 2013

(W1) Bukan Hanya Tipis, Bila Perlu Gratis!

Hai... hai ....

Akhirnya saya ikutan juga kontes ini hehehe.

Terus-terang dari kemarin saya blank begitu muncul tema untuk kontes minggu ini. Bagaimana tidak, selama saya ngeblog ini, hampir-hampir tidak pernah menyentuh yang namanya notebook. Kenapa, karena memang gak punya. Terus kalau laptop? Ada sih di rumah, tapi itu punya suami dan biasa dipakai kerja di kantor. Karena itulah saya juga jarang menyentuhnya karena takutnya rusak, sementara banyak banget data kerjaan suami ada di dalamnya. Bisa berabe kan? Lha, kalau komputer? Ada juga sih, hanya saja saya bisa menggunakannya di saat anak-anak sedang sekolah. Diluar itu sudah "dikuasai" oleh dua krucil-krucil saya itu. Nah, persoalannya di saat anak-anak sekolah saya justru seringn disibukkan dengan berbagai rutinitas pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya. Memasak, mencuci, nyetrika, ngepel, beres-beres rumah dan itu lumayan makan waktu saya. Maklum semua dari A sampai Z saya kerjakan sendiri karena memang saya tak punya asisten rumah tangga. Jadi belum juga saya sempat menggunakan komputer, eh dua krucil saya sudah pulang dari sekolah. Ya sudah, terpaksa saya mengalah. Baru saat mereka tidur atau main diluar rumah, kesempatan untuk nulis-nulis di depan komputer itu ada. Padahal terkadang ketika pekerjaan rumah saya sudah beres dan sedang ada ide untuk menulis, ternyata piranti untuk menulisnya sedang dipakai. Yang namanya blogger itu kan kerjaannya nulis di blog, lha kalau piranti untuk nulisnya saja gak ada, bagaimana mau nulis? Ya nulis aja di buku atau diary dulu kan bisa? Waduh, sejak kenal tulis-menulis di media sosial, saya sudah tak punya lagi yang namanya diary atau buku harian. Semua sudah tergantikan dengan berbagai piranti modern itu. Oleh karena itu saya jadi jarang update blog hehehe *alasan.

Yang ini layarnya lebar, tapi tebal dan berat kalau dibawa 

Akibatnya saya hanya bisa mengeluh pada suami karena sulitnya saya menyalurkan hobby menulis saya lantaran selalu "rebutan" komputer dengan anak. Karena merasa kasihan "hasrat" menulis istrinya tak tersalurkan *halah, suami saya pun meminjamkan tabletnya pada saya. Awalnya saya enjoy aja menulis dengan tablet suami, selain tipis dan enteng, tablet itu tergolong lengkap fitur-fiturnya. Selain itu tablet suami ini boleh saya gunakan kapan pun terutama saat-saat sedang berpergian. Jadi saat sedang makan diluar misalnya, sambil menunggu menu datang saya bisa nulis-nulis di tablet itu. Tak sekedar nulis di blog sih, saya juga bisa berinteraksi dengan teman-teman di dunia lewat jejaring sosial yang saya punya. Jadi saya tetap bisa eksis dimana pun berada dengan gadget itu. Pokoknya praktis karena tak membuat tas tentengan saya penuh karena tipis dan entengnya piranti ini. Tapi belakangan saya sering dibuat senewen gara-gara salah ketik. Ya iyalah salah-salah ketik! Itu tablet ukuran layarnya "hanya" 7 inci, belum lagi "dimakan" keyboardnya, makin terasa sempitlah layarnya. Sudah gitu jari-jari tangan saya ini tergolong ukuran jumbo untuk memencet tombol-tombol di keyboard yang touchscreen itu, makanya jadi salah-salah ketik. Sudah salah-salah ketik terus ukuran huruf jadi kelihatan kecil pula, benar-benar menyiksa mata saya yang sepertinya sudah mulai butuh bantuan kacamata. Baru ngetik sebentar saja sudah lelah mata saya saking seringnya ngedit. Kalau yang dulu satu atau dua jam jadi satu artikel, dengan alat ini bisa sampai dua kali lipat waktu yang saya perlukan untuk menulis satu artikel saja. Benar-benar buang waktu kan. Sebel? Sudah pasti dong!

Yang ini tipis dan enteng, muat di tas saya, tapi mahal dan sering rebutan dengan anak

Akhirnya ngeluh lagi deh ke suami. Kebetulan pas suami pergi ke Jakarta bulan Mei lalu saya "merengek-rengek" minta dibeliin tablet yang layarnya lebih lebar. Untungnya suami saya yang super ganteng, baik hati, dan tidak sombong itu *halah, luluh juga mendengar keluh-kesah istrinya ini. Jadilah saya dibelikan tablet ukuran 10 inci hehehe. Lumayan mahal sih sebenarnya, tapi saking cinta dan sayangnya suami pada istrinya *halah, dibelikan juga deh. Saya pun mulai bisa ngetik dengan nyaman karena gadget ini juga bisa saya bawa kemana-mana. Bentuknya tipis dan tak berat pula. Tapi yang namanya anak-anak, kalau ada barang baru selalu saja ingin tahu. Ujung-ujungnya anak-anak terutama anak bungsu yang masih berumur 4 tahun mulai juga mengganggu keasyikan saya nulis pakai tablet yang berlayar lebar itu. Ia jadi sering main games dengan gadget saya itu. Beuuhh... akhirnya jadi sering rebutan juga dengan anak bungsu saya. Terpaksa deh emaknya ngalah lagi. Mau balik ke komputer, jelas-jelas sekarang sudah dikuasai sepenuhnya oleh anak sulung yang sekarang kelas 2 SMP. Apalagi semenjak ia rajin membawa teman-temannya ke rumah. Entah untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar main games bersama. Dan saya hanya bisa nangis di pojokan karena tak bisa nulis hiks hiks... *mulai deh lebaynya hehehe

Yang ini layarnya lebar, tipis, enteng dibawa, murah pula (sumber gambar http://www.acerid.com)

Ya begitu deh, akhirnya berangan-angan pengin punya gadget yang tipis, enteng, dan pastinya layarnya harus lebar agar mata ini tak cepat lelah. Mau minta belikan koq kepikiran juga harganya pasti mahal. Jaman sekarang gadget yang tipis-tipis begitu kan mahal. Lihat saja televisi LED atau yang slim begitu, mahal sekali kan harganya? Atau smartphone yang modelnya tipis-tipis begitu, mahalnya minta ampun. Kecil barangnya, tapi mahal harganya. Mau beli laptop, wah jelas tak praktis. Sudah barangnya gede, berat pula! Mana muat di dalam tas saya yang tak terlalu besar itu? Jadi ya masih sebatas angan saja punya gadget yang tipis, ringan dan hemat di kantong. Eh, tapi baru kemarin saya tahu ternyata ada lho gadget seperti yang saya idam-idamkan itu. Saya sih tahunya dari Emak-Emak Blogger yang kebetulan ngadain lomba ngeblog ini. Dan hadiahnya kebetulan juga gadget yang saya idam-idamkan itu. Bentuknya notebook, mereknya Acer. Siapa yang tak tergiur coba? Karena itulah saya pun nekad ikutan lomba ini, siapa tahu saya lagi hoki. Bukan hanya notebook tipis yang saya dapatkan, bila perlu gratis hehehe. Siapa tahu kan? Insya Allah...aamiin. 

 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia."

Senin, 21 Oktober 2013

Darryl, Calon Pemimpin Masa Depan


Darryl, calon pemimpin masa depan :)


"Mama lihat, Darryl dapat bintang!" ujar Darryl seraya menunjukkan punggung kedua tangannya yang telah bergambar bintang, suatu siang sesaat setelah saya jemput ia dari sekolahnya. Di kesempatan lain Darryl juga berucap "Mama, bu Kikin tadi bilang gini 'Subhanallah Darryl hebat!'", sembari memamerkan kertas gambarnya yang penuh dengan coretan crayon warna-warni. Sebenarnya kertas mewarnainya cenderung acak-adul, tapi demi melihat wajah cerianya, saya pun tersenyum sambil mengacungkan jempol sembari mengucap "Darryl memang hebat ya!"  

Darryl dapat "bintang" dari gurunya :)
Begitulah Darryl, hampir setiap hari selalu ada saja yang ia ceritakan pada saya sepulang sekolah. Darryl saya memang pandai bercerita. Segala sesuatu "hal baru" yang diajarkan atau ditemuinya di sekolah selalu ia ceritakan pada saya sepulang sekolah. Ada saja cerita baru dari sekolah yang dibawanya ke rumah. Entah itu tentang pelajarannya hari itu, tentang guru-guru yang mengajarnya hari itu, tentang teman-temannya yang lucu bahkan tentang ruang kelasnya yang panas karena AC-nya mati. Saya pun dengan senang hati selalu menjadi pendengar setianya setiap hari.

Lain waktu saya juga akan melontarkan pujian "Nah, begitu dong, baru namanya anak jempol!", manakala ia berhasil membereskan mainan yang berserakan di lantai. Meskipun mainannya hanya sekedar ditumpuknya begitu saja di pojokan ruangan, tapi itu sudah menunjukkan bahwa ia memiliki rasa tanggung jawab, minimal menghargai akan suatu barang. Saya pun juga tak segan mengucap "Wah, Darryl sekarang sudah pintar ya?" dan ia akan menjawab "Iya dong!" dengan bangganya, saat ia berhasil memakai kaos kaki dan sepatu sekolahnya sendiri. Memang hanya ucapan atau pujian sederhana, tapi buat Darryl mungkin sangat istimewa. Terbukti hanya dengan pujian sederhana seperti itu, ia menjadi rajin dan bersemangat, baik di sekolah maupun di rumah.  


Darryl memamerkan coretan crayonnya
Darryl adalah anak bungsu saya. Bulan Juni lalu usianya genap 4 tahun. Saat ini Darryl duduk di bangku Taman Kanak-Kanak kelas A. Selain senang bercerita, Darryl termasuk anak yang supel, ramah, ceria dan murah senyum. Ia pandai bergaul dan mudah menyesuaikan diri, meskipun dengan lingkungan yang baru. Ia jauh lebih mandiri dibandingkan kakaknya di usia yang sama dengannya kala itu. Saya masih ingat betul di hari pertama sekolah dulu, Darryl bahkan tak perlu saya tunggui sekolahnya. Sementara ada beberapa temannya yang masih perlu di dampingi orang tuanya, bahkan hingga masuk ke dalam kelas, persis seperti yang saya alami saat Danny, anak sulung saya masuk sekolah Taman Kanak-Kanak dulu. Sebaliknya Darryl, ia mau saja saya tinggal di sekolah karena saya harus mengantar Danny, yang sekarang sudah duduk di bangku SMP kelas 2, lantaran mobil jemputan sekolahnya tak datang.

Darryl saat bertanya pada wali kelasnya, foto ini sengaja saya candid lho :)

Selain beberapa hal yang saya sebutkan di atas, Darryl ini terkenal sebagai anak pemberani. Badannya memang tak terlalu besar, tapi juga tak terbilang kecil, namun demikian nyalinya cukup besar. Ia sangat lincah dan cenderung tak bisa diam. Kata gurunya Darryl ini juga lumayan kritis dalam berucap. Tak heran jika ia pernah protes tentang AC di kelasnya yang terpaksa dimatikan lantaran kelebihan beban listrik. Di kelas ia termasuk murid yang mudah menghafal. Dalam waktu tak lebih dari seminggu, ia sudah mampu menghafal beberapa hadist dan juga nama-nama bulan, baik bulan masehi maupun bulan hijriah. Karena itulah ia jadi sering ditunjuk gurunya untuk membimbing teman-temannya yang belum hafal. Darryl memang saya sekolahkan di sekolah Islam, sesuai dengan agama kami.

Darryl saat latihan Manasik Haji

Meskipun masih balita, Darryl juga antusias jika diajak sholat ke masjid. Kebetulan rumah kami memang tak jauh dari masjid. Bekal agama saya rasa penting ditanamkan sejak usia dini, seperti usia Darryl saat ini. Karena dari sanalah pondasi iman dan akhlaqnya dimulai. Salah satu caranya adalah membiasakan diri untuk sholat berjamaah di masjid. Dari sana pula ia belajar tentang arti pentingnya disiplin. Bahwa disiplin itu penting, tak hanya di sekolah dan di rumah, tapi juga saat beribadah. Ketika tiba waktunya sholat, ia harus menghentikan acara mainnya, jika memang sedang bermain bersama teman sebayanya. Ketika hari sudah malam, waktunya untuk tidur, ia juga harus tidur agar esok hari bisa bangun pagi dengan bugar. Begitu selalu saya tanamkan nilai-nilai kedisiplinan pada diri Darryl. Memang semua tidak mudah, tapi dengan kesabaran semua akan terasa mudah. Namanya juga anak-anak, ada kalanya ia membangkang. Misalnya saja waktunya mandi sore, ia masih saja asyik bermain, biasanya saya akan menegur dengan cara mengatakan "Yang tidak segera mandi, pasti bukan anak yang hebat." Cukup dengan teguran semacam itu, sudah mampu membuat ia beranjak ke kamar mandi. Cara-cara menegur semacam ini justru saya pelajari dari gurunya, bahwa anak seusia Darryl ini memang senang dipuji, meskipun untuk hal-hal yang sepele.

Darryl yang selalu ceria

Bagi saya, Darryl ini memang "istimewa". Rentang umur yang lumayan jauh dengan Danny kakaknya yang berjarak 9 tahun, membuat saya serasa belajar lagi caranya mengasuh, mendidik dan merawat anak. Semuanya serasa dimulai dari nol kembali lantaran banyak hal-hal baru yang saya jumpai pada diri Darryl, tetapi tak saya jumpai pada kakaknya dulu.

Kemampuan yang dimiliki Darryl saat ini tentu tak lepas dari berbagai hal. Sejak kecil Darryl memang cenderung saya "biarkan" mengenal segala hal. Saya biasa melepaskan Darryl begitu saja di arena bermain yang ada di komplek tempat tinggal saya. Bermain ayunan, bermain prosotan, bermain pasir di pantai sekali pun. Biarlah ia berkotor-kotor, tanpa saya perlu larang-larang, sepanjang itu tak membahayakan dirinya. Saya biarkan ia melepaskan rasa ingin tahunya terhadap segala hal. Saya juga biasa mengajak Darryl ke berbagai acara yang melibatkan banyak orang. Saya biarkan ia bergaul dengan semua kalangan. Dari sanalah rasa percaya diri Darryl mulai terbentuk. Ia tak pernah takut pada orang lain, sekali pun itu baru pertama kali dijumpainya.

Sejak kecil sudah terbiasa dengan yang "kotor-kotor"

Hal ini berbeda jauh dengan kakaknya Danny. Sejak kecil Danny cenderung saya "jaga" ekstra ketat mengingat ia anak pertama saya, yang setelah lahir pun masih perlu perawatan dari rumah sakit (di awal kelahirannya Danny rutin disuntik antibiotik karena sempat sakit kuning). Karena riwayat kesehatannya itulah saya jadi cenderung "menjaga" Danny. Ia tak boleh main sembarangan terutama yang kotor-kotor. Saya selalu merasa was-was jika itu berakibat buruk pada kesehatannya. Padahal kenyataannya hal itu justru membuat Danny menjadi anak yang "kuper". Ia sering merasa minder jika bertemu dengan orang lain. Ia juga selalu merasa jijik jika memegang sesuatu yang dirasanya kotor, padahal itu tak membahayakan dirinya.

Belajar dari pengalaman itulah, saya tak ingin Darryl seperti kakaknya. Akhirnya saya biarkan Darryl "bebas" mengenal dunia luar. Saya biarkan ia bermain kotor-kotor. Saya biarkan ia bermain dengan teman-teman sebayanya. Saya berpikir, setiap anak pasti tak selalu sama sifatnya. Padahal sebenarnya di masa bayi pun Darryl juga mempunyai riwayat kesehatan yang kurang lebih sama dengan kakaknya. Ia pernah juga dirawat beberapa hari lantaran sempat "meminum" air ketuban sejak dalam kandungan dan parahnya lagi air ketuban itu telah bercampur dengan BAB-nya sendiri. Jadi pada dasarnya sejak bayi Darryl mempunyai riwayat kesehatan yang hampir sama dengan kakaknya, tapi karena saya yakin setiap anak punya "keunikan" tersendiri, punya kekebalan tubuh yang berbeda, makanya saya tak ingin memperlakukan Darryl sama seperti kakaknya. Itulah kenapa saya bilang, saya belajar banyak dalam merawat dan mendidik Darryl karena jelas-jelas penanganan terhadapnya berbeda jauh dibandingkan saat saya menangani kakaknya.

Selalu ingin jadi anak yang jempolan :)

Meskipun berbeda penanganan, saya tak membedakan dalam hal kasih-sayang. Kedua kakak beradik ini saya perlakukan sama dan adil. Untuk asupan gizi dan nutrisinya pun tak jauh berbeda. Sejak lepas ASI, Darryl rutin mengkonsumsi susu formula untuk tumbuh kembangnya. Begitu pun dengan kakaknya dulu. Asupan makanannya pun sebisa mungkin saya olah sendiri, bahkan masing-masing anak saya memiliki makanan favorit hasil olahan ibunya. Apalagi saya memang tidak mempunyai kesibukan di luar rumah, selain mengurus rumah-tangga. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk bermalas-malasan menyediakan semua kebutuhan makanan buat anak-anak saya. Dengan asupan gizi dan nutrisi yang baik dan mencukupi, saya yakin kesehatan mereka pun terjamin. Terbukti anak-anak saya jarang sakit. Jika anak sehat tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan mereka. Saya ingin anak saya sehat lahir maupun batin. Itulah kenapa saya bekali mereka dengan pengetahuan, baik pengetahuan formal maupun informal. Saya tak hanya menanamkan nilai moral, tapi juga mengajarkan tentang budi pekerti. Di rumah Darryl haruslah hormati dan patuh pada orang tua dan kakaknya. Sementara di sekolah, ia juga harus menghormati guru-guru dan menghargai teman-temannya. Bekal ini penting karena kelak Darryl akan menjadi pemimpin, entah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga atau pun masyarakat pada umumnya.

Badannya memang tak besar, tapi nyalinya cukup besar lho!


Sejauh ini saya sangat bangga melihat perkembangan Darryl sekarang. Ia sudah menunjukkan banyak sifat dan karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik tentunya harus memiliki sifat-sifat, di antaranya :
  1. Pemimpin yang baik harus berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya.
  2. Seorang pemimpin haruslah kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
  3. Pemimpin yang baik haruslah berakhlaq mulia dan takut akan Tuhan.
  4. Seorang pemimpin juga harus cakap memanage waktu.
  5. Pemimpin yang baik harus bisa menghargai orang lain.


Darryl, calon pemimpin masa depan :)


Dengan kemampuan yang saya miliki, saya berusaha agar Darryl memiliki sifat dan karakter-karakter tersebut.  Saya akan terus memotivasi dirinya agar bisa mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Dan seandainya kelak ia benar-benar menjadi pemimpin, saya ingin ia menjadi pemimpin yang bertanggung jawab karena apa yang diperbuatnya kelak akan dipertanggung-jawabkan sepenuhnya di hadapan Tuhan. Saya ingin ia menjadi pemimpin yang bisa dibanggakan di masa depan.




        


Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba "Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil"#LombaBlogNUB